Arsip Blog

Suara Kebenaran 35: Iman yang Memindahkan Gunung

Apa sebetulnya iman sebesar biji sesawi yang dapat memindahkan gunung itu?

Suara Kebenaran 22: Bukan Hanya Mengakui Status-Nya

Apakah percaya kepada Tuhan Yesus itu? Cukupkah dengan memercayai status-Nya sebagai Tuhan, Juruselamat, Anak Allah?

Suara Kebenaran 13: Tidak Menaruh Curiga

Banyak orang Kristen mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi nyatanya menaruh curiga kepada Allah Bapa. Apakah kita sungguh percaya, atau curiga kepada-Nya?

Saat yang Menentukan

Jikalau kita mau menerima mahkota kebenaran abadi, kita harus mau berjuang dalam perjuangan iman yang benar.

Kesempatan demi kesempatan diberikan Tuhan untuk meraih berkat rohaninya. Kesempatan itu bukan hanya berupa hal-hal yang menyenangkan kita, sebab supaya kita menjadi pribadi seperti yang dikehendaki Bapa, Ia menggunakan hal-hal yang menyenangkan dan menyakitkan guna membentuk kita. Itu baik bagi kita berdasarkan pandangan-Nya.

Contohnya, kesempatan bagi seseorang belajar rendah hati muncul saat Tuhan mengizinkannya dihina orang. Untuk belajar memiliki kesabaran dan kelemahlembutan Kristus, Tuhan mengizinkannya mendapatkan serangan, fitnah dan perlakuan tidak adil lainnya. Untuk belajar hidup kudus, Tuhan mengizinkannya diperhadapkan dengan kemungkinan untuk berbuat dosa atau memuaskan hasrat daging dan matanya.

Berarti jikalau kita mau menerima mahkota kebenaran abadi, kita harus mau berjuang dalam perjuangan iman yang benar. Kita harus mengejar kecemerlangan iman seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus, yaitu memperoleh perkenanan Bapa di Surga. Jangan seperti yang dilakukan oleh sebagian orang Kristen yang mengejar pemuasan hasrat ambisi dan kesenangan dunia.

Hal ini paralel dengan kehidupan manusia pada umumnya. Jika pada usia muda seseorang bekerja keras, studi, berkarier dan mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka ketika memasuki hari tuanya, ia sudah bisa memetik apa yang telah ditanamnya. Ia tidak perlu mengalami penderitaan lagi; ia bisa menikmati hari tuanya dengan indah mempersiapkan diri masuk ke dalam Kerajaan Bapa. Momentum masa muda ketika harus studi dan membangun karier tidak bisa terulang lagi. Momentum itu terbatas waktunya. Kesempatan mengumpulkan harta di Surga juga terbatas. Ada saat nanti tatkala orang mengetuk pintu Surga dan Tuhan berkata, “Aku tidak kenal kamu!

Kalau sekarang Tuhan memberi kesempatan untuk bertobat dan diperbaharui oleh Firman-Nya, maka kalau kita menyia-nyiakannya, kesempatan itu hilang untuk selama-lamanya. Kalau Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk melayani pekerjaan-Nya tetapi kita tidak menghargainya, maka sampai selama-lamanya kita akan bersama Iblis dalam Kerajaan Kegelapan. Memilih untuk tinggal dalam Kerajaan Terang atau Kerajaan Kegelapan adalah saat ini juga. Saat inilah yang menentukan, tak bisa ditunda pada kesempatan lain; sebab begitu kita menutup mata untuk selamanya, tidak ada kesempatan lagi.

Menunggu dengan Sabar

Setiap kita pasti mengalami persoalan-persoalan hidup yang membuat hidup kita terasa sukar. Pada saat-saat seperti itu kita pasti menantikan datangnya pertolongan Tuhan. Masalahnya adalah bagaimana kita menunggu dan mengalami pertolongan Tuhan itu? Ketika kita ada dalam satu persoalan hidup yang berat, yang harus kita percayai adalah pribadi Allah yang tidak mungkin membiarkan kita menghadapi cobaan yang melebihi kekuatan kita. Namun kadang kita menjadi lemah dan putus asa ketika persoalan itu menjadi semakin berat, sementara kita berdoa tak kunjung datang pertolongan-Nya. Untuk ini kita perlu belajar bagaimana caranya menunggu dengan tenang datangnya pertolongan Tuhan tersebut. Ada beberapa sikap hati yang harus kita terapkan di sini dalam menunggu dengan tenang datangnya pertolongan Tuhan tersebut.

Pertama, kita harus berani untuk bersabar dalam menunggu datangnya pertolongan Tuhan tersebut. Pada umumnya kita cenderung untuk mendesak Tuhan supaya Ia segera memberikan pertolongan-Nya. Tetapi sebagai orang percaya yang dewasa, kita harus mempercayai Tuhan bahwa Ia memiliki waktu-Nya sendiri. Menunggu waktunya Tuhan merupakan pergumulan untuk percaya sepenuhnya kepada pribadi Tuhan yang bijaksana. Pada akhirnya Tuhan akan memberi pertolongan walaupun kelihatannya waktu sudah semakin habis dan keadaan terlihat sudah tertolong lagi. Dalam hal ini kita harus belajar untuk mengikuti jadwalnya Tuhan, dan bukan jadwalnya kita. Dan yakinlah bahwa Tuhan tidak akan pernah terlambat sedetikpun dalam memberikan pertolongan-Nya.

Kedua, Kita harus menutup mata dan teliga kita terhadap sumber lain. Kita harus menaruh harap hanya kepada Tuhan saja. Dengan mengharapkan pertolongan yang datang dari Tuhan saja, maka Tuhan akan memperkenalkan diri-Nya kepada kita supaya terbangun sebuah hubungan intim antara kita dengan-Nya. Ia ingin kita dapat mempercayai-Nya sebagai mempelai pria yang tidak pernah ingkar janji terhadap kita sebagai mempelai wanitaNya. Ia mau membuktikan pada kita bahwa Ia adalah Allah yang selalu bertanggung jawab atas keadaan kita. Untuk itulah diperlukan keintiman antara kita dengan-Nya supaya kita memiliki keyakinan penuh kepada-Nya dan tidak menyeleweng kepada sumber lain selain daripada diri-Nya.

Ketiga, kita harus tetap beriman kepada-Nya. Kadang saat kita bersabar dalam menantikan pertolongan-Nya, iman kita mulai memudar sedikit demi sedikit. Dalam Ibr. 6:12 kita dinasehati untuk “… Jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” Haruskah kita merasa heran atau patah semangat bila setelah menerima janji dari Tuhan, penggenapannya mulai tampak semakin jauh? Kesabaran adalah peragaan dari iman, namun hanya sedikit orang yang memahami hal ini. Karena gagal memahaminya, hanya sedikit orang yang dapat mencapai penggenapan dari janji Allah dalam hidup mereka. Tanpa iman, kesabaran tidak akan dapat bertahan lama. Tanpa kesabaran, iman tidak akan mendatangkan hasil.

Keempat, Kita harus meyakini bahwa apapun jawaban Tuhan atas doa kita, walaupun itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tetapi itulah yang terbaik bagi kita. Mengapa demikian? Karena manusia sering meminta yang baik dari Allah, tetapi Allah selalu memiliki yang terbaik untuk manusia.

Solagracia.

Iman yang Benar dan Mahal

Dewasa ini kembali terjadi bom bunuh diri, di Jakarta (Ritz-Carlton dan J.W. Marriott) dan juga sering terjadi di Irak, Afganistan, dan beberapa negara yang sedang mengalami konflik horizontal dan terorisme. Tidak dapat disangkal bahwa keberanian teroris untuk melakukan bom bunuh diri sangat mencengangkan. Mereka tidak ragu atas apa yang dilakukannya. Mereka menyongsong kematian dengan berani dan yakin bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah kematian yang sia-sia. Dalam hal ini yang hendak kita soroti adalah keberanian mereka mengekspresikan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran dan apa yang menurut mereka harus mereka bela.

Fenomena ini memberi pelajaran yang sangat berharga bagi kita, yaitu bahwa keyakinan yang dimiliki oleh seseorang dalam level tertentu terekspresi secara konkret dan ekstrem. Demikian pula kalau kita sungguh-sungguh memiliki keyakinan bahwa mengiring Tuhan Yesus adalah pilihan yang terbaik, maka keyakinan ini seharusnya terekspresi dalam tindakan konkret kita pula. Jadi kalau tidak ada ekspresi berarti tidak ada keyakinan yang benar. Alkitab mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh—mati (Yak. 2:26). Sekarang, perbuatan apakah yang ada pada kita yang menunjukkan iman kita? Bila tidak ada tindakan, itu berarti tidak ada iman.

Tindakan Abraham yang rela meninggalkan kemewahan Ur-kasdim dan rela mengurbankan Ishak sebagai kurban bakaran adalah tindakan Abraham yang ekstrem untuk menunjukkan bukti imannya. Di sini kita melihat bahwa harga iman yang dimiliki Abraham sangatlah mahal. Dalam Yak. 2:20-24 dikatakan, “Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’ Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

Kata “bebal” di sini membuktikan bahwa banyak orang Kristen yang bebal. Jika Abraham disebut sebagai Bapa Orang Beriman, itu karena ia menunjukkan imannya lewat tindakan yang meninggalkan kenyamanan Ur-kasdim dan mempersembahkan Ishak sebagai kurban bakaran. Jika harga iman kita hanya ditunjukkan dengan pergi ke gereja dan ikut melayani di gereja, lalu kita merasa sudah beriman, maka kita adalah orang bebal. Iman itu bukan suatu kepercayaan yang bersifat statis (tetap), tetapi suatu kepercayaan yang bersifat progresif (bertumbuh). Tidak cukup dengan hati percaya dan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dapat membuat kita selamat, tetapi juga dengan respons kita lewat tindakan nyata dalam keseharian yang rela melakukan segala sesuatu untuk Tuhan tanpa berbantah-bantah. Sampai detik ini apa yang sudah kita lakukan untuk Tuhan yang merupakan bukti nyata dari iman yang mahal?

Harga iman yang murni itu sangat mahal. Penyesatan yang terjadi saat ini yang sering dijumpai dalam diri orang-orang Kristen merupakan penipuan dari kuasa setan, yang membuat orang merasa sudah memiliki iman yang mahal hanya karena sudah tahu banyak firman, rajin datang ke gereja dan ikut melayani di gereja. Di sini iman dihargai sangat murah. Sedangkan iman yang benar dan mahal itu dihargai lewat seluruh aspek kehidupan yang dipertaruhkan untuk Tuhan. Ringkasnya, harga iman yang benar dan mahal adalah melakukan kehendak Bapa dalam keseharian.

SolaGracia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29.221 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: