Kerelaan Memikul Salib

Mereka tidak menyadari bahwa setiap orang memiliki pertaruhan. Suka ataupun tidak ia akan menuai apa yang ditaburnya.


Banyak orang Kristen tahu mengenai salib, tetapi tidak banyak yang sungguh-sungguh mau memikul salibnya sendiri. Salib adalah kesulitan, penderitaan atau hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup di dunia ini karena mengambil bagian dalam proyek penyelamatan umat manusia.

Setiap orang memiliki salibnya sendiri. Tidak ada salib yang sama persis. Karena itu kita harus menemukan salib kita sendiri. Itu dapat kita temukan dengan mengerti isi hati-Nya. Jika tidak, kita mungkin memperoleh penderitaan, tetapi itu bukan salib dari Tuhan, melainkan kesalahan kita sendiri yang sering kali memalukan.

Salah satu faktor mengapa orang tidak mau memikul salib adalah merasa bahwa nasib orang yang berjuang bagi Tuhan dan yang tidak berjuang sama saja. Toh semua juga masuk sorga, apa gunanya berjuang lebih giat ? Lebih baik bersenang-senang saja hari ini, nanti di sorga lebih senang lagi. Itulah sebabnya mereka ikut terhanyut dengan dunia ini, dengan segala budaya dan kesukaannya. Mereka tidak menyadari bahwa setiap orang memiliki pertaruhan. Suka ataupun tidak ia akan menuai apa yang ditaburnya. Tanpa disadari ia menabur setiap hari untuk apa yang akan dituainya di kekekalan.

Kita akan lebih rela melayani Tuhan dan mengorbankan apapun yang kita miliki jika kita sadar bahwa kita adalah orang-orang yang berutang kepada Tuhan. Kita utang jiwa, utang nyawa dan utang keselamatan. Dengan cara apa pun dan bagaimana pun kita tidak bisa membalas kebaikan Tuhan. Seandainya kita memberikan apapun yang kita miliki hari ini untuk Tuhan, itu belum sesungguhnya cukup untuk membalas kebaikan Tuhan. Jadi, kalau kita melayani Tuhan dengan ikut memikul salib bersama dengan Tuhan bukan karena kita mau memperoleh sesuatu, tetapi karena kita sudah menerima keselamatan-Nya.

Dengan menyadari hal tersebut maka kita akan rela mempersembahkan apapun yang kita miliki tanpa merasa memberi bagi Tuhan. Kita hanya mengembalikan apa yang bukan milik dan hak kita. Sungguh beruntung sekali, kalau apa yang kita lakukan bagi Tuhan di bumi ini akan diingat selamanya dalam Kerajaan Bapa di Surga, padahal kita tidak memberi; kita hanya mengembalikan.

Kita melakukan apa yang memang harus kita lakukan sebagai milik-Nya. Bagi yang mengabdi kepada Tuhan di bumi ini akan diberi kesempatan mengabdi bagi Tuhan selama-lamanya di Kerajaan Bapa di Surga. Dengan pengertian ini kita akan berani mempertaruhkan apa pun yang kita miliki bagi kepentingan-Nya.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 12 Juni 2012, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: