Arsip Blog
Esensi Kekristenan
Coba kita membayangkan orang-orang Kristen pada gereja mula-mula abad pertama yang bersekutu tanpa gereja dan dari rumah ke rumah. Ketika mereka harus menghadapi aniaya, mereka harus mengadakan pertemuan di kuburan-kuburan. Tidak ada liturgi, tidak ada organisasi, bahkan tidak ada pendeta. Mereka dengan tekun mempelajari apa yang diajarkan rasul-rasul. Hal ini berlangsung sampai beratus-ratus tahun, namun gereja masih tetap eksis. Coba saudara bayangkan lagi bahwa sebuah agama (kalau boleh saya pinjam kata agama) yang ditindas begitu hebat dan dipioniri oleh seorang Anak Tukang Kayu yang dituduh sebagai penjahat oleh pihak yang berwajib dan dituduh sebagai penghujat Allah oleh tokoh-tokoh agama, dan mati secara keji disalib, tetapi tetap eksis sampai beratus-ratus tahun. Ini sangat luar biasa. Kalau bukan ada tangan kuat yang menyertai mereka, hal ini sangat mustahil.
Dengan keterbatasan yang mereka miliki tersebut, mereka mempunyai kualitas kekristenan yang begitu dahsyat. Tapi bagaimana dengan kita sebagai umat Kristen saat ini, masihkah kita memiliki esensi kekristenan yang memiliki kualitas dahsyat tersebut? Jika tidak pasti ada yang salah pada diri kita. Mengapa bisa begitu? Karena ternyata Tuhan hanya mendapat porsi yang sangat kecil di dalam hidup orang Kristen saat ini. Lihatlah Rasul-rasul yang rela meninggalkan segalanya hanya untuk menemukan panggilan mereka guna mengabdi kepada Tuhan. Berbeda dengan bangsa Israel dalam Perjanjian Lama yang selalu berpesta merayakan pertolongan-pertolongan Tuhan kepada mereka di masa lalu. Mereka sangat bangga akan keberagamaan yang mereka jalani. Dalam kekristenan hal itu tidak ada, yang ada hanyalah bagaimana mempersembahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan.
Dalam Lukas 5:38 Tuhan Yesus berkata “Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.” Dengan kata lain ajaran Tuhan Yesus harus di taruh di dalam hati yang baru. Kita harus merasa bodoh tidak tahu apa-apa pada saat mendengar Firman. Kita tidak boleh sok tahu supaya kita dapat menerimanya secara utuh dan benar. Itulah sebabnya karena merasa sok tahu para ahli Taurat dan orang Farisi tidak dapat menerima pengajaran Tuhan Yesus. Diperlukan kerendahan hati untuk dapat menerima semua apa yang Tuhan Yesus katakan. Kita harus berani menjadi seperti anak-anak yang selalu merasa bodoh dan belum mengerti firman dengan benar agar dapat menerima segala yang Tuhan ajarkan dalam hidup ini. Mengapa demikian? Karena yang diajarkan Tuhan Yesus itu adalah hal-hal yang luar biasa yang sangat sulit diterima oleh akal pikiran manusia (lihat ayat 39). Untuk itu diperlukan kerendahan hati dalam menyadari kebodohan dan ketidaktahuan kita akan Firman Tuhan agar supaya kita dapat menerima dengan tulus dan tidak berbantah-bantah segala firman yang telah Tuhan sampaikan. Di samping kerendahan hati, diperlukan juga pembaharuan pikiran dan hati yang telah diubahkan agar dapat menerima manisnya Firman dan melakukannya.
Jadi Jika kita ingin mengenal Tuhan, bersekutu secara harmonis dengan Tuhan dan berjalan bersama Tuhan, maka kita harus berpikir dengan cara berpikir Bapa dan harus hidup dengan gaya hidup surga. Dengan pembaharuan pikiran dan hati yang diubahkanlah, kita dapat memiliki esensi kekristenan seperti jemaat mula-mula dan Rasul-Rasul Kristus. Selamat berjuang!
Jalan Hidup
Dalam Luk. 5:37-39 dikatakan bahwa “Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur.” Pernyataan ini harus kita tanggapi dengan serius. Ini merupakan suatu peringatan!
“Anggur lama” berbicara mengenai cara keberagamaan atau pola keberagamaan yang selama itu telah membelenggu atau mengikat kehidupan rohani keberagamaan orang Yahudi. Anggur lama juga berbicara tentang cara keberagamaan yang nyaman dan tidak menyakitkan. Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai anggur dan kantong kulit tempat menyimpan anggur, itu konteksnya mengenai mengenai cara beribadah dan syariat agama Yahudi. Cara keberagamaan orang Yahudi pada umumnya sama dengan seperti cara keberagamaan yang dimiliki oleh agama-agama lain. Mereka telah menikmati cara keberagamaan itu selama beratus-ratus tahun. Bagi mereka agama itu nikmat, nyaman, menguntungkan dan tidak menyakitkan. Dan itulah yang dimaksud Tuhan Yesus sebagai anggur lama.
Pernyataan Tuhan Yesus itu mengisyaratkan betapa sukarnya mengubah gaya hidup keberagamaan orang-orang Yahudi dengan kebenaran Injil Kristus. Bagi kita, ayat ini menyuruh kita untuk tidak menggantikan kekristenan dengan pola hidup keberagamaan. Jika kekristenan sampai menjadi suatu pola hidup keberagamaan, maka kekristenan tersebut akan menawarkan sesuatu yang nyaman, tidak menyakitkan, dan menguntungkan bagi pemeluknya. Hal ini sangat bertentangan dengan kebenaran Injil yang Tuhan Yesus tawarkan. Kekristenan yang benar itu menyakitkan karena harus menyalibkan daging dan merenggut kita dari cara hidup orang dunia.
Agama adalah kepercayaan kepada sifat-sifat serta kekuasaan Tuhan dengan ajaran dan kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan kepercayaan itu. Secara sosiologis kekristenan pun seperti itu. Tapi dalam kekristenan yang dimaksud dengan “kepercayaan” itu apa? Semua orang memang mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi kepercayaan atau percaya itu sendiri apa? Lalu yang dimaksud kewajiban dalam kekristenan itu apa? Itulah bedanya antara kekristenan dengan agama lain. Karena perbedaannya jauh sekali dengan agama-agama yang ada di dunia ini, maka saya mau menegaskan bahwa kekristenan itu bukan agama.
Agama-agama lain pada umumnya memiliki ritual dan liturgi yang baku; sedangkan dalam kekristenan hidup umat setiap hari adalah liturgi yang sejati. Agama-agama lain pada umumnya memiliki hukum-hukum yang legalistik dan sangat formil; sedangkan dalam kekristenan tidak ada rumusan hukum syariat yang rumit yang mengatur setiap langkah kehidupan umat. Dalam kekristenan hanya ada satu hukum yang disebut dengan hukum Kasih. Dalam agama-agama lain peran tokoh agama sangat menentukan tingkat kerohanian jemaat, tetapi dalam kekristenan peran tokoh agama atau hamba Tuhan tidak boleh dominan; mereka hanyalah alat untuk mengantar jemaat mengenal Tuhan secara pribadi. Selebihnya jemaat harus berusaha sendiri untuk menemukan dan berhubungan dengan Tuhan secara pribadi. Itulah kenapa kekristenan bukanlah sebuah agama, melainkan jalan hidup yang membawa seseorang kepada Tuhan untuk dapat menikmati kekekalan.

