Arsip Blog

Mensyukuri Keunikan dan Keistimewaan

Kita harus mensyukuri keunikan dan keistimewaan kita, dan menyempurnakannya untuk kepentingan Tuhan.

Meneladani Tuhan Yesus, kita harus menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Tuhan kepada kita. Kata yang digunakan untuk “menyelesaikan” adalah telioso yang juga berarti “merampungkan dengan sukses” atau ” menyempurnakan”. Maka kita seyogyanya mensyukuri keunikan dan keistimewaan yang Tuhan berikan kepada kita, dan menyempurnakannya untuk kepentingan-Nya. Untuk itu kita harus memperhatikan beberapa catatan.

Pertama, kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain, sebab memang kita unik dan tidak ada duanya. Membandingkan diri dengan orang lain berarti tidak menerima dan tidak mengerti kebesaran dan keagungan Tuhan. Dengan tidak membanding-bandingkan, kita tidak akan menjadi tinggi hati dan memandang rendah orang lain, tidak juga menjadi rendah diri atau minder.

Kedua, kita tidak perlu berusaha meniru orang lain yang kita kagumi, jika Tuhan tidak menghendakinya. Kita harus menjadikan diri kita seperti yang Tuhan kehendaki. Kita dilahirkan sebagai pribadi orisinal, jangan sampai kita mati sebagai pribadi imitasi. Oleh sebab itu kita harus tetap dalam pembentukan Tuhan yang memberi kita keadaan khusus, sampai menjadi bejana seperti yang Tuhan kehendaki ( Yeremia 18:4 ).

Ketiga, kita perlu menemukan tempat kita untuk mengabdi kepada Tuhan. Ini bertalian dengan bakat yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing. Di mana pun kita berada – tidak hanya terbatas dalam lingkungan gereja – kita dapat mengabdi kepada-Nya. Talenta yang diberikan Tuhan adalah milik-Nya, kita hanya pengelola semata-mata; karena itu kita harus menggunakannya untuk kepentingan Tuhan.

Kuasa kegelapan selalu berusaha membuat kita merasa tidak berarti dan tidak berguna. Tetapi dengan mengenal kebenaran, kita tidak boleh terpengaruh akan tipuan itu. Mari kita menghargai karya Allah yang agung dalam hidup kita, sebab tanpa kita dapat menghargai keistimewaan diri kita sendiri, mustahil kita dapat menghargai orang lain.

Kesempatan hidup kita sangat terbatas, sehingga hendaknya kita meletakkan kepentingan untuk berbuah bagi Tuhan lebih dari segala cita-cita dan keinginan kita. Lakukan kehendak-Nya dan selesaikan tugas yang diberikan-Nya dengan sukses, agar tidak percuma Tuhan menciptakan kita dengan keadaan yang sangat unik dan luar biasa ini.

- Sola gracia -

Harus Dimulai Hari Ini

Kalau seseorang tidak mau menjadi penggubah dirinya berdasarkan tuntunan Firman Kristus atau Injil berarti ia membinasakan dirinya.

Dalam hal keselamatan hidup ini, hendaknya kita tidak berkata bahwa takdirlah yang menjadi penggubah hidup kita. Jika seseorang menuduh takdir sebagai pelakunya maka secara tidak langsung Tuhanlah yang tertuduh sebagai biang keladi segala sesuatu, baik kemiskinan, sakit penyakit, kegagalan karir, kegagalan berumah tangga dan sampai penderitaan umat manusia di api kekal nanti. Tuhan semesta alam bukanlah pribadi seperti itu. Konsep takdir mutlak, bahwa segala sesuatu yang terjadi telah dipersiapkan sebelumnya, merupakan konsep yang tidak mengakui bahwa manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Setiap orang bertanggung jawab sebagai penggubah dirinya sendiri dan menciptakan sejarah bagi dirinya sendiri, bukan saja sejarah dalam hidupnya selama ia ada di dunia ini saja tetapi juga menciptakan sejarah hidupnya dalam kekekalan. Dalam kehidupan ini Tuhan membawa diri-Nya dengan manusia masuk dalam kancah rule of the game atau rule of life, bahwa manusia diberi pilihan bebas untuk menentukan keadaannya. Tanpa fakta ini maka tidak perlu ada penghakiman dan pertanggungjawaban setiap individu di pengadilan Allah. Di sinilah hidup menjadi bernilai dan mestinya dipahami dengan sangat menarik, sebab manusia dimasukkan ke dalam kancah realitas kehidupan yang dahsyat.

Segala sesuatu yang dilakukan masing-masing orang tercatat dan memiliki nilai kekal ( Wahyu 20:11-12 ). Tindakan kita hari inilah yang dapat menyelamatkan dari api kekal. Hal ini jangan disimpangkan dengan pemikiran bahwa Tuhanlah yang akan menghindarkan kita nanti dari api kekal. Tuhan sudah menghindarkannya dengan kematianNya di kayu salib, tetapi apakah seseorang meresponi anugerah tersebut tergantung pilihan masing-masing individu. Kalau seseorang tidak mau menjadi penggubah bagi dirinya berdasarkan tuntunan Firman Kristus atau Injil berarti ia membinasakan dirinya. Orang yang tidak berusaha menjadi penggubah hidupnya sesuai dengan pola Tuhan adalah orang yang menyia-nyiakan keselamatan.

Keselamatan harus dikerjakan hari ini, bukan nanti di balik kubur dengan harapan “mudah-mudahan diterima di sisi Tuhan”. Apakah kita berusaha menggubah hidup kita sesuai dengan polaNya atau tidak, yang menentukan keselamatan kita. Jika tidak berusaha menggubah hidup berarti membawa diri kepada kebinasaan kekal. Kalau seseorang sudah berusaha menggubah hidupnya sesuai dengan pola Tuhan, maka ia membangun keselamatan hidupnya. Ia tidak lagi berpikir mudah-mudahan diterima di sisi Tuhan kalau nanti sudah mati, tetapi yakin ditempatkan bersama-sama dengan orang yang sudah menggubah hidupnya. Dengan demikian sudah nampak jelas apakah seseorang akan bersama dengan Tuhan dalam kemuliaan nanti atau tidak. Hidup seturut dengan pola dan kehendak Tuhan, berarti kita mengerjakan keselamatan kita.Berusahalah mengisi pikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan, bergaul dengan orang yang takut akan Tuhan dan berusaha untuk mengalami Tuhan setiap hari, maka ia akan diubah menjadi seperti yang Tuhan mau.

Jalan Menuju Sukses

Menatap tema ini ada kegelisahan di hati, mengertikah orang-orang mengenai apa yang dimaksud dengan sukses itu. Sama seperti seseorang hendak menuju suatu tujuan, misalnya ke kota Bogor. Masalah utamanya bukan bagaimana menuju kota Bogor atau mencapai kota itu, tapi tahukah di mana dan bagaimana kota Bogor itu. Jangan sampai kota Tangerang dibilang kota Bogor. Tentu saja setiap orang selalu menginginkan sukses, dan terus berjuang untuk mencapainya sampai akhir hayatnya. Tetapi persoalannya adalah adalah apa yang dimaksud sukses itu dan bagaimana meraihnya. Untuk memahami apa sukses itu, kita harus mulai dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia. Di sini terjadi benturan konsepsi. Tergantung filosofi hidup orang itu. Filosofi seseorang ditentukan apa yang mengisi jiwanya.

Jadi pengertian sukses sangat relatif, yaitu tergantung filosofi hidupnya. Orang yang memandang materi sebagai nilai tertinggi kehidupan, menjadi orang kaya berarti suatu kesuksesan. Orang yang memandang nilai akademis sebagai ukuran suksesnya, meraih gelar berarti suatu keberhasilan. Orang yang memandang kehormatan sebagai nilai tertinggi kehidupan, bila menjadi seorang yang terhormat dalam gelanggang politik, pemerintahan dan berbagai bidang hidup akan merasa diri sukses dan lain sebagainya.

Sukses bukan saja relatif tetapi juga bergerak, artinya biasanya orang tidak merasa puas pada suatu level, ia akan selalu bergerak untuk meraih level yang lebih tinggi. Pada mulanya merasa sukses kalau sudah menjadi sarjana ( S1 ), tetapi ketika melihat orang lain memiliki gelar Master dan selanjutnya. Orang yang merasa sukses ketika memiliki penghasilan 50 juta rupiah per bulan. Tetapi ketika memiliki peluang bisa mengumpulkan uang lebih dari itu, maka ia tidak akan puas dengan jumlah uang tersebut. Ia mengingini jumlah uang yang lebih besar lagi, sampai akhirnya pengertiannya menjadi gelap, sehingga tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, citra diri dan kepantasan.

Dalam hal ini kita tidak boleh menyamakan pengertian sukses menurut anak-anak Tuhan yang diajar berdiri di atas kebenaran Alkitab dengan mereka yang tidak mengenal kebenaran Firman Tuhan. Menurut dunia, sukses adalah bila dapat menikmati dunia sebanyak mungkin. Dunia disini artinya segala kekayaan, kehormatan dan berbagai fasilitas hidup materi. Bila meningkat jumlah hartanya maka itu tanda-tanda sukses ( Lukas 12:18-21 ). Bila meningkat jumlah penghormatan yang diterima dari manusia itulah tanda-tanda sukses. Tetapi anak-anak Tuhan memiliki tanda sukses yang berbeda. Tanda sukses anak Tuhan adalah : hidup dalam persekutuan dengan Tuhan dan pengabdian kepada-Nya ( Filipi 1:21 ). Inilah maksud Tuhan menciptakan manusia. Oleh sebab itu kita tidak boleh membawa konsep sukses menurut dunia ke wilayah anak-anak Tuhan. Anak-anak Tuhan harus mengalami pembaharuan pikiran sehingga arah hidupnya benar. Konsep sukses yang salah akan membinasakan hidup seseorang.

Sangat mengejutkan ternyata terdapat banyak orang Kristen yang tidak memiliki sasaran yang jelas dalam hidup ke-Kristen-nannya. Ini berarti dalam kehidupan ini ia tidak memiliki arah yang jelas. Rasul Paulus dalam suratnya berkata : “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul” ( 1 Korintus 9:26 ). Bagai seorang atlet yang sedang turun di medan pertandingan ia tahu persis dimana garis finish-nya, ia tahu ke mana seharusnya ia melangkah. Untuk itu arah sangat penting. Bukan hanya kecepatan langkah yang harus dimilikinya tetapi juga arah langkahnya.

Hidup ini adalah sesuatu yang sangat hebat, pergumulan yang luar biasa artinya sesuatu yang harus digumuli secara serius. Pergumulan itu bukan terletak pada sukarnya mencari nafkah, sukarnya mempertahankan reputasi, membela harga diri dan nama baik, mengokohkan kedudukan dan kekuasaan dunia, yang pada umumnya dipahami sebagai kesuksesan tetapi pada mempertahankan konsistensinya pada arah perjalanan hidup yang benar. Seseorang yang hidupnya sudah benar, ia harus tetap bertahan untuk ada pada jalur yang benar, ia tidak boleh menyimpang ke kanan atau ke kiri. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, Paulus berkata : “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus ( Filipi 3:13-14). Dalam pernyataannya ini kita menemukan kembali sikap hidup Paulus yang menunjukkan bahwa ia memiliki arah hidup yang jelas. Kehidupan Paulus adalah kehidupan yang bertujuan jelas. Perhatikan perkataannya “berlari-lari kepada tujuan…”. Untuk ini sejenak kita patut berhenti merenungkan hidup kita ini apakah arah hidup kita ini sudah benar. Dari hari ke hari kita melangkah dalam kepadatan kesibukan dan tugas, coba kita periksa kemana arah hidup kita sebenarnya. Sukses bagaimanakah yang sedang didamba ?

Hendaknya kita tidak merasa gagal hanya karena belum memiliki apa yang dunia hari ini tawarkan kita. Juga jangan merasa sudah berhasil karena memiliki segala fasilitas. Kalau kita merasa kurang berkenan dengan materi maka  seseorang tidak dapat beribadah kepada Tuhan. Alkitab berkata : Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar ( 1 Timotius 6:6 ) Kata cukup dalam teks aslinya adalah autarkeias, yang dapat diterjemahkan contentment atau sufficiency, merasa cukup atau puas dengan apa yang sudah dimiliki. Kita harus merasa bahwa klimaks puas kita adalah ketika kita sampai di rumah Bapa menerima mahkota abadi ( 2 Timotius4:8 ). Tidak ada sukses yang lebih besar dari ini.

Akhirnya bagaimana kita dapat mencapai sukses yaitu kalau kita mengikut jejak Tuhan Yesus ( Matius 16:24 ). Memikul salib, adalah proses menuju kematian. Justru ketika kita mematikan cita-cita yang bertendensi kepada kebanggaan diri dan kesenangan dunia, maka itulah jalan menuju sukses. Ciri-ciri orang sukses antara lain :

Pertama, dosa tidak lagi berkuasa dalam tubuh yang fana. Ini adalah hukum terpenting dalam hidup kekristenan. Kesediaan untuk ini merupakan hal utama. Itulah sebabnya kita memberi diri dibaptis. Dalam baptisan tersebut kita menguburkan cara hidup kita yang lama yang Tuhan tidak kehendaki dan hidup dalam hidup yang baru ( Roma 6:1-4 ). Dalam hal ini kita menemukan bahwa pengertian kesucian dalam keKristenan bukan sekedar tidak berbuat dosa, tetapi tidak dapat berbuat dosa lagi. Ini berarti mengambil mengenakan kodrat Ilahi (2 Petrus 1:3-4 ). Mengenakan kodrat Ilahi sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah ( Ibrani 12:9-10 ). Kodrat Ilahi sejajar dengan kekudusan Allah. Orang yang mengenakan kodrat Ilahi adalah orang yang memiliki kekudusan Allah. Jadi kalau Tuhan Yesus mengatakan agar kita harus sempurna seperti Bapa artinya agar kita mengenakan kodrat Ilahi. Mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, teks aslinya adalah theias koinoonoi phuseous, kalimat ini hendak menunjuk pribadi yang ber”associate” dengan Allah. Ini adalah pribadi yang pikiran dan perasaannya selalu berelasi atau kontak dengan Allah terus-menerus ( to connect or bring into relations, as thought, feeling ). Pribadi yang telah memiliki kualitas hidup seperti ini adalah Tuhan Yesus Kristus. Dialah model atau prototype manusia yang dikehendaki oleh Allah untuk dikenakan setiap umat pilihan dalam hidup ini. Injil-lah tujuan hidup yang harus digumuli dan harus diraih.

Orang yang mengenakan kodrat Ilahi adalah orang-orang yang berpikir sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Allah. Tentu saja dengan kualitas berpikir dan berperasaan seperti ini, seseorang dapat melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Ia melakukan kehendak Allah bukan karena suatu tekanan perintah atau kewajiban tetapi sudah menjadi suatu nature yang otomatis bergerak dalam hidupnya ( not to do but to be ). Untuk mencapai taraf atau level seperti ini seseorang harus melalui proses pendewasaan atau pemuridan yang panjang, yaitu sepanjang umur hidupnya.

Kedua, hidup sepenuhnya bagi kepentingan Tuhan. Anak-anak Tuhan harus memiliki kesadaran bahwa tidak ada lagi bagian hidupnya yang digunakan untuk kepentingannya sendiri. Baginya hidup bagi Tuhan bukanlah sebuah kewajiban tetapi kebutuhan. Hidup bagi Allah Bapa atau kepentingan Kerajaan Allah adalah gaya hidup Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menunjukkan gaya hidup seperti ini dalam pernyataanNya “makananKu adalah melakukan kehendak Bapa” ( Yohanes 4:34 ). Dalam terjemahan lain diterjemahkan “Adapun rezeki-Ku, yaitu melakukan kehendak Dia”. Dalam pernyataan yang lain Paulus berkata : di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya ( Filipi 3:10 ). Kalimat “menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” ( being made comformable unto His death ) artinya mati seperti Tuhan Yesus mati. Kematian macam apakah yang dimiliki Tuhan. Tentu kematian di atas kayu salib. Ia menderita bukan karena kesalahan-Nya, bukan karena membela ambisi-Nya tetapi untuk kepentingan semua orang yang berdosa.

Kita harus sadar bahwa kita sebenarnya tidak berhak ada. Kalau kita bisa mengadakan diri kita sendiri, maka kita berhak memiliki keinginan sesuka kita sendiri tetapi ternyata kita tidak bisa membuat diri kita ada. Tuhan yang mengadakannya, maka Tuhanlah yang harus berhak sepenuhnya atas diri kita. Maka kita harus berani berkata dengan tegas : God doesn’t exist for me, I exist for The Lord. Orang percaya yang benar akan berusaha untuk belajar tidak berhak memiliki suatu keinginan. Segala keinginannya haruslah sesuai dengan kehendak Bapa. Orang percaya yang benar akan melayani Tuhan dengan segenap hidup, sehingga semua orang percaya menjadi fulltimer bagi Allah.

Ketiga, mengarahkan sepenuh kepada perwujudan fisik Kerajaan Allah. Untuk turut mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi, setiap orang harus mengoptimalkan potensi yang ada. Mengoptimalkan potensi berarti mengembangkan semua bakat dan kapasitas diri tanpa batas dalam berbagai bidang kehidupan. Sesungguhnya inilah pelayanan tersebut. Berbicara mengenai panggilan pelayanan, ini menunjuk kepada sesuatu yang datang dari luar, dalam hal ini Tuhan sebagai “pemanggilnya”, yaitu dipanggil untuk melayani Dia. Manusia memikul tanggung jawab untuk memilih suatu profesi dan bertanggung jawab atas profesi yang dipilihnya yaitu dengan mengusahakan agar mencapai hasil yang maksimal.

Seseorang mau tidak mau akan menempatkan dirinya pada pekerjaan tertentu sebagai upaya mencari nafkah dan kelangsungan hidupnya. Bagi manusia yang berada di lingkungan kota dan hidup pada peradaban modern, sejak dini mulai menjuruskan dirinya pada pendidikan tertentu yang akan menentukan jabatannya kelak di kemudian hari. Oleh sebab itu hal profesi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang percaya.

Pekerjaan kita haruslah tempat di mana kita dapat mengabdi bagi Kerajaan Allah, Anak-anak Tuhan memiliki dan memikul tanggung jawab atas profesi yang dipilihnya. Mengingat hal ini maka hendaknya kita memikirkan dan memperhatikan benar-benar hal pemilihan profesi tersebut. Dalam pemilihan profesi yang kita lakukan, kita tidak boleh melupakan rencana Allah atas hidup kita masing-masing. Dalam memilih suatu profesi kita harus bertanya kepada Tuhan, “Di manakah dan dengan cara bagaimanakah aku harus mengabdi kepadaMu Tuhan ?”

Semua pekerjaan adalah pekerjaan Tuhan atau pekerjaan rohani bila dilakukan dengan motivasi  bagi kemuliaan Tuhan. Pembedaan profesi harus dilihat bukan karena jenis profesi tersebut semata-mata tetapi motivasi terdalam orang melakukan pekerjaan atau memilih profesi tersebut. Dalam profesi yang kita miliki, yang di dalamnya kita bergumul dan mengisi hidup, kita berurusan dengan Allah dan Firman-Nya. Selanjutnya perintah Tuhan yang termuat di dalam Firman-Nya harus menerangi seluruh segi hidup kita, juga di dalam profesi yang di dalamnya kita bergumul bekerja. Sehingga tidak ada pemisahan antara kesusilaan pribadi dan kesusilaan profesi. Sebagai warga Kerajaan Sorga, kita harus tunduk kepada otoritas kebenaran Firman-Nya di manapun kita berada.

Untuk mencapai keberhasilan dalam bidang yang digeluti seseorang harus giat bekerja. Kita tidak boleh menyerahkan wilayah tanggung jawab kita kepada Tuhan. Berkat dan penyertaan Tuhan telah disediakan, tetapi kerja keras untuk mengembangkan diri adalah tanggung jawab kita. Berkat dan penyertaan Tuhan tidak berarti banyak tanpa kerja keras masing-masing individu. Untuk itu ada beberapa saran-saran atau nasihat yang harus ditambahkan untuk mencapai sukses :

Pertama, selalu memperbaharui gairah hidup bagi Tuhan.

Kedua, menemukan tempat di mana seseorang efektif berguna bagi pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini setiap orang memiliki tempat yang spesifik.

Ketiga, menyusun jadwal kegiatan secara konsisten dan ketat. dalam hal ini harus disadari bahwa waktu adalah harta dan sarana yang tidak bisa dibeli tetapi sangat menentukan keberhasilan seseorang.

Keempat, membuang segala kesibukan yang tidak mendukung pengembangan bidang yang digeluti. Harus belajar berkata TIDAK untuk segala kegiatan yang tidak mendukung pengembangan bidang yang digeluti.

Kelima, meninggalkan komunitas yang tidak mendukung bidang yang digeluti. Harus diingat bahwa dengan siapa seseorang berkomunitas, maka hal itu sangat memberi warna kehidupan.

Keenam, memiliki target-target dan rencana kerja yang baik. Tanpa target dan rencana kerja yang baik, banyak kegiatan sia-sia yang tersisipkan dan hal itu akan menumpulkan efektifitas waktu yang tersaji.

Ketujuh, melakukan evaluasi secara berkala atas hasil atau prestasi yang telah dicapai. Dengan adanya rencana kerja dan target-target yang harus dicapai maka evaluasi menjadi lebih mendesak dilakukan.

Solagracia

Responi Dengan Tanggung Jawab !

Mengenakan gairah Tuhan Yesus merupakan anugerah yang diberikan Allah hanya bagi umat pilihan.

 

Hidup yang diisi oleh gairah atau semangat Tuhan Yesus bukanlah kehidupan yang menakutkan dan membuat seseorang menjadi aneh serta tidak bisa menikmati kehidupan hari ini. Justru sebaliknya, inilah kehidupan yang sangat bernilai luar biasa. Kristus adalah teladan manusia yang sesuai dengan rancangan Allah semula, jadi kalau kita mau dikembalikan kepada rancangan semula tersebut, mengenakan gairah-Nya adalah suatu keharusan.

Jika kita kita diperkenankan memiliki kehidupan yang bernilai tersebut, itu merupakan anugerah yang tiada ternilai. Sama seperti Nuh, ketika ia menerima suara Tuhan untuk membuat bahtera. Di satu sisi, Nuh harus memikul tanggung jawab yang besar; tetapi di sisi lain, Nuh mendapat anugerah atau kasih karunia untuk diselamatkan bersama dengan orang-orang yang dicintainya. Itulah yang dikatakan oleh Alkitab, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan ( Kejadian 6:8 ).

Jadi anugerah atau kasih karunia itu memuat tanggung jawab yang besar. Tidak mungkin Allah yang bertanggung jawab memberi kita anugerah tanpa tanggung jawab. Tetapi tanggung jawab tersebut tidak mengurangi nilai anugerah tersebut sama sekali.

Panggilan untuk mengenakan kehidupan Tuhan Yesus bukanlah beban, bukan sesuatu yang membuat seseorang merasa tertekan atau teraniaya. Panggilan itu justru suatu anugerah. Hanya saja sayang sekali karena banyak orang Kristen menganggap bahwa anugerah tidak perlu diresponi dan tidak butuh keaktifan, mereka gagal untuk menerima anugerah tersebut. Tanpa respons yang semestinya, kita tidak memasuki proses keselamatan. Ironisnya, banyak orang merasa telah memiliki keselamatan itu walaupun tidak mau bertindak secara memadai untuk meresponinya. Hati-hatilah sebab ini merupakan kebodohan yang membinasakan.

Perlu dicatat serius bahwa sesungguhnya tidak banyak orang yang memiliki kesempatan yang luar biasa ini. hanya orang yang terpilihlah yang mendapatkan kesempatan ini. Jika kita masih bisa mengetahui kebenaran ini dan belajar memahami petunjuk pelaksanaan kehidupan sebagai anak-anak Allah, itu berarti kita termasuk orang pilihan. Maka marilah dengan penuh ucapan syukur atas anugerah ini, kita serius menyambut pemilihan tersebut dengan penuh tanggung jawab meresponinya.

 

 

-Solagracia-

Synergeo

Proses pembentukan karakter kita membutuhkan kerjasama Tuhan dan kita dalam segala keadaan dan kejadian yang kita alami.

Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus menyangkut proses yang berlangsung dalam diri kita. Tetapi sebelum kita membahas proses tersebut, sebelumnya kita harus mengetahui dan mempercayai prinsip yang terpenting, bahwa keselamatan hanya ada di dalam Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada jalan lain di luar karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Tidak ada peluang untuk mempercayai ada keselamatan di luar Kristus.

Setelah itu, kita harus memahami titik berat proses keselamatan. Dewasa ini banyak orang yang menganggap titik berat keselamatan adalah bahwa Tuhan Yesus menyelesaikan semua masalah dalam hidup ini, seperti kemiskinan, sakit penyakit, pekerjaan, jodoh, dan sebagainya. Ini pandangan yang keliru dan menyesatkan. Harus ditegaskan bahwa proses keselamatan tidak menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan pembentukan karakter (character building) (Roma 14:17). Oleh karena itu, pelayanan gereja yang menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan jasmani sejatinya menyesatkan, sebab akan sangat menghambat usaha Tuhan mengembalikan manusia pada rancangan semula, membentuk manusia seperti yang dikehendaki-Nya.

Proses keselamatan, yakni pembentukan karakter ini merupakan suatu proses yang membutuhkan waktu, sebab mustahil seseorang mendadak menjadi sempurna. Ini berarti proses keselamatan berlangsung melalui segala keadaan dan kejadian yang dialami seseorang dan terjadi dalam keterlibatan Tuhan. Oleh sebab itu dibutuhkan kerja sama atau usaha dua pihak – Tuhan dan kita – untuk mewujudkannya.

Perlu diketahui bahwa kata “turut bekerja” dalam Roma 8:28 adalah synergeo yang merupakan gabungan dua kata, syn yang berarti “bersama” dan ergon yang berarti “bekerja”. Synergeo berarti “bekerja sama” atau “bekerja sebagai mitra untuk mencapai tujuan bersama”. Dari kata inilah kita mengenal kata modern sinergi, yang mengalami penyempitan makna sebagai “bekerja sama untuk memperoleh hasil gabungan yang lebih tinggi daripada jumlah hasil jika masing-masing pihak bekerja sendiri”. Jadi jelas bahwa Allah tidak bekerja sendiri dalam hal ini; kita pun harus ikut terlibat. Pengharapan kehidupan di dunia ini hanyalah Kerajaan Surga. Hidup di dunia ini hanyalah persiapan untuk kehidupan di dunia yang akan datang, seperti persemaian. Kita disemai untuk kehidupan yang akan datang, yang merupakan tujuan kita. Fokuskan diri kita untuk meraihnya dengan bekerja sama dalam proses keselamatan.

By His Stripes

TRUTH Edisi 60/Juli

TRUTH Edisi 60/Juli

We often hear people say, “By His stripes we are healed.” The impression raised from this statement, which was taken from 1Pet 2:24 and Isa 53:5 is, “Don’t worry about viruses and bacteria, don’t be afraid of hypertension, diabetes, stroke, cancer, and other diseases.” This is usually added with a statement that the Lord has borne our infirmities or diseases (Isa 53:4). It means viruses and bacteria are no longer able to infect the body of the believers. This description is completely misleading and damaging the life of God’s children. From 1Pet 2:24, actually we can see clearly that the disease which is healed by Jesus’ stripes is the disease of sin.

We don’t doubt God’s healing power at all; but this does not mean we are allowed to live recklessly and pay no attention about how to take proper care of our body. In the Bible we can find how God strictly commanded his chosen people—the Israelites—about eating only clean food (Lev 11:1-31). Paul also gave an advice to Timothy, his spiritual son, to drink a little wine for his health (1Tim 5:23). The New Testament never suggest that we may ignore the health of our body.

If we don’t take proper care of our body, we deserve to worry: no wonder we will be sick or die young. Maintaining a healthy body involves several things: healthy meal pattern, regular exercises, ample water, sufficient morning sunshine, ability to control our emotions, avoiding stress, plenty of fresh air for us to breathe, etc. After our maximum effort of taking care of our health (even though it is not perfect), then we can throw our worry away.

One day, a preacher told me directly that we have to pray before our meal, so that the cholesterol content in the food we eat doesn’t harm our body anymore. I am strongly against this statement. It is deceitful, because a person reaps what he sows (Gal 6:7). Surely everything we eat impacts our body. It is better to prevent than to cure, because medicines laden with chemicals certainly have side effects on our body. The habit to take a good and proper care of our body will keep us safe from diseases, physical suffering which troubles many people around us, and wasting our money. It will also prevent us from dying young. God’s power will not preclude us from diseases, if we fail to take responsibility of our own body’s health.

This  is a translation of a devotional from TRUTH Daily Enlightenment, No. 60/July Edition. TRUTH is now available in Indonesian language. For subscription or more information, please contact (021) 68 70 7000 or 08 7878 70 7000.

Pilihan dan Tanggung Jawab

Saudara-saudaraku yang terkasih,

Menjadi persoalan mengapa kita tidak kunjung menjadi anak Tuhan yang baik; mengapa kita masih jatuh ke dalam dosa dan berkarakter buruk. Barangkali kita sudah berusaha berdoa memohon pertolongan Tuhan, tetapi keadaan kita tidak berubah. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena kita tidak memenuhi bagian kita. Setiap orang memiliki bagian yang sering kita sebut sebagai tanggung jawab. Bagian kita ini harus kita penuhi. Tuhan bukannya tidak sanggup untuk membuat kita dalam sekejap menjadi seorang yang benar-benar baik, tetapi Tuhan tidak akan melakukan hal itu, sebab itu berarti penyangkalan terhadap integritas-Nya (2Tim. 2:13).

Tuhan yang telah memberi kebebasan terhadap manusia konsekuen terhadap keputusan-Nya untuk memberi kebebasan kepada manusia untuk bertindak terhadap setiap keputusan dan pilihan yang mereka ambil dalam hidup ini. Hal ini juga termasuk dalam membangun iman, kesucian hidup dan karakternya. Tahukah kita bahwa keberkenanan kita terhadap Tuhan bukan karunia atau anugerah, melainkan tanggung jawab yang harus kita tunaikan di hadapan Tuhan?

Masuk surga itu bukanlah keberuntungan, dan masuk neraka bukanlah kecelakaan. Semua tergantung dari pilihan dan keputusan kita yang harus disertai dengan tindakan. Dalam Gal. 6:7-8, Alkitab berkata, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Untuk itulah kita tidak boleh menganggap sepele jalan keselamatan yang harus kita jalani sebagai anak-anak Tuhan. Kita harus memilih salah satu; kita tidak bisa berjalan dalam roh dan sekaligus berjalan dalam daging. Kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24). Komitmen untuk hidup yang menyenangkan Tuhan saja tidaklah cukup. Diperlukan suatu tindakan kita dalam mengambil mengambil keputusan dan pilihan untuk berjalan di dalam roh atau berjalan di dalam daging.

Dalam Gal. 5:19-23 kita dapat melihat ada beberapa ciri kedagingan dan kerohanian. Jika kita mau jujur, ternyata hidup kita selama ini lebih banyak menghasilkan buah-buah kedagingan dibandingkan dengan buah-buah roh. Tanggung jawab itu sangat penting dalam hidup kita. Kita tidak bisa membiarkan diri kita berlarut-larut dalam kesibukan yang tidak berdampak pada kekekalan. Manusia dapat disebut sebagai makhluk yang bertanggung jawab apabila manusia memiliki kebebasan. Oleh karena manusia memiliki kebebasan, manusia harus bertanggung jawab.

Dalam kekristenan, tidak ada yang namanya takdir, karena hal itu bertentangan dengan kebebasan yang telah Tuhan berikan kepada manusia. Dan manusia juga dituntut untuk bertanggung jawab dalam kebebasan yang telah Tuhan berikan dalam hidup manusia. Kehidupan ini bukanlah nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan tantangan yang harus dilalui dengan penuh keberanian dan tanggung jawab.

Percayalah bahwa Dia akan mencukupi kebutuhan kita bila kita dapat hidup bertanggung jawab; hidup dalam pengabdian dan pelayanan kepada-Nya.

SolaGracia.

Karyawan yang Melayani

Saudara-saudaraku yang terkasih,

Kalau kita benar-benar mengasihi Tuhan, kita akan menunjukkan kasih kita kepada Tuhan dengan memaksimalkan semua kemampuan yang ada pada kita. Orang yang gagal dalam pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, pasti akan gagal juga dalam pekerjaan yang lainnya atau sulit untuk bisa bangkit dalam pekerjaan lainnya. Kita memang perlu mempertimbangkan faktor “orang yang tepat di tempat tepat”, tetapi jika seseorang selalu gagal dan tidak pernah produktif dalam suatu karyanya pasti ada yang tidak beres dalam hidupnya.

Dalam Rm. 12:1, firman Tuhan mengatakan, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. “Demi kemurahan Allah” artinya karena Tuhan telah mengasihi kita dan memberikan kemurahanNya yang tak terhingga, maka kita pun patut untuk memberikan tubuh dan hidup kita sebagai korban yang hidup dan berkenan kepadaNya. Tentu kalau kita mempersembahkan tubuh yang mewakili hidup kita ini, kita harus mempersembahkan dengan ukuran segenap; segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, segenap kekuatan, dll. Pertanyaannya, bagaimana kita mewujudkan firman dalam Rm. 12:1 ini dalam hidup kita? Ada beberapa pertimbangan penting yang harus kita miliki untuk mengubah gaya hidup kita.

Pertama, kita harus menyadari bahwa apa pun pekerjaan kita (yang tidak bertentangan dengan norma dan etika kehidupan). Itu adalah tempat dimana kita bekerja mencari nafkah setiap hari. Pekerjaan kita harus menjadi pelayanan yang benar dimana kita dapat menerjemahkan firman yang berkata “Jika engkau makan atau jika engkau minum atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Allah.” (1Kor. 10:31). Banyak orang yang mau mengikut Yesus secara fisik, tetapi Tuhan tidak mengizinkannya. Di antara orang-orang yang tetap Tuhan kehendaki untuk memegang profesinya adalah Zakheus. Tuhan tidak menarik Zakheus untuk masuk ke dalam 12 deret barisan murid-muridNya. Padahal belum tentu murid-muridNya yang lain dapat memiliki sikap pertobatan yang lebih baik dari Zakheus. Oleh sebab itu jangan sampai kita membagi-bagi mana yang termasuk pekerjaan rohani dan mana yang pekerjaan duniawi. Itu keliru!

Kedua, tempat kita bekerja adalah laboratorium di mana Tuhan mengembangkan kedewasaan rohani kita. Di tempat itulah kita didewasakan Tuhan melalui keadaan yang khusus untuk kita. Jadi jangan berharap tempat kita bekerja adalah tempat yang nyaman. banyak orang Kristen gagal mengalami kedewasaan rohnaninya karena hal ini. Sadarilah bahwa tidak ada kedewasaan tanpa ketidaknyamanan. Jika kita ingin menjadi dewasa, maka kita harus tahan banting dengan keadaan yang tidak nyaman. Untuk itu jangan sampai kita pindah kerja sebelum Tuhan sendiri yang memindahkan kita dari tempat itu.

Ketiga, tempat kita bekerja itu adalah laboratorium Tuhan untuk menjadikan kita berkat bagi orang lain. Kita harus berpikir bahwa kita adalah pendeta, mentor dan teladan bagi orang-orang dimana kita berada. Tetapi jangan pernah kita menawarkan diri untuk menjadi terang di situ, sebab Tuhan yang akan mempromosikan kita di situ. Pelita itu akan Tuhan taruh di tengah rumah untuk menerangi banyak orang, bukan malah kita membawa diri kita sendiri untuk menjadi sok terang.

Solagracia.

Malas Itu Dosa

Saudara-saudaraku yang terkasih,

Malas artinya tidak rajin. Untuk mengetahui definisi malas, maka kita harus memahami pengertian rajin terlebih dahulu. Rajin itu berarti giat bekerja, bersungguh-sungguh melakukan suatu kegiatan dan selalu berusaha. Berarti malas adalah sebaliknya; tidak giat bekerja, tidak bersungguh-sungguh melakukan suatu kegiatan dan tidak selalu mau berusaha atau tidak mau berusaha sama sekali. Masalah yang sangat krusial di sini adalah rajin untuk siapa? Jadi pemberitaan Firman ini hanya ditujukan kepada orang-orang yang sudah rajin untuk Tuhan. Orang yang sudah memiliki komitmen dan sudah mulai terus bertumbuh untuk memberikan segenap hidupnya bagi Tuhan. Sebab yang harus ditetapkan di sini adalah ke arah mana kegiatan hidup kita, dan rajin untuk siapa?

Sejauh ini mungkin tidak banyak ditemukan orang-orang yang berani untuk memberikan segenap hidupnya untuk Tuhan. Memberikan segenap hidupnya untuk Tuhan bukan berarti harus memberikan uang yang banyak untuk Tuhan dan bukan harus menjadi full timer di gereja. Memberikan segenap hidup untuk Tuhan berarti memberi diri untuk mengabdi dan melayani Tuhan dalam kesehariannya. Namun demikian juga masih terlihat segelintir orang yang memiliki cikal bakal yang kuat untuk memberikan hidupnya bagi Tuhan.Jadi seperti apakah ciri-ciri orang yang malas tersebut?

Pertama, orang yang malas itu adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak ada orang malas yang dapat bertanggung jawab. Pada hakikatnya setiap orang pasti memiliki maksud dan tujuan ilahi dalam dirinya yang benar-benar khusus, dan Tuhan pun pasti mempercayakan masing-masing individu tanggung jawab.

Kedua, orang malas adalah orang yang tidak mengoptimalkan potensi yang telah Tuhan taruh di dalam dirinya.

Ketiga, orang yang malas adalah orang yang gagal mencapai target yang Tuhan kehendaki dalam hidupnya karena ia tidak mengoptimalkan potensi yang telah Tuhan berikan.

Dalam kekekalan nanti orang-orang yang malas tersebut akan mengalami kerugian yang tidak ternilai. Dalam dunia ini orang-orang yang malas tersebut hanya akan menjadi beban dan benalu bagi sesamanya. Hidupnya tidak akan dapat menjadi berkat. Ingatlah bahwa keberadaan kita hari ini ditentukan dari apa yang sudah kita lakukan di hari-hari kemarin, dan keadaan kita nanti akan ditentukan apa yang sudah kita lakukan dihari-hari sekarang.

Jadi sesungguhnya malas itu dosa. Kenapa demikian? Karena pada hakikatnya orang yang malas itu adalah orang yang tidak mau mencapai tujuan ilahi dalam hidupnya karena ia tidak bertanggung jawab untuk mengoptimalkan potensi yang telah Tuhan taruh dalam dirinya. Akhirnya ia hidup hanya untuk menjadi beban dan benalu bagi sesamanya. Padahal seharusnya diri kita menjadi berkat yang dapat mengangkat beban orang lain.

Saat ini yang merusak mental umat Tuhan untuk menjadi umat yang rajin adalah pengajaran di mimbar-mimbar gereja yang mengajarkan penyelesaian masalah hanya dengan doa dan mukjizat tanpa memahami tanggung jawab yang kita harus penuhi dalam hidup ini. Bahkan mentang-mentang kita merasa sebagai anak Tuhan, kita malah mengharapkan perkara-perkara yang besar terjadi dalam hidup ini hanya dengan doa dan mukjizat saja. Sungguh memprihatinkan sekali.

SolaGracia.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol. 3:23)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28.814 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: