Pilihan dan Tanggung Jawab

Saudara-saudaraku yang terkasih,

Menjadi persoalan mengapa kita tidak kunjung menjadi anak Tuhan yang baik; mengapa kita masih jatuh ke dalam dosa dan berkarakter buruk. Barangkali kita sudah berusaha berdoa memohon pertolongan Tuhan, tetapi keadaan kita tidak berubah. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena kita tidak memenuhi bagian kita. Setiap orang memiliki bagian yang sering kita sebut sebagai tanggung jawab. Bagian kita ini harus kita penuhi. Tuhan bukannya tidak sanggup untuk membuat kita dalam sekejap menjadi seorang yang benar-benar baik, tetapi Tuhan tidak akan melakukan hal itu, sebab itu berarti penyangkalan terhadap integritas-Nya (2Tim. 2:13).

Tuhan yang telah memberi kebebasan terhadap manusia konsekuen terhadap keputusan-Nya untuk memberi kebebasan kepada manusia untuk bertindak terhadap setiap keputusan dan pilihan yang mereka ambil dalam hidup ini. Hal ini juga termasuk dalam membangun iman, kesucian hidup dan karakternya. Tahukah kita bahwa keberkenanan kita terhadap Tuhan bukan karunia atau anugerah, melainkan tanggung jawab yang harus kita tunaikan di hadapan Tuhan?

Masuk surga itu bukanlah keberuntungan, dan masuk neraka bukanlah kecelakaan. Semua tergantung dari pilihan dan keputusan kita yang harus disertai dengan tindakan. Dalam Gal. 6:7-8, Alkitab berkata, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Untuk itulah kita tidak boleh menganggap sepele jalan keselamatan yang harus kita jalani sebagai anak-anak Tuhan. Kita harus memilih salah satu; kita tidak bisa berjalan dalam roh dan sekaligus berjalan dalam daging. Kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24). Komitmen untuk hidup yang menyenangkan Tuhan saja tidaklah cukup. Diperlukan suatu tindakan kita dalam mengambil mengambil keputusan dan pilihan untuk berjalan di dalam roh atau berjalan di dalam daging.

Dalam Gal. 5:19-23 kita dapat melihat ada beberapa ciri kedagingan dan kerohanian. Jika kita mau jujur, ternyata hidup kita selama ini lebih banyak menghasilkan buah-buah kedagingan dibandingkan dengan buah-buah roh. Tanggung jawab itu sangat penting dalam hidup kita. Kita tidak bisa membiarkan diri kita berlarut-larut dalam kesibukan yang tidak berdampak pada kekekalan. Manusia dapat disebut sebagai makhluk yang bertanggung jawab apabila manusia memiliki kebebasan. Oleh karena manusia memiliki kebebasan, manusia harus bertanggung jawab.

Dalam kekristenan, tidak ada yang namanya takdir, karena hal itu bertentangan dengan kebebasan yang telah Tuhan berikan kepada manusia. Dan manusia juga dituntut untuk bertanggung jawab dalam kebebasan yang telah Tuhan berikan dalam hidup manusia. Kehidupan ini bukanlah nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan tantangan yang harus dilalui dengan penuh keberanian dan tanggung jawab.

Percayalah bahwa Dia akan mencukupi kebutuhan kita bila kita dapat hidup bertanggung jawab; hidup dalam pengabdian dan pelayanan kepada-Nya.

SolaGracia.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 8 Juni 2009, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Pak Erastus,

    Bagus sekali tulisannya. memang jarang sekali menemukan orang Kristen yang bertanggung jawab seperti penjahat disebelah kanan Yesus sewaktu Beliau disalibkan. Penjahat ini tidak komplain tapi malah mengakui kalau dia pantas untuk menerima hukuman akibat perbuatannya. Tidak heran dia mendapatkan upah yang luar biasa dari Sang Kristus yaitu Taman Firdaus. Sebaliknya mudah sekali menemukan orang Kristen seperti penjahat yang disebelah kiri salib Yesus, serba menuntut dan ingin instan untuk diselamatkan. Orang seperti ini hanya mencari “tanda” dari Tuhan. Celakanya, pengajaran di gerejapun banyak yg seperti ini. Referensi duniawi dipakai untuk membina hubungan dengan Tuhan: serba instan, “dgn pengorbanan yang sekecil-kecilnya, menghasilkan return yg sebesar-besarnya”. Celaka sekali kalau prinsip ini dipakai untuk ber-Tuhan.
    Terimakasih atas tulisannya. Terima kasih untuk selalu menempatkan Tuhan sebagai Tuhan, bukan sebagai pesuruh. “Dalam nama Yesus….” kalimat ini sering diucapkan banyak orang, namun tidak terasa justru ini hanya dijadikan mantra dan Tuhan tidak lain hanya sebagai pesuruh. Salute!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: