Category Archives: Renungan

SEMUA ADA AKHIRNYA

Semua kehidupan di bumi ini pasti akan berakhir, tetapi yang tidak berakhir adalah kekekalan roh manusia. Roh manusia adalah kesadaran yang tidak berakhir. Kesadaran ini memuat pikiran, perasaan dan kehendak. Dalam Lukas 16:19-31, dikisahkan mengenai orang kaya dan Lazarus. Di alam maut orang kaya yang celaka tersebut merasakan penderitaan yang hebat di api yang menyala. Ia meminta agar Abraham menyuruh Lazarus mencelupkan ujung jarinya untuk memberikan setetes air guna menyejukkan lidahnya. Ia juga memiliki pikiran dan perasaan mengenai keadaan saudara-saudaranya yang masih hidup di bumi. Itulah sebabnya ia meminta Abraham mengutus Lazarus untuk memperingatkan saudara-saudaranya.

Dalam hal ini manusia memiliki kesamaan dengan Allah yaitu memiliki kekekalan. Hanya bedanya keberadaan Allah tidak memiliki awal atau permulaan tetapi manusia memiliki permulaan sebab manusia dilahirkan atau diciptakan oleh Allah. Banyak orang tidak mengerti atau tidak mau mengerti kebenaran ini, sebab mata hati pengertian mereka telah tertutup. Mereka dibutakan atau disesatkan kuasa dunia ini sehingga tidak mengenal kebenaran tersebut. Inilah yang dimaksud Alkitab bahwa manusia berjalan dalam gelap. Banyak orang yang tersesat hidup dalam kegelapan dengan berpikir seakan-akan hidup ini akan berlangsung terus tiada akhirnya atau ujungnya. Inilah yang mengikat kehidupan banyak orang, juga sebagian besar orang Kristen. Ini adalah sebuah penyesatan iblis yang sukses. Bila jujur maka kita dapati bahwa banyak manusia tidak mau berpikir atau menerima kenyataan bahwa jalan ini akan berakhir. Dan akhir perjalanan hidup manusia ini sebuah misteri yang pada umumnya tidak seorang pun tahu (Yak 4:13-17).

Dalam hal ini Tuhan hendak memberitahu kepada manusia kenyataan perjalanan waktu ini. Ciri dari seorang yang berhasil disesatkan adalah terjebak dalam kegiatan agama yang rutin. Tidak mengalami perubahan atau pembaharuan. Karena biasanya mereka memang tidak mau berubah. Mereka puas dengan kegiatan agamani yang ada, tanpa memiliki visi dan misi. Ibarat seorang pedagang ia tidak berusaha untuk memperoleh keuntungan dalam usaha (Mat 25:14-30). Kelakuan mereka ceroboh atau sembrono. Ia tidak peduli terhadap kenyataan hidupnya yang dililit berbagai dosa: kebencian, dendam, penipuan, perzinahan, pertikaian, permusuhan dan lain sebagainya. Inilah orang yang tidak berjaga-jaga. Mereka tidak berusaha untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan; melayani Tuhan. – Solagracia

Banyak orang yang hidup dalam kegelapan dengan berpikir seakan-akan hidup ini akan berlangsung terus tiada akhirnya.

Surat Gembala: Tidak Otomatis Terpilih

Banyak orang berpikir bahwa kalau sudah menjadi orang yang terpilih berdasarkan kedaulatan mutlak Allah maka proses keselamatan akan berlangsung dengan sendirinya. Mereka mengajarkan bahwa manusia tidak berkuasa atas pemilihan itu sama sekali. Manusia hanya menerima saja “nasib” yang ditentukan (predetinate) baginya. Di dalamnya mereka berpikir Allah dimuliakan baik oleh orang yang diselamatkan maupun orang yang tidak diselamatkan. Pengajaran yang salah ini benar-benar telah menyesatkan banyak orang. Hal ini terbukti di negara-negara Kristen yang gerejanya dominan menganut theologia ini sudah menjadi negara yang seakan-akan tidak pernah mengenal Injil. Apakah hal ini berarti semakin tahun jumlah orang yang terpilih (kuotanya) makin sedikit. Hal ini karena pemilihan Tuhan atau karena dunia semakin jahat? Jelas karena semakin bertambah kejahatan maka kasih kebanyakan orang menjadi dingin (Mat. 24:12-13), Paulus juga mengatakan bahwa di akhir jaman keadaan manusia semakin
rusak (2Tim. 3:1-5). Semakin sedikit orang yang selamat bukan karena jumlah yang dipilih semakin sedikit tetapi karena kejahatan bertambah-tambah.

Pengajaran yang tidak tepat tersebut telah mengunci pikiran banyak orang dan membelenggunya sehingga mereka tidak memiliki usaha yang serius untuk menjadi sempurna seperti Bapa. Mereka tidak memiliki pergumulan untuk diselamatkan (Luk. 23:13-14), sebab mereka berpikir seakan-akan secara otomatis seorang akan bisa sampai ke Sorga asalkan sudah terpilih. Pada hal banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih. Mereka yang terpilih adalah mereka yang mengusahakan pakaian pesta, bukan diberi oleh Raja yang mengundangnya ke pesta tersebut (Mat. 22:1-14). Pakaian pesta melambangkan kesucian hidup atau moral berstandar Allah, dan itu harus diusahakan dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan akan menolong. Setelah Tuhan menyediakan anugerah-Nya, Tuhan tidak akan menolong orang yang tidak bertobat atau menolong dirinya sendiri. Setiap orang harus meresponi anugerah-Nya dengan tanggung jawab. Itulah sebabnya Alkitab penuh seruan untuk bertobat, meninggalkan kejahatan dan cara hidup yang salah, mengalami pembaruan pikiran, berusaha tidak hidup tidak tercela, keluar dari cara hidup yang salah dan tidak menjamah apa yang najis dan lain sebagainya yang pada dasarnya setiap orang percaya harus memenuhi panggilannya untuk sempurna seperti Bapa. Ini adalah bagian yang harus dipenuhi manusia. Bagian ini tidak boleh diperhitungkan sebagai jasa seakan-akan keselamatan hasil usaha manusia itu sendiri. Usaha yang merupakan bagian manusia ini harus dipahami sebagai sebuah respon. – Solagracia

Setelah Tuhan menyediakan anugerah-Nya, Tuhan tidak akan menolong orang yang tidak bertobat atau menolong dirinya sendiri.

Bukan Sekedar Menerima Tetapi Memberi

Menarik tetapi juga agak aneh kalau dalam merayakan Natal kita mengaitkannya dengan korban Kristus di kayu salib. Selain kita mengangkat ke permukaan hal kelahiran Tuhan Yesus, kita juga mengangkat ke permukaan peristiwa penyaliban Tuhan. Apa maksudnya? Melalui hal ini kita mengajak semua orang yang merayakan Natal bukan hanya sebagai obyek yang menerima berkat, tetapi sebagai subyek yang sepenanggungan dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian kita memiliki langkah maju dalam kedewasaan dan kematangan rohani. Sebab selama ini banyak orang dalam merayakan Natal hanya terpaku sebagai obyek yang menerima berkat Natal. Orang-orang Kristen tenggelam dalam suasana euphoria dalam menerima berkat Natal. Mereka melupakan visi utama kedatangan Tuhan Yesus yaitu menyelematkan dunia yang sedang menuju kegelapan abadi ini. Tidak heran jika dalam merayakan Natal mereka merayakan dengan “besar-besaran” dengan berbagai kegiatan, tetapi tidak mempedulikan perasaan Tuhan. Mereka hanya peduli terhadap perasaan mereka sendiri. Tetapi sekarang kita harus mau belajar berdiri sebagai subyek yang sepenanggungan dengan Tuhan. Kita bukan hanya bisa menerima tetapi juga membagi. Adalah sangat naïf kalau kita menyenandungkan lagu Natal, tetapi tidak menyenandungkan lagu pengorbanan seirama dengan Tuhan. Natal adalah bahasa pengorbanan Anak Allah. Di dalam Natal kita bukan saja diajar mengerti kasih-Nya yang menyelamatkan kita tetapi kita juga diajar hidup dalam sepenanggungan dengan Tuhan untuk menggenapi rancana Bapa di dunia yang singkat ini.

Menatap Tuhan Yesus di palungan kita sudah mulai mengerti bahwa Ia datang untuk memikul salib. Saliblah klimaks atau puncak pelayanan. Di sanalah terdapat maksud utama kedatangan Tuhan. Palungan hina merupakan bahasa pengorbanan yang mengawali debut pelayanan-Nya yang menakjubkan. Kandang domba adalah garis start perjuangan pengorbanan-Nya merebut manusia dari tangan setan. Keputusan penting yang harus kita lakukan adalah mengubah diri dari hanya seorang yang menjadi obyek kasih Tuhan, juga berlaku sebagai subyek yang sepenanggungan dengan Tuhan. Dari penerima berkat juga sebagai pembagi berkat. Hendaknya kita tidak putus asa walaupun kita sering gagal melakukan kehendak-Nya, Ia mau mengampuni dan memulihkan kita. Pada saat ini Tuhan hendak memulihkan dan memperbaharui hidup kita kalau kita sungguh-sungguh mau bertobat. Kesempatan ini bisa jadi tidak pernah terulang, oleh sebab itu jangan disia-siakan. -Solagracia-

Keputusan penting yang harus kita lakukan adalah mengubah diri dari penerima berkat juga sebagai pembagi berkat.

Surat Gembala: DIHAJAR UNTUK MENEMUKAN TUHAN

Kedewasaan Ketika menemukan realita dimana orang yang berusaha hidup benar malah menderita terkena pukulan Tuhan, membuat mereka menjadi bingung bahkan frustasi (Mzm. 73:13,16). Sudah berusaha hidup benar malah mendapat tulah dan hukum (Mzm 73:14). Tulah disini dalam teks aslinya adalah naga (עגנ), yang artinya serangan (strike). Serangan ini bisa berupa berbagai keadaan yang tidak menyenangkan sedangkan kata hukum adalah towkechah (הָחֵכוֹתּ) yang artinya adalah rebuke, correction, reproof (tegoran dan koreksi).

Firman Tuhan mengatakan bahwa yang dikasihi oleh Tuhan, ditegur-Nya (Why. 3:19) dan orang yang diterima sebagai anak dihajar-Nya (Ibr. 12:6-11). Orang-orang yang diproses Tuhan menjadi umat pilihan-Nya, pada tingkat kedewasan tertentu, tidak lagi berharap hidup yang nyaman di bumi ini. Mereka harus bersedia untuk diproses menjadi manusia Allah agar dapat diangkat ke dalam kemuliaan Mzm. 73:24). Kadang-kadang sampai situasi hidupnya tidak jelas sama sekali. Justru disini “mesin pembentukan Tuhan berjalan dengan normal”. Situasi seperti ini digambar oleh pemazmur dalam Mazmur 73:21-24. Rupanya pemazmur ini agak keras kepala (Mzm. 73:3,13) sehingga pembentukannya pun juga luar biasa beratnya.

Sebaiknya kita tidak keras kepala sehingga tidak perlu dipukul. Tuhan tidak akan menyakiti kalau seseorang tidak perlu disakiti, tetapi kalau keras kepala maka “terpaksa” harus disakiti sampai dilukai. Bila pembentukan ini lulus, salah satu cirinya adalah mencintai Tuhan lebih dari segala sesuatu. Inilah orang-orang yang menemukan cinta Tuhan. Memang Tuhan mencintai semua orang tetapi tidak semua menemukan cinta-Nya (Mzm. 73:26-27). Orang yang menemukan cinta Tuhan adalah orang yang cintanya ditemukan oleh Tuhan juga. Sebagai tanda atau buktinya adalah selalu mau melakukan kehendak Tuhan guna menyenangkan hati-Nya. Pikiran dan perasaan Tuhan itulah hukumnya atau yang hendak dituruti. Hidup mereka pasti menjadi kudus tidak bercacat dan tidak bercela. Mereka dapat dikatakan sudah menemukan Tuhan dan ditemukan oleh Tuhan.

Menemukan Tuhan berarti menemukan hidup yang dikehendaki oleh Allah. Lebih baik seseorang tidak pernah menjadi manusia daripada menjadi manusia tetapi tidak pernah menemukan Tuhan. Oleh sebab itu kita tidak boleh takut menerima hajaran Tuhan sampai kita menemukan Tuhan. Masa transisi menuju tingkat rohani ini membuat seseorang di dekat Tuhan seperti hewan tidak memiliki keinginan apa-apa kecuali Tuhan (Mzm. 73:25-28). – Solagracia-

Orang yang menemukan cinta Tuhan adalah orang yang cintanya ditemukan oleh Tuhan juga.

Surat Gembala: IDEAL DI HADAPAN BAPA

Kedewasaan Kristen ukurannya adalah bisa mengimbangi Bapa. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus agar kita sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Mengimbangi Bapa artinya bisa sepikiran dengan Bapa. Kalau seseorang bisa sepikiran dengan Bapa barulah bisa mimiliki hubungan yang benar atau ideal dengan Bapa. Inilah yang dimaksud mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Ini bukan hanya berarti kita bisa menjadi manusia saleh atau suci seperti Tuhan tetapi kita bisa dipisahkan dari yang lain untuk menjadi alat Kerajaan Allah yaitu hidup dalam rencana Allah sepenuhnya.

Kalau Tuhan Yesus menjadi Tuhan bagi kemuliian Allah Bapa, kita menjadi hamba bagi kemuliaan Allah Bapa. Berinteraksi dengan Allah Bapa sebagai pribadi yang dewasa akan membuat seorang anak Tuhan menempatkan diri seperti Tuhan Yesus menempatkan diri di hadapan Bapa ketika mengenakan tubuh manusia. Di sini seseorang bisa dikatakan sebagai man of God. Kalau Tuhan Yesus adalah Allah yang menjadi manusia sekarang kita manusia menjadi seperti Allah dalam karakter-Nya.

Oleh sebab itu mengikut Tuhan Yesus berarti mengikuti jejak-Nya. Proses mengikut Tuhan Yesus adalah proses mencetak manusia seperti Kristus. Orang-orang seperti ini adalah buah-buah yang dihasilkan oleh Tuhan Yesus melalui pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan orang-orang yang memberi diri dibentuk dan diproses. Orang-orang seperti ini adalah kebanggan Tuhan Yesus di hadapan Allah Bapa di Surga. Inilah sebenarnya tujuan hidup kekristenan itu. Sampai di sini kita terhisap sebagai saudara bagi Tuhan Yesus dimana Tuhan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Pelayanan pekerjaan Tuhan idealnya dilakukan oleh orang-orang yang berkapasitas atau berkualitas karakternya seperti Tuhan Yesus. Jadi, tidak cukup dengan gelar kesarjanaan atau pengalaman hidup sebagai pengusaha dan kecakapan melakukan marketing untuk membangun sebuah gereja atau pelayanan yang besar. Seorang pelayan Tuhan yang baik tercipta dari sebuah perjalanan panjang seorang anak Tuhan dalam mengenal dan mengerti kebenaran, mengenakan kebenaran dan melalui sebuah proses yang panjang untuk memiliki karakter seperti Kristus. Pelayan Tuhan yang ideal adalah kehidupan seseorang yang bergaya hidup seperti Tuhan Yesus, yaitu orang yang hidupnya hanya untuk melakukan kehendak Allah. – Solagracia –

Pelayanan pekerjaan Tuhan idealnya dilakukan oleh orang-orang yang berkapasitas atau berkualitas seperti Tuhan Yesus.

Surat Gembala: MENYADARI KESALAHAN TERSEMBUNYI

Kalau seseorang bertumbuh dalam kecerdasan roh melalui kebenaran Firman Tuhan, kita akan menyadari setiap kesalahan, bukan hanya yang kelihatan secara moral tetapi hal-hal yang bertalian dengan sikap hati. Kadang kita tidak perlu menjelaskan secara rinci dan lengkap bentuk kesalahan tersebut. Kita hanya berkata: ”Maafkan ketidak patutanku, aku melukai hati-Mu”. Contoh doa yang lain: “Maafkan aku belum menjadi seperti yang Engkau kehendaki”. Tuhan sudah mengerti maksud pengakuan dan penyesalan tersebut. Seakan-akan dan memang demikian bahwa kita sama-sama memahami kesalahan atau keadaan tersebut. Kita juga tidak perlu mendapat pukulan atau hajaran yang tidak produktif bagi pelayanan pekerjaan Tuhan, tetapi rasa bersalah dimana kita kehilangan damai sejahtera sudah sangat menyiksa.

Perasaan bersalah karena melukai hati Tuhan sudah menjadi luka kita sendiri. Itu merupakan hukuman yang sangat menyakitkan. Tentu saja ini hanya terjadi atas mereka yang mengalami proses pendewasaan rohani yang baik. Jika tidak, tentu saja lain ceritanya. Tidak sedikit mereka yang sudah lama menjadi orang Kristen masih melakukan kesalahan yang mestinya hanya dilakukan oleh orang-orang yang belum dewasa rohani atau orang-orang muda. Biasanya orang-orang seperti ini tidak mengalami proses pendewasaan rohani yang baik. Sehingga tidak memahami pikiran dan perasaan Tuhan. Kepada orang-orang seperti ini Tuhan akan berkata: “Aku tidak kenal kamu”.

Sampai pada tingkat tertentu kita akan berhubungan dengan Tuhan sebagai sesama pribadi yang dewasa. Sesama pribadi yang dewasa maksudnya bukan Tuhan yang bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa tetapi kita yang mulai memahami pikiran dan perasaan Tuhan (Fil. 2:5-7; Ef. 4:13). Hal seperti ini sebenarnya juga kita alami dalam hubungan dengan orang tua. Setelah kita dewasa kita bisa berinteraksi dengan orang tua sebagai orang dewasa. Dalam relasi tersebut kita sudah memahami kehendak orang tua kita dan kita bisa menyesuaikan diri dengan kehendaknya.

Demikian pula dalam hubungan dengan Tuhan. Melalui proses pembelajaran kebenaran Firman Tuhan dan pergaulan dengan Tuhan setiap hari kita bisa bertumbuh dewasa dan memahami kehendak Tuhan sehingga bisa membangun jalinan interaksi dengan Tuhan di dalam batin atau suara hati atau nurani kita. Kesalahan-kesalahan tersembunyi yang bersifat batin dapat kita deteksi dengan cepat dan cermat, kemudian kita meminta ampun dengan tulus dan berubah. – Solagracia –

Mengikut jejak hidup Tuhan Yesus adalah panggilan dan tanggung jawab yang tidak boleh dihindari.

Surat Gembala: BUKTI MENGHORMATI TUHAN

Akhirnya dapat kita temukan bahwa nilai tertinggi kehidupan ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, bahkan bukan diri kita sendiri, tetapi Tuhan yang menciptakan jagad raya dan manusia (Maz 73:25-26). Seberapa pun nilai atau value setiap ciptaan tidak akan dapat menandingi atau menyamai Penciptanya. Betapa hinanya orang yang menghargai suatu ciptaan lebih dari Penciptanya sendiri. Pada kenyataannya, hampir semua orang menghargai suatu ciptaan yaitu dunia ini dengan segala keindahannya lebih dari menghargai Tuhan Yesus Kristus. Perhiasan mereka bukanlah nilai-nilia rohani, yaitu Tuhan dan kebenaran-Nya tetapi segala keindahan dunia.

Hal ini dikatakan oleh pemazmur bahwa mereka berkalungkan kecongkakan (Maz 73:6). Biasanya mereka menjadi sewenang-wenang terhadap sesama yang digambarkan sebagai “berpakaian kekerasan”. Pemazmur memberi pelajaran yang berharga kepada kita dalam kesaksian hidupnya: Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Tuhan dipandang lebih berharga dari siapa pun dan apa pun dalam hidup ini. Selanjutnya Pemazmur juga menyatakan: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya”. Di sini Tuhan dipandang lebih berharga lebih dari dirinya sendiri. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa seseorang menghargai Tuhan lebih dari segala sesuatu, bahkan lebih dari dirinya sendiri? Orang yang menjadikan Tuhan sebagai nilai tertinggi kehidupan akan berusaha bagaimana menjadi manusia yang berkenan kepada-Nya atau bagaimana memiliki tselem yang baik. Ia akan berusaha hidup tidak bercela (Maz 73:13). Pada mulanya pemazmur sempat kecewa, mengapa dirinya yang berusaha hidup suci malah terkena pukulan. Ternyata, justru orang yang berusaha hidup suci akan memperoleh jalan yang tidak licin. Kata licin dalam teks aslinya adalah cheqah (הָקְלֶח) yang artinya jalan yang datar (flat) dan lancar atau halus (smooth). Mereka adalah orang-orang yang pantas dihambat atau dihalangi menuju kebinasaan. Oleh karena seseorang berusaha untuk berkenan kepada Tuhan sebagai bukti sikap hormatnya kepada Tuhan, maka Tuhan akan menasihati dan menuntunnya supaya memiliki “rupa yang tidak hina”. Orang yang rupa (tselemnya) mulia pantas juga diangkat Tuhan dalam kemuliaan (Maz. 73:25). Orang yang sungguh-sungguh menghormati Tuhan akan menjadi orang yang terhormat di kekekalan. -Solagracia-

Orang yang menjadikan Tuhan sebagai nilai tertinggi kehidupan akan berusaha berkenan kepada-Nya.

Surat Gembala: DIHAJAR UNTUK MENEMUKAN TUHAN

Ketika menemukan realita dimana orang yang berusaha hidup benar malah menderita terkena pukulan Tuhan, membuat mereka menjadi bingung bahkan frustasi (Maz 73:13,16). Sudah berusaha hidup benar malah mendapat tulah dan hukum (Maz 73:14). Tulah di sini dalam teks aslinya adalah naga (עגנ), yang artinya serangan (strike). Serangan ini bisa berupa berbagai keadaan yang tidak menyenangkan sedangkan kata hukum adalah towkechah (הָחֵכוֹתּ) yang artinya adalah rebuke, correction, reproof (tegoran dan koreksi).

Firman Tuhan mengatakan bahwa yang dikasihi oleh Tuhan, ditegur-Nya (Why. 3:19) dan orang yang diterima sebagai anak dihajar-Nya (Ibr 12:6-11). Orang-orang yang diproses Tuhan menjadi umat pilihan-Nya, pada tingkat kedewasan tertentu, tidak lagi berharap hidup yang nyaman di bumi ini. Mereka harus bersedia untuk diproses menjadi manusia Allah agar dapat diangkat ke dalam kemuliaan (Maz 73:24). Kadang-kadang sampai situasi hidupnya tidak jelas sama sekali. Justru disini “mesin pembentukan Tuhan berjalan dengan normal”.

Situasi seperti ini digambarkan oleh pemazmur dalam Mazmur 73:21-24. Rupanya pemazmur ini agak keras kepala (Maz 73:3,13) sehingga pembentukannya pun juga luar biasa beratnya. Sebaiknya kita tidak keras kepala sehingga tidak perlu dipukul. Tuhan tidak akan menyakiti kalau seseorang tidak perlu disakiti, tetapi kalau keras kepala maka “terpaksa” harus disakiti sampai dilukai. Bila pembentukan ini lulus, salah satu cirinya adalah mencintai Tuhan lebih dari segala sesuatu. Inilah orang-orang yang menemukan cinta Tuhan. Memang Tuhan mencintai semua orang tetapi tidak semua menemukan cinta-Nya (Maz 73:26-27). Orang yang menemukan cinta Tuhan adalah orang yang cintanya ditemukan oleh Tuhan juga. Sebagai tanda atau buktinya adalah selalu mau melakukan kehendak Tuhan guna menyenangkan hati-Nya. Pikiran dan perasaan Tuhan itulah hukumnya atau yang hendak dituruti. Hidup mereka pasti menjadi kudus tidak bercacat dan tidak bercela. Mereka dapat dikatakan sudah menemukan Tuhan dan ditemukan oleh Tuhan. Menemukan Tuhan berarti menemukan hidup yang dikehendaki oleh Allah. Lebih baik seseorang tidak pernah menjadi manusia daripada menjadi manusia tetapi tidak pernah menemukan Tuhan.

Oleh sebab itu kita tidak boleh takut dalam menerima hajaran Tuhan sampai kita menemukan Tuhan. Masa transisi menuju tingkat rohani ini membuat seseorang di dekat Tuhan seperti hewan tidak memiliki keinginan apa-apa kecuali Tuhan (Maz 73:25-28). -Solagracia-

Orang yang menemukan cinta Tuhan adalah orang yang cintanya ditemukan oleh Tuhan juga.

Surat Gembala: MENYADARI KESALAHAN TERSEMBUNYI

Kalau seseorang bertumbuh dalam kecerdasan roh melalui kebenaran Firman Tuhan, kita akan menyadari setiap kesalahan, bukan hanya yang kelihatan secara moral tetapi hal-hal yang bertalian dengan sikap hati. Kadang kita tidak perlu menjelaskan secara rinci dan lengkap bentuk kesalahan tersebut. Kita hanya berkata: ”Maafkan ketidak patutanku, aku melukai hati-Mu”. Contoh doa yang lain: “Maafkan aku belum menjadi seperti yang Engkau kehendaki”. Tuhan sudah mengerti maksud pengakuan dan penyesalan tersebut. Seakan-akan dan memang demikian bahwa kita sama-sama memahami kesalahan atau keadaan tersebut. Kita juga tidak perlu mendapat pukulan atau hajaran yang tidak produktif bagi pelayanan pekerjaan Tuhan, tetapi rasa bersalah dimana kita kehilangan damai sejahtera sudah sangat menyiksa.

Perasaan bersalah karena melukai hati Tuhan sudah menjadi luka kita sendiri. Itu merupakan hukuman yang sangat menyakitkan. Tentu saja ini hanya terjadi atas mereka yang mengalami proses pendewasaan rohani yang baik. Jika tidak, tentu saja lain ceritanya. Tidak sedikit mereka yang sudah lama menjadi orang Kristen masih melakukan kesalahan yang mestinya hanya dilakukan oleh orang-orang yang belum dewasa rohani atau orang-orang muda. Biasanya orang-orang seperti ini tidak mengalami proses pendewasaan rohani yang baik. Sehingga tidak memahami pikiran dan perasaan Tuhan. Kepada orang-orang seperti ini Tuhan akan berkata: “Aku tidak kenal kamu”.

Sampai pada tingkat tertentu kita akan berhubungan dengan Tuhan sebagai sesama pribadi yang dewasa. Sesama pribadi yang dewasa maksudnya bukan Tuhan yang bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa tetapi kita yang mulai memahami pikiran dan perasaan Tuhan (Fil 2:5-7; Ef 4:13). Hal seperti ini sebenarnya juga kita alami dalam hubungan dengan orang tua. Setelah kita dewasa kita bisa berinteraksi dengan orang tua sebagai orang dewasa. Dalam relasi tersebut kita sudah memahami kehendak orang tua kita dan kita bisa menyesuaikan diri dengan kehendaknya.

Demikian pula dalam hubungan dengan Tuhan. Melalui proses pembelajaran kebenaran Firman Tuhan dan pergaulan dengan Tuhan setiap hari kita bisa bertumbuh dewasa dan memahami kehendakTuhan sehingga bisa membangun jalinan interaksi dengan Tuhan di dalam batin atau suara hati atau nurani kita. Kesalahan-kesalahan tersembunyi yang bersifat batin dapat kita deteksi dengan cepat dan cermat, kemudian kita meminta ampun dengan tulus dan berubah. -Solagracia-

Perasaan bersalah karena melukai hati Tuhan sudah menjadi luka kita sendiri. Itu merupakan hukuman yang sangat menyakitkan.

Surat Gembala: ISI KEBENARAN YANG BENAR

Seperti yang telah disinggung bahwa kebenaran yang benar-benar benar merupakan terobosan yang tidak bisa bertindih tetap dengan kebenaran agama dan etika yang sudah ada. Ini berarti akan terjadi sedikit friksi atau bahkan bertentangan dengan moral umum. Misalnya soal dosa. Bagi agama dan etika pada umumnya dosa adalah pelanggaran terhadap hukum, tetapi dalam kekristenan adalah meleset, artinya tidak melakukan sesuai dengan selera Tuhan berarti dosa (apa pun). Dalam hal ini titik tolak kesucian adalah pikiran dan perasaan Tuhan. Juga sasalah doa, doa dipahami sebagai permintaan. Dalam berdoa seseorang mengajukan permintaan, tetapi dalam kekristenan doa adalah usaha untuk mengerti kehendak Tuhan. Bukan mengajukan permintaan tetapi mengajukan diri untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah.

Mengenai berbuat baik, biasanya dipahami sebagai memberi sesuatu kepada orang yang membutuhkan pertolongan, tetapi dalam kekristenan berbuat baik adalah melakukan sesuatu untuk menunjang atau melengkapi proyek keselamatan, bagaimana manusia dikembalikan kepada rancangan semula. Jika tidak demikian, kebaikannya sia-sia. Mengenai ibadah, dalam agama-agama pada umumnya, ibadah berarti melakukan kegiatan di lingkungan rumah ibadah. Dalam kekristenan ibadah adalah menggunakan semua potensi jasmani dan rohani untuk kepentingan Tuhan, yaitu menggenapi rencana Allah yaitu menggenapi jumlah corpus delicti, baik diri sendiri maupun orang lain yang kita bantu. Memuji dan menyembah Tuhan adalah kegiatan dalam lingkungan gereja yaitu pada waktu mengadakan liturgi, tetapi sebenarnya tidak demikian. Menyembah Tuhan adalah ketika seseorang memberi nilai tinggi Tuhan dan mewujudkan itu dalam tindakan. Selanjutnya agama mengajarkan bahwa beragama atau bertuhan selain menjadi baik (menurut moral) juga usaha untuk memperoleh jalan keluar bila memiliki suatu masalah. Ini namanya azas manfaat. Tetapi seharusnya tidaklah demikian, kekristenan mengajarkan kalau kita berurusan dengan Tuhan karena kita hendak menemukan tempat kita di hadapan Tuhan untuk mengabdi dan melayani Tuhan. Dengan demikian azas manfaat diganti azas devosi.

Pada umumnya seseorang merasa bahwa dirinya adalah penduduk bumi dan berusaha untuk hidup sesuai dengan standar umum yang berlaku serta berusaha untuk menikmati sebanyak-banyaknya apa yang disediakan. Kebenaran yang murni mengajarkan bahwa kita harus merasa sudah mati dan hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus. Walau pun belum meninggal, kita harus sudah mulai memindahkan hati ke dalam kerajaan Sorga. Cara berpikir ini suatu cara berpikir yang tidak dikenal dalam masyarakat umum. -Solagracia-

Kebenaran yang benar-benar benar merupakan terobosan yang tidak bisa bertindih tetap dengan kebenaran agama dan etika yang sudah ada.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29.622 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: