Arsip Blog

Saudara Dikuasai Siapa ?

Menjadi sama seperti Kristus berarti hidup kita dikuasai dan dimiliki oleh Allah.

Satu hal yang sangat penting untuk dimengerti yaitu bagaimana Tuhan menguasai hidup seseorang dan bagaimana iblis menguasai kehidupan seseorang. Hal ini sama dengan bagaimana seseorang dimiliki oleh Tuhan atau dimiliki oleh iblis. Ini sama dengan apakah seseorang bisa menjadi sama dengan Tuhan atau sama dengan dunia ini. Menjadi sama dengan dunia berarti dikuasai iblis, dimiliki iblis dan memiliki gairahnya. Menjadi sama dengan Tuhan berarti dikuasai dan dimiliki oleh Allah dan mengenakan gairah Anak Allah ( Galatia 2:19-20 ). Inilah yang dimaksud memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Inilah tujuan hidup kekristenan kita. Inilah isi keselamatan.

Apakah seseorang dikuasai dan dimiliki Tuhan atau iblis tergantung apa yang mengisi pikirannya. Yudas mengejar bisikan iblis setelah bertahun-tahun berpola pikir salah yaitu uang sebagai tujuannya. Iblis tidak bisa membisikkan hasrat kepada Petrus untuk menjual Tuhan Yesus, sebab konsep Petrus adalah bahwa Tuhan Yesus akan menjadi Raja di Israel. Petruslah yang dipakai oleh iblis untuk mencegah Tuhan Yesus ke Yerusalem ( Matius 21:21-23 ). Sebaliknya Yudas tidak bisa dipakai iblis mencegah Tuhan Yesus ke Yerusalem, sebab di pikiran Yudas adalah uang, uang dan uang. Ketika Yudas memiliki kematangan untuk sepikiran dengan iblis maka ia bisa mendengar bisikan iblis dan menerimanya ( Yohanes 13:2 ) sampai kemudian ia dikuasai atau dirasuki sepenuhnya ( Yohanes 13:27 ).

Dengan pikiran yang dibangun selama bertahun-tahun oleh kuasa kegelapan dalam diri seseorang maka ia dapat menjadi landasan atau pangkalan iblis meletakkan rencana-rencananya. Sebaliknya kalau seseorang diisi dengan kebenaran Firman Tuhan, maka hatinya bisa menjadi pangkalan atau tempat berpijak Tuhan meletakkan rencana-rencanaNya. Dari hal ini kita menemukan pelajaran berharga, bahwa iblis tidak bisa menguasai pikiran seseorang atau menuangkan sesuatu di dalam pikirannya serta membujuk melakukan sesuatu, kalau pikiran tersebut tidak ada pangkalannya. Pangkalan atau landasan tersebut adalah konsep-konsep atau pengertian-pengertian yang ada di dalam pikirannya dari apa yang diserap dari lingkungannya. Oleh sebab itu betapa pentingnya pendidikan pengajaran Firman sejak dini kepada anak-anak, remaja dan pemuda. Betapa pentingnya pengajaran Firman yang murni yang memperbaharui pikiran setiap hari.

Jalan Menuju Sukses

Menatap tema ini ada kegelisahan di hati, mengertikah orang-orang mengenai apa yang dimaksud dengan sukses itu. Sama seperti seseorang hendak menuju suatu tujuan, misalnya ke kota Bogor. Masalah utamanya bukan bagaimana menuju kota Bogor atau mencapai kota itu, tapi tahukah di mana dan bagaimana kota Bogor itu. Jangan sampai kota Tangerang dibilang kota Bogor. Tentu saja setiap orang selalu menginginkan sukses, dan terus berjuang untuk mencapainya sampai akhir hayatnya. Tetapi persoalannya adalah adalah apa yang dimaksud sukses itu dan bagaimana meraihnya. Untuk memahami apa sukses itu, kita harus mulai dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia. Di sini terjadi benturan konsepsi. Tergantung filosofi hidup orang itu. Filosofi seseorang ditentukan apa yang mengisi jiwanya.

Jadi pengertian sukses sangat relatif, yaitu tergantung filosofi hidupnya. Orang yang memandang materi sebagai nilai tertinggi kehidupan, menjadi orang kaya berarti suatu kesuksesan. Orang yang memandang nilai akademis sebagai ukuran suksesnya, meraih gelar berarti suatu keberhasilan. Orang yang memandang kehormatan sebagai nilai tertinggi kehidupan, bila menjadi seorang yang terhormat dalam gelanggang politik, pemerintahan dan berbagai bidang hidup akan merasa diri sukses dan lain sebagainya.

Sukses bukan saja relatif tetapi juga bergerak, artinya biasanya orang tidak merasa puas pada suatu level, ia akan selalu bergerak untuk meraih level yang lebih tinggi. Pada mulanya merasa sukses kalau sudah menjadi sarjana ( S1 ), tetapi ketika melihat orang lain memiliki gelar Master dan selanjutnya. Orang yang merasa sukses ketika memiliki penghasilan 50 juta rupiah per bulan. Tetapi ketika memiliki peluang bisa mengumpulkan uang lebih dari itu, maka ia tidak akan puas dengan jumlah uang tersebut. Ia mengingini jumlah uang yang lebih besar lagi, sampai akhirnya pengertiannya menjadi gelap, sehingga tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, citra diri dan kepantasan.

Dalam hal ini kita tidak boleh menyamakan pengertian sukses menurut anak-anak Tuhan yang diajar berdiri di atas kebenaran Alkitab dengan mereka yang tidak mengenal kebenaran Firman Tuhan. Menurut dunia, sukses adalah bila dapat menikmati dunia sebanyak mungkin. Dunia disini artinya segala kekayaan, kehormatan dan berbagai fasilitas hidup materi. Bila meningkat jumlah hartanya maka itu tanda-tanda sukses ( Lukas 12:18-21 ). Bila meningkat jumlah penghormatan yang diterima dari manusia itulah tanda-tanda sukses. Tetapi anak-anak Tuhan memiliki tanda sukses yang berbeda. Tanda sukses anak Tuhan adalah : hidup dalam persekutuan dengan Tuhan dan pengabdian kepada-Nya ( Filipi 1:21 ). Inilah maksud Tuhan menciptakan manusia. Oleh sebab itu kita tidak boleh membawa konsep sukses menurut dunia ke wilayah anak-anak Tuhan. Anak-anak Tuhan harus mengalami pembaharuan pikiran sehingga arah hidupnya benar. Konsep sukses yang salah akan membinasakan hidup seseorang.

Sangat mengejutkan ternyata terdapat banyak orang Kristen yang tidak memiliki sasaran yang jelas dalam hidup ke-Kristen-nannya. Ini berarti dalam kehidupan ini ia tidak memiliki arah yang jelas. Rasul Paulus dalam suratnya berkata : “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul” ( 1 Korintus 9:26 ). Bagai seorang atlet yang sedang turun di medan pertandingan ia tahu persis dimana garis finish-nya, ia tahu ke mana seharusnya ia melangkah. Untuk itu arah sangat penting. Bukan hanya kecepatan langkah yang harus dimilikinya tetapi juga arah langkahnya.

Hidup ini adalah sesuatu yang sangat hebat, pergumulan yang luar biasa artinya sesuatu yang harus digumuli secara serius. Pergumulan itu bukan terletak pada sukarnya mencari nafkah, sukarnya mempertahankan reputasi, membela harga diri dan nama baik, mengokohkan kedudukan dan kekuasaan dunia, yang pada umumnya dipahami sebagai kesuksesan tetapi pada mempertahankan konsistensinya pada arah perjalanan hidup yang benar. Seseorang yang hidupnya sudah benar, ia harus tetap bertahan untuk ada pada jalur yang benar, ia tidak boleh menyimpang ke kanan atau ke kiri. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, Paulus berkata : “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus ( Filipi 3:13-14). Dalam pernyataannya ini kita menemukan kembali sikap hidup Paulus yang menunjukkan bahwa ia memiliki arah hidup yang jelas. Kehidupan Paulus adalah kehidupan yang bertujuan jelas. Perhatikan perkataannya “berlari-lari kepada tujuan…”. Untuk ini sejenak kita patut berhenti merenungkan hidup kita ini apakah arah hidup kita ini sudah benar. Dari hari ke hari kita melangkah dalam kepadatan kesibukan dan tugas, coba kita periksa kemana arah hidup kita sebenarnya. Sukses bagaimanakah yang sedang didamba ?

Hendaknya kita tidak merasa gagal hanya karena belum memiliki apa yang dunia hari ini tawarkan kita. Juga jangan merasa sudah berhasil karena memiliki segala fasilitas. Kalau kita merasa kurang berkenan dengan materi maka  seseorang tidak dapat beribadah kepada Tuhan. Alkitab berkata : Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar ( 1 Timotius 6:6 ) Kata cukup dalam teks aslinya adalah autarkeias, yang dapat diterjemahkan contentment atau sufficiency, merasa cukup atau puas dengan apa yang sudah dimiliki. Kita harus merasa bahwa klimaks puas kita adalah ketika kita sampai di rumah Bapa menerima mahkota abadi ( 2 Timotius4:8 ). Tidak ada sukses yang lebih besar dari ini.

Akhirnya bagaimana kita dapat mencapai sukses yaitu kalau kita mengikut jejak Tuhan Yesus ( Matius 16:24 ). Memikul salib, adalah proses menuju kematian. Justru ketika kita mematikan cita-cita yang bertendensi kepada kebanggaan diri dan kesenangan dunia, maka itulah jalan menuju sukses. Ciri-ciri orang sukses antara lain :

Pertama, dosa tidak lagi berkuasa dalam tubuh yang fana. Ini adalah hukum terpenting dalam hidup kekristenan. Kesediaan untuk ini merupakan hal utama. Itulah sebabnya kita memberi diri dibaptis. Dalam baptisan tersebut kita menguburkan cara hidup kita yang lama yang Tuhan tidak kehendaki dan hidup dalam hidup yang baru ( Roma 6:1-4 ). Dalam hal ini kita menemukan bahwa pengertian kesucian dalam keKristenan bukan sekedar tidak berbuat dosa, tetapi tidak dapat berbuat dosa lagi. Ini berarti mengambil mengenakan kodrat Ilahi (2 Petrus 1:3-4 ). Mengenakan kodrat Ilahi sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah ( Ibrani 12:9-10 ). Kodrat Ilahi sejajar dengan kekudusan Allah. Orang yang mengenakan kodrat Ilahi adalah orang yang memiliki kekudusan Allah. Jadi kalau Tuhan Yesus mengatakan agar kita harus sempurna seperti Bapa artinya agar kita mengenakan kodrat Ilahi. Mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, teks aslinya adalah theias koinoonoi phuseous, kalimat ini hendak menunjuk pribadi yang ber”associate” dengan Allah. Ini adalah pribadi yang pikiran dan perasaannya selalu berelasi atau kontak dengan Allah terus-menerus ( to connect or bring into relations, as thought, feeling ). Pribadi yang telah memiliki kualitas hidup seperti ini adalah Tuhan Yesus Kristus. Dialah model atau prototype manusia yang dikehendaki oleh Allah untuk dikenakan setiap umat pilihan dalam hidup ini. Injil-lah tujuan hidup yang harus digumuli dan harus diraih.

Orang yang mengenakan kodrat Ilahi adalah orang-orang yang berpikir sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Allah. Tentu saja dengan kualitas berpikir dan berperasaan seperti ini, seseorang dapat melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Ia melakukan kehendak Allah bukan karena suatu tekanan perintah atau kewajiban tetapi sudah menjadi suatu nature yang otomatis bergerak dalam hidupnya ( not to do but to be ). Untuk mencapai taraf atau level seperti ini seseorang harus melalui proses pendewasaan atau pemuridan yang panjang, yaitu sepanjang umur hidupnya.

Kedua, hidup sepenuhnya bagi kepentingan Tuhan. Anak-anak Tuhan harus memiliki kesadaran bahwa tidak ada lagi bagian hidupnya yang digunakan untuk kepentingannya sendiri. Baginya hidup bagi Tuhan bukanlah sebuah kewajiban tetapi kebutuhan. Hidup bagi Allah Bapa atau kepentingan Kerajaan Allah adalah gaya hidup Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menunjukkan gaya hidup seperti ini dalam pernyataanNya “makananKu adalah melakukan kehendak Bapa” ( Yohanes 4:34 ). Dalam terjemahan lain diterjemahkan “Adapun rezeki-Ku, yaitu melakukan kehendak Dia”. Dalam pernyataan yang lain Paulus berkata : di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya ( Filipi 3:10 ). Kalimat “menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” ( being made comformable unto His death ) artinya mati seperti Tuhan Yesus mati. Kematian macam apakah yang dimiliki Tuhan. Tentu kematian di atas kayu salib. Ia menderita bukan karena kesalahan-Nya, bukan karena membela ambisi-Nya tetapi untuk kepentingan semua orang yang berdosa.

Kita harus sadar bahwa kita sebenarnya tidak berhak ada. Kalau kita bisa mengadakan diri kita sendiri, maka kita berhak memiliki keinginan sesuka kita sendiri tetapi ternyata kita tidak bisa membuat diri kita ada. Tuhan yang mengadakannya, maka Tuhanlah yang harus berhak sepenuhnya atas diri kita. Maka kita harus berani berkata dengan tegas : God doesn’t exist for me, I exist for The Lord. Orang percaya yang benar akan berusaha untuk belajar tidak berhak memiliki suatu keinginan. Segala keinginannya haruslah sesuai dengan kehendak Bapa. Orang percaya yang benar akan melayani Tuhan dengan segenap hidup, sehingga semua orang percaya menjadi fulltimer bagi Allah.

Ketiga, mengarahkan sepenuh kepada perwujudan fisik Kerajaan Allah. Untuk turut mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi, setiap orang harus mengoptimalkan potensi yang ada. Mengoptimalkan potensi berarti mengembangkan semua bakat dan kapasitas diri tanpa batas dalam berbagai bidang kehidupan. Sesungguhnya inilah pelayanan tersebut. Berbicara mengenai panggilan pelayanan, ini menunjuk kepada sesuatu yang datang dari luar, dalam hal ini Tuhan sebagai “pemanggilnya”, yaitu dipanggil untuk melayani Dia. Manusia memikul tanggung jawab untuk memilih suatu profesi dan bertanggung jawab atas profesi yang dipilihnya yaitu dengan mengusahakan agar mencapai hasil yang maksimal.

Seseorang mau tidak mau akan menempatkan dirinya pada pekerjaan tertentu sebagai upaya mencari nafkah dan kelangsungan hidupnya. Bagi manusia yang berada di lingkungan kota dan hidup pada peradaban modern, sejak dini mulai menjuruskan dirinya pada pendidikan tertentu yang akan menentukan jabatannya kelak di kemudian hari. Oleh sebab itu hal profesi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang percaya.

Pekerjaan kita haruslah tempat di mana kita dapat mengabdi bagi Kerajaan Allah, Anak-anak Tuhan memiliki dan memikul tanggung jawab atas profesi yang dipilihnya. Mengingat hal ini maka hendaknya kita memikirkan dan memperhatikan benar-benar hal pemilihan profesi tersebut. Dalam pemilihan profesi yang kita lakukan, kita tidak boleh melupakan rencana Allah atas hidup kita masing-masing. Dalam memilih suatu profesi kita harus bertanya kepada Tuhan, “Di manakah dan dengan cara bagaimanakah aku harus mengabdi kepadaMu Tuhan ?”

Semua pekerjaan adalah pekerjaan Tuhan atau pekerjaan rohani bila dilakukan dengan motivasi  bagi kemuliaan Tuhan. Pembedaan profesi harus dilihat bukan karena jenis profesi tersebut semata-mata tetapi motivasi terdalam orang melakukan pekerjaan atau memilih profesi tersebut. Dalam profesi yang kita miliki, yang di dalamnya kita bergumul dan mengisi hidup, kita berurusan dengan Allah dan Firman-Nya. Selanjutnya perintah Tuhan yang termuat di dalam Firman-Nya harus menerangi seluruh segi hidup kita, juga di dalam profesi yang di dalamnya kita bergumul bekerja. Sehingga tidak ada pemisahan antara kesusilaan pribadi dan kesusilaan profesi. Sebagai warga Kerajaan Sorga, kita harus tunduk kepada otoritas kebenaran Firman-Nya di manapun kita berada.

Untuk mencapai keberhasilan dalam bidang yang digeluti seseorang harus giat bekerja. Kita tidak boleh menyerahkan wilayah tanggung jawab kita kepada Tuhan. Berkat dan penyertaan Tuhan telah disediakan, tetapi kerja keras untuk mengembangkan diri adalah tanggung jawab kita. Berkat dan penyertaan Tuhan tidak berarti banyak tanpa kerja keras masing-masing individu. Untuk itu ada beberapa saran-saran atau nasihat yang harus ditambahkan untuk mencapai sukses :

Pertama, selalu memperbaharui gairah hidup bagi Tuhan.

Kedua, menemukan tempat di mana seseorang efektif berguna bagi pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini setiap orang memiliki tempat yang spesifik.

Ketiga, menyusun jadwal kegiatan secara konsisten dan ketat. dalam hal ini harus disadari bahwa waktu adalah harta dan sarana yang tidak bisa dibeli tetapi sangat menentukan keberhasilan seseorang.

Keempat, membuang segala kesibukan yang tidak mendukung pengembangan bidang yang digeluti. Harus belajar berkata TIDAK untuk segala kegiatan yang tidak mendukung pengembangan bidang yang digeluti.

Kelima, meninggalkan komunitas yang tidak mendukung bidang yang digeluti. Harus diingat bahwa dengan siapa seseorang berkomunitas, maka hal itu sangat memberi warna kehidupan.

Keenam, memiliki target-target dan rencana kerja yang baik. Tanpa target dan rencana kerja yang baik, banyak kegiatan sia-sia yang tersisipkan dan hal itu akan menumpulkan efektifitas waktu yang tersaji.

Ketujuh, melakukan evaluasi secara berkala atas hasil atau prestasi yang telah dicapai. Dengan adanya rencana kerja dan target-target yang harus dicapai maka evaluasi menjadi lebih mendesak dilakukan.

Solagracia

Bukan Sekadar Status

Kalau ada orang Kristen yang tidak mengerti Injil, itu berarti ia tidak memiliki keselamatan.

Apa maksud kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia ini ? Jawaban yang umum diberikan dengan cepat oleh seorang Kristen adalah bahwa kedatangan-Nya adalah untuk menyelamatkan umat manusia. Itu benar, tetapi kalau ditanyakan bagaimana mekanisme proses penyelamatan tersebut, tidak banyak orang yang mengerti.

Jika kita mau memahami apa sebenarnya maksud inti kedatangan-Nya ke dalam dunia, kita akan tertumbuk dua hal yang sangat penting. Pertama, Ia datang untuk membuka pikiran manusia agar mengenal hikmat dari Allah. Hikmat itu seperti buku petunjuk untuk menyelenggarakan hidup sebagai manusia yang diperkenan oleh Allah. Untuk itu Tuhan Yesus mengajar dan memberi teladan nyata bagaimana seharusnya seseorang hidup dalam kebenaran dan kesucian Allah. Itulah sebabnya Ia tidak sekadar turun ke bumi untuk disalib, tetapi juga mengajar selama sekitar tiga setengah tahun. Yang diajarkan Yesus dan seluruh kehidupan-Nya itulah yang disebut Injil, sebab dari pengajaran-Nya yang dipersembahkan bagi Bapalah kita memperoleh keselamatan ( Roma 1:16 ). Memahami hal ini membuat kita akan sangat menghargai Injil yang kita miliki dengan mempelajarinya secara serius. Maka kalau ada orang Kristen yang tidak mengerti Injil, sesungguhnya itu berarti ia tidak memiliki keselamatan.

Kedua, kedatangan-Nya ke dalam dunia adalah untuk membuktikan bahwa ada manusia yang bisa taat kepada Bapa di Sorga dalam kebenaran dan kesucian yang sesunggunya ( Filipi 2:5-10 ). Ketaatan itulah yang “meluluskan” dirinya sebagai Pokok Keselamatan bagi mereka yang taat ( Ibrani 5:9 ). Bagi mereka yang taat artinya bagi mereka yang meneladani ketaatan-Nya.

Jadi harus diingat bahwa keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya. Tuhan Yesus adalah model manusia yang sesuai dengan kehendak Bapa. Dengan demikian keselamatan itu tidak akan bisa dialami atau diterima oleh orang yang tidak mau memahami kebenaran yang Tuhan ajarkan dan tidak mau mengenakan cara hidup Tuhan Yesus. Keselamatan bukan sekadar mengenakan status sebagai seseorang yang beragama Kristen.

Percaya kepada Tuhan Yesus bukanlah sekadar mengaku bahwa Ia adalah Tuhan, tetapi menjalani kebenaran dan cara hidup-Nya. Pernyataan serupa ini menghiasi seluruh Injil, tapi sedih sekali, banyak orang Kristen mengabaikannya. Mari kita kembali kepada Injil yang benar, agar kita tidak terjerembab ke dalam kebodohan yang membinasakan.

Menemukan dunianya sendiri

Sebagai pengikut Yesus, sudahkah kita menemukan dunia yang diberikan Tuhan untuk kita jalani ?

Nuh pada zamannya pasti dianggap seakan-akan seorang “autis” yang asyik dengan dunianya sendiri. Autisme maksudnya adalah gangguan perkembangan mental pada seseorang yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginan, sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu. Nuh tidak dimengerti oleh orang-orang di zamannya; ia pun tentu frustrasi, tidak bisa memahami kebodohan mereka. Tetapi walaupun tidak diterima oleh orang-orang di sekitarnya, Nuh tetap teguh berdiri pada integritasnya.

Nuh telah menemukan dunianya sendiri, dunia yang Tuhan berikan untuk dijalaninya. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan orang yang berjalan dengan Tuhan. Perintah Tuhan untuk membuat bahtera telah merenggut kehidupan Nuh. Ia kehilangan hidup wajar seperti yang dijalani orang pada umumnya, yang mestinya dijalaninya kalau saja Tuhan tidak memerintahkannya untuk membangun bahtera. Tetapi ia mau menjalani dunia yang diberikan Tuhan itu, sebab itulah cara satu-satunya untuk menggenapi rencana Allah dan menyelamatkan diri dari penghukuman Tuhan. Nuh harus membayar ketaatannya dengan harga itu. Dalam perjalanan hidupnya, bisa saja Nuh mengalami keraguan terhadap Tuhan dengan perintah yang tidak masuk akal itu. Tetapi hingga akhirnya Nuh taat dan setia sampai rencana Allah digenapi; dirinya dan keluarganya selamat.

Hal ini mirip dengan apa yang terjadi pada pelayanan Tuhan Yesus. Ia meratapi Yerusalem dan berkata, “Yerusalem, Yerusalem… Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Sebagian besar orang Yahudi telah menolak Anak Allah. Hanya segelintir orang yang mau mengikut Dia; segelintir orang itu adalah murid-murid-Nya.

Di zamannya,murid-murid Tuhan Yesus dianggap bodoh. Fanatismenya mereka terhadap Tuhan Yesus dianggap keterlaluan. Tetapi seperti Nuh, murid-murid Tuhan Yesus telah menemukan dunianya sendiri. Mereka pun tetap setia. Tuhan Yesus pernah menguji agar mereka meninggalkan diri-Nya seperti orang banyak meninggalkan Dia, tetapi murid-murid tetap pada pendiriannya ( Yohanes 6:67-68 ). Hari ini mereka sudah ada di tempat di mana Tuhan Yesus menyediakan Firdaus, kebahagiaan yang tiada taranya. Ternyata penderitaan yang mereka alami tidaklah sebanding dengan kemuliaan yang mereka terima ( Roma 8:18 ).

The Source of Eternal Salvation

When we accepted Jesus as our Lord and Savior, He enrolled us in His divine project—transforming us to become men of God. This can only be done by Him, but He does not force us to join the project. We are the ones who have to submit ourselves to be processed by Him.

Hebrews 5:9 says, “And, once made perfect, he became the source of eternal salvation for all who obey him”. Lord Jesus already gave us an incredible example: He showed His obedience to death, even death on a cross. Once He reached this perfection, He became the source of eternal salvation. In the original tongue, the word “source” is αίτιος (aítios), which can also be translated as “author”, or “causer”.

After His triumph over all temptations and death, Lord Jesus is also able to process the believers to be perfect like Him. But this only works if they are obedient. In the above verse, the Greek word for “obey” is υπακούουσιν (hypakoú’ousin), which also means “listen attentively”. In other words, it is clear that our response towards God’s grace has a great value. If we want to be processed by Jesus, we have to listen attentively to His word—work hard to learn everything he taught us.

This learning process is not simple, for it seizes all of our life. This is no “part-time project”; it requires our total attention and efforts. Sacrifice and risk everything we have to Him. Unless we are willing to give up everything, never will we become His disciple; never will we become men of God (Luke 14:33).

No wonder Lord Jesus warned the people who wanted to follow Him, “Estimate first the cost” (Luke 14:28). His project costs a lot, it is no child’s play. If we want to go somewhere within 2-kilometer distance, do we need to plan the budget? But if we want to go to another continent across the ocean, it is wise for us to sit down and plan the budget beforehand. Even more necessary if we want to enter the Kingdom of God!

Yes, following the Lord is tough, and its price is astronomical. However if we are willing to pay the price, then the grace of eternal salvation become ours completely. We will become children of God who have been transformed in His amazing ways. We will possess the high moral standards of God, serve Him wholeheartedly, and live in a harmonious relationship with Him. These are the clear signs that we will be worthy to be glorified with our Lord Jesus Christ. Are you willing to pay the price?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28.814 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: