Apa Itu Hidup Dipimpin Roh?

Apa Itu Hidup Dipimpin Roh?

Tidak jarang kita mendengar orang berkomentar mengenai orang Kristen yang “ngeroh”. Biasanya orang yang dianggap ngeroh itu adalah yang sering berkata, “Roh Kudus berbicara kepada saya…”, atau “Saya merasakan kehadiran Roh Kudus…” plus berbahasa roh setiap kali berdoa. Beberapa orang kagum akan kerohanian mereka, sehingga bertanya bagaimana caranya supaya bisa dipimpin Roh seperti itu; sementara kenyataannya banyak juga yang antipati terhadap mereka, mencibir dan berkomentar, “Jangan terlalu ngeroh lah…”

Tidak jarang pula mereka yang ngeroh seperti itu juga menganggap dirinya lebih kudus daripada orang-orang yang tidak sama dengan mereka. Mereka berpikir, kalau hidup dipimpin Roh ya harus begini. Kalau tidak, berarti dipimpin daging. Hidup juga tidak bisa setengah roh setengah daging; kalau setengah-setengah ya sama dengan dipimpin daging. Dipimpin daging berarti akan masuk neraka.

Namun pandangan seperti itu sungguh amat naif. Banyak dari mereka yang mendemonstrasikan ngeroh di hadapan orang bahkan tidak memahami apa sesungguhnya yang dimaksud Alkitab dengan “roh”. Pikirnya semua yang berhubungan dengan roh pasti Roh Kudus, bahasa roh, alam roh. Akibatnya dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang diinginkan Tuhan untuk mereka lakukan, malah jadi terabaikan.

Mencermati kesalahkaprahan yang sudah mendarah daging ini, TRUTH mengajak kita kembali meneliti, apa sebetulnya yang dimaksud oleh Alkitab dengan hidup dipimpin roh. Roh apa yang memimpin, roh kita atau Roh Kudus? Mengapa kita harus dipimpin roh? Apa fungsi roh? Seperti apakah dipimpin roh, atau “ngeroh yang benar” itu? Manakah yang benar: dikotomi dan trikotomi?

Sajian lain dalam edisi ini adalah biografi singkat Yakobus yang Adil, yang kabarnya adalah adik Tuhan kita Yesus Kristus. Juga kami angkat berbagai gangguan jiwa dan hubungannya dengan fenomena keagamaan, agar kita lebih waspada apakah kita ngeroh karena dipimpin roh, atau jangan-jangan karena mengalami gangguan jiwa.

Kiranya kebenaran Firman Tuhan yang sejati membukakan mata rohani Saudara mengenai bagaimana sebenarnya hidup dipimpin roh itu, sehingga dapat belajar menjalaninya sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dapatkan Majalah TRUTH Edisi 24, “Apa Itu Hidup Dipimpin Roh?” dengan menghubungi:

Rehobot Literature
Gedung Roxy Square Lt. 3, Jl. Kyai Tapa No. 1
Jakarta 11450
Indonesia

Telepon: +62-21-5695 4546 ext. 30, +62-21-68 70 7000, 08 7878 70 7000
Email: info@truth-media.com

Kidung Kelegaan

Dapatkan segera buku Kidung Kelegaan, kumpulan lagu karya Dr. Erastus Sabdono yang dilengkapi not angka dan akor. Beberapa lagu disertai juga dengan terjemahan bahasa Mandarin. Cocok untuk acara persekutuan maupun main musik sebagai hobi.

Beberapa lagu yang terdapat dalam buku ini:

Selalu untuk-Mu
Hati Kita Girang
Semua Ini Milik-Mu
Suka-suka-Mu Tuhan
Kuingat Kebaikan-Mu
Roh Kudus, Roh Kebenaran

Dan masih banyak lagi. 

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Rehobot Literature di (021) 5695 4546 ext. 30, (021) 33 6666 70, atau 08 7878 70 7000.

Video Doa Bapa Kami

Doa Bapa Kami: Formula Kehidupan Orang Percaya

Buku Doa Bapa Kami: Formula Kehidupan Orang Percaya

Tahukah Anda, bahwa Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus bukan sekadar formula doa, melainkan sebuah formula kehidupan yang seharusnya mendasari  kehidupan manusia yang diciptakan oleh Allah? Seharusnya sejak Adam dan Hawa manusia sudah memiliki gaya hidup sesuai formula kehidupan yang termuat dalam Doa Bapa Kami.

Buku terbaru Dr. Erastus Sabdono ini akan menyingkapkan pengertian mengenai mutiara kebenaran yang sangat berharga, yang tersimpan dalam Doa Bapa Kami.

Dapatkan segera buku terbitan Rehobot Literature,
DOA BAPA KAMI: Formula Kehidupan Orang Percaya
oleh Dr. Erastus Sabdono

Informasi lebih lanjut: hubungi REHOBOT LITERATURE
Gedung Roxy Square Lt. 3, Jl. Kyai Tapa No. 1, Jakarta 11450
Telp. (021) 5695 4546 ext. 30, (021) 33 6666 70, 08 7878 70 7000
http://www.truth-media.com/

Pendatang di Gurun Kehidupan

Memang sudah banyak orang tersentak dan tersadar betapa fananya hidup di kolong langit ini; namun itu tak cukup untuk bisa disebut bijak. Sama halnya dengan orang yang bercermin, lantas ngeloyor tanpa berbenah diri. Edisi kali ini, kami mengangkat tema kemusafiran orang beriman. Umat Tuhan mesti disadarkan sesadar-sadarnya, bahwa kita ini hanyalah musafir di gurun kehidupan, sama seperti tatkala Israel dituntun Tuhan melintasi Gurun Sinai yang gersang kerontang demi mencapai Kanaan. Jangan pernah kehilangan fokus Kanaan.

Sampai di situ mungkin sudah banyak orang mahfum, namun yang perlu digaungkan lagi adalah di mana Kanaan itu. Orang sering kali mengasumsikan Kanaan dengan kemakmuran. Kanaan abadi yaitu Surga, sudah banyak hanya menjadi wacana belaka, bukan suatu realitas yang dikejar dan sungguh menjadi tujuan hidup. Bahkan kalaupun mereka menerawang Surga, bukan Tuhan yang memenuhi benak mereka. Minat akan Tuhan hanyalah di bibir saja, karena memang Ia bukanlah segala-galanya bagi mereka. Lantas apa alasan-Nya membawa kita ke Surga kalau kita tak berminat akan Dia? Itu sebabnya, kami sajikan kupasan firman berkenaan tentang Surga sebagai negeri masa depan kita.

Terkait dengan Alkitab sebagai acuan satu-satunya demi menuntun perjalanan kemusafiran kita, kami sajikan sebuah risalah teologis, mengapa hanya 66 kitab saja yang ada dalam Alkitab kita ini. Di samping itu kami angkat juga tentang praktik kaul hidup membujang alias selibat. Mengingat ancaman perjalanan ke “Kanaan” terkait pula dengan pokok teologis, kami sajikan seluk-beluk teologi ajaran Athanasius lawan Arius. Sebagai orang Timur, seyogyanya kita mengenal sejarah kehidupan Athanasius yang nota bene adalah Bapa gereja-gereja Timur.

Sebagai sentuhan akhir kami ajak pembaca untuk merenung sebuah kalimat: “Jangan pergi ke Gereja; Jadilah Gereja.” Kiranya TRUTH tetap setia mengungkap kebenaran, sehingga sungguh menjadi berkat umat Tuhan.

Dapatkan Majalah TRUTH Edisi 22, “Pendatang di Gurun Kehidupan” dengan menghubungi:

Rehobot Literature
Gedung Roxy Square Lt. 3, Jl. Kyai Tapa No. 1
Jakarta 11450
Indonesia

Telepon: +62-21-5695 4546 ext. 30, +62-21-33 6666 70, 08 7878 70 7000
Email: info@truth-media.com

Seminar Alkitab “Doa Bapa Kami”

Seminar Doa Bapa Kami bersama Pdt. Dr. Erastus Sabdono

Siapa Kita di Mata-Nya

Orang Kristen begitu sibuk mencari dan memperbaiki jati dirinya, dengan harapan bahwa Tuhan akan berkenan kepadanya. Namun kalau jujur ditelisik ke dalam sanubarinya, akan ditemukan begitu banyak pemaksaan akibat pengajaran yang salah, dan kesalahan akibat pengertian yang dipaksakan. Apabila kita dulu adalah pendosa berat (baca: melanggar hukum Musa & hukum pidana), maka ketika kita menjadi “orang baik”, kita akan merasa sudah menemukan gambar diri. Sebenarnya kita sedang memaksa Tuhan untuk mengakui bahwa kita sudah baik. Atau kita hanya mengerti, bahwa inilah yang terbaik.

TRUTH edisi ini mengangkat tajuk “Siapa Kita di Mata-Nya”, menguak pengertian mengenai gambar diri. Sebab, bila tema ini tidak segera dirilis dikhawatirkan umat Tuhan merasa begitu aman di dalam zona kenyamanan rohani, dengan sudah merasa dirinya baik. Ketika kebenaran Kristus merangsek masuk ke dalam hati kita, dengan daya ubah yang memang dimiliki oleh Firman tersebut, kita pun akan tergugah mengenai arti sebuah gambar diri.

Kita akan lebih peduli apa maunya Tuhan dalam hidup kita, dan terus mengikis ego yang mengantar kita kepada pengertian gambar diri yang salah. Sebab yang terpenting adalah, apa yang diinginkan Tuhan sampai kita berani dengan lantang berkata, “Aku di dalam-Mu dan Engkau di dalamku, ya Yesusku”.

Naif sekali bila seseorang yang rusak hidupnya, kemudian bertobat versi manusia bermoral, kemudian memproklamasikan bahwa dia sudah menemukan gambar dirinya. Sebab jika gambar diri ditemukan melalui kendaraan kerusakan hidup di masa lalu, maka berapa derajat kerusakan yang layak disebut rusak? Sebab itu parameter yang relatif. Lantas bagaimana dengan orang lain yang hidupnya selama ini baik-baik saja? Kapan dia menemukan dirinya?

Jadi jelaslah bahwa sidang pembaca sangat memerlukan persiapan hati nurani untuk mengerti siapa diri kita di hadapan Tuhan, apa yang Tuhan mau di dalam perjalanan hidup kita, dan apa yang secara pribadi—sesuai dengan DNA khas diri kita—Tuhan mau kita kerjakan di muka bumi ini? Itulah hakikat dari perjuangan menemukan gambar diri yang benar di hadapan-Nya, sampai kita teruskan di kekekalan bersama Dia. Selamat menjadi kertas putih yang siap ditoreh oleh kasih Tuhan melalui TRUTH edisi kali ini.

Dapatkan Majalah TRUTH Edisi 21, “Siapa kita di Mata-Nya” dengan menghubungi:

Rehobot Literature
Gedung Roxy Square Lt. 3, Jl. Kyai Tapa No. 1
Jakarta 11450
Indonesia

Telepon: +62-21-5695 4546 ext. 30, +62-21-68 70 7000, 08 7878 70 7000
Email: info@truth-media.com

I Live for You Alone

By Dr. Erastus Sabdono

I live for You alone
I live for You alone
My precious God and King
In ev’rything I do, Lord
In ev’rywhere I go
I live for You alone

My life belongs to You
My body, mind and soul
Shall glorify Your name
Until the end of my life
Until in Heaven, new life
I live for You alone

Menyenangkan Tuhan

Apakah kita menyenangkan hati Tuhan dengan beribadah di gereja, menyanyikan puji-pujian dan memberikan persembahan? Atau yang lain? Temukan jawabannya dalam khotbah ini.

Bagian 1:

Bagian 2:

The Source of Eternal Salvation

When we accepted Jesus as our Lord and Savior, He enrolled us in His divine project—transforming us to become men of God. This can only be done by Him, but He does not force us to join the project. We are the ones who have to submit ourselves to be processed by Him.

Hebrews 5:9 says, “And, once made perfect, he became the source of eternal salvation for all who obey him”. Lord Jesus already gave us an incredible example: He showed His obedience to death, even death on a cross. Once He reached this perfection, He became the source of eternal salvation. In the original tongue, the word “source” is αίτιος (aítios), which can also be translated as “author”, or “causer”.

After His triumph over all temptations and death, Lord Jesus is also able to process the believers to be perfect like Him. But this only works if they are obedient. In the above verse, the Greek word for “obey” is υπακούουσιν (hypakoú’ousin), which also means “listen attentively”. In other words, it is clear that our response towards God’s grace has a great value. If we want to be processed by Jesus, we have to listen attentively to His word—work hard to learn everything he taught us.

This learning process is not simple, for it seizes all of our life. This is no “part-time project”; it requires our total attention and efforts. Sacrifice and risk everything we have to Him. Unless we are willing to give up everything, never will we become His disciple; never will we become men of God (Luke 14:33).

No wonder Lord Jesus warned the people who wanted to follow Him, “Estimate first the cost” (Luke 14:28). His project costs a lot, it is no child’s play. If we want to go somewhere within 2-kilometer distance, do we need to plan the budget? But if we want to go to another continent across the ocean, it is wise for us to sit down and plan the budget beforehand. Even more necessary if we want to enter the Kingdom of God!

Yes, following the Lord is tough, and its price is astronomical. However if we are willing to pay the price, then the grace of eternal salvation become ours completely. We will become children of God who have been transformed in His amazing ways. We will possess the high moral standards of God, serve Him wholeheartedly, and live in a harmonious relationship with Him. These are the clear signs that we will be worthy to be glorified with our Lord Jesus Christ. Are you willing to pay the price?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 780 pengikut lainnya.