Category Archives: Renungan

KEPERCAYAAN KEPADA PRIBADI ALLAH TANPA SYARAT

Bagi orang percaya, memercayai Tuhan bukanlah syarat, tetapi merupakan kodrat. Bukankah kita tidak pernah mengajukan syarat apapun kepada orang tua kita sebagai jaminan pemeliharaan kita? Secara naluri, sikap orang tua seperti itu pasti ada dan tidak perlu diragukan lagi. Jika orang tua di dunia saja tahu bertanggungjawab, apalagi Bapa kita yang di Sorga. Dari sisi Bapa sudah final, tetapi sekarang masalahnya ada pada kita.
Allah memiliki 1001 cara untuk mendidik kita. Iblis mencoba membujuk Tuhan Yesus untuk meragukan kasih dan pemeliharaan Allah, tetapi Ia tetap memilih memercayai Bapa-Nya dan itu Ia buktikan sampai di Kayu Salib. Walaupun secara fisik tidak mendapatkan pertolongan tetapi Ia tetap percaya dan menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya yang “tidak” menolong dan bahkan meninggalkan-Nya (Mrk. 15:34-37).
Bagi anak-anak Allah yang benar (huios), meneladani ketaatan Tuhan Yesus adalah mutlak adanya. Dalam keadaan tertentu, Allah akan membawa kita kepada situasi dimana seakan-akan Ia tidak peduli terhadap kita. Ada dua hal yang hendak Bapa ajarkan kepada kita, yang pertama, Ia ingin agar kita tetap percaya kepada-Nya, walaupun seakan Ia tak peduli. Yang kedua, adalah kesempatan bagi kita untuk dipercayai oleh Tuhan. Mengapa Allah melakukan hal tersebut? Sebagaimana Ia telah tetapkan standar kepada Anak Tunggal-Nya maka standar itu juga harus berlaku buat kita anak-anak-Nya di dalam Kristus. Memercayai Tuhan adalah awal dari sebuah ketaatan kita kepada-Nya. Percaya tak bersyarat adalah sebuah sikap yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun.
Sadrakh, Mesakh, Abednego telah membuktikan iman percayanya ketika mereka berhadapan dengan tungku api yang siap melumatnya. Pernyataan imannya telah dibuktikan dengan tetap memasuki tungku api yang dipanaskan tujuh kali lipat (Dan. 3:17-18). Allah bertanggung jawab untuk membela orang-orang yang rela “membela”-Nya dengan gagah berani dan tulus. Pembelaan Tuhan pasti diberikan bagi anak-anak-Nya, tetapi bukan berarti kita bisa mereka-reka akan hal itu, karena pembelaan adalah otoritas dan hak prerogratif Allah semesta alam. Ada tiga hal yang harus kita tanamkan dalam hati; Yang pertama, apapun yang Tuhan lakukan buat kita harus kita terima dan yakini sebagai yang terbaik. Ke dua, apapun yang terjadi kita tetap percaya kepada pribadi-Nya. Yang ketiga, apapun yang terjadi tidak akan menaruh rasa curiga kepada Tuhan. Sekarang Apa yang akan kita lakukan kepada Tuhan, sebagai bukti bahwa iman kita tidak bersyarat? Amin – Solagracia

Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja

Surat Gembala: MAKNA PEMELIHARAAN BAPA

Allah kita adalah Allah yang berintegritas sempurna dalam segala hal. Untuk hal itu, tidak ada alasan sedikit pun bagi orang percaya untuk meragukan-Nya. Allah Bapa kita sangat memahami kebutuhan kita. Bagaimana tidak, Ia berkomitmen memberikan matahari, baik kepada orang jahat dan orang baik, apalagi bagi anak-anak-Nya sendiri. Seharusnya kita tidak perlu kuatir lagi. Ia memiliki natur kerja dan bertanggungjawab, sehingga kita pun juga harus demikian. Orang percaya harus kerja keras guna memenuhi kebutuhannya dan Bapa akan memberkati-Nya. Bapa memelihara burung yang terbang di udara mencari makan, bukan burung yang malas di dalam sarangnya (Mat. 6:26).
Bapa telah menentukan tatanan kehidupan bagi semua makhluk secara adil, berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmaninya (Mat. 5:45). Bapa bukanlah pribadi yang curang, sehingga karena kita anak-anak-Nya, walaupun
tidak bekerja dan tidak bertanggungajawab maka Ia akan tetap memberkatinya. Pemahaman ini sangat keliru dan justru merendahkan martabat Allah Bapa yang Agung. Bapa telah menetapkan hukum tabur tuai sebagai mekanisme yang ditetapkan bagi setiap orang, entah dia orang percaya atau bukan. Walaupun dia orang di luar Tuhan, jika hidupnya jujur, kerja keras dan tanggungjawab maka dengan sendirinya berkat yang menjadi bagiannya akan diterimanya.
Sangat ironis jika ternyata anak Tuhan telah salah mengartikan pemeliharaan Bapa. Dengan berdoa dan “beriman” saja maka berkat Tuhan akan dicurahkan. Mengapa bisa demikian? Orang percaya telah terobsesi dengan kehidupan bangsa Israel dimana sepertinya mudah sekali untuk mendapatkan berkat dan pemeliharaan Tuhan. Kenyataannya tidak demikian! Bangsa Israel dihadapkan kepada dua pilihan, berkat dan kutuk, ketika taat mereka diberkati tetapi jika tidak taat mereka kena kutuk (Yos. 8:34). Kita harus tahu bahwa bangsa Israel diberikan hak-hak demikian, karena bangsa ini mengemban tugas untuk menyimpan dokumen pengenalan akan Allah yang benar. Kita memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan umat Isreal, jika mereka fokusnya kepada hal-hal duniawi, tetapi bagi kita fokusnya adalah dunia yang akan datang. Standar mereka hukum Taurat, sementara kita adalah sempurna seperti Bapa.
Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja (Yoh. 10:10). Bapa akan lebih mengutamakan pembentukan karakter anak-anak-Nya daripada pemenuhan kebutuhan jasmaninya, karena karakterlah yang akan dibawa untuk menjumpai Dia kelak di kekekalan. – Solagracia –

Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja

Surat Gembala: HIDUP TAK BERCACAT DAN TAK BERCELA

Membaca judul di atas, sulit rasanya untuk mencapainya, sehingga membuat seseorang bersikap apatis. Paling tidak ada empat penyebab mengapa orang bersikap demikian. Pertama, pengaruh agama dan keyakinan di sekitarnya. Agama mengesankan bahwa hanya Allah yang sempurna dan manusia tempat salah adanya. Bisanya hal ini dikaitkan dengan pemahaman bahwa Allah Maha Pengampun, sehingga jika kita berbuat salah Allah pasti mengampuni. Memang benar Allah Maha Pengampun, tetapi adakah niat kita untuk tidak melukai perasaan Tuhan? Bukankah kita tidak tahu kapan meninggal?

Kedua, melihat tokoh Alkitab secara salah. Abraham, Yakub, Daud, Salomo, Elia, Yunus, bahkan sampai pada Petrus tokoh Perjanjian Baru. Mengapa orang menyoroti kesalahan mereka saja tanpa melihat bagaimana mereka berjuang untuk hidup tak bercacat dan tak bercela sehingga itu yang dijadikan teladan. Mereka semua belum bisa sempurna seperti kita, karena memang Roh Kudus belum dicurahkan secara pribadi termasuk kepada Petrus. Tetapi setelah dipenuhi Roh Kudus, kita bisa melihat Petrus berjuang untuk sempurna bahkan nyawanya ditaruhkan untuk hal itu.

Ketiga, memandang bahwa cara hidup tak bercacat dan tak bercela adalah gaya hidup yang menjauhkan diri dari kenyamanan dan kewajaran seperti kebanyakan orang, bahkan dianggap sebagai sikap menyiksa diri. Menurut dunia, pandangan ini benar, tetapi bagi orang percaya hal itu bukanlah alasan. Hidup kita harus berbeda dengan dunia (Rm. 12:2).

Keempat, seringnya mengalami kegagalan di dalam proses belajar menjadi tak bercacat dan tak bercela. Karena terlalu sering mengalami kegagalan maka menyimpulkan bahwa hidup tak bercacat dan tak bercela adalah sebuah kemustahilan. Inilah yang disebut dengan “mental block”. Keselamatan adalah usaha Allah dan gayung bersambut dari manusia untuk kembali kepada rancangan semula. Allah tidak pernah mentakdirkan nasib manusia, apalagi soal keselamatan. Allah memberikan sarananya, manusia harus bertanggung jawab untuk menyambut uluran kasih karunia Tuhan-Nya.
Allah kita adalah Allah yang sangat mengerti kemampuan anak-anak-Nya, ketika Ia memerintahkan untuk kudus maka Ia memberikan teladan-Nya, yaitu Kristus sendiri (1Ptr. 1:13-16, 1Ptr.2:21-24). Orang harus memilih terang atau gelap. Adalah anugrah jika kita menjadi anak-anak Allah, tetapi anugerah tidak serta-merta menjadikan keberadaan kita menjadi anak Allah yang kudus. Kekudusan bukanlah syariat, tetapi kodrat anak-anak Allah. Inilah fokus pengiringan kita kepada Tuhan Yesus. Amin. – Solagracia

Allah kita adalah Allah yang sangat mengerti kemampuan anak-anak-Nya, ketika Ia memerintahkan untuk kudus maka Ia memberikan teladan-Nya, yaitu Kristus.

MAKNA KEBANGKITAN TUHAN YESUS

Bagi orang percaya, kebangkitan Kristus sudah final dan tidak perlu diragukan lagi. Kebangkitan Kristus adalah fakta sejarah yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya, karena memiliki saksi yang cukup. “Banyak orang” (Mat. 27:53). Tanpa kebangkitan Kristus, kekristenan sama sekali tidak memiliki makna apa-apa (1Kor. 15:13). Keempat Injil memberikan porsi khusus tentang kisah kebangkitan Kristus, dibanding kisah kelahiran, kematian dan kenaikan. Kebangkitan Kristus adalah pusat pemberitaan Injil karena merupakan tumpuan harapan seluruh manusia akan kebangkitannya kelak. Bahkan, kebangkitan Kristus merupakan puncak kemenangan dari “pertaruhan” maha hebat Allah Bapa akan masa depan kekekalan dimana Kristus bisa membuktian kesalahan Lucifer, dengan ketaat-Nya dalam keadaan-Nya sebagai manusia biasa. Tuhan Yesus telah mempertaruhkan segenap jiwa dan raga-Nya untuk taat sebagai bukti bahwa hidup-Nya saleh, sehingga Ia layak dibangkitan dari maut.
Orang percaya tidak perlu terganggu dengan banyaknya fitnahan klasik yang telah dirintis oleh orang-orang Yahudi dengan mengatakan “Kristus tidak bangkit melainkan mayat-Nya dicuri oleh murid-murid-Nya” (Mat. 28:11-15). Hari ini banyak orang mempercayainya! Paulus berkata, “yang ku kehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan bersekutu dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Fil. 3:10-11). Fokus kita adalah bagaimana hidup sebagaimana Kristus hidup dan taat sampai mati di Salib, sehingga Ia layak memperoleh kebangkitan-Nya. Inilah kunci keimanan Kristen kita guna memperoleh kebangkitan kelak di kekekalan dan menerima kemuliaan bersama dengan Kristus. Persekutuan kita dengan Kristus bukan sesederhana yang dipikirkan orang selama ini, dimana kebangkitan Kristus dipahami sebagai “bemper” masalah-masalah hidup. Sikap ini salah! Memaknai kebangkitan Kristus, harus ditindaklanjuti dengan kesediaan kita untuk hidup menyatu dengan keteladanan-Nya dimana Ia telah memilih bertahan untuk taat dalam penderitaan-Nya guna memenuhi kualifikasi kesalehan yang Bapa kehendaki. Dengan demikian harapan untuk dibangkitan bersama Kristus bisa terwujud. Adalah kejahatan di mata Allah jika ketaatan Kristus disejajarkan dengan pergumulan manusia untuk mendapatkan berkat-berkat jasmaniah. Ketaatan Kristus adalah pertaruhan terhadap penegakan supremasi Allah di dalam diri-Nya. Demikianlah hendaknya kita! Amin. – Solagracia

Adalah kejahatan di mata Allah jika ketaatan Kristus disejajarkan dengan pergumulan manusia untuk mendapatkan berkat-berkat jasmaniah

Surat Gembala: Menghargai Korban TUHAN YESUS

Tahukah kita, bahwa satu-satunya hak kita adalah binasa kekal. Arah dari segala perbuatan manusia adalah jahat di mata Allah, dan menuju binasa kekal. Keadaan ini membuat Bapa “nyesek” dan pilu hatinya (Kej. 6:6). Tuhan Yesus adalah “Logos atau Firman” yang telah menciptakan langit dan bumi serta sang Penguasa yang telah memerintah sejak purbakala dengan segala kemuliaan-Nya (Yoh.1:1-4, Mika 5:1-2). Kepiluan hati Bapa telah menjadi “passion”-Nya dan telah mendorong diri-Nya untuk meninggalkan segala kemuliaan yang Ia miliki. Kebinasaan manusia adalah kepiluan hati Allah Bapa. Allah Anak telah memilih mengosongkan diri-Nya demi kepuasan hati Bapa. Proses pengosongan diri-Nya bukanlah sebuah adegan sandiwara yang telah diatur sedemikian rupa sehingga bisa ditebak ke mana arah akhir ceritanya. Dalam menjalankan missi-Nya, Tuhan Yesus sangat berkemungkinan untuk gagal. Ada dua akibat besar yang terjadi jika Tuhan Yesus gagal; Yang pertama, manusia akan meluncur bebas masuk ke dalam kebinasaan kekal tanpa halangan, kedua, Tuhan Yesus tidak akan pernah mendapatkan kembali kemuliaan yang telah Ia tinggalkan.
Dalam hal ini pemahaman kita tidak boleh salah, karena jika salah maka penempatan diri kita di hadapan Allah pun juga salah. Kebinasaan manusia jangan disejajarkan dengan masalah hidup yang bersifat sementara, jika hal ini kita lakukan sama artinya merendahkan pertarungan Tuhan Yesus untuk memperoleh kembali kemuliaan yang telah Ia tinggalkan. Tak terkatakan betapa hancurnya tatanan jagat raya ini jika Allah Anak tidak lagi memiliki kemuliaan. Tetapi terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menang atas semua ini. Bukankah manusia juga telah kehilangan kemuliaan Allah? Jika Tuhan Yesus saja mempertaruhkan nyawa untuk memperolehnya kembali kemuliaan-Nya, lalu siapakah kita ini sehingga berani berkata “aku anak Allah” sementara perilaku kita tidak seperti Kristus. Jika melihat perbuatan kita maka tidak pantaslah menyebut diri sebagai anak-anak Allah. Perbuatan kita mencerminkan penghargaan kita terhadap pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.
Lagi-lagi Gereja tidak boleh salah mengajar umat dengan menggantikan kesulitan hidup sebagai pokok pergumulan umat. Ajarkan bagaimana Kristus berjuang dalam ketaatan-Nya, bahkan sampai pada kematian-Nya di kayu Salib. Ketaatan bukan untuk meraih berkat materi, tetapi untuk kepuasan hati Bapa sehingga kita layak dimuliakan bersama dengan Kristus. Allah bertanggungjawab dengan ciptaan-Nya, Ia memberikan matahari kepada orang jahat dan orang baik (Mat.5:45). – Solagracia

Perbuatan kita mencerminkan penghargaan kita terhadap pengorbanan TUHAN YESUS KRISTUS

RESPON TERHADAP KEBAIKAN TUHAN

Pada zaman torat, orang yang mengalami sakit kusta sama halnya seseorang yang sudah mati, hanya belum masuk liang kubur. Seluruh hak hidupnya hilang bersama sakit yang dideritanya. Penyakit kusta bukan saja merupakan penderitaan fisik tetapi juga batin dan tidak menutup kemungkinan hidup rohaninya pun bisa mati. Sakit kusta merupakan penderitaan yang dahsyat pada waktu itu, di mana para penderitanya harus terbuang dari keluarga, lingkungan dan masyarakat bahkan agama sekali pun. Orang yang terkena kusta mustahil bisa beribadah ke dalam bait Allah, betapa dahsyatnya penderitaan ini. Dalam Luk.17:11-17 diceritakan ada sepuluh orang kusta telah mengalami mujizat kesembuhan dari Tuhan Yesus, tetapi hanya satu orang saja yang tahu berterima kasih dan memuliakan Dia. Sembilan orang tidak tahu berterima kasih apalagi membalas budi (Luk. 17:11-19). Sembilan orang ini mencari Tuhan Yesus murni karena ingin memenuhi kebutuhannya yaitu sembuh dari kustanya, tetapi yang seorang bukan hanya ingin sembuh dari sakit kustanya, melainkan ia juga ingin memuliakan Allah. Secara kebangsaan dia orang Samaria yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang Yahudi, ditambah kena kusta, jauh rasanya untuk bisa memuliakan Tuhan. Kalaupun sembuh rasanya berat untuk mendapatkan pengakuan tahir dari imam-imam yang adalah orang Yahudi sehingga ia bisa memuliakan Allah.
Dari kisah di atas kita bisa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Yang pertama, Tuhan adalah Kasih adanya, oleh karena itu Ia pasti berbelas kasihan terhadap orang yang kehilangan pengharapan (ay. 13-14, Yer 33:3). Yang kedua, dalam keadaan terpuruk janganlah kita bimbang, apalagi kehilangan pengharapan dan iman, karena Tuhan pasti memberikan pertolongan tepat pada waktu-Nya (ay. 19). Yang ketiga, kelegaan hidup yang kita alami janganlah membuat kita seperti ”kuda lepas dari kandang”, atau seperti “kacang lupa kulitnya” (ay. 15-18). Mengucap syukur kepada Tuhan bukanlah syarat, melainkan kodrat anak Tuhan.
Belajar dari sikap orang Samaria tadi kita harus tahu diri dan tahu budi di hadapan Tuhan. Ciri orang Kristen tahu budi adalah pertama, pastilah ia menghargai keselamatan yang sudah ia terima dan ia tidak akan pernah pindah agama hanya karena jodoh, karena Tuhan akan menyangkal orang yang seperti ini (Mat. 19:33). Yang kedua, ia akan berusaha mati-matian untuk tidak mencintai dunia (Ibr. 12:16). Dan yang terakhir, ia akan berusaha hidup sesuai dengan selera Tuhan yaitu menyelamatkan banyak jiwa (1Tes. 4:7, 1Ptr. 1: 13-16). – Solagracia

Kita harus tahu diri dan tahu budi di hadapan Tuhan, menghargai keselamatan, tidak mencintai dunia, dan berusaha hidup sesuai dengan selera Tuhan

COMPASSION

Niat baik tidaklah cukup untuk dijadikan modal dalam melayani Tuhan. Keselarasan cita rasa dengan Tuhan menjadi hal yang sangat penting. Standard pelayanan adalah kepuasan hati Bapa, bukan kepuasan kita. Tuhan Yesus telah melakukan-Nya dan itulah compassion-Nya. Compassion berarti sympathetic pity and for suffering or misfotunes of others (simpati atau rasa terbeban dan belas kasihan terhadap penderitaan atau kemalangan orang lain). Tuhan Yesus telah mengambil alih maut yang seharusnya dialami manusia, seharusnya tidak perlu Ia lakukan. Ia tahu betul bahwa penderitaan fisik yang Ia alami di atas kayu Salib tidak sebanding dengan kebinasaan yang akan dialami oleh manusia, keadaan inilah yang menjadikan Ia tidak bergeming menghadapi siksaan itu. Suasana hati seperti ini hendaknya menjadi dasar pelayanan anak-anak Tuhan.
Yunus telah memberitakan akan adanya hukuman Allah kepada bangsa Niniwe, alih-alih mengharapkan bangsa Niniwe bertobat, tetapi yang terjadi ia tidak rela jika orang non-Yahudi diselamatkan. Yunus melakukan perintah Tuhan tetapi tidak memiliki perasaan yang sama dengan si Pemberi perintah. Perasaan seperti ini juga telah terjadi dalam hati banyak pelayan Tuhan hari ini. Mengapa bisa demikian? Sebab mereka sendiri tidak pernah terbeban dengan keselamatan jiwanya. Melengkapi hidup dengan berbagai fasilitas dianggap sebagai bentuk upaya telah menyelamatkan jiwanya, tanpa disadari tindakan ini sebenarnya membunuh diri sendiri. Mereka melakukan hal ini karena tidak mengenal kebenaran Tuhan. Mereka orang-orang yang bermoral baik, tetapi fokus hidupnya bukan pada kekekalan, tetapi kepada perkara duniawi. Orang seperti ini tidak mampu memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 6:21). Jangankan memiliki compassion untuk orang lain, untuk dirinya sendiri saja tidak. Bergereja hanya untuk menikmati kesenangan spiritual dan merasa sudah pasti masuk Sorga, kelompok ini tidak pernah dewasa imannya. Ciri orang seperti ini adalah, mereka tidak berani “all out” bagi Tuhan. Kalau orang belum bisa mengasihi dirinya sendiri dengan benar, tidak mungkin mereka bisa mengasihi orang lain. Mereka tidak memancarkan kehidupan rohani yang dewasa dan memikat. Melayani Tuhan bukan dengan hati kita, tetapi dengan hati-Nya Tuhan atau pikiran perasaan Kristus (Fil. 2:5-7) compassion kita harus selaras dengan compassion Tuhan. Pengertian terhadap Firman Tuhan yang murni akan membangun compassion yang benar (Gal 1:6-10). Oleh karena itu pengajaran geraja harus murni sesuai dengan compassion-nya Tuhan. – Solagracia

Pengertian terhadap Firman Tuhan yang murni akan membangun compassion yang benar.

Hidup Dalam Berkat Tuhan

Satu pertanyaan yang perlu di kemukakan adalah: ”Apa ruginya ikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh?” Jawabnya tentu tidak ada ruginya. Jawaban sederhana seperti ini sebenarnya berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, karena terbukti banyak orang tidak sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus. Mengapa demikian? Karena mengikut Tuhan Yesus dianggap sesuatu yang ruwet, kompleks, melelahkan dan tidak menarik. Sebagian orang berpikir, bahwa mengikut Tuhan masih bisa ditunda. Karena pengaruh filsafat modern, sebagian orang beranggapan mengikut Tuhan tidak perlu dan tidak berguna, karena mereka melihat banyak orang tanpa Tuhan, hidupnya aman-aman saja. Pikiran seperti ini adalah bodoh, sesat dan berujung pada keterpisahan dengan Tuhan di kekekalan kelak.
Beruntunglah orang yang mau mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, karena dia tidak akan pernah menyesal di kekekalan kelak. Haus dan lapar akan Tuhan adalah kuncinya, sebagaimana manusia haus dan lapar merupakan proses metabolisme tubuh yang normal untuk kelangsungan hidup manusia di bumi ini. Hidup manusia adalah kekal, oleh karena itu kehausan akan Tuhan merupakan keadaan normal demi kehidupan di kekekalan (Mat. 5:6). Ciri orang yang haus akan Tuhan pastilah kasihnya akan Tuhan bertumbuh, dan orang yang mengasihi Tuhan pasti akan menerima berkat dari Allah(1Kor.2:9).
Berbicara berkat tentunya harus lengkap dalam memahaminya. Dalam Mazmur 23:1-6, paling tidak ada enam jenis berkat yang dimaksudkan antara lain yang pertama Berkat jasmani, jika kita dapat dipercayai Tuhan (kerja keras, jujur) maka Ia akan menyediakan segala keperluan kita( Flp. 4:19). Kedua Berkat Damai sejahtera, Tuhan tau bahwa jiwa kita pun butuh penyegaran(Mzm. 23:3, Yoh. 14 :27). Berkat ketiga Pembentukan karakter, Ia akan menuntun ke jalan yang benar sampai sempurna seperti Bapa (Mzm.23:3, Mat. 5:48). Keempat Berkat Penyertaan Tuhan, di dalam lembah kekelaman sekalipun, Tuhan sanggup menyertai kita( Maz.23:4). Berkat kelima Hidangan di depan lawan, ada kata minyak dan piala di sini bicara Firman Tuhan dan Roh Kudus sebagai pedang dan kuasa untuk menjadi saksi Tuhan (Ef. 6:17, Kis. 1:8). Dan yang keenam Berkat Tinggal di rumah Bapa di Surga, inilah puncak dari semua berkat yang Tuhan sediakan, diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa (Mzm. 23:6). Pembaharuan karakter oleh Firman dan Roh Kudus menjadikan kita berkat bagi sesama sehingga kita layak di sebut pelayan Tuhan, dan layak menerima berkat utama yaitu, tinggal bersama Bapa di Surga. – Solagracia –

Beruntunglah orang yang mau mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, karena dia tidak akan pernah menyesal di kekekalan kelak.

Surat Gembala: POTENSI SELALU BERKENAN

Orang percaya bukan hanya berusaha untuk tidak berbuat suatu kesalahan baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, tetapi orang percaya juga berusaha untuk terus bergerak mencapai suatu level kehidupan yang berpotensi selalu melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah. Selalu melakukan kehendak Bapa berarti tidak ada peluang lagi untuk berbuat sesuatu yang tidak “pas” di hati Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Potensi ini bisa dimiliki melalui perjalanan panjang dan perjuangan berat. Untuk meraih ini bukanlah karunia saja, tetapi kerja keras yang melibatkan seluruh potensi dan waktu hidup ini. Untuk ini segala sesuatu yang lain harus ditempatkan pada urutan belakang. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus bahwa untuk dapat menjadi murid-Nya seseorang harus melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33).
Mengembangkan potensi untuk selalu melakukan kehendak Bapa harus mengorbankan segala sesuatu. Jiwa kita harus merasa tidak tenang sebelum dengan yakin bahwa posisinya ada di dalam kehendak Allah atau ada di level yang memuaskan hati Bapa di Sorga. Sesungguhnya inilah yang disebut sebagai “perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibr. 12:1). Perlombaan inilah yang membawa orang percaya kepada kehidupan iman yang sempurna, artinya kualitas hidup seperti Tuhan Yesus sendiri (Ibr. 12:2-3).
Bapa di Sorga akan menuntun kita agar kita menjadi anak-anak yang sah (huios) yang berkeadaan seperti Anak Tunggalnya (Ibr. 12:4-9), yang akhirnya kita bisa mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:9). Perlombaan inilah yang dimaksudkan oleh Yohanes “supaya mereka menjadi anak-anak Allah”. Seseorang tidak akan dapat disebut sebagai anak-anak Allah kalau tidak mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Petrus mengkalimatkan dengan kalimat “mengambil bagian dalam kodrat Ilahi” (2Ptr. 1:3-4).
Seseorang dapat disebut sebagai anak-anak Allah kalau mengenakan kodrat Ilahi, luput dari hawa nafsu dunia yang membinasakan. Setiap kali kita melakukan suatu kesalahan, kita disadarkan bahwa kita masih memiliki “kodrat manusia” yang memuat hawa nafsu dunia yang membinasakan. Perlombaan ini haruslah menjadi satu-satunya kesibukan hidup yang menyita seluruh perhatian dan energi kita. Segala sesuatu yang lain dilakukan sebagai dukungan terhadap proyek yang berdampak kekal ini. Perlombaan ini hanya dialami oleh orang-orang yang hidup dalam Perjanjian Baru, yaitu mereka yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. – Solagracia

Selalu melakukan kehendak Bapa berarti tidak ada peluang lagi untuk berbuat sesuatu yang tidak “pas” di hati Allah.

Surat Gembala: CIRI ORANG YANG MENEMUKAN TUHAN

Orang yang sungguh-sungguh menemukan Tuhan pasti memiliki ciri-ciri yang jelas dalam hidupnya. Ciri yang paling utama adalah memiliki karakter seperti Allah sendiri. Umat Perjanjian Lama mencari Tuhan dengan mempelajari Torat atau ilmu agama sehingga mereka menguasai Torat dan bertindak sesuai dengan Torat tersebut. Mereka menjadi orang-orang saleh yang ditandai dengan melakukan hukum torat serta melakukan segala syariatnya. Tetapi umat Perjanjian Baru yang menjadikan Tuhan sebagai hukumnya, bila menemukan Tuhan pasti akan ditandai dengan mampu bertindak seperti Allah bertindak.
Karena hal inilah maka orang-orang Kristen yang benar akan mengalami frustasi yang kudus ketika ia mendapati dirinya belum melakukan apa yang tepat seperti yang Tuhan kehendaki. Dengan penjelasan lain, belum merasa bahwa ia bertindak seperti Tuhan Yesus; belum bisa berkata “hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”. Frustasi yang kudus ini sama dengan “kehausan dan kelaparan akan kebenaran” (Mat 5:6). Biasanya orang frustasi karena masalah ekonomi, jabatan, sakit hati karena dilukai dan berbagai penyebab lain, tetapi orang percaya yang benar akan merasa frustasi karena dirinya belum menjadi pribadi yang memuaskan hati Bapa di Sorga. Orang-orang seperti ini pasti mengalami perubahan yang nyata atau nampak jelas. Sesuai janji Tuhan, Tuhan pasti akan memuaskan mereka, artinya Tuhan akan membuat mereka mampu melakukannya. Betapa bahagianya bisa mencapai hal ini.
menemukan Tuhan maka ia ada dalam kesadaran penuh bahwa tubuhnya adalah bait Roh Kudus, maka dengan sendirinya ia menjauhkan diri dari dosa yang bertalian dengan kenajisan tubuh. Kalau ia berbuat salah berkenaan dengan tubuhnya akan ada dukacita yang sangat dalam, sampai ia takut melakukan dosa yang sama. Dalam hal ini kekudusan seseorang terbangun secara natural dan sejati. Selanjutnya orang yang menemukan Tuhan akan berusaha mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan perubahan segenap hidupku. Ia akan membela pekerjaan Tuhan tanpa batas. Baginya pekerjaan Tuhan adalah seluruh hidupnya; segenap nyawanya. Ia tidak akan perhitungan sama sekali untuk Tuhan yang sudah ditemukannya (Flp. 3:7-8).
Akhirnya orang yang menemukan Tuhan pasti memiliki keberanian yang hebat menghadapi apa pun juga, bahkan kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Keberanian hidup muncul secara natural atau dengan sendirinya. – Solagracia

Orang yang menjadikan Tuhan sebagai hukumnya, bila menemukan Tuhan pasti akan bertindak seperti Allah bertindak.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30.047 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: