Category Archives: Renungan

SIKAP TERHADAP DUNIA YANG SUKAR

Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat (Mat. 24:7). Ada pertanyaan yang harus kita jawab yaitu, mengapa kehadiran Tuhan Yesus di dunia ini tidak membenahi dunia supaya lebih baik? Mengapa justru menubuatkan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan manusia pada umumnya? Padahal manusia menghendaki agar hidupnya bahagia dan memiliki damai sejahtera.
Harus kita pahami bahwa Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa. Rasul Yohanes juga menegaskan bahwa janganlah kita mengasihi dunia dan isinya, karena jika demikian seseorang tidak akan mengasihi Bapa (1Yoh. 2:15). Percintaan dengan dunia berujung pada kebinasaan. Mencintai Tuhan tidak bisa secara instan, tetapi harus dilatih melalui segala peristiwa hidup. Oleh karena itu, Tuhan tidak tertarik membenahi dunia yang sudah rusak, tetapi Dia lebih tertarik membenahi karakter manusia yang sudah rusak. Mengapa demikian? Karena Ia sudah menyiapkan langit baru dan bumi yang baru, di mana orang percaya dipersiapkan untuk mengelolanya sebagaimana Allah memberi mandat kepada Adam ketika ia belum jatuh dalam dosa.
Memahami hal tersebut, bagaimana sikap kita seharusnya dalam menghadapi dunia yang sukar seperti sekarang ini? Ada dua hal penting yang harus kita pahami. Pertama, setiap orang harus berdamai dengan Tuhan, jika seseorang sudah berdamai dengan Tuhan, sebesar apa pun kesukaran hidup yang dialami maka tidak akan menggoyahkan cintanya kepada Tuhan. Oleh karena itu berdamai dengan Tuhan menjadi sangat penting. Orang percaya harus memiliki prinsip: Tuhan, Engkaulah perhentianku, Engkaulah pelabuhan terakhirku. Untuk memiliki prinsip seperti ini, orang percaya harus berlatih terus-menerus sampai benar-benar pada titik tidak bisa berpaling.
Kedua, Tuhan adalah pribadi yang bertanggung jawab, dengan demikian hal itu yang Dia ajarkan kepada orang percaya. Setiap permasalahan hidup yang terjadi dalam diri seseorang maka harus dihadapi dengan tanggung jawab, bukan hanya dengan doa. Banyak orang salah memahami doa, doa dianggap sebagai cara mudah untuk memperoleh jaminan penyelesaian masalah hidup. Sejatinya doa adalah dialog dengan Tuhan agar seseorang mampu memahami pikiran dan perasaan-Nya. Tuhan tidak berjanji menghindarkan manusia dari kesukaran, tetapi Ia berjanji memberi kekuatan untuk menghadapi segala kesukaran. Oleh karena itu temukan Tuhan dalam kesukaran hidup kita karena Dia-lah pribadi yang akan kita temui di kekekalan kelak. Amin. – Solagracia –

Mencintai Tuhan tidak bisa secara instan, tetapi harus dilatih melalui segala peristiwa hidup.

Surat Gembala: TUHAN KEBAHAGIAAN

Setiap manusia yang hidup pasti mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya. Manusia menempuh segala cara untuk mendapatkannya, seluruh pikiran, tenaga dan waktunya dihabiskannya demi hal itu. Kebahagiaan adalah sebuah keadaan tenteram lahir batin atau keberuntungan lahir batin (KBBI, 2015). Jika kita mau jujur, kebahagiaan secara materi banyak orang bisa mendapatkan dengan cara apapun, tetapi bicara hal batin, hampir-hampir tidak banyak orang yang bisa mendapatkannya. Mengapa demikian? Seorang ahli fisika dari Perancis yang bernama Blaise Pascal (1662) berkata, “Ada ruang kosong dalam diri manusia yang tidak dapat diisi dengan hal-hal materi, tetapi hanya dapat diisi oleh hal yang ilahi”. Paulus memberikan penjelasan yang sangat jelas bahwa akibat jatuh dalam dosa, semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah atau karakter ilahi (Rm. 3:23). Keadaan inilah yang membuat manusia memiliki ruang kosong itu.
Allah adalah sumber kebahagiaan artinya, Dia tidak akan pernah kehabisan kebahagiaan itu. Seharusnya manusia mencari kebahagiaan hanya kepada-Nya, tetapi karena dosa, manusia mencarinya bukan kepada Allah tetapi kepada dunia. Kebahagiaan diukur dari apa yang dimiliki yaitu kekayaan, kehormatan dan kebanggaan hidup. Manusia terus menggulirkan hidupnya kepada kenyataan ini, tetapi mereka lupa bahwa semuanya itu akan terhenti kapan pun dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Jika keadaan itu terus dilakukan maka seseorang tidak akan pernah memiliki hubungan yang bernilai tinggi dengan Allah. Hubungan dengan Allah akan dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun kebahagiaan di bumi ini.
Yang dimaksud dengan Tuhan kebahagiaanku adalah, keberanian seseorang untuk hidup tanpa apa pun dan tanpa siapa pun, tetapi tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Sebesar apa pun kenikmatan hidup, pasti akan berakhir pada hitungan-hitungan waktu, demikian halnya dengan kesulitan hidup, tetapi yang terpenting adalah mampukah kita mempertahankan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup kita? Harus kita tahu bahwa suka dan duka pasti terjadi dalam setiap kehidupan anak manusia, itu pun tidak ada yang permanen. Oleh karena itu betapa bersyukurnya kita jika mampu memilih Tuhan sebagai satu-satunya kebahagian hidup. Tuhan adalah sahabat abadi, betapa bijaknya jika selama kita hidup menumpang di bumi ini terus membangun hubungan yang ideal dengan Tuhan, karena Dia-lah Sang pemilik kekekalan. Kekecewaan kita terhadap dunia seharusnya menjadi penyemangat untuk membuktikan bahwa Tuhanlah satu-satunya kebahagiaanku. Amin. – Solagracia

Yang dimaksud dengan Tuhan kebahagiaanku adalah, keberanian seseorang untuk hidup tanpa apa pun dan tanpa siapa pun, tetapi tidak bisa hidup tanpa Tuhan

Surat Gembala: MENGANDALKAN TUHAN

Kata mengandalkan berasal dari kata dasar andal yang berarti dapat dipercayai, sedangkan mengandalkan, memiliki arti menaruh kepercayaan kepada yang dipercayai atau yang diandalkan (KBBI, 2015). Apa yang dimaksud dengan mengadalkan Tuhan?
Banyak orang memiliki pemahaman yang salah dalam hal ini. Mengandalkan Tuhan dipahami sebagai keadaan pasrah tanpa berbuat apa pun maka Tuhan akan memberikan pertolongan. Harus kita tahu, Tuhan kita mengajarkan tanggungjawab, bukan hidup sembrono dan tak produktif.
Dari pihak kita harus ada upaya maksimal, dan dalam kesemuanya itu harus kita kunci dengan pengertian, bahwa apa pun hasilnya pasti baik adanya karena Tuhan-pun turut bekerja (Roma 8: 28). Ada beberapa pengertian tentang mengandalkan Tuhan, yang pertama adalah menerima apa pun keadaan yang terjadi, setelah kita berusaha maksimal tentunya. Kebaikan yang kita harapkan tidak boleh kita paksakan sebagai sesuatu yang harus terjadi dan sesuai dengan kehendak kita. Tuhan memiliki integritas dan otoritas mutlak dalam segala hal. Tuhan lebih peduli dengan karakter seseorang dibanding dengan kekayaannya (Mat. 19:21). Harta dan kekayaan hanya mampu menemani kita selama 70 tahun hidup di bumi.
Yang kedua, mengandalkan Tuhan berarti, menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup walaupun tidak sesuai dengan harapan kita. Setiap permasalahan yang Tuhan izinkan terjadi kepada setiap orang percaya merupakan kurikulum Tuhan dengan maksud untuk mengubah karakter duniawi menjadi karakter illahi sampai pada titik tertentu orang percaya tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini.
Kita tidak boleh menggunakan pengalaman bangsa Israel sebagai patokan dalam hal mengandalkan Tuhan. Dalam hal ini, bangsa Israel hanya mengaitkan dirinya dengan kepenuhan kebutuhan jasmani, walaupun pada kenyataannya Tuhan tidak bermaksud demikian (Pkh 5: 18-19). Bagi orang percaya zaman Perjanjian Baru, mengandalkan Tuhan bukan berarti tanpa berusaha keras maka berkat dan perlindungan Tuhan diberikan, tetapi manusia dikembalikan pada porsinya dimana segala sesuatu harus dijalani secara bertanggungjawab dengan benar sesuai pikiran dan perasaan Kristus.
Untuk kebutuhan makan, minum dan pakai, Tuhan sudah sediakan asal kita mau bekerja keras. Satu-satunya pergumulan kita yang terberat adalah mengubah karakter kita, dalam hal inilah kita harus mengandalkan Tuhan, karena Iblis terus berjuang memanfaatkan natur dosa dalam diri kita agar kita gagal menjadi Corpus Delictinya Tuhan. Waspadalah! – Solagracia

Mengandalkan Tuhan berarti manjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup walaupun tidak sesuai harapan kita.

Surat Gembala: MENGINGINI TUHAN SAJA

Mengingini Tuhan saja dapat diartikan sebagai pengembangan hasrat untuk mematikan segala sesuatu sekaligus menghidupkan hasrat untuk menyukakan perasaan Tuhan saja sesuai dengan Alkitab. Perwujudan dari pernyataan di atas adalah melakukan segala sesuatu dengan perasaan Tuhan sebagai pertimbangan satu-satunya. Paulus berkata dalam Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Seorang calon mempelai, tentunya akan menumpahkan segala rasa cintanya hanya untuk calon pasangannya, jika masih ada rasa cinta kepada yang lain maka rasa itu harus dimatikan. Ketika cinta itu timbul akan memiliki energi yang luar biasa untuk berbuat apapun demi yang dicintai.
Untuk melihat kedalaman cinta kita kepada Tuhan dapat diukur dari adakah kita memiliki hasrat atau keinginan untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki, jika belum, berarti kita belum mencintai Tuhan secara benar. Orang sering berkata, ”Aku rindu pada-Mu ya Tuhan”. Ucapan ini sering diungkapkan dalam rangka menghadapi kesulitan hidup dan untuk mendapatkan pertolongan-Nya saja. Betapa marah dan kecewanya seseorang, jika kehadiran pribadinya sebenarnya tidak diharapkan, tetapi hanya tenaganya saja yang diharapkan. Pribadi Tuhan sangatlah agung, jika keinginan kita kepada-Nya hanya tertuju kepada kasih dan kuasa-Nya, betapa sikap ini merupakan bentuk pengabaian terhadap perasaan Tuhan. Semangat dari mengingini Tuhan yang benar adalah rindu memuaskan perasaan-Nya saja. Seorang pasangan mempelai yang sedang jatuh cinta, pastilah rindu memuaskan perasaan pasangannya. Perasaan manusia tidak stabil, oleh karena itu agar keinginan kita kepada Tuhan tetap konsisten maka diperlukan kerelaan hati untuk diproses secara terus menerus sampai hal itu merupakan passion satu-satunya.
Adalah sebuah kengerian yang tak terkatakan ketika maut menjemput, sementara keinginan akan Tuhan sama sekali tidak ada. Betapa gelapnya lorong kematian itu jika tanpa Tuhan. Walaupun seluruh isi dunia sanggup kita miliki, tetapi semuanya itu tidak pernah dapat kita gunakan sebagai buah tangan untuk Tuhan di kekekalan kelak. Alam semesta Tuhan yang punya karena Ia yang menciptakan termasuk kita di dalamnya. Alangkah bijak jika kita terus arahkan keinginan batin kita kepada Tuhan yang empunya segala sesuatu dan yang berkuasa atas kekekalan. Hidup kita pasti berakhir dan akan bertemu dengan takhta pengadilan Allah, siapakah pembela kita kelak kalau bukan Tuhan? Amin – Solagracia

Adalah sebuah kengerian yang tak terkatakan ketika maut menjemput, sementara keinginan akan Tuhan sama sekalai tidak ada.

Surat Gembala: BELENGGU KEINGINAN

Kebutuhan adalah aspek psikologi yang menggerakan makhluk hidup dalam beraktivitas dan menjadi dasar untuk berusaha. Standar kebutuhan hidup manusia adalah cukup pangan, sandang dan papan. Pemenuhan terhadap ketiga hal tersebut adalah sebuah kewajaran, tetapi jika ketiga hal itu dipenuhi atas dasar selera maka kebutuhan bergeser menjadi sebuah keinginan. Makan adalah kebutuhan, tetapi jika makan harus enak itu adalah keinginan demikian halnya dengan kebutuhan sandang dan papan. Kebutuhan akan bergerak sesuai dengan penalaran, tetapi keinginan bergerak dan mematikan penalaran. Ketika kebutuhan bergeser menjadi sebuah keinginan maka yang terjadi adalah perasaan akan mendominasi logika dan perasaan akan menjadi leader dalam pengambilan keputusan.
Ketika seseorang telah mencapai satu keinginan maka akan memancing keinginan yang lain terus bermunculan,
jika sudah demikian yang terjadi adalah seseorang akan diseret, dipikat sampai tidak bisa keluar dari situasi ini. Situasi ini jangan dipandang remeh! Dalam keadaan seperti ini dosa mengambil peran untuk membuahinya sampai melahirkan maut (Yak 1:14-15). Keinginan dan dosa bagaikan pertemuan antara indung telur dan sel sperma yang mengalami pembuahan sampai melahirkan seorang bayi. Paulus berkata, ”karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi…”, (Kol 3:5). Apa yang dikatakan Paulus ini berkaitan dengan hawa nafsu percintaan dengan dunia dan ini harus dimatikan agar tidak dibuahi oleh dosa dan tidak melahirkan maut. Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa, dan Tuhan tahu bahwa keinginan manusia menggiring kepada kebinasaan, oleh karena itu Tuhan memperingatkan, “barang siapa mempertahankan nyawanya maka ia akan kehilangan nyawanya,” (Mat 10:39). Kata kehilangan dalam teks Yunani menggunakan ἀπόλλυμι = apollumi yang dalam bahasa inggris diartikan to destroy fully dan dapat diartikan menghancurkan sama sekali. Jika di dunia ini kita mengumbar kepuasan jiwa (Yun. Ψυχή = psuchē; pikiran, perasaan dan kehendak) maka sama halnya dengan menghancurkan sama sekali akan kehidupan kekal kita.
Kebutuhan kita yang sebenarnya adalah Tuhan, bukan pangan, sandang dan papan. Kalaupun ketiga itu harus ada, hendaknya cukup dijadikan sarana untuk mendukung efektifitas kita dalam memburu Tuhan, bukan sebagai fokus pencarian kita. Oleh karena itu jangan sampai pencarian akan ketiga hal tersebut membelenggu kita dalam memburu Tuhan yang di dalamnya terkandung nasib kekal kita. Amin – Solagracia

Ketika seseorang telah mencapai satu keinginan maka akan memancing keinginan yang lain terus bermunculan

KEPERCAYAAN KEPADA PRIBADI ALLAH TANPA SYARAT

Bagi orang percaya, memercayai Tuhan bukanlah syarat, tetapi merupakan kodrat. Bukankah kita tidak pernah mengajukan syarat apapun kepada orang tua kita sebagai jaminan pemeliharaan kita? Secara naluri, sikap orang tua seperti itu pasti ada dan tidak perlu diragukan lagi. Jika orang tua di dunia saja tahu bertanggungjawab, apalagi Bapa kita yang di Sorga. Dari sisi Bapa sudah final, tetapi sekarang masalahnya ada pada kita.
Allah memiliki 1001 cara untuk mendidik kita. Iblis mencoba membujuk Tuhan Yesus untuk meragukan kasih dan pemeliharaan Allah, tetapi Ia tetap memilih memercayai Bapa-Nya dan itu Ia buktikan sampai di Kayu Salib. Walaupun secara fisik tidak mendapatkan pertolongan tetapi Ia tetap percaya dan menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya yang “tidak” menolong dan bahkan meninggalkan-Nya (Mrk. 15:34-37).
Bagi anak-anak Allah yang benar (huios), meneladani ketaatan Tuhan Yesus adalah mutlak adanya. Dalam keadaan tertentu, Allah akan membawa kita kepada situasi dimana seakan-akan Ia tidak peduli terhadap kita. Ada dua hal yang hendak Bapa ajarkan kepada kita, yang pertama, Ia ingin agar kita tetap percaya kepada-Nya, walaupun seakan Ia tak peduli. Yang kedua, adalah kesempatan bagi kita untuk dipercayai oleh Tuhan. Mengapa Allah melakukan hal tersebut? Sebagaimana Ia telah tetapkan standar kepada Anak Tunggal-Nya maka standar itu juga harus berlaku buat kita anak-anak-Nya di dalam Kristus. Memercayai Tuhan adalah awal dari sebuah ketaatan kita kepada-Nya. Percaya tak bersyarat adalah sebuah sikap yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun.
Sadrakh, Mesakh, Abednego telah membuktikan iman percayanya ketika mereka berhadapan dengan tungku api yang siap melumatnya. Pernyataan imannya telah dibuktikan dengan tetap memasuki tungku api yang dipanaskan tujuh kali lipat (Dan. 3:17-18). Allah bertanggung jawab untuk membela orang-orang yang rela “membela”-Nya dengan gagah berani dan tulus. Pembelaan Tuhan pasti diberikan bagi anak-anak-Nya, tetapi bukan berarti kita bisa mereka-reka akan hal itu, karena pembelaan adalah otoritas dan hak prerogratif Allah semesta alam. Ada tiga hal yang harus kita tanamkan dalam hati; Yang pertama, apapun yang Tuhan lakukan buat kita harus kita terima dan yakini sebagai yang terbaik. Ke dua, apapun yang terjadi kita tetap percaya kepada pribadi-Nya. Yang ketiga, apapun yang terjadi tidak akan menaruh rasa curiga kepada Tuhan. Sekarang Apa yang akan kita lakukan kepada Tuhan, sebagai bukti bahwa iman kita tidak bersyarat? Amin – Solagracia

Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja

Surat Gembala: MAKNA PEMELIHARAAN BAPA

Allah kita adalah Allah yang berintegritas sempurna dalam segala hal. Untuk hal itu, tidak ada alasan sedikit pun bagi orang percaya untuk meragukan-Nya. Allah Bapa kita sangat memahami kebutuhan kita. Bagaimana tidak, Ia berkomitmen memberikan matahari, baik kepada orang jahat dan orang baik, apalagi bagi anak-anak-Nya sendiri. Seharusnya kita tidak perlu kuatir lagi. Ia memiliki natur kerja dan bertanggungjawab, sehingga kita pun juga harus demikian. Orang percaya harus kerja keras guna memenuhi kebutuhannya dan Bapa akan memberkati-Nya. Bapa memelihara burung yang terbang di udara mencari makan, bukan burung yang malas di dalam sarangnya (Mat. 6:26).
Bapa telah menentukan tatanan kehidupan bagi semua makhluk secara adil, berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmaninya (Mat. 5:45). Bapa bukanlah pribadi yang curang, sehingga karena kita anak-anak-Nya, walaupun
tidak bekerja dan tidak bertanggungajawab maka Ia akan tetap memberkatinya. Pemahaman ini sangat keliru dan justru merendahkan martabat Allah Bapa yang Agung. Bapa telah menetapkan hukum tabur tuai sebagai mekanisme yang ditetapkan bagi setiap orang, entah dia orang percaya atau bukan. Walaupun dia orang di luar Tuhan, jika hidupnya jujur, kerja keras dan tanggungjawab maka dengan sendirinya berkat yang menjadi bagiannya akan diterimanya.
Sangat ironis jika ternyata anak Tuhan telah salah mengartikan pemeliharaan Bapa. Dengan berdoa dan “beriman” saja maka berkat Tuhan akan dicurahkan. Mengapa bisa demikian? Orang percaya telah terobsesi dengan kehidupan bangsa Israel dimana sepertinya mudah sekali untuk mendapatkan berkat dan pemeliharaan Tuhan. Kenyataannya tidak demikian! Bangsa Israel dihadapkan kepada dua pilihan, berkat dan kutuk, ketika taat mereka diberkati tetapi jika tidak taat mereka kena kutuk (Yos. 8:34). Kita harus tahu bahwa bangsa Israel diberikan hak-hak demikian, karena bangsa ini mengemban tugas untuk menyimpan dokumen pengenalan akan Allah yang benar. Kita memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan umat Isreal, jika mereka fokusnya kepada hal-hal duniawi, tetapi bagi kita fokusnya adalah dunia yang akan datang. Standar mereka hukum Taurat, sementara kita adalah sempurna seperti Bapa.
Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja (Yoh. 10:10). Bapa akan lebih mengutamakan pembentukan karakter anak-anak-Nya daripada pemenuhan kebutuhan jasmaninya, karena karakterlah yang akan dibawa untuk menjumpai Dia kelak di kekekalan. – Solagracia –

Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja

Surat Gembala: HIDUP TAK BERCACAT DAN TAK BERCELA

Membaca judul di atas, sulit rasanya untuk mencapainya, sehingga membuat seseorang bersikap apatis. Paling tidak ada empat penyebab mengapa orang bersikap demikian. Pertama, pengaruh agama dan keyakinan di sekitarnya. Agama mengesankan bahwa hanya Allah yang sempurna dan manusia tempat salah adanya. Bisanya hal ini dikaitkan dengan pemahaman bahwa Allah Maha Pengampun, sehingga jika kita berbuat salah Allah pasti mengampuni. Memang benar Allah Maha Pengampun, tetapi adakah niat kita untuk tidak melukai perasaan Tuhan? Bukankah kita tidak tahu kapan meninggal?

Kedua, melihat tokoh Alkitab secara salah. Abraham, Yakub, Daud, Salomo, Elia, Yunus, bahkan sampai pada Petrus tokoh Perjanjian Baru. Mengapa orang menyoroti kesalahan mereka saja tanpa melihat bagaimana mereka berjuang untuk hidup tak bercacat dan tak bercela sehingga itu yang dijadikan teladan. Mereka semua belum bisa sempurna seperti kita, karena memang Roh Kudus belum dicurahkan secara pribadi termasuk kepada Petrus. Tetapi setelah dipenuhi Roh Kudus, kita bisa melihat Petrus berjuang untuk sempurna bahkan nyawanya ditaruhkan untuk hal itu.

Ketiga, memandang bahwa cara hidup tak bercacat dan tak bercela adalah gaya hidup yang menjauhkan diri dari kenyamanan dan kewajaran seperti kebanyakan orang, bahkan dianggap sebagai sikap menyiksa diri. Menurut dunia, pandangan ini benar, tetapi bagi orang percaya hal itu bukanlah alasan. Hidup kita harus berbeda dengan dunia (Rm. 12:2).

Keempat, seringnya mengalami kegagalan di dalam proses belajar menjadi tak bercacat dan tak bercela. Karena terlalu sering mengalami kegagalan maka menyimpulkan bahwa hidup tak bercacat dan tak bercela adalah sebuah kemustahilan. Inilah yang disebut dengan “mental block”. Keselamatan adalah usaha Allah dan gayung bersambut dari manusia untuk kembali kepada rancangan semula. Allah tidak pernah mentakdirkan nasib manusia, apalagi soal keselamatan. Allah memberikan sarananya, manusia harus bertanggung jawab untuk menyambut uluran kasih karunia Tuhan-Nya.
Allah kita adalah Allah yang sangat mengerti kemampuan anak-anak-Nya, ketika Ia memerintahkan untuk kudus maka Ia memberikan teladan-Nya, yaitu Kristus sendiri (1Ptr. 1:13-16, 1Ptr.2:21-24). Orang harus memilih terang atau gelap. Adalah anugrah jika kita menjadi anak-anak Allah, tetapi anugerah tidak serta-merta menjadikan keberadaan kita menjadi anak Allah yang kudus. Kekudusan bukanlah syariat, tetapi kodrat anak-anak Allah. Inilah fokus pengiringan kita kepada Tuhan Yesus. Amin. – Solagracia

Allah kita adalah Allah yang sangat mengerti kemampuan anak-anak-Nya, ketika Ia memerintahkan untuk kudus maka Ia memberikan teladan-Nya, yaitu Kristus.

MAKNA KEBANGKITAN TUHAN YESUS

Bagi orang percaya, kebangkitan Kristus sudah final dan tidak perlu diragukan lagi. Kebangkitan Kristus adalah fakta sejarah yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya, karena memiliki saksi yang cukup. “Banyak orang” (Mat. 27:53). Tanpa kebangkitan Kristus, kekristenan sama sekali tidak memiliki makna apa-apa (1Kor. 15:13). Keempat Injil memberikan porsi khusus tentang kisah kebangkitan Kristus, dibanding kisah kelahiran, kematian dan kenaikan. Kebangkitan Kristus adalah pusat pemberitaan Injil karena merupakan tumpuan harapan seluruh manusia akan kebangkitannya kelak. Bahkan, kebangkitan Kristus merupakan puncak kemenangan dari “pertaruhan” maha hebat Allah Bapa akan masa depan kekekalan dimana Kristus bisa membuktian kesalahan Lucifer, dengan ketaat-Nya dalam keadaan-Nya sebagai manusia biasa. Tuhan Yesus telah mempertaruhkan segenap jiwa dan raga-Nya untuk taat sebagai bukti bahwa hidup-Nya saleh, sehingga Ia layak dibangkitan dari maut.
Orang percaya tidak perlu terganggu dengan banyaknya fitnahan klasik yang telah dirintis oleh orang-orang Yahudi dengan mengatakan “Kristus tidak bangkit melainkan mayat-Nya dicuri oleh murid-murid-Nya” (Mat. 28:11-15). Hari ini banyak orang mempercayainya! Paulus berkata, “yang ku kehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan bersekutu dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Fil. 3:10-11). Fokus kita adalah bagaimana hidup sebagaimana Kristus hidup dan taat sampai mati di Salib, sehingga Ia layak memperoleh kebangkitan-Nya. Inilah kunci keimanan Kristen kita guna memperoleh kebangkitan kelak di kekekalan dan menerima kemuliaan bersama dengan Kristus. Persekutuan kita dengan Kristus bukan sesederhana yang dipikirkan orang selama ini, dimana kebangkitan Kristus dipahami sebagai “bemper” masalah-masalah hidup. Sikap ini salah! Memaknai kebangkitan Kristus, harus ditindaklanjuti dengan kesediaan kita untuk hidup menyatu dengan keteladanan-Nya dimana Ia telah memilih bertahan untuk taat dalam penderitaan-Nya guna memenuhi kualifikasi kesalehan yang Bapa kehendaki. Dengan demikian harapan untuk dibangkitan bersama Kristus bisa terwujud. Adalah kejahatan di mata Allah jika ketaatan Kristus disejajarkan dengan pergumulan manusia untuk mendapatkan berkat-berkat jasmaniah. Ketaatan Kristus adalah pertaruhan terhadap penegakan supremasi Allah di dalam diri-Nya. Demikianlah hendaknya kita! Amin. – Solagracia

Adalah kejahatan di mata Allah jika ketaatan Kristus disejajarkan dengan pergumulan manusia untuk mendapatkan berkat-berkat jasmaniah

Surat Gembala: Menghargai Korban TUHAN YESUS

Tahukah kita, bahwa satu-satunya hak kita adalah binasa kekal. Arah dari segala perbuatan manusia adalah jahat di mata Allah, dan menuju binasa kekal. Keadaan ini membuat Bapa “nyesek” dan pilu hatinya (Kej. 6:6). Tuhan Yesus adalah “Logos atau Firman” yang telah menciptakan langit dan bumi serta sang Penguasa yang telah memerintah sejak purbakala dengan segala kemuliaan-Nya (Yoh.1:1-4, Mika 5:1-2). Kepiluan hati Bapa telah menjadi “passion”-Nya dan telah mendorong diri-Nya untuk meninggalkan segala kemuliaan yang Ia miliki. Kebinasaan manusia adalah kepiluan hati Allah Bapa. Allah Anak telah memilih mengosongkan diri-Nya demi kepuasan hati Bapa. Proses pengosongan diri-Nya bukanlah sebuah adegan sandiwara yang telah diatur sedemikian rupa sehingga bisa ditebak ke mana arah akhir ceritanya. Dalam menjalankan missi-Nya, Tuhan Yesus sangat berkemungkinan untuk gagal. Ada dua akibat besar yang terjadi jika Tuhan Yesus gagal; Yang pertama, manusia akan meluncur bebas masuk ke dalam kebinasaan kekal tanpa halangan, kedua, Tuhan Yesus tidak akan pernah mendapatkan kembali kemuliaan yang telah Ia tinggalkan.
Dalam hal ini pemahaman kita tidak boleh salah, karena jika salah maka penempatan diri kita di hadapan Allah pun juga salah. Kebinasaan manusia jangan disejajarkan dengan masalah hidup yang bersifat sementara, jika hal ini kita lakukan sama artinya merendahkan pertarungan Tuhan Yesus untuk memperoleh kembali kemuliaan yang telah Ia tinggalkan. Tak terkatakan betapa hancurnya tatanan jagat raya ini jika Allah Anak tidak lagi memiliki kemuliaan. Tetapi terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menang atas semua ini. Bukankah manusia juga telah kehilangan kemuliaan Allah? Jika Tuhan Yesus saja mempertaruhkan nyawa untuk memperolehnya kembali kemuliaan-Nya, lalu siapakah kita ini sehingga berani berkata “aku anak Allah” sementara perilaku kita tidak seperti Kristus. Jika melihat perbuatan kita maka tidak pantaslah menyebut diri sebagai anak-anak Allah. Perbuatan kita mencerminkan penghargaan kita terhadap pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.
Lagi-lagi Gereja tidak boleh salah mengajar umat dengan menggantikan kesulitan hidup sebagai pokok pergumulan umat. Ajarkan bagaimana Kristus berjuang dalam ketaatan-Nya, bahkan sampai pada kematian-Nya di kayu Salib. Ketaatan bukan untuk meraih berkat materi, tetapi untuk kepuasan hati Bapa sehingga kita layak dimuliakan bersama dengan Kristus. Allah bertanggungjawab dengan ciptaan-Nya, Ia memberikan matahari kepada orang jahat dan orang baik (Mat.5:45). – Solagracia

Perbuatan kita mencerminkan penghargaan kita terhadap pengorbanan TUHAN YESUS KRISTUS

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 30.052 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: