Arsip Blog

By His Stripes

TRUTH Edisi 60/Juli

TRUTH Edisi 60/Juli

We often hear people say, “By His stripes we are healed.” The impression raised from this statement, which was taken from 1Pet 2:24 and Isa 53:5 is, “Don’t worry about viruses and bacteria, don’t be afraid of hypertension, diabetes, stroke, cancer, and other diseases.” This is usually added with a statement that the Lord has borne our infirmities or diseases (Isa 53:4). It means viruses and bacteria are no longer able to infect the body of the believers. This description is completely misleading and damaging the life of God’s children. From 1Pet 2:24, actually we can see clearly that the disease which is healed by Jesus’ stripes is the disease of sin.

We don’t doubt God’s healing power at all; but this does not mean we are allowed to live recklessly and pay no attention about how to take proper care of our body. In the Bible we can find how God strictly commanded his chosen people—the Israelites—about eating only clean food (Lev 11:1-31). Paul also gave an advice to Timothy, his spiritual son, to drink a little wine for his health (1Tim 5:23). The New Testament never suggest that we may ignore the health of our body.

If we don’t take proper care of our body, we deserve to worry: no wonder we will be sick or die young. Maintaining a healthy body involves several things: healthy meal pattern, regular exercises, ample water, sufficient morning sunshine, ability to control our emotions, avoiding stress, plenty of fresh air for us to breathe, etc. After our maximum effort of taking care of our health (even though it is not perfect), then we can throw our worry away.

One day, a preacher told me directly that we have to pray before our meal, so that the cholesterol content in the food we eat doesn’t harm our body anymore. I am strongly against this statement. It is deceitful, because a person reaps what he sows (Gal 6:7). Surely everything we eat impacts our body. It is better to prevent than to cure, because medicines laden with chemicals certainly have side effects on our body. The habit to take a good and proper care of our body will keep us safe from diseases, physical suffering which troubles many people around us, and wasting our money. It will also prevent us from dying young. God’s power will not preclude us from diseases, if we fail to take responsibility of our own body’s health.

This  is a translation of a devotional from TRUTH Daily Enlightenment, No. 60/July Edition. TRUTH is now available in Indonesian language. For subscription or more information, please contact (021) 68 70 7000 or 08 7878 70 7000.

Pilihan dan Tanggung Jawab

Saudara-saudaraku yang terkasih,

Menjadi persoalan mengapa kita tidak kunjung menjadi anak Tuhan yang baik; mengapa kita masih jatuh ke dalam dosa dan berkarakter buruk. Barangkali kita sudah berusaha berdoa memohon pertolongan Tuhan, tetapi keadaan kita tidak berubah. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena kita tidak memenuhi bagian kita. Setiap orang memiliki bagian yang sering kita sebut sebagai tanggung jawab. Bagian kita ini harus kita penuhi. Tuhan bukannya tidak sanggup untuk membuat kita dalam sekejap menjadi seorang yang benar-benar baik, tetapi Tuhan tidak akan melakukan hal itu, sebab itu berarti penyangkalan terhadap integritas-Nya (2Tim. 2:13).

Tuhan yang telah memberi kebebasan terhadap manusia konsekuen terhadap keputusan-Nya untuk memberi kebebasan kepada manusia untuk bertindak terhadap setiap keputusan dan pilihan yang mereka ambil dalam hidup ini. Hal ini juga termasuk dalam membangun iman, kesucian hidup dan karakternya. Tahukah kita bahwa keberkenanan kita terhadap Tuhan bukan karunia atau anugerah, melainkan tanggung jawab yang harus kita tunaikan di hadapan Tuhan?

Masuk surga itu bukanlah keberuntungan, dan masuk neraka bukanlah kecelakaan. Semua tergantung dari pilihan dan keputusan kita yang harus disertai dengan tindakan. Dalam Gal. 6:7-8, Alkitab berkata, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Untuk itulah kita tidak boleh menganggap sepele jalan keselamatan yang harus kita jalani sebagai anak-anak Tuhan. Kita harus memilih salah satu; kita tidak bisa berjalan dalam roh dan sekaligus berjalan dalam daging. Kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24). Komitmen untuk hidup yang menyenangkan Tuhan saja tidaklah cukup. Diperlukan suatu tindakan kita dalam mengambil mengambil keputusan dan pilihan untuk berjalan di dalam roh atau berjalan di dalam daging.

Dalam Gal. 5:19-23 kita dapat melihat ada beberapa ciri kedagingan dan kerohanian. Jika kita mau jujur, ternyata hidup kita selama ini lebih banyak menghasilkan buah-buah kedagingan dibandingkan dengan buah-buah roh. Tanggung jawab itu sangat penting dalam hidup kita. Kita tidak bisa membiarkan diri kita berlarut-larut dalam kesibukan yang tidak berdampak pada kekekalan. Manusia dapat disebut sebagai makhluk yang bertanggung jawab apabila manusia memiliki kebebasan. Oleh karena manusia memiliki kebebasan, manusia harus bertanggung jawab.

Dalam kekristenan, tidak ada yang namanya takdir, karena hal itu bertentangan dengan kebebasan yang telah Tuhan berikan kepada manusia. Dan manusia juga dituntut untuk bertanggung jawab dalam kebebasan yang telah Tuhan berikan dalam hidup manusia. Kehidupan ini bukanlah nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan tantangan yang harus dilalui dengan penuh keberanian dan tanggung jawab.

Percayalah bahwa Dia akan mencukupi kebutuhan kita bila kita dapat hidup bertanggung jawab; hidup dalam pengabdian dan pelayanan kepada-Nya.

SolaGracia.

Karyawan yang Melayani

Saudara-saudaraku yang terkasih,

Kalau kita benar-benar mengasihi Tuhan, kita akan menunjukkan kasih kita kepada Tuhan dengan memaksimalkan semua kemampuan yang ada pada kita. Orang yang gagal dalam pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, pasti akan gagal juga dalam pekerjaan yang lainnya atau sulit untuk bisa bangkit dalam pekerjaan lainnya. Kita memang perlu mempertimbangkan faktor “orang yang tepat di tempat tepat”, tetapi jika seseorang selalu gagal dan tidak pernah produktif dalam suatu karyanya pasti ada yang tidak beres dalam hidupnya.

Dalam Rm. 12:1, firman Tuhan mengatakan, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. “Demi kemurahan Allah” artinya karena Tuhan telah mengasihi kita dan memberikan kemurahanNya yang tak terhingga, maka kita pun patut untuk memberikan tubuh dan hidup kita sebagai korban yang hidup dan berkenan kepadaNya. Tentu kalau kita mempersembahkan tubuh yang mewakili hidup kita ini, kita harus mempersembahkan dengan ukuran segenap; segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, segenap kekuatan, dll. Pertanyaannya, bagaimana kita mewujudkan firman dalam Rm. 12:1 ini dalam hidup kita? Ada beberapa pertimbangan penting yang harus kita miliki untuk mengubah gaya hidup kita.

Pertama, kita harus menyadari bahwa apa pun pekerjaan kita (yang tidak bertentangan dengan norma dan etika kehidupan). Itu adalah tempat dimana kita bekerja mencari nafkah setiap hari. Pekerjaan kita harus menjadi pelayanan yang benar dimana kita dapat menerjemahkan firman yang berkata “Jika engkau makan atau jika engkau minum atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Allah.” (1Kor. 10:31). Banyak orang yang mau mengikut Yesus secara fisik, tetapi Tuhan tidak mengizinkannya. Di antara orang-orang yang tetap Tuhan kehendaki untuk memegang profesinya adalah Zakheus. Tuhan tidak menarik Zakheus untuk masuk ke dalam 12 deret barisan murid-muridNya. Padahal belum tentu murid-muridNya yang lain dapat memiliki sikap pertobatan yang lebih baik dari Zakheus. Oleh sebab itu jangan sampai kita membagi-bagi mana yang termasuk pekerjaan rohani dan mana yang pekerjaan duniawi. Itu keliru!

Kedua, tempat kita bekerja adalah laboratorium di mana Tuhan mengembangkan kedewasaan rohani kita. Di tempat itulah kita didewasakan Tuhan melalui keadaan yang khusus untuk kita. Jadi jangan berharap tempat kita bekerja adalah tempat yang nyaman. banyak orang Kristen gagal mengalami kedewasaan rohnaninya karena hal ini. Sadarilah bahwa tidak ada kedewasaan tanpa ketidaknyamanan. Jika kita ingin menjadi dewasa, maka kita harus tahan banting dengan keadaan yang tidak nyaman. Untuk itu jangan sampai kita pindah kerja sebelum Tuhan sendiri yang memindahkan kita dari tempat itu.

Ketiga, tempat kita bekerja itu adalah laboratorium Tuhan untuk menjadikan kita berkat bagi orang lain. Kita harus berpikir bahwa kita adalah pendeta, mentor dan teladan bagi orang-orang dimana kita berada. Tetapi jangan pernah kita menawarkan diri untuk menjadi terang di situ, sebab Tuhan yang akan mempromosikan kita di situ. Pelita itu akan Tuhan taruh di tengah rumah untuk menerangi banyak orang, bukan malah kita membawa diri kita sendiri untuk menjadi sok terang.

Solagracia.

Malas Itu Dosa

Saudara-saudaraku yang terkasih,

Malas artinya tidak rajin. Untuk mengetahui definisi malas, maka kita harus memahami pengertian rajin terlebih dahulu. Rajin itu berarti giat bekerja, bersungguh-sungguh melakukan suatu kegiatan dan selalu berusaha. Berarti malas adalah sebaliknya; tidak giat bekerja, tidak bersungguh-sungguh melakukan suatu kegiatan dan tidak selalu mau berusaha atau tidak mau berusaha sama sekali. Masalah yang sangat krusial di sini adalah rajin untuk siapa? Jadi pemberitaan Firman ini hanya ditujukan kepada orang-orang yang sudah rajin untuk Tuhan. Orang yang sudah memiliki komitmen dan sudah mulai terus bertumbuh untuk memberikan segenap hidupnya bagi Tuhan. Sebab yang harus ditetapkan di sini adalah ke arah mana kegiatan hidup kita, dan rajin untuk siapa?

Sejauh ini mungkin tidak banyak ditemukan orang-orang yang berani untuk memberikan segenap hidupnya untuk Tuhan. Memberikan segenap hidupnya untuk Tuhan bukan berarti harus memberikan uang yang banyak untuk Tuhan dan bukan harus menjadi full timer di gereja. Memberikan segenap hidup untuk Tuhan berarti memberi diri untuk mengabdi dan melayani Tuhan dalam kesehariannya. Namun demikian juga masih terlihat segelintir orang yang memiliki cikal bakal yang kuat untuk memberikan hidupnya bagi Tuhan.Jadi seperti apakah ciri-ciri orang yang malas tersebut?

Pertama, orang yang malas itu adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak ada orang malas yang dapat bertanggung jawab. Pada hakikatnya setiap orang pasti memiliki maksud dan tujuan ilahi dalam dirinya yang benar-benar khusus, dan Tuhan pun pasti mempercayakan masing-masing individu tanggung jawab.

Kedua, orang malas adalah orang yang tidak mengoptimalkan potensi yang telah Tuhan taruh di dalam dirinya.

Ketiga, orang yang malas adalah orang yang gagal mencapai target yang Tuhan kehendaki dalam hidupnya karena ia tidak mengoptimalkan potensi yang telah Tuhan berikan.

Dalam kekekalan nanti orang-orang yang malas tersebut akan mengalami kerugian yang tidak ternilai. Dalam dunia ini orang-orang yang malas tersebut hanya akan menjadi beban dan benalu bagi sesamanya. Hidupnya tidak akan dapat menjadi berkat. Ingatlah bahwa keberadaan kita hari ini ditentukan dari apa yang sudah kita lakukan di hari-hari kemarin, dan keadaan kita nanti akan ditentukan apa yang sudah kita lakukan dihari-hari sekarang.

Jadi sesungguhnya malas itu dosa. Kenapa demikian? Karena pada hakikatnya orang yang malas itu adalah orang yang tidak mau mencapai tujuan ilahi dalam hidupnya karena ia tidak bertanggung jawab untuk mengoptimalkan potensi yang telah Tuhan taruh dalam dirinya. Akhirnya ia hidup hanya untuk menjadi beban dan benalu bagi sesamanya. Padahal seharusnya diri kita menjadi berkat yang dapat mengangkat beban orang lain.

Saat ini yang merusak mental umat Tuhan untuk menjadi umat yang rajin adalah pengajaran di mimbar-mimbar gereja yang mengajarkan penyelesaian masalah hanya dengan doa dan mukjizat tanpa memahami tanggung jawab yang kita harus penuhi dalam hidup ini. Bahkan mentang-mentang kita merasa sebagai anak Tuhan, kita malah mengharapkan perkara-perkara yang besar terjadi dalam hidup ini hanya dengan doa dan mukjizat saja. Sungguh memprihatinkan sekali.

SolaGracia.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol. 3:23)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 780 pengikut lainnya.