Monthly Archives: Agustus 2009

Iman yang Benar dan Mahal

Dewasa ini kembali terjadi bom bunuh diri, di Jakarta (Ritz-Carlton dan J.W. Marriott) dan juga sering terjadi di Irak, Afganistan, dan beberapa negara yang sedang mengalami konflik horizontal dan terorisme. Tidak dapat disangkal bahwa keberanian teroris untuk melakukan bom bunuh diri sangat mencengangkan. Mereka tidak ragu atas apa yang dilakukannya. Mereka menyongsong kematian dengan berani dan yakin bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah kematian yang sia-sia. Dalam hal ini yang hendak kita soroti adalah keberanian mereka mengekspresikan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran dan apa yang menurut mereka harus mereka bela.

Fenomena ini memberi pelajaran yang sangat berharga bagi kita, yaitu bahwa keyakinan yang dimiliki oleh seseorang dalam level tertentu terekspresi secara konkret dan ekstrem. Demikian pula kalau kita sungguh-sungguh memiliki keyakinan bahwa mengiring Tuhan Yesus adalah pilihan yang terbaik, maka keyakinan ini seharusnya terekspresi dalam tindakan konkret kita pula. Jadi kalau tidak ada ekspresi berarti tidak ada keyakinan yang benar. Alkitab mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh—mati (Yak. 2:26). Sekarang, perbuatan apakah yang ada pada kita yang menunjukkan iman kita? Bila tidak ada tindakan, itu berarti tidak ada iman.

Tindakan Abraham yang rela meninggalkan kemewahan Ur-kasdim dan rela mengurbankan Ishak sebagai kurban bakaran adalah tindakan Abraham yang ekstrem untuk menunjukkan bukti imannya. Di sini kita melihat bahwa harga iman yang dimiliki Abraham sangatlah mahal. Dalam Yak. 2:20-24 dikatakan, “Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’ Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

Kata “bebal” di sini membuktikan bahwa banyak orang Kristen yang bebal. Jika Abraham disebut sebagai Bapa Orang Beriman, itu karena ia menunjukkan imannya lewat tindakan yang meninggalkan kenyamanan Ur-kasdim dan mempersembahkan Ishak sebagai kurban bakaran. Jika harga iman kita hanya ditunjukkan dengan pergi ke gereja dan ikut melayani di gereja, lalu kita merasa sudah beriman, maka kita adalah orang bebal. Iman itu bukan suatu kepercayaan yang bersifat statis (tetap), tetapi suatu kepercayaan yang bersifat progresif (bertumbuh). Tidak cukup dengan hati percaya dan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dapat membuat kita selamat, tetapi juga dengan respons kita lewat tindakan nyata dalam keseharian yang rela melakukan segala sesuatu untuk Tuhan tanpa berbantah-bantah. Sampai detik ini apa yang sudah kita lakukan untuk Tuhan yang merupakan bukti nyata dari iman yang mahal?

Harga iman yang murni itu sangat mahal. Penyesatan yang terjadi saat ini yang sering dijumpai dalam diri orang-orang Kristen merupakan penipuan dari kuasa setan, yang membuat orang merasa sudah memiliki iman yang mahal hanya karena sudah tahu banyak firman, rajin datang ke gereja dan ikut melayani di gereja. Di sini iman dihargai sangat murah. Sedangkan iman yang benar dan mahal itu dihargai lewat seluruh aspek kehidupan yang dipertaruhkan untuk Tuhan. Ringkasnya, harga iman yang benar dan mahal adalah melakukan kehendak Bapa dalam keseharian.

SolaGracia.

Iklan

Ibadah adalah Pelayanan

TRUTH Edisi 61/Agustus

TRUTH Edisi 61/Agustus

Kerajaan manusia di gereja harus diganti menjadi Kerajaan Tuhan; artinya pemerintahan Tuhan harus terselenggara dalam kehidupan orang percaya dalam seluruh kegiatannya, bukan hanya dalam lingkungan gereja. Pelayanan yang benar adalah pelayanan tanpa batas, artinya usaha yang dilakukan demi kepentingan atau keuntungan Tuhan, sehingga memuaskan dan menyenangkan hati-Nya (Gal. 1:10). Ini pelayanan yang tidak dibatasi oleh ruangan, berarti bukan hanya di lingkungan gereja dan lembaga-lembaga Kristen. Tempat pelayanannya adalah seluruh wilayah di mana mereka dapat menyelenggarakan hidup bagi kepentingan sesama.

Dalam hal ini, kita harus belajar apa yang dimaksud dengan ibadah. Ibadah atau yang juga sering disebut sebagai kebaktian bukan hanya terselenggara di gereja, tetapi di mana pun orang percaya berada harus beribadah atau berbakti kepada Tuhan. Rm. 12:1 mengatakan, “… Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Artinya, ketika seseorang menggunakan seluruh potensi dalam kehidupannya untuk kepentingan Tuhan, itu sebuah ibadah. Untuk Tuhan berarti bukan hanya ditujukan bagi kegiatan gereja, tetapi ditujukan untuk kepentingan sesama manusia. Kata “ibadah” dalam ayat ini adalah λατρεία (latria) yang lebih tepat diterjemahkan “service” atau “pelayanan”. Jadi kalau selama ini banyak orang berpikir bahwa pelayanan adalah kegiatan gereja semata-mata, itu suatu pembodohan.

Dalam Mat. 25:31–46, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa segala perbuatan baik yang telah kita lakukan bagi orang yang membutuhkan pertolongan, yang membuat mereka mengenal Juruselamat dan dipersiapkan masuk kerajaan Surga, adalah perbuatan baik Tuhan sendiri. Ini berarti bahwa justru pelayanan yang benar dan nyata adalah perjalanan hidup kita setiap hari di tempat kita menyelenggarakan hidup, baik di rumah, toko, kantor, pergaulan, sekolah, kampus, dan sebagainya. Di tempat aktivitas kita setiap harilah pelayanan yang sesungguhnya. Pelayanan ini pasti jauh lebih berdampak. Harus diingat bahwa garam bukan hanya di toko. Garam dibutuhkan di dapur, bukan di ruang tamu. Bila ditempatkan di ruangan yang salah, garam tidak akan efektif sesuai fungsinya. Garam di ruang tamu tidak berdampak. Garam justru berdaya guna di dapur atau di tempat di mana ia dibutuhkan. Gereja tidak terlalu membutuhkan orang Kristen berkiprah, tetapi justru di tengah-tengah masyarakatlah kiprah kita diperlukan. Gereja adalah gudang garamnya.

Artikel ini diambil dari Renungan Harian TRUTH Edisi 61/Agustus, Renungan Harian yang berisi pengajaran bagi umat Kristen yang ingin bertumbuh dewasa. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut mengenai Renungan Harian dan Majalah TRUTH, hubungi (021) 68 70 7000 atau 08 7878 70 7000.

%d blogger menyukai ini: