Arsip Kategori: Renungan
Surat Gembala: Berlindung Demi Kepentingannya
Kalau motivasi mengandalkan Tuhan keliru, maka sebagai akibatnya seseorang tidak akan dapat menempatkan diri secara benar dihadapan-Nya sebagai umat, dan tidak menempatkan Allah secara benar. Seharusnya mekanisme yang harus dipahami dalam relasi dengan Allah, bahwa Allah junjungan yang baginya segala hormat, penyembahan dan pengabdian seluruh kehidupan ini. Dalam hal ini tidak ada unsur memanfaatkan Allah sama sekali atau menggunakan Dia untuk suatu kepentingan, kecuali kepentingan Allah sendiri. Kalau seseorang berurusan dengan Tuhan karena kepentingannya sendiri berarti ia menjadikan Tuhan bukan sebagai majikan secara benar. Bibirnya memanggil pribadi yang terhormat dengan sebutan “Tuhan”, padahala sikap hati dan perlakuannya tidak sesuai dengan panggilan Tuhan di bibirnya. Tuhan berarti Tuan atau Majikan, yang bagi-Nya umat mempersembahkan segenap kehidupan tanpa batas. Bodoh sekali kalau ada usaha untuk menyuap Tuhan dengan pujian dan sanjungan serta penyembahan, padahal dalam kenyataan hidup “diperkuda”. Sebagai perbandingan, perhatian bagaimana hulubalang-hulubalang seorang raja memperlakukan raja atau kaisarnya. Mereka tidak berhutang budi kepada raja atau kaisarnya tetapi pengakuan mereka bahwa raja atau kaisar patut menerima yang terbaik dari segenap hidup mereka, maka mereka rela mengabdi tanpa syarat. Sepenuh hati diabadikan bagi raja atau kaisar tanpa batas. Kalau untuk manusia (raja atau kaisar di bumi), orang bisa berkorban demikian, apalagi buat Tuhan.
Dalam Perjanjian Lama terdapat Firman yang menyatakan bahwa orang yang tidak mengandalkan Tuhan akan terkutuk, tetapi yang mengandalkan Dia diberkati (Yer. 17:5-7). Terkutuk disini tentu dihukum Tuhan dengan disiplin secara jasmani (kemiskinan, dikalahkan musuh dan lain sebagainya). Teks ini harus dipahami secara tepat dan cerdas. Pada waktu itu Yehuda di ambang khancuran karena tidak mau hidup sesuai dengan torat Allah. Seharusnya mereka bertobat dan bergantung kepada Mesir. Teks ini tidak bisa dikenakan bagi orang percaya. Konteks jaman Yehuda sangat berbeda dengan jaman kita hari ini. Orang Kristen yang dewasa sudah tentu tidak pergi ke dukun. Mereka juga mau taat dan hidup saleh, tetapi bukan berarti kemudian kehidupan ekonominya baik. Sebaliknya mereka menyerahkan segenap hidup bagi kepentingan Tuhan dan tidak mencari kenyamanan. Inilah yang disebut kehilangan nyawa. Mereka bergantung kepada Tuhan dengan motivasi mengabdi kepada-Nya.
Seseorang berurusan dengan Tuhan karena kepentingannya sendiri berarti ia menjadikan Tuhan bukan sebagai majikan secara benar.
Surat Gembala: Phrisco
Kalau mempercayai bahwa Allah Maha Hadir, maka seseorang akan memiliki sikap hati yang takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan ini di bangun dari hati yang menghormati Tuhan. Salah satu ciri dari orang yang belum mengenal Tuhan dengan benar adalah sikapnya yang kurang hormat kepada sebagaimana mestinya terhadap Bapa. Sesungguhnya betapa terhormatnya Allah Bapa itu. Kehormatan-Nya tidak bisa diukur dengan apapun. Inilah yang membuat penduduk sorga tertunduk menyembah dalam kegentaran yang dahsyat. Banyak orang yang menghormati Allah hanya di gereja dan beberapa menit. Setelah itu ia tidak merasa perlu dalam kesadaran untuk menghormati Dia. Dalam surat Yakobus dikatakan bahwa roh jahat gemetar (Yak. 2:19). Teks aslinya kata gemetar di sini adalah phrisco, yang artinya juga shudder (perasaan ngeri) yang sama dengan kata fear atau ketakutan. Hal ini menunjukkan bahwa roh-roh jahat yang pernah mengalami kehadiran Allah di surga mengerti kedahsyatan-Nya. Mereka takut dan gemetar terhadap kedahsyatan Allah Bapa.
Seseorang yang menghayati Allah dalah Roh yang memenuhi segala tempat dan ruangan, akan berusaha untuk bersikap sehormat-hormatnya terhadap Dia. Dengan cara demikian seseorang sungguh-sungguh dapat menghormati Tuhan secara benar. Menghormati Tuhan bukan hanya dalam liturgi pada waktu digereja dengan nyanyian atau doxologi (kata-kata yang memuat pujian bagi Tuhan), tetapi sikap hormat kita harus permanen di dalam jiwa terbawa kemana pun kita melangkah. Dengan cara demikian seseorang sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan dengan tidak bercela. Inilah yang dikatakan Tuhan kepada Abraham, sebelum Allah membuat perjanjian dengan Abraham (Kej. 17:1). Kita tidak tahu bagaimana kehidupan Abraham yang tidak bercela itu, tetapi satu bukti dari kehidupan Abraham yang tidak bercela adalah ia melakukan segala sesuatu yang diingini oleh Tuhan. Sikap hormat ini tidak bisa dibuat-buat. Hal ini tidak bisa hanya ditunjukkan dengan kalimat doa atau sikap batin yang tersembunyi, yang pasti akan terekspresi dalam perbuatan. Mudah untuk memberti kesan kepada orang bahwa dirinya menghormati Tuhan, tetapi tidak mudah untuk memiliki sikap hormat yang sesungguhnya. Tentu saja hanya Tuhan yang dapat mengetahuinya. Banyak orang merasa sudah menghormati Tuhan, tetapi kenyataanya tidak. Hormat akan Tuhan akan nampak dari kekudusan hidup orang tersebut. Orang-orang seperti ini akan diberi karunia oleh Tuhan untuk memahami rahasia-rahasia Tuhan atau berhikmat tinggi. Tuhan tidak akan mempercayakan hikmat-Nya kepada orang yang tidak menghormati Dia.
Menghormati Tuhan bukan hanya pada waktu di gereja, tetapi sikap hormat permanen di dalam jiwa terbawa kemana pun melangkah.
Hanya Untuk Kesukaan Hati Tuhan
Hidup ini benar-benar menjadi indah, setiap detik dan menit menjadi luar biasa, ketika menghayati kehadiran Tuhan di sekitar kita dan menghayati bahwa kita sedang hidup berkenan kepada-Nya. Kita dalam kesadaran penuh bahwa tidak ada kesalahan yang kita lakukan. Untuk itu kita harus terus menerus dalam kewaspadaan bahwa semua yang kita reungkan dan pikirkan, semua yang kita ucapkan dan lakukan tidak mendukakan hati Tuhan. Semakin hari semakin merasa membutuhkan Tuhan dan Tuhan menjadi satu-satunya kebutuhan lebih dari segala hal. Usaha untuk berkenan atau menemukan tempat di hadapan tuhan guna menyukakan hati-Nya adalah kehidupan yang berkualitas paling tinggi dan mulia. Sementara kita melakukan berbagai kegiatan, kita menghayati kehadiran Tuhan dan kebersamaan dengan Dia untuk melayani perasaan-Nya. memuliakan Tuhan artinya segala sesuatu yang kita lakukan menyukakan hati-Nya (1 Kor. 10:31). Sebenarnya inilah maksud tujuan Allah menciptakan mahluk manusia. Tidak ada mahluk yang bisa melakukan ini, kecuali manusia, betapa agungnya menjadi manusia itu. Memasuki kehidupan dengan cara ini kita sudah mulai bisa merasakan bahwa dunia ini bukan rumah kita. Dosa akan semakin dibenci, apabila berbuat salah maka jiwa akan sangat terganggu sehingga berusaha menjauhi setiap hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kecintaan kepada Tuhan akan semakin membara. Keindahan dunia ini semakin pudar dimata kita. Kesediaan berkorban bagi pekerjaan Tuhan semakin besar, sampai kita tidak memberi batas lagi. Akhirnya kematian akan menjadi saat yang ditunggu dan menggairahkan, sebab kematian merupakan jembatan menuju kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. inilah kekasih-kekasih Tuhan yang dinantikan Tuhan di kerajaan-Nya.
Orang yang tidak bertumbuh dalam Tuhan secara benar tidak akan bisa mengerti hal ini, sebab ia mengukur segala sesuatu dengan pengalaman dirinya yang miskin dan dangkal. kalau seseorang hidup sesuka hatinya sendiri, tidak serius mempersoalkan langkah hidupnya setiap saat apakah menyukakan hati Tuhan atau mendukakannya, maka ia tidak akan menghayati kehadiran Tuhan. Semakin Tuhan semakin tidak nyata dalam hidupnya. Ia semakin tidak merasa membutuhkan Tuhan, bahkan ketika di ujung maut ia tidak peduli lagi keselamatan jiwanya. Hatinya telah terikat percintaan dunia. Ia tidak memiliki beban untuk mengasihi sesama dengan benar. Ia tidak pernah merasakan damai sejahtera Allah. Akhirnya terhilang binasa.
Memuliakan Tuhan artinya segala sesuatu yang dilakukan menyukakan hati-Nya.
Semakin Rawan Bagi Iman Kristen
Suasana dunia ini digambarkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 17:26-30 manusia makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, dimana Anak manusia menyatakan diri-Nya. Apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus ini gambaran kehidupan manusia hari ini. Hari ini pada umumnya manusia terjebak dalam kegiatan ritunitas, seakan-akan jalannya tiada ujung. Padahal ujung jalan itu bisa ditemui setiap saat. Hendaknya seseorang tidak hanya melihat akhir jaman sebagai akhir hidupnya, tetapi sakit penyakit, kecelakaan dan kematian bisa menjemput setiap saat. Itulah akhir jamannya. Banyak orang terlena dengan rutinitas hidup tanpa menyadari bahwa hari Tuhan (hari kematiannya) bisa datang setiap saat seperti jerat. Sekarang ini hidup diujung akhir jaman. Keadaan bisa berubah setiap saat. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus sebagai hari Anak Manusia. Seperti yang dinubuatkan oleh Daniel bahwa sejarah dunia akan diakhiri ketika akhir jaman digambarkan seperti kaki yang terbuat dari tanah dan besi.
Perjalanan sejarah dunia digambarkan dengan penglihatan sebuah patung yang ditunjukan Tuhan kepada Nebukadnesar pada abad 6 SM. Patung tersebut kepalanya dari emas, lengan dan dadanya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, pahanya dari besi dan sebagian dari tanah liat. Kepala emas melambangkan pemerintahan kerajaan Babel (606 SM), dada dan lengan dari perak melambangkan pemerintahan Media Persia (539 SM), perut dan pinggang dari tembaga melambangkan kerjaan Yunani (331 SM), paha dan besi melambangkan kerajaan Romawi Barat dan Timur (64 SM) akhirnya kaki dan jari-jari sebagian dari besi dan sebagian dari tanah liat melambangkan negara-negara di dunia hari ini, ada yang kuat dan ada yang lemah. Sekarang inilah jaman kaki itu. Kalau Alkitab berbicara mengenai akhir jaman, yang dipersoalkan sejatinya bukan hanya masalah momentum kedatangan Tuhan (parousia), tetapi Alkitab hendak mengingatkan kepada kita bahwa suasana dunia akhir jaman sangat rawan terhadap iman Kristen. Dunia dibuat terlena oleh berbagai kegiatan rutin sehingga manusia tidak mempersiapkan diri memasuki rumah abadinya. Banyak manusia dituai oleh kuasa kegelapan. Oleh sebab itu kita harus siuman.
Alkitab menunjukkan bahwa suasana dunia akhir jaman membuat iman Kristen menjadi semakin sangat rawan.
Surat Gembala: Keagungan Mahluk Ciptaan
Tuhan tidak menghendaki seseorang berkeadaan bodoh, tetapi bukan berarti Dia membuat seseorang dengan sendirinya atau secara otomatis menjadi cerdas. Tuhan tidak menghendaki kemalasan tetapi bukan berarti Tuhan membuat seseorang menjadi rajin secara otomatis. Tuhan tidak menghendaki seseorang mengalami sakit penyakit, tetapi bukan berarti seseorang bisa menjadi sehat secara otomatis. Dalam hal ini Tuhan menghendaki suatu tanggung jawab atas seluruh aspek kehidupan. Bumi ini sendiri tidak bisa dinikmati tanpa penggarapan tangan manusia. Bumi diciptakan Tuhan dalam keadaan yang harus diolah atau bisa dikatakan mentah. Itulah sebabnya Tuhan memerintahkan manusia untuk mengelola bumi. Hal ini terjadi bukan karena Tuhan tidak sanggup mengelola diri sendiri bumi yang diciptakan-Nya. Tetapi Allah memberi tanggung jawab kepada manusia. Tanggung jawab yang diberikan Allah kepada manusia ini menunjukkan keagungan manusia yang diciptakan menurut rupa dan gambar-Nya.
Mekanisme ini juga berlaku pada proses keselamatan. Tuhan menyediakan fasilitas keselamatan dengan cuma-cuma dan manusia harus memanfaatkannya. Fasilitas itu adalah Penebusan oleh korban-Nya, Roh Kudus, Firman atau Injil dan penggarapan Allah melalui segala peristiwa kehidupan. Hal keselamatan ini paralel dengan perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan. Allah memberikan fasilitas pembebasan yang tidak akan pernah bisa dimiliki bangsa Israel karena ketidakberdayaannya, tetapi apakah bangsa itu sampai ke tanah Kanaan atau tidak, tergantung dari ketekunan dan penurutannya terhadap Allah. Hal ini juga paralel dengan peristiwa keluarga Lot yang keluar dari Sodom dan Gomora. Proyek keselamatan disediakan oleh Allah bagi keluarga Lot tetapi bukan berarti mereka otomatis bisa selamat semua. Keselamatan tetap bersyarat. Syaratnya adalah tidak boleh menoleh kebelakang. Istri Lot binasa sebab ia tidak menuruti perintah Tuhan. Fragmen ini dikutip oleh Tuhan Yesus, agar orang percaya tidak melakukan kesalahan seperti istri Lot (Luk. 17:32). Menoleh kebelakang maksdunya masih mengasihi dunia ini dan tidak bersungguh-sungguh bersedia diselamatkan. Orang-orang yang tidak memiliki kesediaan ini tidak akan dapat diubah oleh Tuhan. Ini berarti proses keselamatan gagal, sebab keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya.
Tanggung jawab yang diberikan Allah kepada manusia menunjukkan keagungan manusia yang diciptakan menurut rupa dan gambar-Nya.
Surat Gembala: Muara Kehidupan
Betapa bodohnya banyak manusia hari ini yang kelihatannya sibuk melakukan berbagai aktivitas, padahal mereka hanya sedang menunggu kematian yang menjemput. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang menuju suatu muara yaitu lautan kekekalan. Seperti benda yang mengapung di suatu sungai yang sedang terbawa arus menuju laut. Arus tersebut merupakan realitas yang tidak bisa dihindari. Orang sibuk makan dan minum, kawin dan dikawinkan tanpa sadar bahwa ia sedang diseret kelautan luas kekekalan. Menghadapi kekekalan yang dahsyat itu hanya ada satu perlindungan, yaitu Tuhan semesta alam, Allah Israel, Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Bapa menyediakan fasilitas keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita berurusan dengan Tuhan untuk mempersoalkan bekal apakah yang harus kita bawa sebelum sampai ke muara itu. Tentu saja bukan emas dan perak, kekayaan dan kedudukan, pangkat dan kehormatan. Bekal itu adalah kehidupan yang diperkenan-Nya. Hal ini menyangkut sikap hati, setiap perkataan yang kita ucapkan dan semua perbuatan.
Selama ini banyak orang merasa sudah hidup wajar sehingga merasa nyaman dengan keadaannya. Padahal kalau keadaan hidupnya dinilai dengan kacamata perkanaan Tuhan, ia belum berkanan dihadapan Tuhan. Hal ini terjadi sebab mereka tidak berusaha untuk mengerti apa penilaian Tuhan terhadap dirinya. Yang lebih dipersoalkan adalah bagaimana dirinya terpandang dan terhormat di mata manusia, bagiamana memiliki apa yang orang lain miliki dan bagaimana memuaskan segala keinginannya. Dan mereka merasa berhak untuk hidup dengan cara itu. Inilah orang-orang sesat atau berjalan delam kegelapan. Kalau mereka orang Kristen, mereka merasa sudah cukup baik sebagai orang Kristen dengan segala kegiatan rohani yang telah dilakukan. Padahal, kegiatan rohani belumlah menentukan ukuran perkenanan di hadapan Tuhan. Berkenan di hadapan Tuhan adalah suatu pergumulan yang sangat berat, sebab selain abstrak juga sangat bertentangan dengan hasrat manusiawi kita. Untuk mencapai level ini seseorang tidak bisa menjadikan usahanya sekedar sambilan. Ia harus mempertaruhkan segenap hidupnya tanpa batas. Hidupnya akan disita oleh pergumulan untuk menjadi berkenan di hadapan-Nya. Seluruh kegiatan seharusnya diarahkan untuk proyek berharga ini yang nilainya tak terhingga. Irama hidup belajar hidup perkenan kepada Allah menjadi irama hidup yang permanen sampai kekekalan. Inilah yang disaksikan oleh Paulus bahwa ia berusaha, baik diam di dalam tubuh ini, maupun diam diluarnya, supaya berkenan kepada-Nya (Kor. 5:9). Hari-hari hidup ini harus sungguh-sungguh diisi dengan usaha berdamai dengan Tuhan.
Orang sibuk makan dan minum, kawin dan dikawinkan tanpa sadar bahwa ia sedang diseret kelautan luas kekekalan.
Karena Dia Adalah Segalanya
Kalau kita mengandalkan Tuhan sebagaimana Dia adalah kehidupan kita. Tanpa Dia kita tidak memiliki kehidupan. Tanpa Dia kehidupan ini bukanlah kehidupan. Hal ini digambarkan seperti rusa yang membutuhkan sungai yang berair. Air bagi rusa adalah kehidupannya. Jadi kita harus bisa mengatakan bahwa tanpa Dia kita tidak dapat hidup. Betapa cemburunya hati Tuhan, tatkala umat berurusan dengan Tuhan disebabkan karena umat tidak bisa hidup atau tidak merasa lengkap tanpa fasilitas materi dan hiburan dunia ini. Betapa luka hati Tuhan kalau umat merasa bisa hidup tanpa Dia. Sebab dengan demikian berarti mereka hanyamau memanfaatkan Tuhan saja. Banyak orang tidak mengerti apa artinya berlindung kepada Tuhan itu. Mereka adalah orang-orang yang melakukan perjinahan ilahi. Inilah perselingkuhan terhadap Allahyang hukumannya berat. Tetapi mereka merasa sedang berlindung kepada Tuhan padahal mereka menolak perlindungan Tuhan. Tuhan tidak diperlakukan sebagai kebutuhan utama kehidupan ini. Seuatu hari nanti akan terbukti ternyata mereka tidak menjadikan Tuhan sebagai perlindungan. Jadi, kalau seseorang bermaksud mengandalkan Tuhan karena memang tidak bisa hidup tanpa Dia sendiri sebagai berkat utama dan satu-satunya; bukan karena berkat dan kuasa-Nya.
Sebenarnya Tuhan tidak menuntut apa-apa dari kita kecuali hati yang diserahkan kepada-Nya. Orang yang menyerahkan hatinya kepada Tuhan berarti mengingini Tuhan lebih dari mengingini segala sesuatu. Tuhan menjadi tujuan kehidupan, ini artinya segala sesuatu yang dilakukan untuk Tuhan dan kerajaan-Nya. Inilah maksud tujuan manusia diciptakan oleh Tuhan. Kalau Tuhan menjadi fokus kehidupan tentu juga menjadikan Tuhan sebagai obyek pujian, pemujaan, penyembahan dan ibadah kita. Bukan keindahan dunia ini yang kita ingini tetapi diri Tuhan Yesus sendiri, Pengalaman luar biasa ini dialami oleh penulis Kitab Mazmur yang menyatakan perasaan dengan ungkapan sebagai berikut: Yang kuingini Engkau saja… dan sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya (mzm. 73:25-26). Kata “bagianku” dalam teks aslinya “cheleq” (khay’lek) yang bukan hanya berarti portion (porsi atau bagian) tetapi juga inheritance (warisan). Dari pernyataan ini pemazmur hendak mengatakan bahwa dirinya rela tidak memiliki apapun asal tetap memiliki Tuhan. My mind and my body may grow weak, but God is my strength; he is all ever need. Orang seperti ini akan mengatakan bahwa ia mengandalkan Tuhan sebab Tuhan adalah pemuas dahaga jiwanya, bukan hal lain.
-solagracia-
Kalau seseorang bermaksud mengandalkan Tuhan, memang tidak bisa hidup tanpa Dia sendiri, bukan tanpa berkat dan kuasa-Nya.
Mengubah Cita Rasa Jiwa
Masalah penting yang harus kita tahu adalah bagaimana menempatkan segala hal pada tempatnya. Kuncinya terletak pada beberapa harga atau nilai yang diberikan kepada Tuhan. Selama ini banyak orang seakan-akan sudah menghargai Tuhan atau memberi nilai yang pantas, padahal belum atau tidak sama sekali. Kalau hanya beragama dan melakukan kegaiatan Agama belum tentu sudah menghargai Tuhan secara pantas. Mengapa banyak orang sulit menurunkan harga terhadap dunia ini agar dapat menghargai Tuhan secara pantas? Sebab hal memberi nilai terhadap segala hal didunia ini bukan hanya menyangkut pengertian (walau ini sangat penting dan menentukan), tetapi juga menyangkut “taste” atau cita rasa jiwa. Sama seperti kalau seseorang sudah menyukai satu jenis makanan sejak kecil, sulitlah merubah cita rasa lidahnya. Mengubah kebiasaan menukai satu jenis makanan membutuhkan waktu dan perjuangan yang berat. Inilah yang menjadi penyebab mengapa orang sulit menurunkan berat badannya. Seorang yang terkena penyakit diabetes miletus, harus mengubah pola makannya. Kalau tertumbuk pada jenis makanan yang berkadar manis tinggi, harus memandang bahwa itu racun bagi dirinya. Ini sama dengan seorang yang kadar kolesterolnya tinggi, setiap kali bertemu dengan makanan yang berkadar kolesterol tinggi harus memandang sebagai makanan yang berbahaya bagi dirinya. Pola pikirnya yang diubah dulu, maka citarasa lidahnya juga akan diubah.
Banyak orang yang tidak mau merubah pola pikirnya karena memanjakan diri. Ia berkata dirinya tidak bisa makan sayuran. Yang lain menyatakan bahwa ia tidak bisa minum kalau tidak manis. Mereka tidak peduli apakah itu membahayakan dirinya atau tidak. Akhirnya hal cita rasa lidah ini menjadi ikatan yang tidak mudah dilepaskan. Mengubah cita rasa lidah saja tidak mudah, atau cita rasa jiwa, tentu jauh lebih sulit, Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup adalah cita rasa jiwa yang harus digantikan dengan cita rasa jiwa yang benar yaitu melakukan kehendak Bapa atau memuaskan hati-Nya (1 Yoh. 2:15-17). Ini yang dimaksud dengan kasih akan Bapa. Keinginan daging selain soal makan minum juga soal seks. Keinginan mata menyangkut hasrat memiliki apa yang orang lain miliki. Sedangkan keangkuhan hidup menunjuk kepada kenikmatan dipuji dan di hormati orang lain. Kita harus memandang keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup sebagai sesuatu yang membahayakan. Lebih tegasnya dipandang sebagai racun. Kita tidak bisa mengalami oerubahan cita rasa jiwa ini secara otomatis. Perubahan ini bisa terjadi hanya melalui usaha yang benar-benar serius dengan segala pengorbanan.
Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup harus digantikan dengan cita rasa jiwa melakukan kehendak Bapa
Suara Kebenaran 31: Berasal dari Bapa
Walaupun manusia adalah makhluk yang sangat berharga di mata Allah Bapa, itu tidak berarti secara otomatis manusia bisa masuk ke rumah Bapa menjadi anggota keluarga-Nya.
Pengalaman Pribadi Sebagai Landasannya
Pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus adalah landasan hidup Kristen (Yoh. 17:3). Pengenalan mengenai pribadi Tuhan Yesus dapat diperoleh melalui belajar Firman Tuhan secara benar. Dalam hal ini sumbernya adalah Injil; kitab Perjanjian Baru. Memandang pribadi Tuhan Yesus yang tertulis di dalam Alkitab harus dari sudut pandang yang benar. Jangan memandang Tuhan Yesus hanya sekedar sebagai juru selamat duniawi, sehingga mereka tidak mengenal maksud tujuan kedatangan Tuhan yesus ke dunia ini. Ini adalah konsep yang salah, pengaruh theologia orang-orang Farisi dan tokoh-tokoh agama Yahudi yang emanantikan mesias dunia (mesias ekonomi dan politik). Ini adalah pikiran manusia dan apa yang dipikirkan manusia bukan berasal dari Allah (Mat. 16:21-23).
Adapun pengalaman pribadi dengan Tuhan yesus menunjuk pengalaman riil dengan Tuhan dimana seseorang benar-benar mengalami kehadiran Tuhan Yesus dalam kehidupan secara nyata, konkrit dan terbukti. Pengalaman-pengalaman tersebut membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang hidup yang menyertai orang percaya. Penyertaan Tuhan bukan berarti membuat seseorang hidup tanpa masalah. Bukan berarti akhir suatu pergumulan atau persoalan hidup dipandang positif dimata manusia. Tidak selalu masalah berakhir spektakuler seperti Petrus dan Paulus yang dikeluarkan dari penjara secara ajaib, tetapi juga ketika berakhir dengan tumpukan batu seperti Stefanus yang dilempari batu. Untuk bisa menangkap kehadiran atau penyertaan Tuhan seseorang harus mengenal Tuha dengan benar. Bayangkan kalau pengertian seseorang mengenai penyertaan dan kehadiran Tuhan selalu berkahir spektakuler seperti yang dialami Petrus dan Paulus, bagaimana seandainya ternyata berakhir seperti yang dialami Stefanus. Dalam kisah Stefanus yang dirajam batu, tidak ada sedikitpun keluhan Stefanus. Hal ini menunjukkan bahwa dirinya ada dalam penyertaan Allah Bapa (Kis. 7:48-50). Stefanus tidak meragukan kesetiaan Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Ia menyongsong kematiannya dengan gagah perkasa. Ia bisa bertindak demikian karena ia memiliki pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan. Dalam hal ini pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus membangun kepercayaan kepada Tuhan Yesus tanpa syarat. Selanjutnya pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan akan mengorbankan kecintaan kepada Tuhan Yesus tanpa batas. Ingat cinta sejati adalah cinta tanpa batas. Dalam hal ini kita menemukan sosok pengikut Kristus yang gagah perkasa seperti Tuhannya.
-Solagracia-
Penyertaan Tuhan bukan berarti membuat seseorang hidup tanpa masalah.

