Monthly Archives: Oktober 2009

Mati bagi Diri Sendiri

Tuhan Yesus adalah pribadi yang harus dan patut kita teladani. Dalam Yoh. 12:24 kita menemukan rahasia kehidupan yang berbuah. Kehidupan yang menjadi berkat bagi orang lain. Biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati merupakan kiasan dari kenyataan hidup Yesus yang dikorbankan di atas kayu salib yang oleh karenanya dunia diselamatkan. Dari kenyataan ini kita dapat menimba kebenaran: Bahwa sebagaimana Yesus telah mengorbankan diri mati dan menjadi berkat bagi orang lain, maka nafas kebenaran ini juga kita miliki yaitu: Rela mati untuk menjadi berkat bagi orang lain. Mati disini tentu bukan mati fisik. Inilah kematian bagi diri sendiri, pribadi yang menjadi seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Seorang yang telah mati bagi diri sendiri adalah:

Pertama, pribadi yang tidak mempertahankan reputasi dan harga diri tatkala ia tidak dihargai dalam pelayanan maupun pekerjaannya. Ia tidak perlu layak menerima penghargaan oleh karena prestasinya dalam pelayanan maupun pekerjaannya. Menjadi orang yang melayani Tuhan adalah menjadi hamba dan pencuci kaki orang lain. Prinsip Yesus ini tidak boleh ditanggalkan. Aku datang bukan untuk dilayani tetapi melayani (Mat. 20:28).

Kedua, pribadi yang tidak merasa berhak menerima upah sekalipun telah berjerih lelah lebih dari orang lain. Ia akan berkata seperti Paulus berkata: “Inilah upahku yaitu kalau aku boleh memberitakan Injil tanpa upah” (1Kor. 9:18). Bahkan ucapan terima kasih pun tidak perlu dituntut dari orang yang telah makan budi baik dan menikmati pelayanan kita. Adalah kebahagian kalau kita beroleh tempat pelayanan yang jemaat tidak mampu membalas kebaikan kita.

Ketiga, pribadi yang telah menyerahkan seluruh miliknya sebagai korban persembahan kepada Raja di atas segala raja – Tuhan Yesus Kristus. Kita harus belajar untuk merasa tidak bermilik dan memang kita dipanggil untuk tidak bermilik (Luk. 9:58). Hidup di dunia ini hanya sementara, untuk itu hidup kita ini harus menjadi korban persembahan dan bukan malah makan korban.

Keempat, pribadi yang taat seperti yang dicontohkan Yesus bagi kita. Ia taat bahkan sampai mati di kayu salib. Ketaatan yang membuahkan keselamatan bagi orang lain. Oleh sebab itu untuk menjadi berkat bagi sesama, kita harus rela masuki “kematian” setiap hari, supaya kehidupan Yesus nyata dalam diri kita. Alkitab berkata bahwa kita semua adalah surat yang terbuka yang dibaca setiap orang. Dari situlah nama Tuhan akan dipermuliakan atau akan dipermalukan lewat kehidupan kita.

SolaGracia.

Iklan

Kasih Itu Menanggung Segala Sesuatu

Melakukan kehendak Tuhan itu bukan saja kalau kita tidak berbuat kesalahan moral seperti yang dikenal oleh etika dan aturan moral pada umumnya, tetapi juga berarti berbuat seperti apa yang Tuhan perbuat atau bertindak seperti Tuhan bertindak. Bila kita belum bertindak seperti Tuhan bertindak, itu berarti kita belum melakukan kehendak-Nya dan mengikut Dia dengan benar. Alkitab berkata bahwa: “kalau kita percaya kepada Dia dan mengaku hidup didalam Dia, kita wajib hidup sama seperti Dia hidup” (1Yoh. 2:6).

Salah satu perbuatan kasih Tuhan Yesus yang patut kita contoh yang merupakan model tindakan sempurna adalah menutupi dosa demi kebaikan orang yang berdosa dan Ini bukan suatu tindakan kompromi pada kesalahan. Bila kita menemukan saudara kita berbuat salah, maka kita harus menggembalakannya.

Dalam Gal. 6:1 Paulus mengajarkan, kalau saudara kita berbuat pelanggaran, kita yang rohani menuntunnya kepada kebenaran. Bukan malah membongkar kesalahannya, seperti seorang reporter yang berhasil menemukan berita mahal. Contoh konkret yang dilakukan oleh Tuhan Yesus adalah ketika Tuhan Yesus melindungi perempuan yang berbuat zina (Yoh. 8:1-10). Ketika Tuhan Yesus menghindarkan wanita ini dari hukuman rajam, bukan berarti ia melindungi dosa. Tuhan Yesus tidak melindungi dosa tetapi ia melindungi manusia berdosa. Sikap ini merupakan upaya untuk menggagalkan rencana iblis membinasakan seseorang. Ingat tidak ada orang bercita-cita menjadi manusia berdosa. Jadi bila kita jumpai ada saudara kita yang berbudat dosa, maka kita yang lebih rohani harus membimbingnya kedalam kebenaran.

Saat ini banyak orang dapat mengusir setan yang merasuk dalam diri seseorang, tetapi banyak orang tidak bisa mengusir setan dari dirinya sendiri. Dalam 1Kor. 13:7, dikatakan bahwa kasih itu menutupi segala sesuatu (panta stegī-it always protects). Hal ini termasuk melindungi nama baik suami, istri, teman pelayanan, pendeta dan lain-lain.

Ketika Tuhan Yesus membebaskan wanita yang berzina dalam Yohanes 8, Tuhan Yesus bertindak tidak sesuai dengan hukum Musa. Seharusnya perempuan ini dilempari batu. Tetapi Tuhan Yesus mengajarkan sesuatu yang lain, hukum yang disempurnakan (Mat. 5:17-20). Hukum yang dikenal oleh manusia pada umumnya yang disusun dalam hukum-hukum agama, moral dan etika bukanlah standart kita. Standart kita adalah moral Allah (Mat. 5:48). Barangkali kita berkata berat, ya memang berat. Mengikut Yesus kita dilatih bukan saja melakukan apa yang dapat kita lakukan tetapi melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan sebelumnya. Bila kita mengikut Yesus hanya melakukan apa yang dapat kita lakukan sebelumnya, apa arti proses pemuridan dan pendewasaan dalam Tuhan. Apa artinya “mengikut” Yesus. Jangan diubah Yesus mengikut kita, karena kita baik dan Tuhan kagum dengan kebaikan kita. Disinilah letak keunggulan menjadi orang kristen, kita dapat berbuat seperti Yesus berbuat. Kita membangun persekutuan dan gereja ini bukan sekedar mengumpulkan orang beragama yang mengerti kebaktian dalam pertemuan bersama dan hidup bergereja, tetapi kita bersama belajar dari Tuhan yesus segala kebenaran dan kesucian-Nya (Mat. 11:28). Keberhasilan pengiringan kita bukan pada suksesnya kita menjadi pendeta atau aktivis jemaat yang berhasil mengumpulkan masa, tetapi seberapa jauh kita mengumpulkan sifat Kristus dalam kehidupan ini.

SolaGracia.

%d blogger menyukai ini: