Tetap di dalam Firman

Shalom, Saudaraku sekalian yang kekasih.

Dalam satu percakapan, Saudaraku sekalian, Tuhan Yesus mengatakan kepada banyak orang yang percaya kepada-Nya. Orang ini dinyatakan oleh Alkitab “percaya”… percaya kepada Tuhan Yesus. Tuhan berkata, “Jikalau kamu tetap dalam Firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:31-32)

Dari pernyataan ini menunjukkan bahwa orang yang bisa dikategorikan atau dibilangkan “percaya” ternyata belum menjadi murid. Dan, kalau belum menjadi murid, mereka tidak mengetahui kebenaran… jadi kalau mereka tidak mengetahui kebenaran, berarti mereka masih terbelenggu—hidup dalam belenggu: belenggu dosa, belenggu egoisme, belenggu… belenggu kejahatan yang lain.

Jadi kita sebagai orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus tidak boleh merasa puas diri dengan apa yang kita miliki. Tuhan Yesus sendiri berkata, “Kalau kamu tetap dalam Firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku.” Jadi banyak orang yang sekarang ini mengaku percaya, jadi orang Kristen, tapi belum tetap dalam Firman. Mereka belum benar-benar menjadi murid. Kalaupun mengaku murid, itu murid-muridan, murid bohong-bohongan, murid pura-pura; belum murid sungguhan. Bukan murid sungguhan!

Nah, ini menjadi perhatian bagi semua kita, mau tidak mau. Jangan merasa puas bahwa Saudara sudah jadi Kristen. Kalau Kristen yang tidak menjadi murid, itu Kristen yang tidak dikenal! Toh akhirnya tidak masuk Surga, buat apa? Yang akhirnya dibuang dalam api kekal, mau apa, Saudaraku?

Ini yang Tuhan kehendaki: tetap dalam Firman. “Kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Apa sekarang maksudnya “tetap dalam Firman”? Saudara, bukan rahasia lagi ya, semua orang juga pasti mengaminkan apa yang saya katakan: banyak orang Kristen, memahami—atau menanggapi—pengenalan akan Tuhan sebagai hal yang tidak penting atau kurang penting. Pengenalan akan Tuhan dianggap sebagai pelengkap hidup. Padahal Saudaraku, ini lho yang penting dalam hidup kekristenan, yaitu ketika seseorang menjadikan pengenalan akan Tuhan sebagai primadona kehidupan. Hidup untuk mengenal Tuhan. Hidup untuk mengenal Tuhan. Hidup untuk mengenal Tuhan!

Nah, orang seperti ini, pasti dia belajar Firman Tuhan. Baca Alkitab, baca buku-buku rohani yang bermutu, mendengar khotbah yang benar, terus merenungkan Firman itu siang dan malam. “Apakah itu bisa, Pak?” Kenapa tidak bisa? Kalau seseorang mengingini sesuatu, atau menghasrati memiliki sesuatu; katakanlah, ingin punya sepeda motor; siang malam yang dia pikir, sepeda motor. Kalau orang merindukan/menginginkan sebuah mobil; siang malam dia dengar, dia selalu mengingat mobil. Mendengar suara knalpot mobil, yah… langsung ingat, kapan saya punya mobil. Siang malam yang dipikirkan mobil! Melihat majalah pun majalah mengenai mobil, dan seterusnya. Kenapa kita tidak bisa siang malam memikirkan Firman Tuhan? Mestinya bisa, Saudara. Mestinya bisa! Tergantung dari kita, apakah kita memiliki kesungguhan atau keseriusan dengan Tuhan Yesus.

Kalau kita menganggap mengenal Tuhan itu sebagai sambilan, tambahan, bukan sesuatu yang urgen, yang penting dalam hidup ini, jelas… jelas kita akan abaikan hal itu. Kita akan memburu yang lain, mengutamakan yang lain, memprioritaskan yang lain. Tapi kalau seorang merasa bahwa Tuhan itu paling penting, mahapenting; mengenal kebenaran itu segalanya; kita akan memburu pengenalan akan Tuhan ini dengan sungguh-sungguh. Kita akan investasikan waktu, tenaga, uang, apa pun yang kita miliki untuk mengenal Tuhan. Inilah yang namanya tetap dalam Firman. Belajar mengenal Firman dan belajar melakukan, mengamalkan, Saudaraku sekalian. Inilah yang namanya tetap dalam Firman. Jangan hanya jadi Kristen dua jam di gereja; jam yang lain, kafir. Ya? Saya tidak menghakimi Saudara secara pribadi; kenyataannya memang ada yang begitu, Saudaraku. Di gereja dua jam; keluar dari gereja, tidak ada bekas-bekasnya sebagai orang Kristen. Tapi Kristen yang benar adalah sungguh-sungguh belajar Firman, mengerti Firman, dan berusaha melakukannya.

Jika demikian, Saudaraku sekalian, kebenaran… jika demikian, seseorang akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan dia. Nah, sering kali dengan mudah, ya, kita mendoakan orang, “Dalam nama Yesus, saya putuskan tali-tali yang mengikat hidupmu.” Ya kita bukan membantah atau menolak pelayanan pelepasan; kita juga percaya adanya kuasa dari Tuhan Yesus untuk melepaskan belenggu atau ikatan-ikatan. Tetapi Saudaraku sekalian, doa-doa seperti itu tidak, tidak menyelesaikan secara fundamental. Tidak akan menuntaskan, Saudaraku, cukup kita berkata “Dalam nama Yesus”, ya, “Roh serakah keluar! Roh kemarahan keluar! Roh perzinahan keluar! Roh ketakutan keluar!” Waduh, apa setelah didoakan lalu dia menjadi berani, menjadi tidak kuatir, dan jadi orang Kristen yang baik, yang tidak membunuh, tidak menjahati orang, tidak berzina? Belum tentu! Tetapi kebenaran yang dia pahami itulah yang akan mencegah dia berbuat dosa. Membuat dia muak terhadap dosa. Jangankan melakukan, Saudaraku sekalian. Mendengarnya saja, rasanya tidak suka.

Nah, di sinilah kehidupan orang Kristen betul-betul bertumbuh. Tetap dalam Firman itu berarti siang malam teruuus merenungkan Firman itu; jadi ini benar-benar murid, Saudaraku sekalian. Dia akan mengenal kebenaran; dia akan tahu bagaimana kehendak Tuhan itu—apa kehendak Tuhan, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Apa itu. Dia akan mengerti kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan dia.

Saudara, pengertian seorang akan kebenaran Firman itulah yang menentukan kemerdekaan seseorang. Kalau hari ini kita masih dibelenggu dengan materialisme, ya, matrek; dibelenggu dengan pikiran jahat, dendam, kebencian terhadap orang lain; dibelenggu dengan perzinahan, pikiran kotor; dibelenggu dengan ambisi-ambisi; bagaimana melepaskan semua itu? Cukupkah didoakan dalam nama Yesus Kristus, roh ini-roh itu keluar, lalu kita dinyatakan merdeka? Tidak, tidak sama sekali! Tetapi, dengan belajar Firman Tuhan, dengan mengerti Firman Tuhan, mengalami pembaruan pikiran setiap hari, maka dengan sendirinya belenggu-belenggu itu akan digugurkan; belenggu-belenggu itu akan runtuh; rantai-rantai besi akan patah, Saudaraku sekalian. Dan kita dimerdekakan. Dan ini sebenarnya yang sungguh-sungguh Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Ini yang Tuhan maui; ini yang Tuhan inginkan, Saudaraku.

Dan saya mengimbau Saudara-saudara sekalian yang sudah jadi Kristen, jangan puas diri dengan apa yang Saudara miliki. Sekalipun Saudara seorang majelis gereja; sekalipun Saudara seorang pendeta, jangan sombong. Jangan bangga diri! Periksa diri kita; pahami diri kita, Saudaraku, jika keadaan kita ternyata tidak sesuai dengan kehendak Tuhan; keadaan kita ternyata masih dibelenggu dengan banyak hal; bahwa ternyata kita belum menjadi murid yang sesungguhnya.

Kesempatan ini terbatas, tetapi Tuhan masih beri kesempatan. Jika Saudara mau jadi murid, mari masuk, jadi murid Tuhan. Jangan hanya mengaku percaya, puas sebagai orang percaya, tetapi… inilah yang Tuhan kehendaki, agar Saudara benar-benar jadi orang yang dimerdekakan. Kemerdekaan ini, Saudaraku sekalian, merupakan gejala atau ciri-ciri dari seorang yang dilayakkan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Itulah sebabnya apakah seseorang hari ini terbelenggu atau tidak, itu nampak dari sikap hidupnya. Ya? Jangan kita ditipu, disesatkan oleh pikiran kita sendiri, kita perkara—… berkata, “Sekarang saya sudah bebas” padahal kita masih banyak belenggu. Mulutnya mengatakan “Saya bebas hari ini” tapi hidupnya masih terbelenggu. Dan kenyataan itulah yang sering kita jumpai dalam kehidupan, dan kita kadang-kadang bingung, kenapa orang begitu yakin keselamatannya, padahal dia belum tentu selamat.

Dengan kebenaran Firman yang saya sampaikan ini, Saudara akan lebih berhati-hati. Saudara akan sungguh-sungguh mulai menjadi orang-orang yang tetap dalam Firman, karena hanya orang yang tetap dalam Firman, dia adalah murid Tuhan. Dan seorang yang menjadi murid Tuhan ini, terus bertumbuh; dia akan menjadi sempurna seperti Bapa di Surga. Sempurna seperti Tuhan Yesus Kristus. Merdeka dari segala belenggu.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 18 April 2009, in Transkrip 10 Menit and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Tetapi apakah katanya? Ini: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

    -Roma 10 : 8-9

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: