Arsip Blog
Allah yang Berkuasa
Percaya bahwa Tuhan berkuasa atas hidup kita berarti rela dimanfaatkan Tuhan bagi kepentingan-Nya.
Percaya bahwa Tuhan berkuasa atas alam semesta dan segala sesuatu adalah baik. Tetapi jauh lebih baik bila kita percaya bahwa Tuhan berkuasa atas hidup kita, dan kita menerimanya dengan rela dan sukacita. Percaya bahwa Tuhan berkuasa atas alam semesta dan segala sesuatu dapat membuahkan iman dan mukjizat yang luar biasa. Tetapi percaya bahwa Tuhan berkuasa atas hidup kita dapat membuahkan penurutan di mana rencana agung Tuhan dapat digenapi atas hidup kita. Percaya bahwa Tuhan berkuasa atas alam semesta dan segala sesuatu dapat mencenderungkan kita untuk memanfaatkan Tuhan bagi kepentingan kita. Namun percaya bahwa Tuhan berkuasa atas hidup kita mengandung pengertian bahwa kitalah yang dimanfaatkan Tuhan bagi kepentingannya.
Kita percaya bahwa Tuhan berkuasa atas alam semesta karena memang alam semesta diciptakan oleh-Nya dan adalah milik-Nya. Dengan sikap yang sama kita pun harus percaya bahwa kita adalah milik-Nya dan bukan milik kita sendiri. Alkitab berkata bahwa “Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.” (1Kor. 7:23).
Banyak orang pada umumnya dapat menerima bahwa Allah berkuasa atas alam semesta ini. Tetapi jauh lebih banyak orang yang tidak dapat menerima bahwa Allah berkuasa atas diri mereka. Maksudnya berkuasa di sini adalah bahwa Tuhan berhak berdaulat, mengendalikan, dan menuntun hidup kita. Ini tidaklah adil, Saudaraku! Bila kita dapat menerima bahwa Allah berkuasa atas alam semesta ini, mengapa kita tidak dapat untuk menerima bahwa Allah juga berkuasa atas hidup kita? Bukankah Allah yang berkuasa atas alam semesta ini adalah Allah yang juga berkuasa atas hidup kita ini?
Maksud dari Allah berkuasa atas hidup kita ini adalah agar kita dapat menyatakan perasaan-Nya, pikiran-Nya, dan kehendak-Nya kepada dunia ini. Jadi kalau kita ngakunya dekat dengan Tuhan tetapi kita tidak makin peka dengan kehidupan orang lain, berarti ada yang error dalam hidup kita. Banyak orang yang rajin belajar firman, rajin berdoa, rajin mengikuti aktivitas gereja, rajin berpuasa, dan bahkan ada yang rajin berbahasa roh, tetapi mereka tidak peka terhadap kehidupan orang lain. Bila terjadi demikian, maka mereka adalah orang Kristen yang egois, kanak-kanak, dan orang Kristen yang sering memanipulasi Tuhan. Perlu ia pertanyakan lagi terhadap dirinya sendiri. Seungguh tragis, Saudaraku! Ngakunya sih dekat dengan Tuhan, tetapi hidupnya tidak menyatakan isi hati dan perasaan Tuhan.
Dalam hal ini bukan berarti kita tidak setuju dengan hal rajin berdoa, baca firman, berpuasa dsb. Tetapi jika kita hanya melakukan hal itu karena ingin menghadirkan kuasa Tuhan untuk kepentingan kita pribadi, itu sama saja kita mempermalukan diri kita sendiri di hadapan Allah dan umat-Nya. Tetapi jika kita percaya bahwa Tuhan berkuasa atas hidup kita dan tunduk kepada kedaulatan-Nya, maka Tuhan bukan hanya memercayakan kuasa-Nya saja, tetapi Ia juga akan memercayakan rencana besar-Nya dalam dunia ini untuk kita genapi.
Di pantai Galilea, pada saat Tuhan memerintahkan Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya, Petrus mau menerimanya. Petrus mau untuk dikuasai dan menerima kedaulatan Tuhan atas dirinya. Ia tidak lagi mendengarkan kata hatinya sendiri, ia malah mendengarkan kata hatinya Tuhan. Ia tidak lagi mencari kesenangannya sendir, tetapi kesenangannya Tuhan. Ia tidak lagi seperti Petrus yang dulu—Petrus yang selalu hidup sesuka-sukanya dan Petrus yang selalu mengatur Tuhan untuk mengikuti kehendak pribadinya. Lalu bagaimana dengan kita sekarang?
Janganlah kita merasa bahagia kalau kita sudah dapat menerima dan memercayai Allah yang berkuasa atas alam semesta ini, tetapi terima dan percayailah juga bahwa Allah berkuasa dan berdaulat atas diri kita masing-masing.
SolaGracia.
Manusia yang Normal Bagi Allah
Saudara-saudaraku yang terkasih,
Semakin kita menjadi manusia normal yang sejati di hadapan Allah, semakin dunia menentang kita. Meskipun kita tidak kehilangan kemanusiaan kita, kita hidup secara wajar seperti manusia lain hidup, pertumbuhan kita sebagai manusia normal di hadapan Allah pasti terbaca. Biasanya orang-orang yang tidak mengenal kebenaran dan yang merasa terancam dengan kebenaran yang kita miliki pasti akan menganggap kita sebagai seorang yang sok suci, munafik, aneh, dsb. Namun kita tidak boleh berhenti karena keadaan-keadaan tersebut. Kita harus terus menjadi manusia normal bagi Tuhan, sebab hanya manusia yang normal bagi Tuhanlah yang akan menjadi kekasih-kekasih Tuhan.
Menjadi persoalan di sini adalah, apakah kita sudah menjadi manusia normal bagi Allah? Sebab manusia yang normal bagi Allah adalah seorang yang mengutamakan Allah lebih dari segalanya. Dan orang yang mengutamakan Allah lebih dari segalanya adalah orang yang memuliakan Allah lebih dari segala perkara. Baginya, Tuhan lebih menarik dari apa pun juga. Dengan demikian, segala keinginan mata dan kegemerlapan dunia tidak dapat memperbudaknya.
Setiap kita pasti diperhadapkan pada pilihan mencintai dunia atau mencintai Allah. Tidak bisa dimungkiri bahwa selama kita hidup di dalam dunia ini, pilihan seperti ini akan selalu ada di hati kita. Dunia kita hari ini adalah dunia yang fasik. Lebih banyak manusia yang mencintai dunia daripada mencintai Tuhan. Sekarang di manakah kita akan menjatuhkan pilihan? Dunia atau Tuhan?
Dalam Flp. 3:8 Alkitab berkata, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Di sini kita dapat melihat dengan rela dan sadar, Paulus lebih memilih Yesus daripada dunia. Kita juga harus belajar dari Zakheus ketika ia berjumpa dengan Tuhan. Dia menganggap Yesus lebih mulia dari kekayaannya, padahal untuk memperoleh kekayaannya itu ia harus mempertaruhkan hidupnya. Ia rela dikutuk oleh bangsanya karena telah menjadi kepala pemungut cukai, tetapi untuk memperoleh Yesus, ia rela melepaskan kekayaannya yang sudah dengan susah payah ia peroleh.
Manusia normal bagi Allah adalah manusia yang rela membiarkan dirinya dikuasai penuh oleh Tuhan. Kalau kita sadar untuk menjadikan Tuhan segalanya, maka kita akan memiliki kerelaan untuk membiarkan Tuhan menguasai kita sepenuhnya.
Manusia normal bagi Allah adalah manusia yang tidak takut pada keadaan apa pun. Ia mampu menikmati sukacita Allah dalam segala keadaan. Manusia yang normal bagi Allah adalah manusia yang selalu mengandalkan Tuhan dalam keadaan apa pun. Dalam Mzm. 27:5-6 Alkitab berkata, “Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu. Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN.” Orang yang mengandalkan Tuhan seperti ini adalah orang yang tidak cengeng, ia menggantungkan kebahagiaan hidupnya dalam hal-hal rohani.
Akhirnya, manusia yang normal bagi Allah adalah manusia yang melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah. Dalam 1Kor. 10:31 Alkitab berkata, “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
SolaGracia.
Rumah Tangga yang Diberkati
Saudara-saudaraku yang terkasih,
Hal berumah tangga adalah pokok penting yang sangat kita butuhkan. Sebab menurut catatan, angka perceraian semakin meningkat. Konon di dunia barat, dua dari tiga perkawinan mengalami perceraian. Saat ini tiga dari lima perkawinan mengalami perceraian. Lalu bagaimana dengan rumah tangga orang Kristen saat ini? Seharusnya hidup anak-anak Tuhan tidaklah seperti itu. Karena rumah tangga yang dibangun dari perkawinan itu, ternyata lahir dari inisiatif Allah sendiri. Itulah sebabnya Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan sebagai pria dan wanita. Dualitas manusia ini telah mengandung rencana Tuhan.
Dalam Kej. 1:28 Alkitab mengatakan, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.’” Ayat ini mengandung makna prokreasi, yang artinya Allah telah memercayakan manusia untuk menciptakan manusia-manusia lain. Ini adalah suatu hal yang luar biasa! Untuk itu Allah sangat mengharapkan sekali agar setiap anak Tuhan, baik pria maupun wanita dapat menghargai dan menghormati sebuah perkawinan dan rumah tangga.
Dalam mengarungi lautan kehidupan ini, saya sadar betul bahwa bahtera rumah tangga kita tidaklah akan lepas dari badai dan gelombang-gelombang pencobaan. Untuk itu marilah kita memperhatikan apa yang dikatakan Alkitab dalam Ef. 5:22-28 sebagai undang-undang perkawinan yang harus kita taati.
Dalam ayat tersebut kita dapat melihat aturan main dalam rumah tangga Kristen. Dan aturan ini tidak dapat kita tawar-tawar. Aturan yang pertama, perkawinan itu adalah monogami. Tidak ada yang namanya pria atau wanita idaman lain. Kita sebagai umat Perjanjian Baru adalah anak-anak Tuhan yang dikembalikan kepada pola rumah tangga ideal seperti yang Allah kehendaki sejak Allah menciptakan manusia pada mulanya. Kejatuhan manusia dalam dosa membuat manusia tidak dapat mencapai standar kesucian Allah, juga dalam membangun rumah tangga yang ideal; sehingga kita menemukan umat Perjanjian Lama tidak memiliki pola hidup rumah tangga yang ideal. Tuhan tidak menuntut mereka, karena mereka tidak memiliki Roh Kudus seperti yang kita miliki. Mereka tidak memberi kebenaran seperti yang kita miliki. Ingat, yang diberi banyak, dituntut banyak; dan yang diberi sedikit, akan dituntut sedikit (Luk. 12:48). Standar hidup kita haruslah berbeda dengan standar hidup orang dunia.
Aturan yang kedua, pernikahan Kristen adalah perkawinan yang antiperceraian. Hanya kematian yang dapat memisahkan pernikahan tersebut. Dalam kekristenan, kata “cerai” adalah kata yang paling pantang diucapkan oleh seorang suami atau istri. Apa pun kesalahan yang dilakukan oleh pasangan kita, Tuhan mengajarkan untuk mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita.
Aturan yang ketiga, istri tunduk kepada suami, dan suami harus mengasihi istrinya. Hal ini bukanlah hal yang mudah, tetapi juga bukanlah hal yang mustahil. Untuk itu, pasangan suami-istri harus tumbuh bersama di dalam pengenalan yang benar akan Tuhan. Suami dan istri harus berani untuk menyangkal diri setiap hari demi keutuhan keluarga dan demi kemuliaan Surga.
SolaGracia.
Semuanya atau Tidak Sama Sekali

TRUTH Edisi 60/Juli
“Apakah sebenarnya persepuluhan itu? apakah orang Kristen masih terikat dengan perintah persepuluhan? Bolehkah persepuluhan diberikan kepada hamba-hamba Tuhan di daerah, bukan di gereja saya berbakti? Bagaimana kalau saya berikan kepada orang miskin?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menunjukkan kedangkalan orang berpikir mengenai Firman Tuhan. Alkitab jelas mengatakan bahwa hidup kita adalah milik-Nya, sebab Ia telah membeli kita dengan harga yang lunas dibayar (1Kor 6:19–20). Jadi kita tidak berhak sama sekali atas kehidupan kita sendiri; semuanya adalah milik Tuhan. Bila seseorang menghayati kebenaran ini, maka ia berhenti mempersoalkan persepuluhan dan persembahan lain di dalam gereja.
Segenap hidup kita adalah milik Tuhan, maka kita tidak boleh “perhitungan” dengan Dia. Tuhan sudah memberi yang termahal yang ada pada-Nya, yaitu diri-Nya sendiri; maka apalah artinya segala sesuatu yang ada pada kita yang nilainya tidak ada apa-apanya dibanding dengan diri Tuhan Yesus Kristus sendiri yang telah dikorbankan bagi kita. Jika semua yang ada pada kita adalah milik-Nya, bagaimana bisa kita membuat perhitungan sepuluh persen, dua puluh persen, tiga puluh persen atau jumlah yang lain. Mengapa harus dihitung-hitung dalam mengembalikan kepada-Nya, seolah-olah kita masih berhak atas milik Tuhan tersebut?
Di dalam kebaktian, sering kita dengar pemimpin puji-pujian atau pemberita Firman memotivasi jemaat agar memberi lebih banyak dengan berbagai cara penyalahgunaan ayat Alkitab. Misalnya, menjanjikan bahwa kalau kita memberi banyak, maka kita akan mendapat banyak; penjelasan ini dirangkum dalam hukum tabur tuai (padahal ketika Alkitab berbicara mengenai tabur tuai pokok persoalannya mengenai perbuatan dalam daging dan perbuatan dalam roh, bukan mengenai persembahan uang). Cara lain adalah melalui intimidasi. Jemaat ditakut-takuti dengan ancaman: bila tidak memberi persepuluhan atau persembahan yang “pantas”, maka Tuhan akan menghukum dengan mengirimkan belalang pelahap, kutuk dan berbagai tulah atau hukuman yang merusak hidup ekonomi, bisnis dan pekerjaannya. Intimidasi ini bisa efektif bagi mereka yang berasal dari agama lain, yang terbiasa dengan “Tuhan model itu”, yang suka memeras milik orang lain. Tuhan kita ialah Tuhan yang tidak memaksa, Tuhan yang menghendaki umat pilihan-Nya dengan kesadarannya sendiri mengasihi-Nya. Mengenai persembahan yang dibawa kepada Tuhan karena kita mengasihi-Nya, adapun jumlahnya tergantung dorongan Roh Kudus, karena kita hanya sebagai pengelola milik Tuhan. Di sini anak-anak Tuhan harus cerdas dalam mempertimbangkan jumlahnya dan kepekaan terhadap komando Roh Kudus.
Artikel ini diambil dari Renungan Harian TRUTH Edisi 60/Juli, Renungan Harian yang berisi pengajaran bagi umat Kristen yang ingin bertumbuh dewasa. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut mengenai Renungan Harian dan Majalah TRUTH, hubungi (021) 68 70 7000 atau 08 7878 70 7000.
Damai
Saudara-saudaraku yang terkasih,
Semua kita pasti menginginkan dan membutuhkan damai. Kata ini bukan hanya menjadi milik orang Kristen saja, tetapi juga milik semua orang. Apa yang dimaksud dengan damai? Dalam bahasa Indonesia, damai adalah perasaan tenang, nyaman, aman dan bahagia oleh karena suatu situasi dan kondisi yang tidak mengancam. Kata damai ini sering diucapkan dalam lingkungan Kristiani. Yang menjadi persoalan di sini apakah kita mengerti benar apa yang dimaksud dengan kata damai dalam konteks Alkitab dan bagaimana kita sebagai anak Tuhan dapat memilikinya? Dalam bahasa Yunani kata damai ini disebut εἰρήνη (īrēnē). Kata ini menunjuk suatu perasaan yang nyaman dan tentram oleh karena tidak ada ancaman dan suatu perasaan yang nyaman dan tentram oleh karena topangan dan dukungan sesuatu yang kuat.
Tuhan Yesus berkata, “Ειρηνην την εμην διδωμι υμιν” (Īrēnēn tēn emēn didōmi hümin) — Damai-Ku sendiri yang Kuberikan padamu (Yoh. 14:27). Apa maksudnya? Mari kita melihat apa perbedaan antara damai yang Tuhan berikan dan damai yang dunia berikan. Dalam lingkungan kehidupan manusia pada umumnya damai adalah perasaan nyaman, tentram, dan bahagia yang ditentukan oleh situasi dunia yang baik. Dengan kata lain damai dari dunia ini adalah damai yang ditentukan oleh keadaan lingkungan. Makin banyak uang makin damai, makin kuat relasi dengan pejabat tinggi dan aparat keamanan, makin aman dan tenang rasanya. Inilah damai yang ditopang oleh keadaan kita dan lingkungan kita. Jika situasi aman, maka perasaan aman. Jika lingkungan nyaman, perasaan pun ikut nyaman.
Sedangkan damai yang dari Tuhan adalah perasaan aman dan nyaman yang tidak bersandar pada materi, kedudukan, kekuasaan, dan keadaan lingkungan di sekitar kita. Bagaimanapun kacaunya keadaan dan situasi lingkungan kita, damai itu tetap merekah di hati dan pikiran kita. Inilah damai sejahtera yang Tuhan berikan untuk kita. Itulah sebabnya sekalipun Paulus sedang berada di dalam penjara, ia tetap dapat bersukacita dan mengajak jemaat di Filipi untuk bersukacita. Penjara yang sempit dan menyesakkan itu tidak mengganggu damai sejahtera dan merenggut sukacita yang Paulus miliki.
Lalu, bagaimana kita dapat mengalami damai sejahtera ini? Yang pertama, kita harus hidup dalam persekutuan yang indah dengan Tuhan Seseorang dapat menikmati damai yang dipengaruhi oleh dunia tanpa memiliki hubungan yang baik dengan si pemberi damai. Tetapi sebagai umat Tuhan, kita tidak mungkin dapat menikmati damai sejahtera dari Tuhan tanpa memiliki hubungan yang baik dengan-Nya. Mengapa demikian? Damai dari Tuhan tidak mungkin dapat dipisahkan dari Tuhan sendiri si pemberi damai karena Tuhan sendirilah damai itu.
Kedua, hidup kita harus benar. Jika hidup kita tidak benar, maka tidak mungkin kita dapat hidup dalam persekutuan yang erat dengan Tuhan.
Ketiga, jangan berharap dari sumber lain kecuali Allah. Kita tidak mungkin dapat menikmati damai sejahtera Allah jika kita masih mengharapkan damai dari sumber lain.
SolaGracia.
Esensi Kekristenan
Coba kita membayangkan orang-orang Kristen pada gereja mula-mula abad pertama yang bersekutu tanpa gereja dan dari rumah ke rumah. Ketika mereka harus menghadapi aniaya, mereka harus mengadakan pertemuan di kuburan-kuburan. Tidak ada liturgi, tidak ada organisasi, bahkan tidak ada pendeta. Mereka dengan tekun mempelajari apa yang diajarkan rasul-rasul. Hal ini berlangsung sampai beratus-ratus tahun, namun gereja masih tetap eksis. Coba saudara bayangkan lagi bahwa sebuah agama (kalau boleh saya pinjam kata agama) yang ditindas begitu hebat dan dipioniri oleh seorang Anak Tukang Kayu yang dituduh sebagai penjahat oleh pihak yang berwajib dan dituduh sebagai penghujat Allah oleh tokoh-tokoh agama, dan mati secara keji disalib, tetapi tetap eksis sampai beratus-ratus tahun. Ini sangat luar biasa. Kalau bukan ada tangan kuat yang menyertai mereka, hal ini sangat mustahil.
Dengan keterbatasan yang mereka miliki tersebut, mereka mempunyai kualitas kekristenan yang begitu dahsyat. Tapi bagaimana dengan kita sebagai umat Kristen saat ini, masihkah kita memiliki esensi kekristenan yang memiliki kualitas dahsyat tersebut? Jika tidak pasti ada yang salah pada diri kita. Mengapa bisa begitu? Karena ternyata Tuhan hanya mendapat porsi yang sangat kecil di dalam hidup orang Kristen saat ini. Lihatlah Rasul-rasul yang rela meninggalkan segalanya hanya untuk menemukan panggilan mereka guna mengabdi kepada Tuhan. Berbeda dengan bangsa Israel dalam Perjanjian Lama yang selalu berpesta merayakan pertolongan-pertolongan Tuhan kepada mereka di masa lalu. Mereka sangat bangga akan keberagamaan yang mereka jalani. Dalam kekristenan hal itu tidak ada, yang ada hanyalah bagaimana mempersembahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan.
Dalam Lukas 5:38 Tuhan Yesus berkata “Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.” Dengan kata lain ajaran Tuhan Yesus harus di taruh di dalam hati yang baru. Kita harus merasa bodoh tidak tahu apa-apa pada saat mendengar Firman. Kita tidak boleh sok tahu supaya kita dapat menerimanya secara utuh dan benar. Itulah sebabnya karena merasa sok tahu para ahli Taurat dan orang Farisi tidak dapat menerima pengajaran Tuhan Yesus. Diperlukan kerendahan hati untuk dapat menerima semua apa yang Tuhan Yesus katakan. Kita harus berani menjadi seperti anak-anak yang selalu merasa bodoh dan belum mengerti firman dengan benar agar dapat menerima segala yang Tuhan ajarkan dalam hidup ini. Mengapa demikian? Karena yang diajarkan Tuhan Yesus itu adalah hal-hal yang luar biasa yang sangat sulit diterima oleh akal pikiran manusia (lihat ayat 39). Untuk itu diperlukan kerendahan hati dalam menyadari kebodohan dan ketidaktahuan kita akan Firman Tuhan agar supaya kita dapat menerima dengan tulus dan tidak berbantah-bantah segala firman yang telah Tuhan sampaikan. Di samping kerendahan hati, diperlukan juga pembaharuan pikiran dan hati yang telah diubahkan agar dapat menerima manisnya Firman dan melakukannya.
Jadi Jika kita ingin mengenal Tuhan, bersekutu secara harmonis dengan Tuhan dan berjalan bersama Tuhan, maka kita harus berpikir dengan cara berpikir Bapa dan harus hidup dengan gaya hidup surga. Dengan pembaharuan pikiran dan hati yang diubahkanlah, kita dapat memiliki esensi kekristenan seperti jemaat mula-mula dan Rasul-Rasul Kristus. Selamat berjuang!
Jalan Hidup
Dalam Luk. 5:37-39 dikatakan bahwa “Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur.” Pernyataan ini harus kita tanggapi dengan serius. Ini merupakan suatu peringatan!
“Anggur lama” berbicara mengenai cara keberagamaan atau pola keberagamaan yang selama itu telah membelenggu atau mengikat kehidupan rohani keberagamaan orang Yahudi. Anggur lama juga berbicara tentang cara keberagamaan yang nyaman dan tidak menyakitkan. Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai anggur dan kantong kulit tempat menyimpan anggur, itu konteksnya mengenai mengenai cara beribadah dan syariat agama Yahudi. Cara keberagamaan orang Yahudi pada umumnya sama dengan seperti cara keberagamaan yang dimiliki oleh agama-agama lain. Mereka telah menikmati cara keberagamaan itu selama beratus-ratus tahun. Bagi mereka agama itu nikmat, nyaman, menguntungkan dan tidak menyakitkan. Dan itulah yang dimaksud Tuhan Yesus sebagai anggur lama.
Pernyataan Tuhan Yesus itu mengisyaratkan betapa sukarnya mengubah gaya hidup keberagamaan orang-orang Yahudi dengan kebenaran Injil Kristus. Bagi kita, ayat ini menyuruh kita untuk tidak menggantikan kekristenan dengan pola hidup keberagamaan. Jika kekristenan sampai menjadi suatu pola hidup keberagamaan, maka kekristenan tersebut akan menawarkan sesuatu yang nyaman, tidak menyakitkan, dan menguntungkan bagi pemeluknya. Hal ini sangat bertentangan dengan kebenaran Injil yang Tuhan Yesus tawarkan. Kekristenan yang benar itu menyakitkan karena harus menyalibkan daging dan merenggut kita dari cara hidup orang dunia.
Agama adalah kepercayaan kepada sifat-sifat serta kekuasaan Tuhan dengan ajaran dan kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan kepercayaan itu. Secara sosiologis kekristenan pun seperti itu. Tapi dalam kekristenan yang dimaksud dengan “kepercayaan” itu apa? Semua orang memang mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi kepercayaan atau percaya itu sendiri apa? Lalu yang dimaksud kewajiban dalam kekristenan itu apa? Itulah bedanya antara kekristenan dengan agama lain. Karena perbedaannya jauh sekali dengan agama-agama yang ada di dunia ini, maka saya mau menegaskan bahwa kekristenan itu bukan agama.
Agama-agama lain pada umumnya memiliki ritual dan liturgi yang baku; sedangkan dalam kekristenan hidup umat setiap hari adalah liturgi yang sejati. Agama-agama lain pada umumnya memiliki hukum-hukum yang legalistik dan sangat formil; sedangkan dalam kekristenan tidak ada rumusan hukum syariat yang rumit yang mengatur setiap langkah kehidupan umat. Dalam kekristenan hanya ada satu hukum yang disebut dengan hukum Kasih. Dalam agama-agama lain peran tokoh agama sangat menentukan tingkat kerohanian jemaat, tetapi dalam kekristenan peran tokoh agama atau hamba Tuhan tidak boleh dominan; mereka hanyalah alat untuk mengantar jemaat mengenal Tuhan secara pribadi. Selebihnya jemaat harus berusaha sendiri untuk menemukan dan berhubungan dengan Tuhan secara pribadi. Itulah kenapa kekristenan bukanlah sebuah agama, melainkan jalan hidup yang membawa seseorang kepada Tuhan untuk dapat menikmati kekekalan.

