Saat yang Menentukan

Jikalau kita mau menerima mahkota kebenaran abadi, kita harus mau berjuang dalam perjuangan iman yang benar.

Kesempatan demi kesempatan diberikan Tuhan untuk meraih berkat rohaninya. Kesempatan itu bukan hanya berupa hal-hal yang menyenangkan kita, sebab supaya kita menjadi pribadi seperti yang dikehendaki Bapa, Ia menggunakan hal-hal yang menyenangkan dan menyakitkan guna membentuk kita. Itu baik bagi kita berdasarkan pandangan-Nya.

Contohnya, kesempatan bagi seseorang belajar rendah hati muncul saat Tuhan mengizinkannya dihina orang. Untuk belajar memiliki kesabaran dan kelemahlembutan Kristus, Tuhan mengizinkannya mendapatkan serangan, fitnah dan perlakuan tidak adil lainnya. Untuk belajar hidup kudus, Tuhan mengizinkannya diperhadapkan dengan kemungkinan untuk berbuat dosa atau memuaskan hasrat daging dan matanya.

Berarti jikalau kita mau menerima mahkota kebenaran abadi, kita harus mau berjuang dalam perjuangan iman yang benar. Kita harus mengejar kecemerlangan iman seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus, yaitu memperoleh perkenanan Bapa di Surga. Jangan seperti yang dilakukan oleh sebagian orang Kristen yang mengejar pemuasan hasrat ambisi dan kesenangan dunia.

Hal ini paralel dengan kehidupan manusia pada umumnya. Jika pada usia muda seseorang bekerja keras, studi, berkarier dan mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka ketika memasuki hari tuanya, ia sudah bisa memetik apa yang telah ditanamnya. Ia tidak perlu mengalami penderitaan lagi; ia bisa menikmati hari tuanya dengan indah mempersiapkan diri masuk ke dalam Kerajaan Bapa. Momentum masa muda ketika harus studi dan membangun karier tidak bisa terulang lagi. Momentum itu terbatas waktunya. Kesempatan mengumpulkan harta di Surga juga terbatas. Ada saat nanti tatkala orang mengetuk pintu Surga dan Tuhan berkata, “Aku tidak kenal kamu!

Kalau sekarang Tuhan memberi kesempatan untuk bertobat dan diperbaharui oleh Firman-Nya, maka kalau kita menyia-nyiakannya, kesempatan itu hilang untuk selama-lamanya. Kalau Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk melayani pekerjaan-Nya tetapi kita tidak menghargainya, maka sampai selama-lamanya kita akan bersama Iblis dalam Kerajaan Kegelapan. Memilih untuk tinggal dalam Kerajaan Terang atau Kerajaan Kegelapan adalah saat ini juga. Saat inilah yang menentukan, tak bisa ditunda pada kesempatan lain; sebab begitu kita menutup mata untuk selamanya, tidak ada kesempatan lagi.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 23 Mei 2012, in Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: