Kasih Itu Menanggung Segala Sesuatu

Melakukan kehendak Tuhan itu bukan saja kalau kita tidak berbuat kesalahan moral seperti yang dikenal oleh etika dan aturan moral pada umumnya, tetapi juga berarti berbuat seperti apa yang Tuhan perbuat atau bertindak seperti Tuhan bertindak. Bila kita belum bertindak seperti Tuhan bertindak, itu berarti kita belum melakukan kehendak-Nya dan mengikut Dia dengan benar. Alkitab berkata bahwa: “kalau kita percaya kepada Dia dan mengaku hidup didalam Dia, kita wajib hidup sama seperti Dia hidup” (1Yoh. 2:6).

Salah satu perbuatan kasih Tuhan Yesus yang patut kita contoh yang merupakan model tindakan sempurna adalah menutupi dosa demi kebaikan orang yang berdosa dan Ini bukan suatu tindakan kompromi pada kesalahan. Bila kita menemukan saudara kita berbuat salah, maka kita harus menggembalakannya.

Dalam Gal. 6:1 Paulus mengajarkan, kalau saudara kita berbuat pelanggaran, kita yang rohani menuntunnya kepada kebenaran. Bukan malah membongkar kesalahannya, seperti seorang reporter yang berhasil menemukan berita mahal. Contoh konkret yang dilakukan oleh Tuhan Yesus adalah ketika Tuhan Yesus melindungi perempuan yang berbuat zina (Yoh. 8:1-10). Ketika Tuhan Yesus menghindarkan wanita ini dari hukuman rajam, bukan berarti ia melindungi dosa. Tuhan Yesus tidak melindungi dosa tetapi ia melindungi manusia berdosa. Sikap ini merupakan upaya untuk menggagalkan rencana iblis membinasakan seseorang. Ingat tidak ada orang bercita-cita menjadi manusia berdosa. Jadi bila kita jumpai ada saudara kita yang berbudat dosa, maka kita yang lebih rohani harus membimbingnya kedalam kebenaran.

Saat ini banyak orang dapat mengusir setan yang merasuk dalam diri seseorang, tetapi banyak orang tidak bisa mengusir setan dari dirinya sendiri. Dalam 1Kor. 13:7, dikatakan bahwa kasih itu menutupi segala sesuatu (panta stegī-it always protects). Hal ini termasuk melindungi nama baik suami, istri, teman pelayanan, pendeta dan lain-lain.

Ketika Tuhan Yesus membebaskan wanita yang berzina dalam Yohanes 8, Tuhan Yesus bertindak tidak sesuai dengan hukum Musa. Seharusnya perempuan ini dilempari batu. Tetapi Tuhan Yesus mengajarkan sesuatu yang lain, hukum yang disempurnakan (Mat. 5:17-20). Hukum yang dikenal oleh manusia pada umumnya yang disusun dalam hukum-hukum agama, moral dan etika bukanlah standart kita. Standart kita adalah moral Allah (Mat. 5:48). Barangkali kita berkata berat, ya memang berat. Mengikut Yesus kita dilatih bukan saja melakukan apa yang dapat kita lakukan tetapi melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan sebelumnya. Bila kita mengikut Yesus hanya melakukan apa yang dapat kita lakukan sebelumnya, apa arti proses pemuridan dan pendewasaan dalam Tuhan. Apa artinya “mengikut” Yesus. Jangan diubah Yesus mengikut kita, karena kita baik dan Tuhan kagum dengan kebaikan kita. Disinilah letak keunggulan menjadi orang kristen, kita dapat berbuat seperti Yesus berbuat. Kita membangun persekutuan dan gereja ini bukan sekedar mengumpulkan orang beragama yang mengerti kebaktian dalam pertemuan bersama dan hidup bergereja, tetapi kita bersama belajar dari Tuhan yesus segala kebenaran dan kesucian-Nya (Mat. 11:28). Keberhasilan pengiringan kita bukan pada suksesnya kita menjadi pendeta atau aktivis jemaat yang berhasil mengumpulkan masa, tetapi seberapa jauh kita mengumpulkan sifat Kristus dalam kehidupan ini.

SolaGracia.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 4 Oktober 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: