Arsip Kategori: Transkrip 10 Menit

Tetap di dalam Firman

Shalom, Saudaraku sekalian yang kekasih.

Dalam satu percakapan, Saudaraku sekalian, Tuhan Yesus mengatakan kepada banyak orang yang percaya kepada-Nya. Orang ini dinyatakan oleh Alkitab “percaya”… percaya kepada Tuhan Yesus. Tuhan berkata, “Jikalau kamu tetap dalam Firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:31-32)

Dari pernyataan ini menunjukkan bahwa orang yang bisa dikategorikan atau dibilangkan “percaya” ternyata belum menjadi murid. Dan, kalau belum menjadi murid, mereka tidak mengetahui kebenaran… jadi kalau mereka tidak mengetahui kebenaran, berarti mereka masih terbelenggu—hidup dalam belenggu: belenggu dosa, belenggu egoisme, belenggu… belenggu kejahatan yang lain.

Jadi kita sebagai orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus tidak boleh merasa puas diri dengan apa yang kita miliki. Tuhan Yesus sendiri berkata, “Kalau kamu tetap dalam Firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku.” Jadi banyak orang yang sekarang ini mengaku percaya, jadi orang Kristen, tapi belum tetap dalam Firman. Mereka belum benar-benar menjadi murid. Kalaupun mengaku murid, itu murid-muridan, murid bohong-bohongan, murid pura-pura; belum murid sungguhan. Bukan murid sungguhan!

Nah, ini menjadi perhatian bagi semua kita, mau tidak mau. Jangan merasa puas bahwa Saudara sudah jadi Kristen. Kalau Kristen yang tidak menjadi murid, itu Kristen yang tidak dikenal! Toh akhirnya tidak masuk Surga, buat apa? Yang akhirnya dibuang dalam api kekal, mau apa, Saudaraku?

Ini yang Tuhan kehendaki: tetap dalam Firman. “Kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Apa sekarang maksudnya “tetap dalam Firman”? Saudara, bukan rahasia lagi ya, semua orang juga pasti mengaminkan apa yang saya katakan: banyak orang Kristen, memahami—atau menanggapi—pengenalan akan Tuhan sebagai hal yang tidak penting atau kurang penting. Pengenalan akan Tuhan dianggap sebagai pelengkap hidup. Padahal Saudaraku, ini lho yang penting dalam hidup kekristenan, yaitu ketika seseorang menjadikan pengenalan akan Tuhan sebagai primadona kehidupan. Hidup untuk mengenal Tuhan. Hidup untuk mengenal Tuhan. Hidup untuk mengenal Tuhan!

Nah, orang seperti ini, pasti dia belajar Firman Tuhan. Baca Alkitab, baca buku-buku rohani yang bermutu, mendengar khotbah yang benar, terus merenungkan Firman itu siang dan malam. “Apakah itu bisa, Pak?” Kenapa tidak bisa? Kalau seseorang mengingini sesuatu, atau menghasrati memiliki sesuatu; katakanlah, ingin punya sepeda motor; siang malam yang dia pikir, sepeda motor. Kalau orang merindukan/menginginkan sebuah mobil; siang malam dia dengar, dia selalu mengingat mobil. Mendengar suara knalpot mobil, yah… langsung ingat, kapan saya punya mobil. Siang malam yang dipikirkan mobil! Melihat majalah pun majalah mengenai mobil, dan seterusnya. Kenapa kita tidak bisa siang malam memikirkan Firman Tuhan? Mestinya bisa, Saudara. Mestinya bisa! Tergantung dari kita, apakah kita memiliki kesungguhan atau keseriusan dengan Tuhan Yesus.

Kalau kita menganggap mengenal Tuhan itu sebagai sambilan, tambahan, bukan sesuatu yang urgen, yang penting dalam hidup ini, jelas… jelas kita akan abaikan hal itu. Kita akan memburu yang lain, mengutamakan yang lain, memprioritaskan yang lain. Tapi kalau seorang merasa bahwa Tuhan itu paling penting, mahapenting; mengenal kebenaran itu segalanya; kita akan memburu pengenalan akan Tuhan ini dengan sungguh-sungguh. Kita akan investasikan waktu, tenaga, uang, apa pun yang kita miliki untuk mengenal Tuhan. Inilah yang namanya tetap dalam Firman. Belajar mengenal Firman dan belajar melakukan, mengamalkan, Saudaraku sekalian. Inilah yang namanya tetap dalam Firman. Jangan hanya jadi Kristen dua jam di gereja; jam yang lain, kafir. Ya? Saya tidak menghakimi Saudara secara pribadi; kenyataannya memang ada yang begitu, Saudaraku. Di gereja dua jam; keluar dari gereja, tidak ada bekas-bekasnya sebagai orang Kristen. Tapi Kristen yang benar adalah sungguh-sungguh belajar Firman, mengerti Firman, dan berusaha melakukannya.

Jika demikian, Saudaraku sekalian, kebenaran… jika demikian, seseorang akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan dia. Nah, sering kali dengan mudah, ya, kita mendoakan orang, “Dalam nama Yesus, saya putuskan tali-tali yang mengikat hidupmu.” Ya kita bukan membantah atau menolak pelayanan pelepasan; kita juga percaya adanya kuasa dari Tuhan Yesus untuk melepaskan belenggu atau ikatan-ikatan. Tetapi Saudaraku sekalian, doa-doa seperti itu tidak, tidak menyelesaikan secara fundamental. Tidak akan menuntaskan, Saudaraku, cukup kita berkata “Dalam nama Yesus”, ya, “Roh serakah keluar! Roh kemarahan keluar! Roh perzinahan keluar! Roh ketakutan keluar!” Waduh, apa setelah didoakan lalu dia menjadi berani, menjadi tidak kuatir, dan jadi orang Kristen yang baik, yang tidak membunuh, tidak menjahati orang, tidak berzina? Belum tentu! Tetapi kebenaran yang dia pahami itulah yang akan mencegah dia berbuat dosa. Membuat dia muak terhadap dosa. Jangankan melakukan, Saudaraku sekalian. Mendengarnya saja, rasanya tidak suka.

Nah, di sinilah kehidupan orang Kristen betul-betul bertumbuh. Tetap dalam Firman itu berarti siang malam teruuus merenungkan Firman itu; jadi ini benar-benar murid, Saudaraku sekalian. Dia akan mengenal kebenaran; dia akan tahu bagaimana kehendak Tuhan itu—apa kehendak Tuhan, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Apa itu. Dia akan mengerti kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan dia.

Saudara, pengertian seorang akan kebenaran Firman itulah yang menentukan kemerdekaan seseorang. Kalau hari ini kita masih dibelenggu dengan materialisme, ya, matrek; dibelenggu dengan pikiran jahat, dendam, kebencian terhadap orang lain; dibelenggu dengan perzinahan, pikiran kotor; dibelenggu dengan ambisi-ambisi; bagaimana melepaskan semua itu? Cukupkah didoakan dalam nama Yesus Kristus, roh ini-roh itu keluar, lalu kita dinyatakan merdeka? Tidak, tidak sama sekali! Tetapi, dengan belajar Firman Tuhan, dengan mengerti Firman Tuhan, mengalami pembaruan pikiran setiap hari, maka dengan sendirinya belenggu-belenggu itu akan digugurkan; belenggu-belenggu itu akan runtuh; rantai-rantai besi akan patah, Saudaraku sekalian. Dan kita dimerdekakan. Dan ini sebenarnya yang sungguh-sungguh Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Ini yang Tuhan maui; ini yang Tuhan inginkan, Saudaraku.

Dan saya mengimbau Saudara-saudara sekalian yang sudah jadi Kristen, jangan puas diri dengan apa yang Saudara miliki. Sekalipun Saudara seorang majelis gereja; sekalipun Saudara seorang pendeta, jangan sombong. Jangan bangga diri! Periksa diri kita; pahami diri kita, Saudaraku, jika keadaan kita ternyata tidak sesuai dengan kehendak Tuhan; keadaan kita ternyata masih dibelenggu dengan banyak hal; bahwa ternyata kita belum menjadi murid yang sesungguhnya.

Kesempatan ini terbatas, tetapi Tuhan masih beri kesempatan. Jika Saudara mau jadi murid, mari masuk, jadi murid Tuhan. Jangan hanya mengaku percaya, puas sebagai orang percaya, tetapi… inilah yang Tuhan kehendaki, agar Saudara benar-benar jadi orang yang dimerdekakan. Kemerdekaan ini, Saudaraku sekalian, merupakan gejala atau ciri-ciri dari seorang yang dilayakkan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Itulah sebabnya apakah seseorang hari ini terbelenggu atau tidak, itu nampak dari sikap hidupnya. Ya? Jangan kita ditipu, disesatkan oleh pikiran kita sendiri, kita perkara—… berkata, “Sekarang saya sudah bebas” padahal kita masih banyak belenggu. Mulutnya mengatakan “Saya bebas hari ini” tapi hidupnya masih terbelenggu. Dan kenyataan itulah yang sering kita jumpai dalam kehidupan, dan kita kadang-kadang bingung, kenapa orang begitu yakin keselamatannya, padahal dia belum tentu selamat.

Dengan kebenaran Firman yang saya sampaikan ini, Saudara akan lebih berhati-hati. Saudara akan sungguh-sungguh mulai menjadi orang-orang yang tetap dalam Firman, karena hanya orang yang tetap dalam Firman, dia adalah murid Tuhan. Dan seorang yang menjadi murid Tuhan ini, terus bertumbuh; dia akan menjadi sempurna seperti Bapa di Surga. Sempurna seperti Tuhan Yesus Kristus. Merdeka dari segala belenggu.

Yesus Kristus 100% Allah dan 100% Manusia

Shalom, Saudaraku sekalian yang kekasih. Di dalam Injil Yohanes pasal 1 dikatakan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Pernyataan ini merupakan pernyataan yang menimbulkan polemik. Menimbulkan perdebatan dan adu argumentasi di sepanjang sejarah gereja, mengenai keilahian Yesus Kristus.

Satu pihak mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah manusia; seratus persen manusia, bukan Allah. Tapi pihak lain mengatakan bahwa Dia seratus persen Allah yang menjadi manusia, dan ketika Ia menggunakan atau mengenakan tubuh manusia, Ia tetap Allah seratus persen. Tetapi di pihak lain mengatakan bahwa Dia adalah Allah seratus persen… Allah seratus persen, tetapi juga manusia seratus persen. Perdebatan yang tak pernah habis-habisnya; bergulir dari tahun ke tahun, bahkan dari abad ke abad.

Bagaimana sikap kita terhadap hal ini, Saudaraku? Bagaimana kita memandang Tuhan Yesus Kristus? Di ayat yang ke-2 Injil Yohanes pasal 1 tertulis, “Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Saya percaya Yohanes tidak melebih-lebihkan atau tidak membesar-besarkan apa yang dia nyatakan ini. Pada kenyataannya bahwa Firman inilah yang menunjuk pribadi Tuhan Yesus Kristus. Firman inilah—atau Logos (λόγος) inilah—pribadi Tuhan Yesus Kristus yang menjadi manusia, mengenakan tubuh seperti kita manusia, yang bisa mengalami atau menderita pedih, sakit bila dilukai; lapar bila perut kosong; haus bila memerlukan minuman.

Nah, tidak menjadi masalah, Saudaraku, pernyataan yang mengatakan apakah Dia Allah seratus persen atau manusia seratus persen ketika mengenakan tubuh manusia. Yang penting kita memercayai, Saudaraku, bahwa Ia tidak dilahirkan dari darah dan daging seperti kita. Yang kita percaya bahwa Dia datang dari Allah; bahwa Dia pribadi kedua dari Allah yang Esa, Allah yang Tunggal, Tuhan Semesta Alam yang menciptakan langit dan bumi. Inilah keunikan daripada Allah yang diyakini oleh orang Kristen.

Pada suatu hari saya bertemu dengan seseorang Kristen yang meninggalkan gereja. Dia tidak lagi memeluk agama Kristen, hanya karena masalah ini. Dia berkata kepada saya, “Pak, saya yakin, tidak mungkin Allah itu tiga… tidak mungkin Allah itu tiga. Allah itu pasti satu.” Saya jawab kepadanya, “Siapa yang berkata bahwa Allahnya orang Kristen tiga?” Sebab orang tersebut mengatakan demikian, menunjuk kepada eksistensi atau keberadaan Allah orang Kristen. Saya balik bertanya kepadanya, “Siapa yang bilang Allah orang Kristen itu tiga? Oke, seandainya Allah itu tiga, empat, dua, apa ukurannya? Siapa yang membuat ukuran itu? Siapa yang membuat standar itu?”

Alkitab mengatakan, Saudaraku sekalian, di dalam Perjanjian Lama, di Kejadian pasal 1, bahwa Allah—atau kata untuk menunjuk Allah—Elohim (אלהים)—itu menunjuk jamak. Di dalam Kejadian 1:26 misalnya: “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.’” ‘Kita’—Allah Bapa dan Anak. Ini bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan. Yang kita yakini bahwa Yesus Kristus adalah satu dari kata ‘Kita’ di situ. Satu dari ‘Kita’ di situ. Ini bukan berarti Allah orang Kristen itu tiga, sebab dimensi kita—dimensi manusia dengan matematis atau matematikanya—yang namanya ‘satu’ itu harus satu, dalam artian echâd (אחד). Tetapi… di dalam kenyataan yang kita harus terima, bahwa Allah yang kita sembah ada Bapa, dan juga ada Yesus Kristus sang Logos atau sang Firman. Mereka bukan dua, bukan tiga; tetapi satu. Satu dalam kehendak, satu dalam rencana, satu dalam karakter.

Dan kita tidak perlu malu mengakui bahwa Allah yang kita yakini itu ada Allah Bapa, ada Allah Anak. Tidak perlu kita merasa malu kalau orang mengatakan, “Kok Allahmu bukan esa?” Ya, Allah kita esa, tapi pengertian ‘esa’ yang kita pahami dengan ‘esa’ yang banyak orang pahami itu beda. Perbedaan ini tidak perlu diperuncing, timbul perdebatan, timbul adu argumentasi yang akhirnya menyisakan kepahitan, akhirnya membuat hubungan tidak harmonis atau disharmonis dengan sesama kita.

Kalau ada orang mengatakan Allah itu harus begini, esa misalnya, ya silakan. Saya juga mengatakan Allah itu esa lho. Tapi bukan esa—satu dalam pengertian matematik, sebab kita percaya, Tuhan Semesta Alam yang menciptakan langit dan bumi itu Tuhan yang di dalamnya ada Allah Bapa dan Allah Anak. Dan ketika Allah Anak, Tuhan Yesus Kristus menjadi manusia, Dia mengakui eksistensi Bapa di Surga; Dia mengakui Bapa di Surga lebih besar dari diri-Nya; Dia mengakui ketergantungan yang harus Dia miliki terhadap Bapa di Surga. Dan ini bukan satu hal yang membuat kita menjadi ragu-ragu menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan; bahwa Dia adalah Allah sendiri. Ada orang berkata begini, “Kalau Yesus Kristus itu Tuhan, kenapa Dia berdoa? Dia berdoa kepada siapa?” O iya, Dia Tuhan! Apa artinya ‘Tuhan’? Sekarang saya persoalkan dulu. ‘Tuhan’ artinya “Majikan, Sang Penguasa, Yang Diberi Kekuasaan”. Dia berdoa kepada siapa? Dia berdoa kepada Allah Bapa di Surga. Sebab Pribadi Kedua dari Allah yang Esa itu turun menjadi manusia; mengenakan tubuh manusia, dan hidup dalam ketergantungan penuh kepada Bapa di Surga yang diakui lebih besar dari diri-Nya.

Nah, Saudaraku sekalian, ketika orang-orang Yahudi mendengarkan khotbah Petrus, mereka bertobat. Salah satu pernyataan Petrus yang ditulis di Kisah Rasul… dia mengatakan, “Yesus yang kamu salibkan itu dijadikan Tuhan. ‘Dijadikan Tuhan’, oleh Allah Bapa di Surga.” Bukan berarti sebelumnya Dia bukan Tuhan, tetapi dalam proses penyelamatan, Ia menjadi manusia; Ia menyelesaikan tugas dengan mati di kayu salib, dan segala kuasa di Surga di bumi ada dalam tangan-Nya. Dia menjadi Sang Mesias; Dia menjadi Yang Diurapi; Dia menjadi Raja di atas segala raja. Berbahagialah orang yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Allah sendiri.

Tuhan memberkati Saudara-saudara sekalian. SolaGracia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 780 pengikut lainnya.