Arsip Kategori: Renungan

Surat Gembala: KEKUATAN DALAM KELEMAHAN

Ketika murid-murid dan orang-orang yang selama ini mengikut Tuhan Yesus dan berharap dapat mengubah nasib mereka melihat bahwa Tuhan Yesus tunduk kepada kekuatan Roma, maka semangat mereka menjadi patah. Terus terang saja, selama ini mereka mengikut Tuhan Yesus dengan mempertaruhkan segenap hidup mereka, meninggalkan segala sesuatu karena mereka hendak mengubah nasib atau keadaan hidup mereka. Dengan ditangkapnya Tuhan Yesus, disiksa dan dihukum mati, maka mereka menjadi tawar hati dan meninggalkan Tuhan Yesus. Murid-murid yang terutama, yang selama itu ada di samping Tuhan Yesus begitu kecewanya sampai mereka bermaksud kembali ke profesi semula, diantaranya sebagai penjala ikan. Bisa dibayangkan bagaimana dengan profesi Matius sebagai pemungut cukai, tidak mudah ia dapat menduduki kembali jabatan yang pernah didudukinya. Langit hidup mereka menjadi runtuh. Kebersamaan dengan Tuhan Yesus selama tiga setengah sekejap. Mereka memandangnya seperti sebuah mimpi sangat buruk. Sulit bagi mereka menerima kenyataan itu. Apa yang mereka saksikan dan mereka alami sangat jauh dari apa yang selama ini diharapkan dan dimimpikan. Mereka benar-benar tergoncang.
Hal itu terjadi sebab mereka tidak tahu rencana Allah dan kebenaran-Nya. Mereka memaksakan rencana mereka sendiri dan membangun kebenaran mereka sendiri pula. Pada dasarnya mereka tidak mengikut Tuhan Yesus, tetapi mereka bermaksud agar Tuhan Yesus mengikut mereka. Kejayaan yang mereka maksudkan dan harapkan adalah kejayaan dan kemuliaan yang berbeda dengan konsep Tuhan. Hal ini memberi pelajaran yang mahal bagi kita orang percaya sekarang ini. Inti kekristenan adalah mengenakan cara berpikir Tuhan. Ketidak berdayaan-Nya menghadapi kekuatan agama Yahudi dan Roma bukanlah sebuah kekalahan, justru itulah kekuatan. Tuhan Yesus bukan tidak sanggup membela diri dengan menurunkan malaikat dari Sorga, tetapi Ia harus sampai salib dan mati. Dengan cara itulah Ia memuliakan Allah Bapa. Itulah kekuatan. Sesuatu disebut sebagai kekuatan kalau melakukan apa yang Allah Bapa kehendaki. Walau di mata manusia adalah kelemahan dan ketidakberdayaan. Dalam kehidupan orang percaya yang benar, kita diajar untuk memberi diri mengikuti jejak Tuhan Yesus dengan mentaati kehendak-Nya. Walau untuk itu kita dianggap lemah, tidak berdaya dan bodoh. Dengan mengikuti kehendak Bapa kita bisa dianggap tidak beruntung dibanding mereka yang berani berlaku curang. Demi kebenaran kita harus berani tidak memiliki kelimpahan materi seperti mereka yang ada di jalan orang fasik. Bahkan kita harus berani tidak memiliki apa-apa demi kehidupan yang akan datang. -Solagracia-

Surat Gembala: MENDAPAT TEMPAT DI HATI TUHAN

Demi keselamatan agar dapat terwujud dalam kehidupan orang Kristen, gereja dan pelayanan tidak boleh menjadi bisnis untuk suatu keuntungan dalam bentuk apapun, kecuali mengubah cara berpikir jemaat agar terbuka terhadap kebenaran dan dapat diselamatkan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kebenaran itulah yang akan memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Kemerdekaan di sini adalah kemerdekaan dari percintaan kepada dunia. Dalam hal ini diingatkan bahwa seorang yang menjadi rohaniwan belum tentu sudah merdeka dari percintaan dunia. Padahal percintaan dunia adalah perselingkuhan dengan dunia. Percintaan dunia artinya masih ingin hidup wajar seperti manusia lain, bahkan kalau bisa melebihi mereka dalam harta dan kehormatan. Orang-orang seperti ini mencari tempatnya di mata manusia lain di bumi tetapi tidak mencari tempatnya di hati Tuhan. Baginya mencari tempat di hati Tuhan adalah abstrak, bukan realitas hidup hari ini. Padahal Tuhan Yesus sendiri yang berkata: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa dan akal budi. Dengan penjelasan lain, Tuhan Yesus menghendaki agar orang percaya menemukan tempatnya di hati Tuhan, sebab kalau seseorang mengasihi Tuhan dengan cara demikian berarti ia menjadikan Tuhan sebagai kekasih hatinya. Setiap orang yang menjadikan Tuhan kekasih hatinya pasti menjadi kekasih Tuhan. Menjadi kekasih Tuhan inilah yang harus diusahakan lebih dari mengusahakan segala hal. Inilah aspek lain dari keselamatan yaitu menjadi jemaat sebagai mempelai wanita-Nya dan Kristus sebagai mempelai prianya. Pertemuan antara dua pihak ini akan terjadi di suatu acara yang Alkitab katakan sebagai “pesta Anak Domba”. Ciri dari orang percaya yang menjadi mempelai Tuhan Yesus adalah sangat merindukan perjumpaan itu.
Jadi, dapat ditegaskan bahwa orang yang merdeka dari percintaan dunia berarti tidak memberhalakan sesuatu atau tidak selingkuh terhadap Tuhan. Kemerdekaan itulah yang membuat seseorang dapat membangun hubungan batin atau hati dengan Allah. Selama ada perselingkuhan maka seseorang tidak akan mendapat tempat di hati Tuhan, sebab Tuhan pun tidak mendapat tempat yang pantas dalam hidupnya. Orang-orang seperti ini tidak akan dapat menjadi mempelai Tuhan. Inilah yang ditakutkan Paulus, pikiran jemaat disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus, seperti Hawa yang diperdaya oleh ular (2Kor. 11:2-4). Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang ada dalam percintaan dengan dunia, sama seperti manusia pertama yang memetik buah yang dilarang oleh Allah. Hal itu jangan sampai kita lakukan. Kesempatan untuk hidup hanya satu kali. Seharusnya kita memetik buah pohon kehidupan yang di dalamnya berisi kebenaran Firman Tuhan yang akan memerdekakan dan menyelamatkan. -Solagracia-

Menjadi kekasih Tuhan inilah yang harus diusahakan lebih dari mengusahakan segala hal.

Surat Gembala: HAL PALING MUTLAK BAGI MANUSIA

Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai hukum yang utama dan terutama, yaitu mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, sebenarnya Tuhan Yesus hendak menunjukkan kepada manusia apa yang dikehendaki oleh-Nya untuk dilakukan lebih dari segala sesuatu dalam hidup ini (Mat. 22:37-40). Inilah inti kehidupan manusia, hal ini merupakan satu-satunya yang utama dan harus dilakukan atau dikenakan dalam hidup. Lebih mutlak dari segala realitas dan lebih mutlak dari segala kebutuhan. Memandang akan hal ini, maka tidak ada sesuatu yang disebut sebagai kebutuhan, selain mengasihi Tuhan dengan segenap hidup. Ketika seseorang mengasihi Tuhan dengan benar, maka segala sesuatu menjadi seperti fatamorgana (pembiasan cahaya melalui kepadatan yang berbeda, sehingga bisa membuat sesuatu yang tidak ada terlihat seolah-olah ada. Fenomena ini biasa dijumpai di tempat atau daerah panas seperti padang pasir).

Memang pada akhirnya segala sesuatu yang ada di bumi ini akan lenyap. Lenyap sama sekali. Bumi ini adalah padang pasir kehidupan, bukan Firdaus. Betapa dahsyatnya fenomena ini, ketika segala sesuatu lenyap dan berubah menjadi lautan api. Tidak ada lagi yang dapatdiandalkan dan dibanggakan. Membayangkan akan hal ini, betapa mengerikannya jika kita tidak memiliki hidup yang berkenan kepada Allah.
Tanpa mengasihi Tuhan dengan segenap hidup sebaiknya manusia tidak pernah ada. Sebaiknya tidak pernah ada “Anda” kalau tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hidup ini, sebab Anda diciptakan untuk berkasih-kasihan dengan Allah. Tidak ada makhluk yang memiliki keberadaan seperti ini. Inilah letak keagungan makhluk Adam yang diciptakan segambar dengan diri Allah sendiri. Diciptakan segambar dengan diri Allah sendiri artinya diberi keberadaan untuk dapat mengimbangi Allah, yaitu bisa berjalan seiring. Seiring untuk membagi perasaan. Dalam hal ini seakan-akan Allah membuat diri-Nya membutuhkan cinta kasih dari manusia. Betapa terhormat dan agungnya makhluk manusia ini, diperkenan berkasih-kasihan dengan Tuhan. Menolak hal ini berarti menolak Allah dan anugerah-Nya. Betapa celakanya manusia yang tidak mengerti atau tidak mau mengerti akan hal ini. Mereka membiarkan hatinya direbut oleh kuasa gelap dengan percintaan yang ditujukan kepada dunia ini. Mereka yang bersahabat dengan dunia ini dikategorikan sebagai musuh Allah (Yak. 4:4). Manusia telah merusak kehormatannya sendiri dengan cara menggantikan kehormatan sebagai makhluk yang mengasihi Tuhan menjadi makhluk yang mengasihi barang-barang dunia fana demi kehormatan di mata manusia lain. Percintaan dengan dunia dan haus kehormatan atas manusia telah menjadi belenggu, yang menutup hatinya untuk memberi ruang yang pantas bagi Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang tidak terhormat, sebab mereka tidak menghormati Allah. –Solagracia-

Surat Gembala: PIKIRAN YANG DITERANGI

Pada akhirnya setiap anak Tuhan harus hidup di dalam kehendak-Nya, artinya mengerti apa yang diinginkan Tuhan untuk dilakukan dengan tepat. Masalahnya adalah bagaimana seseorang dapat melakukan kehendak Tuhan kalau orang tersebut tidak mengerti kehendak Tuhan. Bagaimana seseorang dapat mengerti kehendak Tuhan kalau orang tersebut tidak memiliki kecerdasan yang mempertajam kepekaan dalam mengerti kehendak-Nya. Bagaimana seseorang bisa memiliki kecerdasan kalau orang tersebut tidak memiliki tekad atau niat untuk belajar. Akhirnya semuanya berpulang kepada masing-masing pribadi, bahwa tekad atau niat ini bisa dikobarkan oleh diri sendiri. Dalam hal ini Tuhan tidak akan memksa niat seseorang. Sebab kalau niat bisa muncul karena Tuhan juga yang menggerakkan berarti manusia seperti sebuah robot dan segala sesuatu dalam penentuan Tuhan. Sesungguhnya disini terdapat misteri kehidupan, yaitu kehendak bebas manusia. Kehendak bebas manusia inilah yang akan menentukan nasib atau keadaan kekalnya. Kalau seseorang benar-benar ingin memiliki kehidupan yang mampu melakukan kehendak Allah dan tidak mencintai dunia, makan Tuhan akan menuntunnya untuk bertemu dengan kebenaran tersebut. Tuhan akan mempertemukan dia dengan hamba-hamba Tuhan yang mengajarkan kebenaran yang murni.

Dengan mengenal kebenaran mata pengertian seseorang akan dicelikkan guna mengenali diri secara benar dengan ukuran kesucian yang Tuhan kehendaki. Dalam hal ini kita jadi mengerti mengapa Tuhan mengatakan bahwa mata adalah pelita tubuh (Mat. 6:22). Mata disini adalah pengertian yang mendalam, yang sanggup untuk memahami standar kesucian Tuhan. Kalau hanya untuk mengerti standar kesucian menurut hukum moral umum, maka tidak dibutuhkan “mata yang terang”. Pikiran biasa yang dimiliki orang pada umumnya sudah bisa mengerti hukum moral umum seperti torat bagi orang Israel. Tetapi pikiran biasa yang belum diterangi kebenaran tidak akan dapat mengerti standar kesucian Tuhan. Faktanya banyak orang Kristen hanya mengerti kebenaran sesuai dengan hukum moral umum; bukan kebenaran yang sesuai dengan kesucian Allah. Dari hal ini dapatlah dikonklusikan bahwa banyak orang Kristen yang tidak mengenal kebenaran dan Firman-Nya tidak tinggal di dalam mereka. Kalau begitu untuk apa setiap hari Minggu pergi ke gereja? Ternyata mereka ke gereja hanya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai orang beragama, ada yang ke gereja hanya karena hendak menyelesaikan persoalan pemenuhan kebutuhan jasmani. Di pihak lain gereja tidak mengajarkan kebenran dari Firman yang murni. Pengakuan dosa mereka hanya dosa-dosa moral umum belum standar kesucian Tuhan. -Solagracia-

Surat Gembala: BERBUAH DALAM KETEKUNAN

Persoalan yang paling penting dalam kehidupan orang percaya adalah apakah ketika menghadap Tuhan nanti ada buah-buah kehidupan yang dapat dipersembahkan kepada-Nya? Buah itu adalah melakukan dengan baik dan tekun segala sesuatu yang Tuhan inginkan. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak harus dipenuhi, sebab memang manusia diciptakan untuk melakukan kehendak-Nya. Jadi, buah di sini adalah perbuatan, perilaku dan sikap hati yang memberi kepuasan di hati Tuhan, sampai seseorang memiliki “hati melakukan kehendak-Nya”; memiliki nature melakukan kehendak Tuhan tanpa dipaksa atau ditekan oleh hukum. Inilah ciri dari anak Allah yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Selanjutnya, Tuhan memberikan kemampuan untuk bisa berbuah, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa beralasan mengapa tidak berbuah dalam kehidupannya.
Dalam perumpamaan mengenai Penabur benih, dikisahkan bahwa tidak semua orang yang mendengar Firman Tuhan bisa bertumbuh dan berbuah (Luk. 8:5-15). Kelompok pertama adalah gambaran dari orang-orang yang walaupun mendengar Injil tetapi tidak pernah menjadi orang percaya (Luk. 8:12). Ini disebabkan karena kuasa antikris telah mengunci mereka, sehingga mereka tidak pernah bisa menerima pribadi Tuhan Yesus Kristus. Kelompok kedua adalah gambaran mereka yang mendengar Injil, menjadi orang Kristen tetapi tidak berani membayar harga percayanya. Pada zaman itu kalau orang berani percaya kepada Tuhan Yesus akan mengalami aniaya (Luk. 8:13). Banyak orang lebih menyelamatkan nyawanya dari pada kehilangan nyawanya. Kelompok ke tiga adalah orang-orang yang tidak mengalami aniaya, tidak menolak Tuhan Yesus, tetapi masih mencintai dunia. Mereka memang berbuah tetapi buahnya tidak matang (Luk. 8:14). Kata matang dalam teks aslinya adalah telesphoreo (τελεσφορέω) yang artinya dewasa. Jadi buah yang dihasilkan tidak dewasa. Tuhan menghendaki kedewasaan. Kehendak Tuhan harus dituruti secara mutlak. Kelompok ke empat adalah orang-orang yang mendengar Firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik; mengeluarkan buah dalam ketekunan (Luk. 8:15).
Mengeluarkan buah dalam ketekunan menunjukkan bahwa untuk berbuah, seseorang harus berjuang keras. Kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dituntut untuk berbuah (Yoh. 15:1-7). Jika tidak berbuah akan dipotongnya, tetapi yang berbuah akan dibuat semakin lebat buahnya. Dalam Lukas 13:6-7 mengenai perumpamaan seorang peladang yang memiliki kebun anggur, di dalamnya terdapat pohon ara. Ketika dilihatnya pohon ara tidak berbuah, ia mengatakan bahwa percuma pohon itu tumbuh di kebunnya. Ia menghendaki agar pohon itu dikeratnya saja. Dalam perumpamaan ini Tuhan menghendaki agar setiap orang percaya berbuah yang memuaskan hati-Nya. -solagracia-

Surat Gembala: SEDANG DIGIRING KE MANA?

Kita akan lebih menyadari betapa tidak berkualitasnya hidup di bumi ini tatkala kita menjumpai kenyataan pahit seperti: kematian orang yang kita cintai, jatuh miskin, diperlakukan tidak adil, fitnah, menghadapi perang, huru hara, berbagai ancaman terhadap keselamatan nyawa kita dan keluarga, sakit penyakit, gagalnya karir kita atau anak-anak daan lain-lain. Dengan demikian kita menyadari bahwa kita hidup di dunia yang sudah jatuh. Selanjutnya kita merindukan suatu negeri yang tidak lagi diwarnai dengan keadaan menyakitkan itu. Namun demikian banyak orang yang masih saja berusaha memberontak kepada Tuhan dengan kesibukan mengutamakan jalan keluar dari persoalan-persoalan hidup. Hanya sibuk berusaha bagaimana membuat hidup ini menyenangkan menurut mereka, bukan mendahulukan Kerajaan Allah.

Seharusnya tatkala kita menjumpai betapa tidak berkualitasnya hidup ini, kita mengarahkan pandangan kita kepada Kerajaan Bapa. Melalui persoalan-persoalan yang berat, hidup kita diarahkan untuk “mendahulukan Kerajaan Allah”. Inilah kabar baik itu. Kabar baik yang memiliki tekanan bukan pada penyelesaian masalah-masalah fana, tetapi pada penyelesaian masalah-masalah kekal. Masalah utama hidup ini bukan soal makan minum dan kawin mengawinkan.

Masalah utama hidup bukan masalah fisik yang sementara ini, tetapi rumah abadi bagi jiwa dan roh kita. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Jangan geilsah hatimu, di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal (Yoh. 14:1). Harus dimengerti bahwa kesalahan bangsa Israel dan murid-murid Tuhan Yesus adalah mereka mau menyelesaiakan masalah-masalah fana di dunia ini, tetapi tidak memperdulikan masalah-masalah kekal, mereka mau menjadikan Tuhan Yesus Juruselamat dunia yang membawa manusia kepada Kerajaan Bapa (Mat. 12:32). Dengan sikap hati seperti tersebut di atas maka mereka tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah, tetapi apa yang dipikirkan oleh manusia (Mat. 16:23). Bila demikian bagaimana kita dapat menjadi orang Kristen yang rohani?.

Ternyata penghambatan kedewasaan rohani tersebut justru datang dari para pengkhotbah atau pembicara-pembicara Kristen yang tidak mengerti kebenaran. Mereka mengajarkan Alkitab tetapi tidak mengangkat hal-hal yang prinsip dan utama dalam hidup ini, yaitu perkara-perkara sorgawi. Mereka mengajarkan pengajaran yang disesuaikan dengan “semangat zaman”. Semangat zaman maksudnya adalah gairah hidup yang sekarang ini menguasai manusia pada umumnya. Apa yang menguasai manusia pada umumnya? Tentu masalah makan minum, kawin mengawinkan. Inilah yang dijadikan tujuan hidup manusia pada umumnya (Luk. 17:26-30). Inilah zaman dimana orang mengumpulkan guru-guru palsu yang menyenangkan telinga mereka (2Tim. 4:3). Oleh sebab itu kita harus selektif dengan apap yang kita dengar. Kita sangat membutuhkan kesehatan, makan minum, tempat tinggal dan segala fasilitas hidup ini. tetapi apa artinya pemenuhan semua itu kalau kita tidak memiliki jaminan hidup yang penuh harapan, di hari esok di balik kubur (1Ptr. 1:3-4).

Waspadalah terhadap penggiringan ini: “memikirkan apa yang dipikirkan manusia.” Barangkali Saudara berkata: Kami memperoleh dua-duanya, sorga dapat dunia juga dapat . Bisa saja, tetapi kita harus waspada: bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 19:24). Menyadari betapa tidak berkualitasnya hidup manusia yang telah jatuh dalam dosa ini, maka kita akan terpacu melakukan dua hal: Pertama, membenahi diri terus menerus agar kita berkenan kepada Tuhan. Kedua, menjadi penjala jiwa yang tidak kenal lelah. Kita akan rela mengorbankan segala hal, yaitu seluruh hidup kita ini untuk menuai jiwa-jiwa guna dibawa ke dalam Kerajaan Bapa Sorgawi. -Solagracia-

Surat Gembala: MENGHARGAI DIRINYA SENDIRI

Kita harus membuka kesadaran bahwa betapa hebat makhluk yang disebut manusia itu. Kalau kita tidak dapat menghargai diri kita sendiri, maka kita tidak akan bisa menerima karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus. Karya keselamatan Allah pada dasarnya merupakan tindakan Tuhan yang menunjukkan betapa berharganya manusia di mata Tuhan. Orang yang tidak menghargai dirinya dengan benar tidak akan dapat diajak bekerja sama dengan Tuhan untuk menyelamatkan jiwanya, sebab ia tidak peduli bahwa Allah menginginkan ia dikembalikan kepada rancangan Allah semula. Dalam hal ini manusia harus sepikiran dengan Tuhan, bahwa manusia berharga di mata-Nya. Keberhargaan kita harus disasarkan pada kenyataan bahwa di dalam diri kita ada roh Allah.
Setiap orang percaya harus menyadari sedalam-dalamnya bahwa di dalam dirinya Allah memberikan roh dari-Nya yang sangat berharga. Tuhan mengingini roh dari diri-Nya tersebut kembali kepada-Nya (Pkh. 12:7). Roh itu terbelenggu tidak berdaya didesak oleh dua pihak. Pihak pertama yang mendesaknya adalah kodrat dosa, sebab semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang hidup di bawah kuasa dosa tidak mungkin dapat berkenan kepada-Nya (Rm. 8:8).

Oleh karena itulah Tuhan Yesus berkata, “Roh memang penurut, tetapi daging lemah”. Di sini kata “penurut” aslinya adalah (Prothymos) yang berarti “bersedia; ingin sekali,” sedangkan “lemah” aslinya ditulis (asthenes) yang berati “tanpa kekuatan; sakit; loyo; tidak berdaya”.

Terlebih penting kita harus memiliki cara pandang yang benar dalam menghargai diri. Harus dimulai dari pengertian kita mengenai kenyataan bahwa Allah menaruh roh yang berasal dari Dia dalam setiap kita. Jadi sejatinya semua manusia yang memiliki roh dari Allah adalah anak-anak Allah. Tetapi karena dosa, manusia tidak memiliki karakter seperti Bapa. Inilah yang menjadi pertimbangan awal, jadi bukan tanpa alasan kalau Tuhan mengingini roh yang ada di dalam diri manusi dengan cemburu atau dengan sangat kuat. Allah mengingini roh tersebut, dimaksudkan agar tidak terseret ke dalam api kekal. Oleh karena itu Bapa mengutus putra-Nya yang tunggal untuk menyelamatkannya. Hal ini menunjukkan betapa mahal harga roh manusia.

Pihak kedua yang mendesak roh manusia adalah pengaruh dunia jahat di sekita kita, yang terlanjur mewarnai jiwa manusia. Jika jiwa yang mengendalikan seluruh hidup manusia memuat isi yang bertentangan dengan kehendak Allah, maka seluruh kelakukan hidup orang itu pun pasti rusak. Perbaikan karakter dari aspek jiwa – yang sekarang dikerjakan oleh masyarakat modern – hanya membuat orang baik, tetapi tidak membuat orang dikenan oleh Tuhan. Yang dikenan-Nya adalah orang yang hidup menurut roh, sebab kehendak roh sama dengan kehendak Bapa.

Oleh sebab itu setelah kita menerima Kristus, jiwa kita harus terus menerus diperbaharui oleh Firman-Nya. Roh manusia menjadi lemah kalau jiwanya tidak dipenuhi dengan kebenaran Tuhan. Roh di dalam diri manusia itu sendiri akan menjadi kuat kalau isi jiwanya diubah. Tidak ada cara lain agar roh manusia dapat menguasai jiwa dan jiwa mengendalikan kehidupan, selain menguduskannya dengan kebenaran Firman Kristus (Yoh. 17:17). Itu juga merupakan penghargaan atas diri kita sendiri. -Solagracia-

Jika kita menghargai diri kita sendiri, kita akan giat memperbarui jiwa kita dengan Firman Tuhan agar roh kita juga menjadi kuat.

Surat Gembala: ASAS DEVOSI

Pada dasanya setiap budaya lahir dari sebuah kebiasaan yang berlangsung dari suatu komunitas. Dalam perjalanannya kemudian budaya melahirkan suatu kepercayaan atau agama. Agama yang lahir dari sebuah kebudayaan pada umumnya akan mengandalkan kekuataan supranatural. Untuk dapat menerima kekuatan supranatural ini maka dibutuhkan suatu upacara agama dengan ritual tertentu yang ditujukan agar kedua pihak mendapat keuntungan. Para pengikutnya percaya apabila mereka berbuat baik akan diberkati dan jika tidak maka mereka akan dihukum (Asas upah atau reward).

Bagi agama tersebut yang berperan adalah ritual. Untuk menjalankan ritual-ritual tersebut ada syarat-syarat tertentu yang harus diikuti dengan benar misalnya dengan mengucapkan ayat-ayat tertentu untuk mengusir setan, doa-doa tertentu yang digumakan untuk menolak bala, menerima berkat dan lain sebagainya. Bertuhan karena asas manfaat itulah agama, tetapi kekristenan tidak mengajarkan demikian, kekristenan mengajarkan berTuhan karena menyangkut nasib kekal. Sebagaimana Allah menjaga keteraturan jagad raya berdasarkan hukum-hukumNya. Maka dalam kehidupan ini Allah juga menerapkan hukum-hukum-Nya. Seperti mengenai hukum tabur tuai Gl 6:7) dimana orang jahat akan menuai akibat buruk dari kejahatannya. Orang malas akan menuai kemiskinan akibat kemalasannya.
Devosi yang dikembangkan oleh banyak pengkotbah dan pengajar hari-hari ini berangkat dari asas simbiosis mutualis atau asas manfaat seperti itu. Jelas ini bukan produk ajar yang berangkat dari standard kebenaran Alkitab. Pengajaran seperti ini mutlak bukan kristen tetapi berangkat dari agama agama sekitar atau kepercayaan-kepercayaan suku. Sebagai contoh jemaat diajarkan bagaimana menyenangkan Tuhan melalui memberikan puji-pujian atau nyanyian sebagai wujud dari persembahannya kepada Tuhan, lalu dengan cara demikianlah Tuhan tergerak memberkati umat-Nya. Apa saja yang kita butuhkan akan diberikan jika kita berhasil membuat hati Tuhan disenangkan. Sadar atau tidak kesan ini muncul didalam gereja. Jika kita menyembah begitu rupa maka muzizat terjadi dan berkat akan diberikan. Kita harus ingat bahwa berkat yang diterima tidak didasari karena permintaan. Tanpa meminta pun sesungguhnya Tuhan sudah memberkati. Tuhan memiliki hukum dan kita terikat pada hukumnya.
Asas Devosi yang benar kepada Tuhan adalah berusaha menemukan Tuhan serta melakukan kehendak-Nya dengan ketaatan yang tak bersyarat. Seperti Abraham dimana hidupnya disita sepenuhnya untuk menemukan negeri yang dijanjikan Tuhan walaupun sampai ia hampir mati namun belum melihat negri itu, tetapi ia tidak tidak kembali ke Urkasdim. Ia memiliki fokus kepada Tuhan yaitu bagaimana menggenapi kehendak-Nya. Inilah yang disebut bertuhan itu, bertuhan adalah melakukan kehendak-Nya jika tidak berarti tidak bertuhan. Agama pada umumnya berfokus pada bagaimana menyelamat nyawa di dunia yaitu bagaimana terhindar dari kesulitan ekonomi, sakit penyakit, tidak memiliki pasangan hidup, tidak memiliki keturunan, dan lain sebagainya dengan memanfaatkan Tuhan. Devosi yang benar kepada Allah juga bukan dengan mengasingkan diri dari keramaian dunia lalu keluar dari persaingan di dunia kerja, politik dan lain sebagainya. Tetapi kita ada disana sebagai orang-orang yang telah mengalami Tuhan lalu berusaha membawa orang lain juga mengalami perjumpaan dengan Kristus. Melalui sebuah peragaan gaya hidup Tuhan Yesus yang kita tampilkan kepada dunia secara natural. Misalnya dengan bangun lebih pagi dari kebanyakan orang dan mengawalinya dengan bersaat teduh menemui Tuhan dulu, kemudian berolah raga olahraga, buka toko lebih pagi jika pedagang dan berangkat kerja jika lebih pagi ia seorang karyawan. Saat bekerja fokus pada pekerjaannya bukan upah. Sebab dijadikan sempurna lebih dari pahala. Berusaha jadi rancangan semula bukan karena takut dihukum tetapi karena Tuhan telah menyiapkan dunia yang jauh lebih baik dari dunia hari ini. Inilah devosi yang benar bukan karena upah pahala tetapi karena rasa syukur atas anugerah-Nya yang besar atas kita. -Solagracia-

Surat Gembala: Setiap Hari Adalah Kesempatan Mahal

Betapa lebih bijaksana jikalau setiap pagi, begitu bangun dari tidur kita bekata, “Syukur kepada Tuhan, aku masih hidup”. Mengapa hal tersebut harus kita lakukan? Sebab berarti kita masih memiliki kesempatan untuk lebih menghormati dan mengasihi Allah Bapa. Setiap hari yang baru adalah hari untuk belajar bagaimana menghormati satu-satunya Pribadi yang pantas dihormati. Inilah letak mahalnya waktu yang telah disediakan bagi manusia yang pada suatu waktu akan kembali kepada Allah yang menciptakannya.

Satu hari harganya sangat tidak ternilai, sebab satu hari yang dimiliki seorang anak manusia, akan memiliki dampak di keabadian yang tiada tara. Kemuliaan menjadi anak Allah bersama dengan Bapa di Kerajaan-Nya adalah sesuatu yang tak bisa dibeli dengan apapun juga. Hanya oleh anugerah di dalam Tuhan Yesus Kristuslah yang memungkinkan kita meraihnya. Oleh sebab itu, kita harus menjadikan kemuliaan itu menjadi milik kita yang pasti dengan meresponi anugerah Tuhan, yaitu belajar mengasihi dan menghormati-Nya.

Ingat iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh. Usaha untuk mengasihi dan menghormati Tuhan bukanlah jasa, melainkan suatusikap penghargaan terhadap anugerah keselamtan yang diberikan-Nya. Satu hari yang diberikan Tuhan merupakan kesempatan untuk menunjukkan usaha yang serius untuk mengasihi dan menghormati-Nya. Sebaliknya, suatu hari akan menjadi tidak berharga, bahkan akan menjadi bencana, kalau kita tidak digunakan untuk belajar menghormati dan mengasihi Bapa. Satu hari yang disia-siakan bisa mengakibatkan keterpisahan dengan Bapa selamanya.

Firman Tuhan menasihati agar kita bangkit dari tidur kita. Artinya, sadar sepenuhnya terhadap fakta kehidupan ini. Di mana kita harus mempergunakan waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat, artinya hari yang tidak digunakamn untuk belajar menghormati dan mengasihi Bapa adalah hari-hari yang membawa kebinasaan; itulah sebabnya mengapa disebut dengan “jahat”.
Kata jahat dalam teks aslinya adalah Poneros. Kata ini muncul pula dalam doa Bapa Kami, pada kalimat “tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat. Poneros merujuk pada kejahatan dalam pikiran, yaitu hasrat yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan. Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan adalah kejahatan, sebab manusia hidup memang hanya untuk melakukan keinginan Penciptanya. Sayangnya, hampir semua orang tidak mau mengerti akan hal ini; mereka hidup hanya untuk memuaskan keinginannya sendiri. Jangan terus memelihara kejahatan dalam pikiran dan melakukannya dalam kehidupan. Ingat suatu waktu nanti kehidupan ini akan menemui garis akhirnya.

Tetapi tanpa disadari banyak orang yang terjebak dalam pola kehidupan seakan-akan perjalanan hidup ini tidak ada akhirnya. Inilah yang mengikat kehidupan banyak orang, juga sebagaian besar orang Kristen. Hal itu berarti tidak mengerti kebenaran, dan ini adalah penyesatan Iblis yang sukses. Bila jujur maka kita akan mendapati bahwa banyak manusia yang memberontak atau menolak kenyataan bahwa jalan hidup ini akan berakhir. Dan akhir perjalanan hidup manusia ini sebuah misteri yang pada umumnya tidak seorangpun tahu (Yak. 4:13-17). Iblis akan berusaha menenangkan banyak jiwa manusia seakan-akan hidup ini tidak ada bahayanya. Tanpa disadari mereka sebenarnya sedang dibawa oleh iblis ke dalam siksaan kekal. Ingatlah, hari ini harganya sangat tiada ternilai. Hari ini merupakan kesempatan yang diberikan Allah, untuk kita dapat mengisinya dengan sikap hati yang benar, yaitu belajr untuk selalu menghormati dan mengasihi-Nya. -Solagracia-

Surat Gembala: Mesin Penggarapan Tuhan

Salah satu hal yang menghambat seseorang dalam mencari Tuhan adalah ketika ia tertumbuk pada satu kenyataan hidup yang bertolak belakang dari apa yang dipahaminya. Semestinya orang yang mencari Tuhan berkeadaan lebih makmur, berlimpah, dan lebih sukses. Baik dalam urusan karier, bisnis, keuangan , kesehatan, bahkan keharmonisan rumah tangga. Umumnya orang beranggapan jikalau seseorang mencari Tuhan, maka ia tidak akan mengalami penderitaan, aniaya, dan kesukaran hidup. Namun pada kenyataannya ia menemukan tidak ada bedanya antara orang yang bersungguh-sungguh mencari Tuhan dengan yang tidak, bahkan tidak sedikit yang berkeadaan jauh lebih buruk. Itu sebabnya ada sebagian orang berpikir, kalau begitu untuk apa berusaha hidup benar? Pergumulan ini juga dialami oleh pemazmur seperti yang tercatat di dalam kitab Mazmur 73: 3-7.

Tidak adanya perbedaan nyata antara orang yang bersungguh sungguh mencari Tuhan dengan yang tidak, membuat seseorang berpikir, kalau begitu apa gunanya bergereja? Tidak usah fanatiklah, tidak usah bersungguh-sungguhlah kalau begitu. Jika pada akhirnya kita berpikir seperti ini berarti kita melawan Tuhan. Ibarat seorang prajurit yang diperintahkan komandannya untuk berjalan sampai ke Bogor, tetapi ia hanya berjalan hanya sampai cibinong saja. Sikap seperti ini tentunya merupakan sikap seorang memberontak. Begitu pula dengan kita, Tuhan memerintahkan kita bukan sekedar berbuatbaik tetapi juga harus menjadi sempurna. Jika kita tidak mengusahakannya berarti kita melawan Tuhan.

Tuhan tidak saja mengajarkan kita untuk berbuat baik tetapi lebih dari itu, Ia mengajarkan kepada kita untuk mengerjakan apa yang sempurna. Kesempurnaan disini maksudnya adalah ketika seseorang sampai kepada moral Bapa, bukan moral umum seperti yang dipahami oleh kebanyakan orang. Moral Bapa yang dimaksud adalah melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Bapa. Seperti yang telah dikerjakan oleh Guru Besar kita Yang Mulia Tuhan Yesus Kristus.

Apabila kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan maka tidaklah secara otomatis memiliki moral Bapa. Oleh karena itu Tuhan memberikan pendidikan kepada kita melalui sekolah kehidupan selama kita di bumi ini. Pendidikan yang diberikan tentu saja tidak menyenangkan daging, sebab di dalam diri kita pasti terdapat banyak batu, kanker, tumor yang harus diangkat dan dibersihkan, yaitu segala hal negatif yang ada dalam diri kita. Selain itu agar segala kemuliaan yang kita miliki di bumi ini menjadi luruh karena tidak mempunyai nilai kekal. Tuhan bermaksud menggantikannya dengan kemuliaan yang bernilai kekal.
Memang didikan yang kita terima seolah-olah menempatkan kita seperti seorang yang terkena tulah atau hukuman. Tetapi perlu kita pahami kata tulah disini artinya adalah: teguran dan koreksi, bukan tulah karena Allah sudah tidak peduli lagi kepada kita (Mzm. 73:14). Justru keadaan ini sangat menguntungkan bagi kita, sebab melalui cara inilah Tuhan bermaksud hendak memuliakan kita kelak. Seperti ada kata-kata bijak yang mengatakan “no pain no gain”.

Inilah cara Allah menyatakan cinta-Nya kepada kita. Ibarat orang tua yang baik mereka pasti memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Pendidikan yang baik kadang-kadang justru membawa anak-anaknya ke dalam kesulitan. Seperti menempatkan di sekolah yang menegakkan disiplin dan segudang tugas-tugas sekolah. Belum lagi dengan daftar tugas harian di rumah yang juga harus dikerjakan setiap hari. Hal ini bisa saja disalah pahami tetapi bagi anak-anak yang baik akan memahami bahwa inilah cara orang tua mengungkapkan rasa sayangnya.

Sebagaimana orang tua mendidik anak-anaknya, maka Allah juga mendidik setiap orang yang diakui-Nya sebagai anak-Nya. Allah kita adalah Allah yang mendidik dan menyesah anak-Nya berulang-ulang sebagai teguran dan koreksi (Why. 3:19; Ibr. 12:6-9). Dengan demikian kita harus memandang setiap kesulitan dan persoalan hidup secara benar, bahwa semua hal itu bukanlah kutuk kecelakaan melainkan mesin penggarapan Tuhan. Oleh karena itu, Jadilah seperti kawanan domba dungu dihadapan Tuhan, ikuti saja tuntunan-Nya dan biarkan Tuhan mencabuti dosa-dosa kita (Mzm. 73:22-23). Sampai akhirnya kita tidak lagi membandingkan keadaan kita dengan orang-orang fasik yang bengkok hati. Apapun yang terjadi dan yang hilang dalam hidup kita bukan masalah asal Tuhan tetap menjadi milik kita (Mzm. 73:26). -Solagracia-

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28.338 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: