Category Archives: Renungan

Surat Gembala: PELUANG YANG HARUS DIMANFAATKAN

Dalam sejarah pekerjaan Tuhan, baik yang ditemukan dalam Alkitab maupun yang tercatat dalam sejarah gereja, ditemukan dua hal yakni tantangan dan peluang. Dalam pekerjaan Tuhan terdapat tantangan yang dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internal maksudnya adalah tantangan yang terdapat dalam lingkungan orang Kristen sendiri. Tantangan dari aspek internal antara lain, kenyataan tidak banyak orang Kristen yang menyadari bahwa pekerjaan Tuhan adalah tanggung jawab bersama setiap orang percaya. Mereka harus menyadari bahwa setiap orang Kristen harus hidup dalam pekerjaan Tuhan atau dalam pelayanan Tuhan (Yoh. 20:21). Setiap orang yang mengikut Yesus harus mengikuti jejak-Nya. Setiap orang yang percaya kepada Yesus dan hidup di dalam Dia, ia wajib hidup seperti Yesus hidup yaitu menjadi utusan Bapa (1Yoh. 1:6).

Banyak gereja sibuk dalam pelayanan ke dalam sehingga mengabaikan pekerjaan Tuhan yang sifatnya keluar, termasuk kepentingan membangun jaringan kerja. Mereka tidak memedulikan kepentingan pekerjaan Tuhan secara menyeluruh atau secara global. Biasanya gereja seperti ini adalah gereja perusahaan, dimana gereja menjadi lahan pencarian nafkah pendeta semata. Mereka tidak memiliki visi, melihat kepentingan pekerjaan Tuhan secara universal bersama gereja lain. Kalau seorang gembala jemaat tidak memiliki visi bersama maka jemaatnya yang dilayanipun akan berpikiran picik seperti pemimpinnya. Kita harus menerima kenyataan bahwa gereja adalah milik Tuhan. Tidak ada seorang pun yang berhak merasa memiliki jemaat Tuhan. Berangkat dari pemahaman ini maka kita tidak akan egois. Gereja bukanlah perusahaan pribadi tetapi bisnis Bapa dan Tuhan Yesuslah kepalanya. Adapun tantangan secara eksternal adalah tantangan yang berasal dari luar gereja antara lain: Keadaan dunia yang fasik yang menjadikan kemurnian iman orang percaya rawan, kejahatan yang bertambah-tambah sehingga berbagai bidang hidup manusia mengalami dekadensi, pengkristalan iman atau agama, termasuk munculnya kelompok ekstrim beragama yang berusaha membangkitkan sentimen terhadap kekristenan dan lain sebagainya. Tantangan dan peluang inilah yang menjadi fokus proyek jaringan kerja (net working) yang merupakan kesempatan besar bagi orang percaya untuk berkarya di hari-hari terakhir sebelum Tuhan datang kembali. Bagi orang percaya yang mengasihi Tuhan tantangan adalah peluang untuk membuktikan kasih cinta kepada Tuhan. Marilah kita memanfaatkan peluang ini bersama-sama dan menghadapi tantangan bersama-sama dalam jaringan kerja gereja-gereja. -Solagracia-

Bagi orang percaya yang mengasihi Tuhan tantangan adalah peluang untuk membuktikan kasih cinta kepada Tuhan.

Surat Gembala: LEGALITAS ANAK-ANAK ALLAH

Mengapa seseorang disebut sebagai anak-anak Allah? Sebab ia memiliki kedaulatan moral yang tidak terbatas untuk mencapai kesucian Tuhan, artinya bisa mempertimbangkan sesuatu, mengambil pilihan dan keputusan yang sesuai dengan keinginan Tuhan. Dalam hal ini harus dipahami bahwa sebutan anak Allah di depan manusia bukan hanya sebuah sebutan tetapi keberadaan. Dengan keberadaan memiliki kedaulatan tanpa batas sesuai dengan moral Tuhan tersebut maka seseorang pantas mendapat status sebagai anak-anak Allah di hadapan-Nya. Berkenaan dengan hal ini kita dapati bahwa keturunan Set yang masih hidup dalam pimpinan Roh Allah dapat disebut anak-anak Allah (Kej. 6:1-4), sedangkan keturunan Kain yang hidup sesuka “hatinya sendiri” atau hidup menurut dagingnya adalah anak manusia (Rm. 8:9-14). Di antara keturunan Set yang berprestasi secara spiritual adalah Henock yang di tengah-tengah kesibukkannya sebagai pria yang berkeluarga bisa bergaul dengan Allah sampai diangkat Tuhan (Kej. 5:21-24). Oleh karena keturunan Set yang disebut anak-anak Allah tidak hidup menurut tuntunan Roh Allah, dimana mereka mengambil istri dari keturunan Kain sesuai dengan keinginan mereka sendiri, maka Roh Allah undur dari mereka. Sejak saat itu tidak ada lagi sebutan anak Allah secara proporsional. Sampai pada jaman anugerah dimana Allah memberi keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus kembali dimungkinkan manusia menjadi anak-anak Allah. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus menyediakan kuasa (Yun.exousia) supaya mereka yang percaya bisa menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:11-13).

Kuasa supaya menjadi anak-anak Allah tidak otomatis dapat membuat seseorang berkeadaan sebagai anak-anak Allah dengan moral tanpa batas sesuai dengan moral Tuhan. Dalam hal ini setiap orang harus menjadi murid Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tegas menyatakan bahwa orang percaya harus menjadikan semua bangsa menjadi murid Tuhan Yesus. Bukan murid manusia. Dalam hal ini pelayanan gereja hanya sampai wilayah tertentu membimbing umat kepada kebenaran Tuhan oleh tuntunan Roh Kudus, selanjutnya setiap pribadi harus belajar dari Tuhan Yesus bagaimana memiliki pikiran dan perasaan Tuhan. Inilah proses dilegalitas sebagai anak-anak Allah, dimana seseorang dididik oleh Allah supaya beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:6-10). Proses legalitas untuk diakui sebagai anak Allah (Yun. Huios) merupakan proses yang menyita seluruh kehidupan ini. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan agar orang percaya sempurna seperti Bapa (Mat 5:48). Sepanjang perjalanan hidup ini orang percaya harus segenap hidup mengumpulkan harta di Sorga (Mat 6:19-20). -Solagracia-

Dengan keberadaan memiliki kedaulatan tanpa batas sesuai dengan moral Tuhan, maka seseorang pantas disebut sebagai anak-anak Allah

Surat Gembala: BLESSING IN DISGUISE

Karena melalui segala peristiwa Tuhan berbicara kepada kita, yaitu memberi nasihat dan pendidikan-Nya, maka kita harus sungguh-sungguh menghayati bahwa hidup ini adalah sekolah. Kita harus fokus terhadap setiap pelajaran yang Tuhan berikan melalui segala peristiwa yang kita dengar, lihat dan alami. Oleh sebab itu perhatian kita tidak boleh tertuju kepada yang lain. Kalau perhatian seseorang tercuri oleh hal lain, maka pelajaran berharga yang diberikan Tuhan setiap hari kepada masing-masing individu menjadi sia-sia. Banyak pelajaran mahal yang Tuhan berikan dan terlewatkan begitu saja. Dengan demikian anugerah Tuhan yang sangat berharga tidak dihargai. Sejatinya banyak orang Kristen bersikap demikian. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang tidak memiliki kerinduan untuk bertumbuh dalam Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang tidak haus dan lapar terhadap kebenaran. Jika seseorang memperhatikan dengan serius setiap peristiwa kehidupan yang didengar, dilihat dan dialami, maka nyatalah kemajuan kedewasaan rohaninya. Anak-anak Tuhan harus memiliki “seni” atau kecerdasan dan ketelitian menganalisa setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Dengan teliti seperti kegiatan seorang peneliti terhadap suatu obyek. Dengan keseriusan yang tinggi seseorang akan mendapat pencerahan dari Tuhan untuk menemukan banyak pelajaran rohani yang memberi hikmat, mengubah pola berpikir dan mendewasakan rohani menuju kesempurnaan. Melalui segala peristiwa tersebut sesungguhnya Tuhan memberikan “rhema-Nya” (suara dari hati Tuhan) yang berkenaan secara langsung dengan kebutuhan pada waktunya. Rhema (Firman Tuhan) ini sukar diperoleh tanpa melalui pengalaman hidup konkrit dalam kehidupan. Dalam hal ini sering orang percaya yang sungguh-sungguh haus dan lapar akan kebenaran memperoleh pengalaman “blessing in disguise”, artinya kadang melalui pengalaman yang menyakitkan Tuhan memberikan “rhema-Nya”. Jadi rhema yang diterima orang percaya tidak selalu melalui pengalaman yang menyenangkan, justru lebih banyak melalui pengalaman yang tidak nyaman. Orang percaya yang dewasa dan mengerti kebenaran ini tidak akan bersungut-sungut ketika harus melewati lembah kesulitan. Jika mengerti betapa nilai “rhema” yang diberikan Tuhan mestinya kita berani membayar berapa pun harga yang harus dibayar. Lagi pula hal ini tidak diberikan kepada semua orang, tetapi hanya kepada mereka yang mengasihi Tuhan (Rm. 8:28). Dalam hal ini kita menemukan hubungan antara mengasihi Tuhan, mengalami segala perkara dimana Allah turut bekerja dan rhema yang Tuhan berikan kepada mereka yang mengasihi Tuhan. Dengan demikian jelas sekali bahwa hanya orang yang mengasihi Tuhan yang memperoleh rhema. -Solagracia-

Anak-anak Tuhan harus memiliki “seni” atau kecerdasan dan ketelitian menganalisa setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.

Surat Gembala: KEMERDEKAAN SEJATI

Seseorang dapat sungguh-sungguh mengalami kemerdeakaan bila tetap berada di dalam Firman (Yoh. 8:31-32). Tetap dalam Firman maksudnya agar hidup kita selaras dengan Firman Tuhan (dituntun dan dipandu oleh Firman Tuhan). Bila demikian maka ia disebut sebagai murid. Tanpa disadari banyak orang Kristen yang hidup dalam kefasian. Pasif dalam mencari pengenalan akan kebenaran. Penganalan akan kebenaran disini dapat membuat seseorang merdeka. Iblis sering menipu dengan kepasifan sehingga hari-hari hidupnya tidak belajar Firman Tuhan dengan tekun. Iblis mengisi oikiran dengan berbagai sampah-sampah dari tontonan di layar kaca sampai layar lebar dan berbagai media lain yang tidak mengajarkan kebenaran. Hal ini akan menyebabkan seseorang tidak menggunakan kebebasan bertindak dan mengambil keputusan dengan cerdas dan cermat. bnyak manusia yang tidak jelas arah perjalanan hidupnya sebab kepafisan ini. Tidak jarang dijumpai orang Kristen yang mohon bimbingan Tuhan, mohon arah untuk memulihkan kehidupannya tetapi tidak pulih-pulih, sebab ia tidak melangkah untuk mencari kebenaran. Padahal Tuhan menghendaki melangkah dulu mengenal kebenaran. Mengenal kebenaran identik dengan mengenal Allah, mengenal pribadi-Nya, mengenal kehendak-Nya, mengerti maksud-maksud-Nya.

Pengenalan yang bertumbuh melalui pergumulan kengkrit inilah yang membuahkan kemerdekaan. Kenyataannya dapat dilihat banyak orang Kristen yang sudah merdeka tetapi sebenarnya masih terikat dengan berbagai ikatan disa. Kemerdekaan yang diakui dan dirasanya sebenarnnya hanyalah mimpi semata-mata atau fantasi. Berkenaan dengan hal ini perlu diketahui ada dua jenis kemerdekaan. Kemerdekaan pasif dan kemerdekaan yang diterima dari Tuhan Yesus yang membuat seseorang tidak dimiliki oleh kuasa kegelapan lagi. Dengan kemerdekaan ini seseorang dapat bertumbuh dalam kesempurnaan. Kemerdekaan aktif adalah kelepasan dari ikatan-ikatan dosa buah dari pergumulan pribadi dengan pimpinan Roh Kudus yang membuat seseorang semakin terikat dengan Tuhan. Kemerdekaan aktif adalah sebuah perjuangan yang terus menerus sampai Tuhan datang kembali, tidak boleh berhenti dan tidak bisa berhenti. Kemerdekaan aktif menuntut kesungguhan. Semakin orang merdeka semakin ia menikmati damai sejahtera Tuhan. Tidak sedikit orang Kristen yang hanya memiliki kemedekaan pasif dan tidak bertumbuh dalam kemerdekaan aktif, sehingga mereka tidak bertumbuh makin merdeka. Mereka adalah orang-orang Kristen yang tidak mengerti arah hidup kekristenannya; orang Kristen yang tidak bertanggung jawab. -solagracia-

Surat Gembala: ANUGERAH TIDAK MENGHILANGKAN SYARAT

Mereka yang masuk kerajaan Sorga atau diselamatkan adalah orang-orang yang melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23). Tuhan membiarkan orang ada bersama-sama dengan Tuhan, tetapi Ia akan melarang orang masuk Kerajaan-nya bila tidak melakukan kehendak Bapa. Iblis tidak melarang seseorang menjadi anggota gereja rajin, menjadi pengurus atau pekerja gereja bahkan menjadi pendeta, tetapi ia akan berusaha menghambat dan menghancurkan orang-orang yang berusaha hidup sesuai dengan kehenak Allah. Paling menakutkan bagi iblis adalah orang percaya yang berusaha melakukan kehendak Allah seperti Tuhan Yesus. Inilah keselamatan itu yaitu melakukan kehendak Allah. Dalam hal ini keselamatan bukan tanpa syarat. Anugerah tidak meniadakan syarat untuk masuk Kerajaan Allah. Anugerah bukan berarti semua dikerjakan oleh Tuhan dan manusia hanya diam seperti boneka yang tidak perlu meresponi karya keselamatan-Nya. Inilah kesalahan banyak orang Kristen yang kalau berbicara mengenai anugerah asumsinya adalah semua serba cuma-cuma. Jika bukan cuma-cuma berarti bukan anugerah. Dalam hal ini kita harus kembali merumuskan pengertian anugerah secara benar. Menempatkan anugerah pada tempat yang benar. Kesalahan memahami anugerah berarti kegagalan menerima keselamatan yang sejati. Anugerah justru menempatkan orang percaya pada pertaruhan yang mahal, sebab ia harus belajar melakukan kehendak Allah seperti Tuhan Yesus. Inilah yang dimaksud dengan percaya itu.

Alkitab jelas mengatakan “yang percaya kepada-Nya” beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Dalam Matius 7:21-23 mereka yang memanggil nama Yesus sebagai Tuhan harus melakukan kehendak Bapa, jika tidak maka ia belum dihisapkan sebagai orang percaya. Percaya berarti menyerahkan diri kepada obyek yang dipercaya. Kalau seseorang percaya kepada Tuhan Yesus berarti harus mau menerima ajakan Tuhan Yesus menjadi anak-anak Allah supaya Tuhan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Menjadi anak Allah berarti melakukan kehendak Bapa. Tuhan Yesus tidak menerima orang yang mengaku percaya tetapi tidak berkelakuan seperti diri-Nya. Tuhan Yesus mengatakan bahwa saudara-saudara-Nya adalah orang yang mendengar Firman Tuhan dan melakukan Firman itu atau menjadi pelaku Firman atau pelaku kehendak Allah (Luk. 8:21). Dengan demikian jelas sekali syaratnya untuk menjadi anggota keluarga Allah yaitu melakukan kehendak Allah. Tanpa syarat ini dipenuhi seseorang tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Syarat ini bukanlah bernilai sebagai “respon” terhadap anugerah Allah yang tidak terkatakan. -solagracia-

Kesalahan memahami anugerah berarti kegagalan menerima keselamatan yang sejati.

Surat Gembala: PENAMPIAN SEBAGAI ANAK ALLAH

Tidak bisa disangkal kenyataan dunia dimana kita hidup hari ini bertambah semakin fasik. Manusia semakin tidak peduli Tuhan. Tidak peduli Tuhan bukan berarti tidak bergereja, bisa saja mereka bergereja tetapi pada dasarnya mereka tidak peduli dan tidak menghormati Tuhan secara pantas. Kalau seseorang pergi ke gereja bukan berarti sudah peduli dan menghormati Tuhan secara pantas. Kepedulian terhadap Tuhan ditunjukkan dengan kesediaan hidup di dalam Kerajaan-Nya. Hidup dalam Kerajaan-Nya artinya hidup dalam suatu penghayatan terus menerus bahwa dirinya ada dalam pemerintahan Tuhan. Oleh sebab itu ia harus peduli terhadap kehendak dan rencana Tuhan.

Sebenarnya lebih dari segala kegiatan di lingkungan tembok gereja, yang Tuhan kehendaki adalah menjaga langkah hidup setiap hari. Dari segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan dan perbuat harus sesuai dengan keinginan Tuhan, tidak bertentangan dengan norma kesucian Tuhan. Segala sesuatu yang kita lakukan harus dihubungkan dengan Tuhan, yaitu apakah semuanya itu berkenan di hati-Nya? Membiasakan hidup dalam pemerintahan Tuhan ini tidak sederhana dan tidak mudah. Sebenarnya ini adalah proses menggarap batiniah seseorang, yaitu memiliki sikap hati yang benar di hadapan Tuhan. Ini bisa merupakan suatu “pergumulan senyap” tetapi sangat menyibukkan. Pergumulan senyap artinya tidak ada orang lain yang tahu persis apa sedang terjadi dalam hidupnya. Orang-orang seperti ini berurusan dengan Tuhan setiap detiknya dan berusaha untuk selalu menyukakan hati-Nya.

Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah ketekunan (Mat. 24:13). Kata ketekunan dalam teks aslinya adalah hupomeno (ὑπομένω) yang juga berarti “bertahan” terus menerus dan tetap berdiri teguh. Pergumulan melawan kuasa kegelapan bukanlah pergumulan yang ringan. Efesus 6:12 menunjukkan pergumulan ini sebagai suatu perjuangan. Petrus menunjukkan bahwa pergumulan itu seperti menghadapi singa yang mengaum (1 Ptr. 5:8-10). Sedikit sekali orang mengalami penderitaan dalam perjuangan ini. Ini adalah perjuangan untuk selamat. Perhatikan Matius 24:13, yang bertahan sampai akhir akan selamat. Bertahan juga berarti tetap kokoh di tengah pencobaan.

Suasana dunia ini merupakan bentuk penampian yaitu pembuktian apakah seseorang layak disebut anak Allah atau tidak. Dunia akan digoncang dengan berbagai kesulitan hidup dari berbagai sektor (ekonomi, politik, keamanan, ekosistim bumi, kesehatan dan lain sebagainya). Goncangan yang tidak kelihatan tetapi yang sangat penting untuk diwaspadai adalah kondisi kehidupan yang cenderung membuat manusia yang menjadi semakin fasik. Tanpa ketekunan seseorang pasti hanyut menjadi fasik seperti dunia. -Solagracia-

Suasana dunia ini merupakan bentuk penampian yaitu pembuktian apakah seseorang layak disebut sebagai anak Allah atau tidak.

Surat Gembala: PELAJARAN MELALUI SETIAP PERISTIWA

Dalam kenyataannya, untuk menjadi seorang yang mengerti atau memiliki kebenaran, baik kebenaran Firman Tuhan atau suara Tuhan dalam arti logos dan maupun rhema tidak bisa dihimpun secara borongan dalam waktu yang singkat. Memiliki Firman Tuhan tersebut melalui proses akumulasi yang bertahap. Setiap hari seseorang harus mengusahakan untuk memperoleh logos melalui pembelajaran terhadap Firman Tuhan. Kita sendiri yang harus mengadakannya. Gereja mula-mula adalah gereja yang tekun dalam pengajaran rasul-rasul setiap hari (Kis. 2:42-46). Ada pun Firman secara rhema akan disediakan Tuhan sebab kita tidak dapat menciptakannya. Setiap hari Tuhan pasti menyediakan berkat rhema melalui keadaan dan pergumulan hidup. Setiap peristiwa mengandung atau memuat suara Tuhan. Hal ini bisa dipahami kalau seseorang memiliki pengetahuan Firman Tuhan dalam arti logos yang memadai. Kalau pengetahuannya mengenai logos sedikit maka sering gagal menangkap pesan Tuhan di balik semua peristiwa kehidupan yang dialami. Firman Tuhan mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm. 8:28).Kata “segala“ dalam teks bahasa aslinya adalah pas (πᾶς) yang berarti juga “setiap”. Dalam hal ini menunjukkan bahwa setiap peristiwa kehidupan mengandung pelajaran yang mendatangkan kebaikan. Melihat hal ini, kita menyadari betapa berharganya hari ini, bahkan setiap menit yang kita lalui. Semakin seseorang memiliki pengetahuan yang memadai mengenai logos, maka semakin peka menangkap suara Tuhan melalui semua peristiwa kehidupan yang didengar, dilihat dan dialami. Kalau pengetahuannya mengenai logos miskin, maka seseorang tidak banyak memperoleh pelajaran rohani melalui setiap peristiwa kehidupan. Dalam hal ini Logos tidak bisa dipisahkan dengan rhema.

Seperti orang tua yang memberikan makanan untuk anak-anak guna pertumbuhan mereka, demikian Bapa memberikan rhema untuk orang percaya agar bertumbuh dan mengenakan kodrat Ilahi (Mat. 4:4). Makanan rohani yang diberikan oleh Bapa kepada anak-anak-Nya adalah hajaran (Ibr. 12:6-11).Dalam Ibrani 12:6 tertulis “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak”. Kata menghajar dalam teks aslinya adalah paideuo (παιδεύω). Kata paideuo ini bisa berarti mendisiplin. Sedangkan kata menyesah dari kata mastigoo(μαστιγόω). Kata ini juga bisa berarti mencambuk. Bagaimana proses ini bisa berlangsung? Tentu melalui pengalaman hidup riil. Dalam hal ini kita jumpai kenyataan orang-orang yang menyadari hidupnya bersekolah dengan Tuhan dan yang tidak menyadari. -Solagracia-

Setiap peristiwa kehidupan mengandung pelajaran yang mendatangkan kebaikan.

Surat Gembala: BIAYA YANG HARUS DIBAYAR

Dari Alkitab kita dapat memperoleh begitu banyak pengertian mengenai siapa Allah yang benar. Dari pengetahuan pengenalan akan Allah tersebut kita membangun hubungan dengan Allah, menghadirkan Dia dalam hidup ini. Hal ini sama dengan “menghidupkan Tuhan” dalam hidup kita. Apakah Tuhan terasa atau terbukti hidup atau mati dalam kehidupan seseorang juga tergantung dari masing-masing individu merespon anugerah Tuhan. Orang-orang yang tidak menghargai Tuhan secara pantas tidak akan mengalami Allah yang hidup di dalam kehidupannya. Dalam hal ini betapa pentingnya pemberitaan Firman yang benar untuk memperkenalkan Allah yang benar. Dari pengenalan akan Allah yang benar tersebut seseorang membangun pergaulan pribadinya dengan Tuhan.

Pemberita Firman harus dapat mengekstrak kebenaran dari Alkitab secara benar untuk diajarkan kepada jemaat. Pemberitaan Firman yang salah akan menutup pintu sama sekali seseorang bisa berinteraksi dengan Allah. Ini adalah awal penyesatan. Itulah sebabnya Tuhan sangat marah terhadap penyesat (Mat. 18:6). Orang percaya harus sungguh-sungguh berhati-hati terhadap siapa dan apa yang kita dengar. Pengalaman orang lain dengan Tuhan, baik yang tertulis dalam Alkitab maupun kesaksian orang yang kita dengar sekarang ini memang bisa menjadi pelajaran yang berharga, tetapi bagaimana pun setiap kita memiliki pengalaman yang tidak ada duanya. Pengalaman mereka hanya menjadi pembanding. Bahkan pengalaman tokoh-tokoh iman, tidak boleh diimport dalam hidup pribadi secara mentah. Pengalaman mereka belum tentu bisa diterapkan persis dalam hidup kita. Tentu yang pertama yang kita harus tangkap adalah esensi dari kisah tersebut mengenai Pribadi Allah, kedua kecenderungan-kecenderungan hati seseorang yang bisa memberi pelajaran bagi kita.

Biaya untuk menghidupkan Tuhan dalam kehidupan kita masing-masing sehingga kita menemukan pengalaman khusus tersebut, ada dua. Pertama, korban Tuhan Yesus Kristus yang memberi jalan kepada manusia untuk bisa bersekutu dengan Allah. Setiap orang bisa menghampiri Allah sebagai Bapa, bukan hanya para imam seperti pada jaman Perjanjian Lama (Ibr. 12:18-25). Allah Bapa mau menyambut kita sebagai anak-anak-Nya dan berbicara setiap hari melalui Roh-Nya. Kedua, segenap hidup kita tanpa batas. Orang yang mengalami Tuhan atau menghidupkan Tuhan di dalam hidupnya untuk memiliki pengalaman khusus dan nyata dengan Tuhan, haruslah mempertaruhkan segenap hidupnya untuk itu. Di balik semua kesibukan, fokus kita adalah Tuhan, yaitu bagaimana mengalami Tuhan setiap hari. Segenap hidup ini juga termasuk di dalamnya untuk hidup dalam kesucian (2Kor. 6:17-18). -Solagracia-

Banyak hal dalam hidup ini yang harus diselesaikan dengan upaya, tenaga dan kerja keras kita sendiri, inilah yang disebut dengan tanggungjawab.

Surat Gembala: DENGAN UPAYA DAN KERJA KERAS

Banyak orang Kristen yang berpikir salah, mereka berusaha menyelesaikan semua masalah dengan “karunia”. Mereka lebih suka hanya menantikan mukjizat Tuhan dinyatakan. Ini terjadi oleh karena mereka merasa sebagai anak Tuhan yang memiliki jaminan “luar biasa” dari Tuhan. Jaminan itu termasuk menggunakan kuasa-Nya yang ajaib. Mereka menganggap bahwa hal itu yang diperkenankan oleh Allah. Sepanjang umur hidup mereka harus mengalami hal-hal yang ajaib dan spektakuler tersebut. Pada hal banyak hal dalam hidup ini yang harus diselesaikan dengan upaya, tenaga dan kerja keras kita sendiri, inilah yang disebut dengan tanggung jawab. Adapun hal-hal yang tidak mungkin bisa dilakukan tanpa campur tangan Tuhan, Tuhan pasti menopang. Dalam hal ini dibutuhkan karunia. Tuhan akan memberikan karunia pada waktu tepat sesuai dengan kebutuhan demi kepentingan-Nya dalam kebijaksanaan-Nya.

Sering kita dengar pendeta berdoa agar Tuhan memberkati umat-Nya dengan berkat-berkat-Nya, tetapi mereka tidak mengajak dengan tegas umat untuk bekerja keras, giat dan jujur. Mestinya paling tidak diisyaratkan demikian. Tidak sedikit pendeta yang mengisyaratkan bahwa orang Kristen tidak perlu kerja giat, tanpa kerja giat berkat datang dengan sendirinya lebih banyak. Hal ini akan merusak generasi muda untuk memaksimalkan potensi pada masa mudanya di tengah persaingan yang makin ketat. Dalam hal ini dikesankan bahwa apa pun dan bagaimana pun cara kerja kita, Tuhan pasti berkati (berkat jasmani). Pemahaman ini salah.

Dalam Matius 5:45 Tuhan menunjukkan bahwa sedikit atau banyak berkat jasmani seseorang tergantung “ketekunan” seseorang mengumpulkannya. Oleh sebab itu salahlah kalau gereja menjanjikan bahwa dengan ke gereja rejeki lebih lancar, berkat jasmani lebih banyak. Berkat jasmani banyak atau sedikit dipengaruhi oleh ketekunan seseorang bekerja. Juga tergantung kepercayaan Tuhan kepada masing masing berdasarkan kebutuhan. Berdasarkan kebutuhan artinya, Tuhan mengerti porsi sesuai yang kita butuhkan. Akhirnya, berkat jasmani yang diterima anak Tuhan tergantung kapasitas seseorang menerima berkat tersebut. Tuhan tahu porsi yang mampu kita tanggung. Kalau berkat terlalu banyak dan hal itu mengganggu pertumbuhan iman kita maka Tuhan tidak akan memberinya. Tuhan tahu ukuran kita. Seperti yang disinggung di atas bahwa manusia harus bertanggung jawab. Ini berarti bahwa akibat perbuatan individu harus ditanggung individu tersebut. Tuhan tidak akan membiarkan suatu kesalahan tidak ada akibatnya, sebab ini berarti melanggar prinsip keadilan Tuhan. -Solagracia-

Surat Gembala: KEHENDAK ALLAH YANG TERUTAMA

Ketika Petrus dihardik oleh Tuhan Yesus karena ia tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah, Petrus diidentifikasi sebagai iblis (Mat. 16:23). Cara berpikir manusia adalah cara berpikir iblis, artinya cara berpikir hasil asuhan dunia yang ada dalam kekuasaan iblis. Banyak orang menganggap cara hidup demikian itu sebagai suatu kewajaran. Betapa sulitnya menyadarkan orang bahwa mereka sebenarnya sudah tersesat. Kehidupan wajar bagi manusia pada umumnya adalah cara berpikir yang tidak sesuai dengan Tuhan. Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa itu batu sandungan bagi Tuhan Yesus. Batu sandungan dalam teks aslinya adalah skandalon (σκάνδαλον) yang juga memiliki pengertian sesuatu yang menjatuhkan atau menghambat. Sebagai Penebus, Tuhan Yesus hendak mengambil alih segenap hidup orang percaya untuk diubah sesuai dengan kehendak-Nya. Sehingga hidup orang percaya menjadi kehidupan yang memperagakan pribadi-Nya. Tetapi cara berpikir yang salah yang menjadi penghambat perubahan itu. Tuhan hendak mengkloning setiap orang percaya menjadi “foto copy” atau duplikat-Nya. Kata foto kopi atau duplikat terdapat dalam kejadian 1:26-27 sama artinya dengan menurut rupa (tselem; םֶלֶצ) dan gambar Allah (demuth; תוּמְדּ). Karya Allah yang dirusak iblis di Eden akan diperbaiki atau dipulihkan kembali sekarang di dalam kehidupan orang percaya. Bagi mereka yang bersedia diperbaiki ulang atau dipulihkan harus bersedia diubah setting berpikirnya. Perubahan cara berpikir ini harus menjadi proyek yang sepanjang umur hidup sampai menghadap Bapa. Untuk masuk proyek ini seseorang harus menyediakan diri dengan segenap hidup dan harus bersedia meninggalkan segala sesuatu, di dalamnya yang terutama adalah cara berpikir yang salah (Luk. 14:33). Inilah yang dimaksud mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Kalau seseorang bersedia menerima pembentukan oleh Tuhan, ia dapat menjadi manusia Allah (man of God). Mereka adalah orang-orang yang mengenakan kodrat Ilahi (2 Ptr. 1:3-4). Tentu saja semua tindakan dan perbuatannya tidak bercacat di hadapan Allah. Mereka adalah orang-orang yang dapat dijadikan saudara oleh Tuhan Yesus Kristus (Rm. 8:28-29). Mereka juga orang-orang yang bisa diajak sependeritaan dengan Tuhan (Rm. 8:17), segenap hidupnya dipersembahkan bagi kepentingan Tuhan. Sehingga mereka akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kehidupan orang percaya harus menjadi cermin yang dapat merefleksikan atau menunjukkan pribadi Tuhan Yesus sendiri, dengan demikian seseorang barulah menjadi saksi Kristus. Saksi Kristus bukan melalui perkataan atau perdebatan adu argumentasi, tetapi kehidupan yang agung yang memancarkan pribadi Allah sendiri. -Solagracia-

Karya Allah yang dirusak iblis di Eden akan diperbaiki atau dipulihkan kembali sekarang di dalam kehidupan orang percaya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29.070 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: