Category Archives: Renungan

Surat Gembala: PELAJARAN MELALUI SETIAP PERISTIWA

Dalam kenyataannya, untuk menjadi seorang yang mengerti atau memiliki kebenaran, baik kebenaran Firman Tuhan atau suara Tuhan dalam arti logos dan maupun rhema tidak bisa dihimpun secara borongan dalam waktu yang singkat. Memiliki Firman Tuhan tersebut melalui proses akumulasi yang bertahap. Setiap hari seseorang harus mengusahakan untuk memperoleh logos melalui pembelajaran terhadap Firman Tuhan. Kita sendiri yang harus mengadakannya. Gereja mula-mula adalah gereja yang tekun dalam pengajaran rasul-rasul setiap hari (Kis. 2:42-46). Ada pun Firman secara rhema akan disediakan Tuhan sebab kita tidak dapat menciptakannya. Setiap hari Tuhan pasti menyediakan berkat rhema melalui keadaan dan pergumulan hidup. Setiap peristiwa mengandung atau memuat suara Tuhan. Hal ini bisa dipahami kalau seseorang memiliki pengetahuan Firman Tuhan dalam arti logos yang memadai. Kalau pengetahuannya mengenai logos sedikit maka sering gagal menangkap pesan Tuhan di balik semua peristiwa kehidupan yang dialami. Firman Tuhan mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm. 8:28).Kata “segala“ dalam teks bahasa aslinya adalah pas (πᾶς) yang berarti juga “setiap”. Dalam hal ini menunjukkan bahwa setiap peristiwa kehidupan mengandung pelajaran yang mendatangkan kebaikan. Melihat hal ini, kita menyadari betapa berharganya hari ini, bahkan setiap menit yang kita lalui. Semakin seseorang memiliki pengetahuan yang memadai mengenai logos, maka semakin peka menangkap suara Tuhan melalui semua peristiwa kehidupan yang didengar, dilihat dan dialami. Kalau pengetahuannya mengenai logos miskin, maka seseorang tidak banyak memperoleh pelajaran rohani melalui setiap peristiwa kehidupan. Dalam hal ini Logos tidak bisa dipisahkan dengan rhema.

Seperti orang tua yang memberikan makanan untuk anak-anak guna pertumbuhan mereka, demikian Bapa memberikan rhema untuk orang percaya agar bertumbuh dan mengenakan kodrat Ilahi (Mat. 4:4). Makanan rohani yang diberikan oleh Bapa kepada anak-anak-Nya adalah hajaran (Ibr. 12:6-11).Dalam Ibrani 12:6 tertulis “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak”. Kata menghajar dalam teks aslinya adalah paideuo (παιδεύω). Kata paideuo ini bisa berarti mendisiplin. Sedangkan kata menyesah dari kata mastigoo(μαστιγόω). Kata ini juga bisa berarti mencambuk. Bagaimana proses ini bisa berlangsung? Tentu melalui pengalaman hidup riil. Dalam hal ini kita jumpai kenyataan orang-orang yang menyadari hidupnya bersekolah dengan Tuhan dan yang tidak menyadari. -Solagracia-

Setiap peristiwa kehidupan mengandung pelajaran yang mendatangkan kebaikan.

Surat Gembala: BIAYA YANG HARUS DIBAYAR

Dari Alkitab kita dapat memperoleh begitu banyak pengertian mengenai siapa Allah yang benar. Dari pengetahuan pengenalan akan Allah tersebut kita membangun hubungan dengan Allah, menghadirkan Dia dalam hidup ini. Hal ini sama dengan “menghidupkan Tuhan” dalam hidup kita. Apakah Tuhan terasa atau terbukti hidup atau mati dalam kehidupan seseorang juga tergantung dari masing-masing individu merespon anugerah Tuhan. Orang-orang yang tidak menghargai Tuhan secara pantas tidak akan mengalami Allah yang hidup di dalam kehidupannya. Dalam hal ini betapa pentingnya pemberitaan Firman yang benar untuk memperkenalkan Allah yang benar. Dari pengenalan akan Allah yang benar tersebut seseorang membangun pergaulan pribadinya dengan Tuhan.

Pemberita Firman harus dapat mengekstrak kebenaran dari Alkitab secara benar untuk diajarkan kepada jemaat. Pemberitaan Firman yang salah akan menutup pintu sama sekali seseorang bisa berinteraksi dengan Allah. Ini adalah awal penyesatan. Itulah sebabnya Tuhan sangat marah terhadap penyesat (Mat. 18:6). Orang percaya harus sungguh-sungguh berhati-hati terhadap siapa dan apa yang kita dengar. Pengalaman orang lain dengan Tuhan, baik yang tertulis dalam Alkitab maupun kesaksian orang yang kita dengar sekarang ini memang bisa menjadi pelajaran yang berharga, tetapi bagaimana pun setiap kita memiliki pengalaman yang tidak ada duanya. Pengalaman mereka hanya menjadi pembanding. Bahkan pengalaman tokoh-tokoh iman, tidak boleh diimport dalam hidup pribadi secara mentah. Pengalaman mereka belum tentu bisa diterapkan persis dalam hidup kita. Tentu yang pertama yang kita harus tangkap adalah esensi dari kisah tersebut mengenai Pribadi Allah, kedua kecenderungan-kecenderungan hati seseorang yang bisa memberi pelajaran bagi kita.

Biaya untuk menghidupkan Tuhan dalam kehidupan kita masing-masing sehingga kita menemukan pengalaman khusus tersebut, ada dua. Pertama, korban Tuhan Yesus Kristus yang memberi jalan kepada manusia untuk bisa bersekutu dengan Allah. Setiap orang bisa menghampiri Allah sebagai Bapa, bukan hanya para imam seperti pada jaman Perjanjian Lama (Ibr. 12:18-25). Allah Bapa mau menyambut kita sebagai anak-anak-Nya dan berbicara setiap hari melalui Roh-Nya. Kedua, segenap hidup kita tanpa batas. Orang yang mengalami Tuhan atau menghidupkan Tuhan di dalam hidupnya untuk memiliki pengalaman khusus dan nyata dengan Tuhan, haruslah mempertaruhkan segenap hidupnya untuk itu. Di balik semua kesibukan, fokus kita adalah Tuhan, yaitu bagaimana mengalami Tuhan setiap hari. Segenap hidup ini juga termasuk di dalamnya untuk hidup dalam kesucian (2Kor. 6:17-18). -Solagracia-

Banyak hal dalam hidup ini yang harus diselesaikan dengan upaya, tenaga dan kerja keras kita sendiri, inilah yang disebut dengan tanggungjawab.

Surat Gembala: DENGAN UPAYA DAN KERJA KERAS

Banyak orang Kristen yang berpikir salah, mereka berusaha menyelesaikan semua masalah dengan “karunia”. Mereka lebih suka hanya menantikan mukjizat Tuhan dinyatakan. Ini terjadi oleh karena mereka merasa sebagai anak Tuhan yang memiliki jaminan “luar biasa” dari Tuhan. Jaminan itu termasuk menggunakan kuasa-Nya yang ajaib. Mereka menganggap bahwa hal itu yang diperkenankan oleh Allah. Sepanjang umur hidup mereka harus mengalami hal-hal yang ajaib dan spektakuler tersebut. Pada hal banyak hal dalam hidup ini yang harus diselesaikan dengan upaya, tenaga dan kerja keras kita sendiri, inilah yang disebut dengan tanggung jawab. Adapun hal-hal yang tidak mungkin bisa dilakukan tanpa campur tangan Tuhan, Tuhan pasti menopang. Dalam hal ini dibutuhkan karunia. Tuhan akan memberikan karunia pada waktu tepat sesuai dengan kebutuhan demi kepentingan-Nya dalam kebijaksanaan-Nya.

Sering kita dengar pendeta berdoa agar Tuhan memberkati umat-Nya dengan berkat-berkat-Nya, tetapi mereka tidak mengajak dengan tegas umat untuk bekerja keras, giat dan jujur. Mestinya paling tidak diisyaratkan demikian. Tidak sedikit pendeta yang mengisyaratkan bahwa orang Kristen tidak perlu kerja giat, tanpa kerja giat berkat datang dengan sendirinya lebih banyak. Hal ini akan merusak generasi muda untuk memaksimalkan potensi pada masa mudanya di tengah persaingan yang makin ketat. Dalam hal ini dikesankan bahwa apa pun dan bagaimana pun cara kerja kita, Tuhan pasti berkati (berkat jasmani). Pemahaman ini salah.

Dalam Matius 5:45 Tuhan menunjukkan bahwa sedikit atau banyak berkat jasmani seseorang tergantung “ketekunan” seseorang mengumpulkannya. Oleh sebab itu salahlah kalau gereja menjanjikan bahwa dengan ke gereja rejeki lebih lancar, berkat jasmani lebih banyak. Berkat jasmani banyak atau sedikit dipengaruhi oleh ketekunan seseorang bekerja. Juga tergantung kepercayaan Tuhan kepada masing masing berdasarkan kebutuhan. Berdasarkan kebutuhan artinya, Tuhan mengerti porsi sesuai yang kita butuhkan. Akhirnya, berkat jasmani yang diterima anak Tuhan tergantung kapasitas seseorang menerima berkat tersebut. Tuhan tahu porsi yang mampu kita tanggung. Kalau berkat terlalu banyak dan hal itu mengganggu pertumbuhan iman kita maka Tuhan tidak akan memberinya. Tuhan tahu ukuran kita. Seperti yang disinggung di atas bahwa manusia harus bertanggung jawab. Ini berarti bahwa akibat perbuatan individu harus ditanggung individu tersebut. Tuhan tidak akan membiarkan suatu kesalahan tidak ada akibatnya, sebab ini berarti melanggar prinsip keadilan Tuhan. -Solagracia-

Surat Gembala: KEHENDAK ALLAH YANG TERUTAMA

Ketika Petrus dihardik oleh Tuhan Yesus karena ia tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah, Petrus diidentifikasi sebagai iblis (Mat. 16:23). Cara berpikir manusia adalah cara berpikir iblis, artinya cara berpikir hasil asuhan dunia yang ada dalam kekuasaan iblis. Banyak orang menganggap cara hidup demikian itu sebagai suatu kewajaran. Betapa sulitnya menyadarkan orang bahwa mereka sebenarnya sudah tersesat. Kehidupan wajar bagi manusia pada umumnya adalah cara berpikir yang tidak sesuai dengan Tuhan. Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa itu batu sandungan bagi Tuhan Yesus. Batu sandungan dalam teks aslinya adalah skandalon (σκάνδαλον) yang juga memiliki pengertian sesuatu yang menjatuhkan atau menghambat. Sebagai Penebus, Tuhan Yesus hendak mengambil alih segenap hidup orang percaya untuk diubah sesuai dengan kehendak-Nya. Sehingga hidup orang percaya menjadi kehidupan yang memperagakan pribadi-Nya. Tetapi cara berpikir yang salah yang menjadi penghambat perubahan itu. Tuhan hendak mengkloning setiap orang percaya menjadi “foto copy” atau duplikat-Nya. Kata foto kopi atau duplikat terdapat dalam kejadian 1:26-27 sama artinya dengan menurut rupa (tselem; םֶלֶצ) dan gambar Allah (demuth; תוּמְדּ). Karya Allah yang dirusak iblis di Eden akan diperbaiki atau dipulihkan kembali sekarang di dalam kehidupan orang percaya. Bagi mereka yang bersedia diperbaiki ulang atau dipulihkan harus bersedia diubah setting berpikirnya. Perubahan cara berpikir ini harus menjadi proyek yang sepanjang umur hidup sampai menghadap Bapa. Untuk masuk proyek ini seseorang harus menyediakan diri dengan segenap hidup dan harus bersedia meninggalkan segala sesuatu, di dalamnya yang terutama adalah cara berpikir yang salah (Luk. 14:33). Inilah yang dimaksud mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Kalau seseorang bersedia menerima pembentukan oleh Tuhan, ia dapat menjadi manusia Allah (man of God). Mereka adalah orang-orang yang mengenakan kodrat Ilahi (2 Ptr. 1:3-4). Tentu saja semua tindakan dan perbuatannya tidak bercacat di hadapan Allah. Mereka adalah orang-orang yang dapat dijadikan saudara oleh Tuhan Yesus Kristus (Rm. 8:28-29). Mereka juga orang-orang yang bisa diajak sependeritaan dengan Tuhan (Rm. 8:17), segenap hidupnya dipersembahkan bagi kepentingan Tuhan. Sehingga mereka akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kehidupan orang percaya harus menjadi cermin yang dapat merefleksikan atau menunjukkan pribadi Tuhan Yesus sendiri, dengan demikian seseorang barulah menjadi saksi Kristus. Saksi Kristus bukan melalui perkataan atau perdebatan adu argumentasi, tetapi kehidupan yang agung yang memancarkan pribadi Allah sendiri. -Solagracia-

Karya Allah yang dirusak iblis di Eden akan diperbaiki atau dipulihkan kembali sekarang di dalam kehidupan orang percaya.

Surat Gembala: MENGAMBIL POSISI

Betapa sulitnya keadaan Nuh dan keluarganya yang harus melawan arus dunia pada waktu itu. Semangat hidup mereka bertentangan dengan semangat jaman yang ada (spirit of the age) (Kej. 6). Tetapi mereka berani mengambil posisi (positioning) yang berbeda sekali dengan dunia dan manusia sekitarnya. Hidup mereka dirampas oleh panggilan untuk menempatkan diri sebagai umat yang terpilih yang diselamatkan oleh Tuhan. Setiap hari mereka bekerja keras membangun bahtera di tengah-tengah hujan ejekan dan cemoohan orang kepada mereka. Tetapi mereka tetap dalam integritas yang tinggi bagi Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang berani membayar harga keselamatannya. Ini adalah gambaran yang tidak pernah lekang oleh jaman. Orang yang diperkenan Tuhan membawa pesan bagi generasinya adalah orang-orang yang mau diasingkan oleh Tuhan. Diasingkan bukan berarti meninggalkan kesibukan dan keramaian, tetapi berani mengenakan cara hidup yang berbeda dengan dunia hidup yang berbeda itu? Dalam hal ini seseorang harus menerima pewahyuan kebenaran orisinil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Berkenaan dengan ini perlu diketahui bahwa setiap jaman Tuhan membuka rahasia Firmannya yang kontekstual dapat menjawab kebutuhan umat pilihan pada jamannya atau sesuai dengan keadaan jaman dimana mereka hidup. Tuhan menyingkapkan kebenaran pada jaman Martin Luther yang dapat menjawab kebutuhan umat pada jamannya. Tetapi apa yang disingkapkan Tuhan pada jaman itu, belum bisa menjawab kebutuhan orang pilihan 500-600 tahun kemudian, yaitu pada jaman kita hidup sekarang ini. Sekarang ini dibutuhkan pewahyuan yang lebih dahsyat dari jaman-jaman sebelumnya, sebab jaman ini kedahsyatan kejahatan juga sangat luar biasa.

Dunia kita hari ini tidak bisa diantisipasi dengan kekristenan yang biasa-biasa saja. Ternyata Injil bisa menyesuaikan jaman dan mampu mengantisipasi dengan kokoh, sakti dan cerdas. Kita percaya bahwa Injil lebih sakti dari Pancasila, masalahnya adalah bagaimana menggali Injil dengan benar dan berani mengenakan dengan integritas yang tinggi. Hanya orang-orang yang mengambil posisi (positioning) sebagai pengikut Kristus yang sejati yang akan mampu mengenakan Injil yang murni. Kepada mereka Tuhan akan semakin membuka pewahyuan Firman-Nya lebih dahsyat. Kekristenan seperti ini adalah kekristenan yang akan menyita seluruh kehidupan. Cepat atau lambat warna hidup yang istimewa ini akan tercium oleh setiap orang. Sebagai orang percaya yang mengambil posisi ini, harus setia mempertahankan integritas sebagai pengikut Kristus walaupun diejek atau dianggap rendah oleh lingkungan kita. Dalam hal ini dibutuhkan kesetiaan dan keteguhan hati yang luar biasa. -Solagracia-

Surat Gembala: EFEKTIF BAGI TUHAN

Perjuangan untuk mencapai perkenan Tuhan seharusnya menghiasi hidup orang percaya yang tidak dikurangi intensitasnya oleh perjuangan untuk hal lain. Mestinya inilah satu-satunya perjuangan yang harus dimiliki orang percaya. Karena perjuangan ini maka hidup digerakkan melakukan segala sesuatu. Ini bukan berarti perjuangan dalam memiliki kesehatan yang baik, studi, berkarir dan mencari nafkah menjadi kurang bergairah. Harus dimengerti bahwa perjuangan studi, karir dan mencari nafkah adalah sarana atau kendaraan untuk mengolah batin menjadi orang yang berkenan. Semua itu harus diperjuangkan sebagai bagian dari tanggungjawab dan panggilan orang percaya memperjuangkan kepentingan-Nya. Seseorang tidak akan efektif bagi Tuhan kalau tidak memiliki keahlian dalam bidang tertentu dan tidak berpotensi mendukung pekerjaan Tuhan. Jadi, segala kegiatan hidup harus dimotori oleh tujuan bagaimana menjadi pribadi yang berkenan kepada Bapa. Melalui segala perjuangan hidup maka mental seorang anak Tuhan juga bertumbuh sehingga kehidupan rohaninya juga bertumbuh. Tidak mungking orang yang tidak dewasa mental bisa dewasa rohani. Dalam hal ini yang penting adalah motivasi hidup yang dimiliki seseorang. Apakah bertendensi ke Tuhan dan Kerajaan-Nya atau ke arah yang lain. Untuk bertendensi ke Tuhan dan kerajaan-Nya seseorang harus mengalami pembaharuan pikiran terus menerus. Untuk hal ini harus disediakan waktu belajar kebenaran Firman Tuhan. Pergumulan hidup dengan segala persoalannya adalah perpustakaan kehidupan dimana seseorang dapat menemukan pembentukan kedewasaannya. Tetapi cara membacanya melalui kebenaran Firman yang dipelajari di dalam Alkitab melalui pelayanan gereja. Dalam hal ini gereja harus memberi makan domba-doma Tuhan berupa Firman yang keluar dari mulut Allah artinya kebenaran yang murni dari hati Bapa. Hanya dengan cara ini jemaat memiliki iman, sebab iman datang dari pendengaran (Rm. 10:17), juga mengalami kelahiran baru sebab seseorang dilahirkan oleh Firman (1Ptr. 1:23). Firman Tuhan juga menguduskan artinya membuat seseorang memiliki karakter Ilahi (Yoh. 17:17). Dengan menujukan hidup pada Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka masalah-masalah besar menjadi terasa kecil. Sebab tujuan memiliki kesehatan yang baik, studi, karir dan bisnis bukanlah meraih sukses dari hal tersebut tetapi pengolahan batin demi kedewasaan melalui pegumulannya. Tentu saja kalau serius mengerjakannya biasanya berhasil baik. Dalam hal ini seseorang dapat menjalani hidup seperti atlit yang berlaga tanpa beban. Tentu saja berusaha untuk menang, tetapi lebih dari kemenangan secara score, yang penting memaksimalkan sermua potensi dan keahlian. Tentu saja bisanya akan menjadi pemenang. -Solagracia-

Pergumulan hidup adalah perpustakaan kehidupan dimana seseorang dapat menemukan pembentukan kedewasaannya.

Surat Gembala: MENGEMBANGKAN TERANG

Satu hal yang tidak boleh keliru adalah bahwa orang yang mengambil bagian dalam pelayanan gereja dapat memiliki suatu reputasi dan identitas “hamba Tuhan”. Lalu berharap bisa dipakai Tuhan secara luar biasa. Yang penting sebenarnya adalah fungsional sebagai terang bagi dunia sekitar, sebab percuma panggilan yang diterima sebagai hamba Tuhan kalau ternyata hanyalah sebuah pelita yang padam atau tidak terang nyalanya. Oleh sebab itu patut senantiasa memeriksa pelita hidup masing-masing apakah tetap menyala atau sudah redup bahkan padam sama sekali (Luk. 12:35; Mat. 5:16). Pelita di sini menunjuk kepada kehidupan pribadi kita. Pelita yang menyala menunjuk kepada kehidupan yang memberkati orang lain. Dalam Matius 5:14, pelita menunjukkan Yerusalem. Ini berarti bahwa kehidupan orang percaya akan membuat hidup orang lain terarah, terarah ke Tuhan. Ini adalah kehidupan yang memberkati orang lain, sebab dengan kehidupan seperti ini dosa orang tertunjuk, kesalahan diperbaiki, luka dibebat, susah hati dihibur, pendek kata Tuhan memberkati mereka melalui hidup kita. Ini adalah kehidupan yang mendatangkan keteduhan bagi orang lain. Kehidupan seperti ini harus dimulai sedini mungkin, bukan nanti setelah terjun secara penuh di ladang pelayanan. Ini memang menyakitkan sebab menjadi seperti anggur tercurah dan roti yang terpecah. Tetapi kalau tidak mulai hari ini seseorang tidak akan mengalami kehidupan sebagai terang. Ini bukan berarti lalu mengangkat-angkat diri menjadi pahlawan. Ada saat-saat dimana Tuhan melatih orang percaya untuk menjadi terang. Situasinya akan diatur Tuhan, pasti Tuhan sediakan. Apabila bersedia menjadi terang, maka kesediaan itu merupakan proses dimana pelita nyalanya lebih besar (Ams. 4:18).

diri agar orang mempercayai dan menerimanya sebagai hamba Tuhan, sebagai yang bisa mengajar, berkhotbah mendidik orang lain. Itulah sebabnya sering terjadi perebutan kedudukan di dalam gereja. Kalau terang seseorang menyala besar maka ia akan dipromosikan Allah, Allah akan membawanya ketengah-tengah dunia untuk menerangi orang lain. Allah akan mengangkatnya untuk menjadi berkat bagi orang banyak. Jadi lebih dari sekedar mengikuti pendidikan theologia dan disyahkan sebagai pendeta, seseorang harus mengembangkan terang dalam dirinya (Mrk. 4:22). Tidak sedikit orang yang kecewa setelah meninggalkan pekerjaan, sekolah Alkitab, menjadi aktivis dan hamba Tuhan ternyata tidak efektif bagi Tuhan, atau tidak terpakai. Masalahnya adalah pelitanya tidak menyala terang. Jadi pada prinsipnya seorang efektif bagi Tuhan ketika perilakunya indah menjadi berkat bagi semua orang. -Solagracia-

Jadi lebih dari sekedar mengikuti pendidikan theologia dan disyahkan sebagai pendeta, seseorang harus mengembangkan terang dalam dirinya.

Surat Gembala: MEMELIHARA BAIT ROH KUDUS

Dalam kebodohan karena tidak mengenal Tuhan Yesus Kristus dengan benar, banyak orang telah ditawan olehiblis dalam ketidaktahuan. Sebagai akibatnya mereka mengalami banyak penderitaan dalam hidupnya, khususnya sakit penyakit. Ketika bertobat dan menerima Tuhan Yesus Kristus, banyak di antaranya memperoleh kesembuhan. Namun bukan berarti selanjutnya setelah menjadi orang Kristen mereka tidak mudah mengalami sakit penyakit, atau bila sakit maka dengan mudah menerima kesembuhan melalui sebuah doa. Kalau orang percaya sudah mengerti kebenaran tetapi tidak menjaga kesehatan tubuhnya, maka jika sakit ia harus menanggulanginya pula secara bertanggung jawab. Tidak selalu dengan mudah menerima kesembuhan dalam hidupnya. Dokter dan obat-obatan hanyalah salah satu sarana tanggung jawab itu. Ini bukan berarti mukjizat tidak berlaku. Mukjizat tetap berlaku. Inipun juga tergantung dari karunia-Nya. Barangkali ada yang berkata; Tetapi dengan iman kita dapat sembuh kalau kita sakit. Jangan lupa iman adalah salah satu dari karunia yang tidak dapat kita gunakan semau-maunya (1Kor. 12:9; 1Kor. 13). Alkitab mengatakan bahwa kita masing-masing memiliki karunia iman yang berbeda. Sikap bertanggung jawab dengan pergi ke dokter saat sakit bukanlah sebuah dosa dan pelecehan terhadap kuasa Allah dan kasih-Nya. Dokter pun bisa menjadi sarana Tuhan dalam menyembuhkan kita. Oleh sebab itu kita tidak boleh berkata bahwa pergi ke dokter itu tidak memiliki iman atau dokter itu adalah setan dengan kuasa gelap. Dengan lambang ular pada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ada beberapa pendeta menganggap dokter adalah agen iblis. Apakah kita perlu ke dokter atau berdoa saja, seseorang harus bergumul dengan Tuhan dan menemukan jawabnya.

Pernyataan di atas bukan berarti mengurangi keyakinan kita terhadap pemeliharaan dan penyertaan Tuhan atau kuasa mukjizat Tuhan yang mampu mengangkat sakit penyakit, tetapi penjelasan ini hendak mengajak jemaat Tuhan untuk memiliki tanggung jawab terhadap tubuhnya. Tubuh milik Tuhan yang dipercayakan kepada masing-masing kita. Tuhan masih menyediakan anugerah kesembuhan-Nya kepada orang percaya yang sakit (Yak. 5:14-15) Tetapi adalah lebih baik mencegah dari pada mengobati. Setelah menjadi anak Tuhan orang percaya dipanggil untuk bertanggung jawab atas pemeliharaan tubuh yang adalah bait Roh Kudus. Itulah sebabnya Paulus menasihati anak rohaninya untuk menjaga kesehatan (1Tim. 5:23). Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagai orang percaya kita dapat menjauhi sakit penyakit dengan menjaga kesehatan tubuh ini dan tidak memberontak kepada Tuhan, dengan hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Dalam hal ini doa jangan dijadikan sarana manipulasi yang membuat seseorang lari dari tanggung jawab. -Solagracia-

Setelah menjadi anak Tuhan, orang percaya dipanggil untuk bertanggung jawab atas pemeliharaan tubuh yang adalah bait Roh Kudus.

Surat Gembala: MEMAHAMI HIDUP YANG DIBERIKAN TUHAN

Seorang yang menghayati bahwa dirinya adalah makhluk kekal, akan selalu merasa bahwa ia sedang memulai sebuah kehidupan. Ia akan selalu merasa bahwa ia baru mengenal hidup dan belajar untuk mengenakan suatu bentuk atau gaya hidup baru yang ditemukannya di dalam kebenaran Tuhan. Ciri dari kehidupan orang yang menghayati bahwa dirinya makhluk kekal yaitu akan selalu mencari kebenaran untuk dikenakan. Dengan demikian ia akan mengerti artinya haus dan lapar akan kebenaran. Ia bisa menghayati mengapa Tuhan Yesus berkata bahwa manusia hidup bukan dari roti saja (Mat. 4:4). Roti untuk tubuh fana, tetapi Firman Tuhan untuk jiwa yang kekal. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus bekerja untuk roti yang tidak dapat binasa (Yoh. 6:27-29). Percaya adalah sebuah usaha atau perjuangan, sebab di dalam percaya ada pergumulan untuk mengerti Firman Tuhan, mempertajam pikiran mengerti apa yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus untuk dilakukan. Firman yang keluar dari mulut Allah tidak bisa dipelajari hanya di bangku sekolah theologia. Di sini membutuhkan hikmat dan pewahyuan. Sekolah theologia dengan prinsip-prinsip menafsir barulah pintu gerbangnya. Tentu penting dan harus juga dilalui tetapi bukan segalanya. Oleh sebab itu hendaknya tidak merasa sudah mengerti isi kitab suci kalau hanya pernah belajar di sekolah tinggi theologia. Proses belajar Firman adalah proses seumur hidup.

Hikmat dan pewahyuan akan membuka pikiran mengerti rahasia Injil dan memahami bagaimana Tuhan Yesus memiliki sikap batiniah dalam menjalani hidup setiap hari dua ribu tahun yang lalu ketika mengenakan tubuh jasmani. Kalau Tuhan Yesus berkata: “Belajarlah pada-Ku (Mat. 11:28-29), itu berarti ada sebuah persekutuan adikodrati yang terjadi antara individu dengan Tuhan secara eksklusif. Melalui belajar dari Tuhan secara pribadi tersebut seseorang barulah mengerti nilai “hidup” yang Tuhan berikan (Yoh. 10:10). Hal ini tidak bisa diuraikan dengan kata-kata dan ditulis dengan huruf. Seseorang harus mengalami kehadiran Tuhan secara nyata. Itulah yang dimaksud Paulus sebagai mengalami Dia dan kuasa kebangkitan-Nya (Flp. 3:10). Seperti dua ribu tahun yang lalu, Tuhan Yesus mendampingi murid-murid untuk mengajarkan kehidupan-Nya, demikian pula sekarang, Tuhan mendampingi orang percaya untuk memberi dan mengajarkan kehidupan-Nya. Inilah yang dinantikan oleh banyak nabi dan orang benar dalam Perjanjian Lama (Mat. 13:17). Memahami hal ini, bisa dibuktikan betapa berharganya setiap hari yang Tuhan berikan, sebab setiap hari mengerjakan kekekalan yang luar biasa. Berkat yang tiada ternilai yang Tuhan berikan setiap hari adalah kita mengumpulkan harta di Sorga, yaitu membangun sikap batiniah seperti yang dimiliki Tuhan Yesus. – Solagracia -

Ciri dari kehidupan orang yang menghayati bahwa dirinya makhluk kekal yaitu akan selalu mencari kebenaran untuk dikenakan.

Surat Gembala: SUKSES KEHIDUPAN

Hampir tidak ada orang yang berani hidup tanpa memperoleh kebahagiaan dari dunia ini. Bagaimana pun dan dengan cara apapun pada umumnya orang akan berusaha memperoleh sesuatu yang bisa dinikmati dalam hidup ini dari dunia dan manusia sekitarnya. Itulah sebabnya semua orang pasti pernah terjerat percintaan dunia; keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17). Hal ini sudah menjadi kodrat yang tidak bisa disangkal dan tidak bisa dihindari melekat dalam kehidupan setiap insan. Fakta ini terjadi juga didorong suatu pemikiran (sadar atau tidak) bahwa hidup hanya satu kali di dunia ini. Seakan-akan tidak ada lagi kehidupan yang sama seperti di dunia ini setelah kematian. Itulah sebabnya semua orang tidak mau kehilangan kesempatan untuk “hidup” di bumi dengan cara dan keadaan yang sama yang dimiliki orang lain. Setelah kita mendengar Injil seharusnya kita memiliki pemahaman yang berbeda dengan mereka. Kita tahu bahwa dunia ini bukan satu-satunya dunia yang manusia arungi. Masih ada dunia atau bumi lain yang Tuhan sediakan bagi kita (Yoh. 14:1-3). Dunia atau bumi kita sekarang ini bukanlah bumi ideal yang dikehendaki oleh Allah. Ini adalah bumi yang sudah rusak, produk gagal oleh karena manusia itu sendiri yang tidak bertanggung jawab atas anugerah yang diberikan kepadanya. Dengan pengertian ini maka kita tidak mengharapkan lagi kebahagiaan dari dunia ini. Kita hidup untuk dipersiapkan masuk dunia lain yaitu langit baru dan bumi yang baru dimana tidak ada dosa dan air mata dukacita.

Bagi umat pilihan yang terpanggil untuk sempurna seperti Bapa, harus berani tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Sebab kalau masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, maka proses bertumbuh dewasa tidak terrealisir dengan baik. Inilah sebenarnya yang menjadi penghalang seseorang bertumbuh menjadi sempurna seperti Tuhan Yesus. Jadi, kalau seseorang mau sukses dalam kehidupan ini di hadapan Tuhan, harus berani menanggalkan cara hidup yang salah; berani tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Dengan demikian hanya menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Inilah hidup yang berkualitas yang menyukakan hati Allah Bapa. Untuk sampai taraf ini seseorang harus bergumul hebat. Sebab ini sama dengan proses kematian daging atau kematian manusia lama yang makan waktu panjang dan menuntut perjuangan yang sangat berat. Lebih berat dari usaha apapun dalam kehidupan ini. Dalam hal ini Tuhan menjanjikan bahwa Dia akan mengajar kita memikul kuk, atau beban itu. Sama seperti Tuhan Yesus bergumul dan menang, maka kita pun juga bisa memang sama seperti Dia sudah menang. Karena bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil (Mat. 19:26). -Solagracia-

Kita hidup untuk dipersiapkan masuk dunia lain yaitu langit baru dan bumi yang baru, dimana tidak ada dosa dan air mata dukacita.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28.814 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: