Mati bagi Diri Sendiri

Tuhan Yesus adalah pribadi yang harus dan patut kita teladani. Dalam Yoh. 12:24 kita menemukan rahasia kehidupan yang berbuah. Kehidupan yang menjadi berkat bagi orang lain. Biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati merupakan kiasan dari kenyataan hidup Yesus yang dikorbankan di atas kayu salib yang oleh karenanya dunia diselamatkan. Dari kenyataan ini kita dapat menimba kebenaran: Bahwa sebagaimana Yesus telah mengorbankan diri mati dan menjadi berkat bagi orang lain, maka nafas kebenaran ini juga kita miliki yaitu: Rela mati untuk menjadi berkat bagi orang lain. Mati disini tentu bukan mati fisik. Inilah kematian bagi diri sendiri, pribadi yang menjadi seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Seorang yang telah mati bagi diri sendiri adalah:

Pertama, pribadi yang tidak mempertahankan reputasi dan harga diri tatkala ia tidak dihargai dalam pelayanan maupun pekerjaannya. Ia tidak perlu layak menerima penghargaan oleh karena prestasinya dalam pelayanan maupun pekerjaannya. Menjadi orang yang melayani Tuhan adalah menjadi hamba dan pencuci kaki orang lain. Prinsip Yesus ini tidak boleh ditanggalkan. Aku datang bukan untuk dilayani tetapi melayani (Mat. 20:28).

Kedua, pribadi yang tidak merasa berhak menerima upah sekalipun telah berjerih lelah lebih dari orang lain. Ia akan berkata seperti Paulus berkata: “Inilah upahku yaitu kalau aku boleh memberitakan Injil tanpa upah” (1Kor. 9:18). Bahkan ucapan terima kasih pun tidak perlu dituntut dari orang yang telah makan budi baik dan menikmati pelayanan kita. Adalah kebahagian kalau kita beroleh tempat pelayanan yang jemaat tidak mampu membalas kebaikan kita.

Ketiga, pribadi yang telah menyerahkan seluruh miliknya sebagai korban persembahan kepada Raja di atas segala raja – Tuhan Yesus Kristus. Kita harus belajar untuk merasa tidak bermilik dan memang kita dipanggil untuk tidak bermilik (Luk. 9:58). Hidup di dunia ini hanya sementara, untuk itu hidup kita ini harus menjadi korban persembahan dan bukan malah makan korban.

Keempat, pribadi yang taat seperti yang dicontohkan Yesus bagi kita. Ia taat bahkan sampai mati di kayu salib. Ketaatan yang membuahkan keselamatan bagi orang lain. Oleh sebab itu untuk menjadi berkat bagi sesama, kita harus rela masuki “kematian” setiap hari, supaya kehidupan Yesus nyata dalam diri kita. Alkitab berkata bahwa kita semua adalah surat yang terbuka yang dibaca setiap orang. Dari situlah nama Tuhan akan dipermuliakan atau akan dipermalukan lewat kehidupan kita.

SolaGracia.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 27 Oktober 2009, in Tak Berkategori and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: