Menemukan dunianya sendiri

Sebagai pengikut Yesus, sudahkah kita menemukan dunia yang diberikan Tuhan untuk kita jalani ?

Nuh pada zamannya pasti dianggap seakan-akan seorang “autis” yang asyik dengan dunianya sendiri. Autisme maksudnya adalah gangguan perkembangan mental pada seseorang yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginan, sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu. Nuh tidak dimengerti oleh orang-orang di zamannya; ia pun tentu frustrasi, tidak bisa memahami kebodohan mereka. Tetapi walaupun tidak diterima oleh orang-orang di sekitarnya, Nuh tetap teguh berdiri pada integritasnya.

Nuh telah menemukan dunianya sendiri, dunia yang Tuhan berikan untuk dijalaninya. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan orang yang berjalan dengan Tuhan. Perintah Tuhan untuk membuat bahtera telah merenggut kehidupan Nuh. Ia kehilangan hidup wajar seperti yang dijalani orang pada umumnya, yang mestinya dijalaninya kalau saja Tuhan tidak memerintahkannya untuk membangun bahtera. Tetapi ia mau menjalani dunia yang diberikan Tuhan itu, sebab itulah cara satu-satunya untuk menggenapi rencana Allah dan menyelamatkan diri dari penghukuman Tuhan. Nuh harus membayar ketaatannya dengan harga itu. Dalam perjalanan hidupnya, bisa saja Nuh mengalami keraguan terhadap Tuhan dengan perintah yang tidak masuk akal itu. Tetapi hingga akhirnya Nuh taat dan setia sampai rencana Allah digenapi; dirinya dan keluarganya selamat.

Hal ini mirip dengan apa yang terjadi pada pelayanan Tuhan Yesus. Ia meratapi Yerusalem dan berkata, “Yerusalem, Yerusalem… Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Sebagian besar orang Yahudi telah menolak Anak Allah. Hanya segelintir orang yang mau mengikut Dia; segelintir orang itu adalah murid-murid-Nya.

Di zamannya,murid-murid Tuhan Yesus dianggap bodoh. Fanatismenya mereka terhadap Tuhan Yesus dianggap keterlaluan. Tetapi seperti Nuh, murid-murid Tuhan Yesus telah menemukan dunianya sendiri. Mereka pun tetap setia. Tuhan Yesus pernah menguji agar mereka meninggalkan diri-Nya seperti orang banyak meninggalkan Dia, tetapi murid-murid tetap pada pendiriannya ( Yohanes 6:67-68 ). Hari ini mereka sudah ada di tempat di mana Tuhan Yesus menyediakan Firdaus, kebahagiaan yang tiada taranya. Ternyata penderitaan yang mereka alami tidaklah sebanding dengan kemuliaan yang mereka terima ( Roma 8:18 ).

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 22 Mei 2012, in Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: