Bejana Hati

Bejana hati kita hanya bisa dipenuhi oleh Tuhan, dan itu nyata dari prinsip hidup hanya untuk melakukan kehendak-Nya.

Banyak orang Kristen merasa sudah memiliki Tuhan Yesus dalam hidupnya, padahal sebetulnya belum. Betapa terkejutnya saat berhadapan dengan Tuhan Yesus nanti, mereka mendengar Tuhan dengan terus terang berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu.” Artinya, “Aku tidak pernah menikmatimu, Aku tidak berkenan kepadamu, sebab Aku tidak menemukan dirimu melakukan kehendak-Ku.”

Ironis dan menyedihkan sekali manakala orang yang sudah melakukan banyak mukjizat, bernubuat dan mengusir setan akhirnya ditolak oleh Allah. Ingat, bukan orang yang memanggil Dia Tuhan bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa. Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Lukas 13:24).

Melakukan kehendak Bapa membutuhkan suatu syarat, yaitu mengosongkan bejana hati kita dari segala keinginan, dan menggantikannya dengan prinsip hidup “melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yohanes 4:24). Bejana hati manusia itu seperti sumur yang tidak memiliki dasar. Mau diisi air seberapapun banyaknya, pasti akan lenyap; tak ubahnya membuang garam ke laut.

Bejana hati manusia selalu haus akan berbagai hasrat, keinginan dan cita-cita. Ini sudah menjadi hal yang dianggap normal dan wajar bagi manusia. Setiap hari, manusia harus “menimba air” untuk berusaha mengisi bejana hati tersebut, tetapi keesokannya pasti akan haus lagi (Yohanes 4:15). Tetapi sebagai orang percaya, Tuhan Yesus memberikan air hidup kepada kita, sehingga dengan menyediakan bejana hati kita untuk dipenuhi oleh-Nya, kita tidak akan haus lagi untuk selama-lamanya. Justru dalam diri kita akan tumbuh mata air yang terus menerus memancarkan air hidup Tuhan sampai kepada hidup yang kekal (Yohanes 4:14).

Dengan ini kita mengerti bahwa dahaga atau kekosongan rongga hati yang ada dalam diri manusia hanya bisa dipenuhi oleh Tuhan sendiri. Tak bisa dipenuhi dengan mencoba memuaskan hasrat dan keinginan kita. Keinginan yang tak ada habisnya tidak akan memberi ruang bagi bejana hati kita untuk bisa diisi dengan segala sesuatu yang berasal dari Bapa. Tentu ini menjadi kecelakaan fatal dalam kehidupan kita, sebab kita tidak dapat mengerti apakah kehendak Bapa itu, apalagi melakukannya. Kesediaan seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat nyata pada kesediaan melakukan segala kehendak Bapa, dan itu dibuktikan dengan kerelaan menyediakan bejana hati kita diisi oleh Tuhan.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 19 Mei 2012, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: