Yesus Kristus 100% Allah dan 100% Manusia

Shalom, Saudaraku sekalian yang kekasih. Di dalam Injil Yohanes pasal 1 dikatakan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Pernyataan ini merupakan pernyataan yang menimbulkan polemik. Menimbulkan perdebatan dan adu argumentasi di sepanjang sejarah gereja, mengenai keilahian Yesus Kristus.

Satu pihak mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah manusia; seratus persen manusia, bukan Allah. Tapi pihak lain mengatakan bahwa Dia seratus persen Allah yang menjadi manusia, dan ketika Ia menggunakan atau mengenakan tubuh manusia, Ia tetap Allah seratus persen. Tetapi di pihak lain mengatakan bahwa Dia adalah Allah seratus persen… Allah seratus persen, tetapi juga manusia seratus persen. Perdebatan yang tak pernah habis-habisnya; bergulir dari tahun ke tahun, bahkan dari abad ke abad.

Bagaimana sikap kita terhadap hal ini, Saudaraku? Bagaimana kita memandang Tuhan Yesus Kristus? Di ayat yang ke-2 Injil Yohanes pasal 1 tertulis, “Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Saya percaya Yohanes tidak melebih-lebihkan atau tidak membesar-besarkan apa yang dia nyatakan ini. Pada kenyataannya bahwa Firman inilah yang menunjuk pribadi Tuhan Yesus Kristus. Firman inilah—atau Logos (λόγος) inilah—pribadi Tuhan Yesus Kristus yang menjadi manusia, mengenakan tubuh seperti kita manusia, yang bisa mengalami atau menderita pedih, sakit bila dilukai; lapar bila perut kosong; haus bila memerlukan minuman.

Nah, tidak menjadi masalah, Saudaraku, pernyataan yang mengatakan apakah Dia Allah seratus persen atau manusia seratus persen ketika mengenakan tubuh manusia. Yang penting kita memercayai, Saudaraku, bahwa Ia tidak dilahirkan dari darah dan daging seperti kita. Yang kita percaya bahwa Dia datang dari Allah; bahwa Dia pribadi kedua dari Allah yang Esa, Allah yang Tunggal, Tuhan Semesta Alam yang menciptakan langit dan bumi. Inilah keunikan daripada Allah yang diyakini oleh orang Kristen.

Pada suatu hari saya bertemu dengan seseorang Kristen yang meninggalkan gereja. Dia tidak lagi memeluk agama Kristen, hanya karena masalah ini. Dia berkata kepada saya, “Pak, saya yakin, tidak mungkin Allah itu tiga… tidak mungkin Allah itu tiga. Allah itu pasti satu.” Saya jawab kepadanya, “Siapa yang berkata bahwa Allahnya orang Kristen tiga?” Sebab orang tersebut mengatakan demikian, menunjuk kepada eksistensi atau keberadaan Allah orang Kristen. Saya balik bertanya kepadanya, “Siapa yang bilang Allah orang Kristen itu tiga? Oke, seandainya Allah itu tiga, empat, dua, apa ukurannya? Siapa yang membuat ukuran itu? Siapa yang membuat standar itu?”

Alkitab mengatakan, Saudaraku sekalian, di dalam Perjanjian Lama, di Kejadian pasal 1, bahwa Allah—atau kata untuk menunjuk Allah—Elohim (אלהים)—itu menunjuk jamak. Di dalam Kejadian 1:26 misalnya: “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.’” ‘Kita’—Allah Bapa dan Anak. Ini bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan. Yang kita yakini bahwa Yesus Kristus adalah satu dari kata ‘Kita’ di situ. Satu dari ‘Kita’ di situ. Ini bukan berarti Allah orang Kristen itu tiga, sebab dimensi kita—dimensi manusia dengan matematis atau matematikanya—yang namanya ‘satu’ itu harus satu, dalam artian echâd (אחד). Tetapi… di dalam kenyataan yang kita harus terima, bahwa Allah yang kita sembah ada Bapa, dan juga ada Yesus Kristus sang Logos atau sang Firman. Mereka bukan dua, bukan tiga; tetapi satu. Satu dalam kehendak, satu dalam rencana, satu dalam karakter.

Dan kita tidak perlu malu mengakui bahwa Allah yang kita yakini itu ada Allah Bapa, ada Allah Anak. Tidak perlu kita merasa malu kalau orang mengatakan, “Kok Allahmu bukan esa?” Ya, Allah kita esa, tapi pengertian ‘esa’ yang kita pahami dengan ‘esa’ yang banyak orang pahami itu beda. Perbedaan ini tidak perlu diperuncing, timbul perdebatan, timbul adu argumentasi yang akhirnya menyisakan kepahitan, akhirnya membuat hubungan tidak harmonis atau disharmonis dengan sesama kita.

Kalau ada orang mengatakan Allah itu harus begini, esa misalnya, ya silakan. Saya juga mengatakan Allah itu esa lho. Tapi bukan esa—satu dalam pengertian matematik, sebab kita percaya, Tuhan Semesta Alam yang menciptakan langit dan bumi itu Tuhan yang di dalamnya ada Allah Bapa dan Allah Anak. Dan ketika Allah Anak, Tuhan Yesus Kristus menjadi manusia, Dia mengakui eksistensi Bapa di Surga; Dia mengakui Bapa di Surga lebih besar dari diri-Nya; Dia mengakui ketergantungan yang harus Dia miliki terhadap Bapa di Surga. Dan ini bukan satu hal yang membuat kita menjadi ragu-ragu menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan; bahwa Dia adalah Allah sendiri. Ada orang berkata begini, “Kalau Yesus Kristus itu Tuhan, kenapa Dia berdoa? Dia berdoa kepada siapa?” O iya, Dia Tuhan! Apa artinya ‘Tuhan’? Sekarang saya persoalkan dulu. ‘Tuhan’ artinya “Majikan, Sang Penguasa, Yang Diberi Kekuasaan”. Dia berdoa kepada siapa? Dia berdoa kepada Allah Bapa di Surga. Sebab Pribadi Kedua dari Allah yang Esa itu turun menjadi manusia; mengenakan tubuh manusia, dan hidup dalam ketergantungan penuh kepada Bapa di Surga yang diakui lebih besar dari diri-Nya.

Nah, Saudaraku sekalian, ketika orang-orang Yahudi mendengarkan khotbah Petrus, mereka bertobat. Salah satu pernyataan Petrus yang ditulis di Kisah Rasul… dia mengatakan, “Yesus yang kamu salibkan itu dijadikan Tuhan. ‘Dijadikan Tuhan’, oleh Allah Bapa di Surga.” Bukan berarti sebelumnya Dia bukan Tuhan, tetapi dalam proses penyelamatan, Ia menjadi manusia; Ia menyelesaikan tugas dengan mati di kayu salib, dan segala kuasa di Surga di bumi ada dalam tangan-Nya. Dia menjadi Sang Mesias; Dia menjadi Yang Diurapi; Dia menjadi Raja di atas segala raja. Berbahagialah orang yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Allah sendiri.

Tuhan memberkati Saudara-saudara sekalian. SolaGracia.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 18 April 2009, in Transkrip 10 Menit and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Sdr. Erastus Sabda yang dikasihi Kristus,

    Terima kasih untuk tulisan yang baik ini.

    Salam dalam Kristus,

    Frans Indrapradja

  1. Ping-balik: Yesus Kristus 100% Allah dan 100% Manusia « dongan’s 2.0 – pos roham…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: