Category Archives: Renungan

Surat Gembala: POTENSI SELALU BERKENAN

Orang percaya bukan hanya berusaha untuk tidak berbuat suatu kesalahan baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, tetapi orang percaya juga berusaha untuk terus bergerak mencapai suatu level kehidupan yang berpotensi selalu melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah. Selalu melakukan kehendak Bapa berarti tidak ada peluang lagi untuk berbuat sesuatu yang tidak “pas” di hati Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Potensi ini bisa dimiliki melalui perjalanan panjang dan perjuangan berat. Untuk meraih ini bukanlah karunia saja, tetapi kerja keras yang melibatkan seluruh potensi dan waktu hidup ini. Untuk ini segala sesuatu yang lain harus ditempatkan pada urutan belakang. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus bahwa untuk dapat menjadi murid-Nya seseorang harus melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33).
Mengembangkan potensi untuk selalu melakukan kehendak Bapa harus mengorbankan segala sesuatu. Jiwa kita harus merasa tidak tenang sebelum dengan yakin bahwa posisinya ada di dalam kehendak Allah atau ada di level yang memuaskan hati Bapa di Sorga. Sesungguhnya inilah yang disebut sebagai “perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibr. 12:1). Perlombaan inilah yang membawa orang percaya kepada kehidupan iman yang sempurna, artinya kualitas hidup seperti Tuhan Yesus sendiri (Ibr. 12:2-3).
Bapa di Sorga akan menuntun kita agar kita menjadi anak-anak yang sah (huios) yang berkeadaan seperti Anak Tunggalnya (Ibr. 12:4-9), yang akhirnya kita bisa mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:9). Perlombaan inilah yang dimaksudkan oleh Yohanes “supaya mereka menjadi anak-anak Allah”. Seseorang tidak akan dapat disebut sebagai anak-anak Allah kalau tidak mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Petrus mengkalimatkan dengan kalimat “mengambil bagian dalam kodrat Ilahi” (2Ptr. 1:3-4).
Seseorang dapat disebut sebagai anak-anak Allah kalau mengenakan kodrat Ilahi, luput dari hawa nafsu dunia yang membinasakan. Setiap kali kita melakukan suatu kesalahan, kita disadarkan bahwa kita masih memiliki “kodrat manusia” yang memuat hawa nafsu dunia yang membinasakan. Perlombaan ini haruslah menjadi satu-satunya kesibukan hidup yang menyita seluruh perhatian dan energi kita. Segala sesuatu yang lain dilakukan sebagai dukungan terhadap proyek yang berdampak kekal ini. Perlombaan ini hanya dialami oleh orang-orang yang hidup dalam Perjanjian Baru, yaitu mereka yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. – Solagracia

Selalu melakukan kehendak Bapa berarti tidak ada peluang lagi untuk berbuat sesuatu yang tidak “pas” di hati Allah.

Surat Gembala: CIRI ORANG YANG MENEMUKAN TUHAN

Orang yang sungguh-sungguh menemukan Tuhan pasti memiliki ciri-ciri yang jelas dalam hidupnya. Ciri yang paling utama adalah memiliki karakter seperti Allah sendiri. Umat Perjanjian Lama mencari Tuhan dengan mempelajari Torat atau ilmu agama sehingga mereka menguasai Torat dan bertindak sesuai dengan Torat tersebut. Mereka menjadi orang-orang saleh yang ditandai dengan melakukan hukum torat serta melakukan segala syariatnya. Tetapi umat Perjanjian Baru yang menjadikan Tuhan sebagai hukumnya, bila menemukan Tuhan pasti akan ditandai dengan mampu bertindak seperti Allah bertindak.
Karena hal inilah maka orang-orang Kristen yang benar akan mengalami frustasi yang kudus ketika ia mendapati dirinya belum melakukan apa yang tepat seperti yang Tuhan kehendaki. Dengan penjelasan lain, belum merasa bahwa ia bertindak seperti Tuhan Yesus; belum bisa berkata “hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”. Frustasi yang kudus ini sama dengan “kehausan dan kelaparan akan kebenaran” (Mat 5:6). Biasanya orang frustasi karena masalah ekonomi, jabatan, sakit hati karena dilukai dan berbagai penyebab lain, tetapi orang percaya yang benar akan merasa frustasi karena dirinya belum menjadi pribadi yang memuaskan hati Bapa di Sorga. Orang-orang seperti ini pasti mengalami perubahan yang nyata atau nampak jelas. Sesuai janji Tuhan, Tuhan pasti akan memuaskan mereka, artinya Tuhan akan membuat mereka mampu melakukannya. Betapa bahagianya bisa mencapai hal ini.
menemukan Tuhan maka ia ada dalam kesadaran penuh bahwa tubuhnya adalah bait Roh Kudus, maka dengan sendirinya ia menjauhkan diri dari dosa yang bertalian dengan kenajisan tubuh. Kalau ia berbuat salah berkenaan dengan tubuhnya akan ada dukacita yang sangat dalam, sampai ia takut melakukan dosa yang sama. Dalam hal ini kekudusan seseorang terbangun secara natural dan sejati. Selanjutnya orang yang menemukan Tuhan akan berusaha mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan perubahan segenap hidupku. Ia akan membela pekerjaan Tuhan tanpa batas. Baginya pekerjaan Tuhan adalah seluruh hidupnya; segenap nyawanya. Ia tidak akan perhitungan sama sekali untuk Tuhan yang sudah ditemukannya (Flp. 3:7-8).
Akhirnya orang yang menemukan Tuhan pasti memiliki keberanian yang hebat menghadapi apa pun juga, bahkan kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Keberanian hidup muncul secara natural atau dengan sendirinya. – Solagracia

Orang yang menjadikan Tuhan sebagai hukumnya, bila menemukan Tuhan pasti akan bertindak seperti Allah bertindak.

Surat Gembala: SPIRIT MENCARI TUHAN

Kata mencari Tuhan dalam lingkungan orang percaya adalah kata yang sudah tidak asing. Sering diucapkan dan didengar. Tetapi tidak banyak yang benar-benar mengerti apa yang dimaksud dengan mencari Tuhan itu apalagi menggelarnya. Sehingga faktanya banyak orang beragama Kristen tetapi tidak mencari Tuhan. Hendaknya seseorang tidak berpikir dangkal, sudah merasa mencari Tuhan hanya karena pergi ke gereja. Mencari Tuhan pada dasarnya dibangun dari dua motivasi utama, pertama berusaha mengenal Tuhan untuk dapat melakukan kehendak-Nya. Untuk ini pihak gereja harus mengajarkan kebenaran agar jemaat mengenal Allah dengan benar. Sebagai buahnya orang percaya diajar untuk menempatkan diri dengan benar di hadapan-Nya. Karakternya diubahkan terus untuk dapat dikembalikan seperti rancangan Allah semula, menghormati Tuhan atau menyembah Tuhan dan melayani Tuhan dengan membantu orang lain bisa memiliki kedewasaan rohani yang benar.
Kedua, berusaha mengalami Tuhan setiap saat sehingga dapat menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan. Ini bukan sekedar pengalaman keagamaan dalam liturgi atau misa. Tetapi pengalaman riil dengan Tuhan setiap hari. Untuk ini seseorang harus serius menghayati atau memberi perhatian kepada kehadiran Tuhan setiap saat, meninggalkan kesenangan dunia dan berusaha merubah cita rasa jiwanya terhadap dunia ini. Tentu saja orang-orang seperti ini akan menyediakan waktu pergi ke gereja, doa pribadi dan bersekutu dengan saudara-saudara yang memiliki kerinduan yang sama. Tanpa hal ini seseorang akan gagal untuk dapat menikmati Tuhan.
Kalau seseorang ke gereja hanya karena memiliki masalah agar dapat jalan keluar dari masalahnya atau karena suatu kebutuhan jasmani, itu berarti belum mencari Tuhan. Mereka hanya mencari jalan keluar dari masalahnya atau menemukan pemenuhan kebutuhan jasmaninya. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang Israel pada zaman Tuhan Yesus di bumi mengenakan tubuh daging, mereka mencari Tuhan hanya karena roti (Yoh. 6:26). Mereka mencari sesuatu yang tidak prinsip atau bukan kebutuhan utama. Karena kebodohan itu mereka tidak melihat “tanda” atau petunjuk arah (Yun. semeion; σημεῖον). Hal yang sama seperti orang-orang Israel yang bodoh tersebut dilakukan banyak orang Kristen hari ini yang pergi ke gereja bukan karena hendak mencari Tuhan. Celakanya pihak gereja melegalisir praktik tersebut seakan-akan benar. Oleh sebab itu jemaat harus jeli menilai gereja mana yang benar dan yang palsu. – Solagracia

Kalau seseorang ke gereja hanya karena demi jalan keluar dari masalahnya atau suatu kebutuhan jasmani, itu berarti belum mencari Tuhan.

BAHASA KEAKRABAN YANG NATURAL

Memuji dan menyembah Allah haruslah menjadi irama otomatis yang mengalir keluar dari hati, bukan sesuatu yang dipaksakan. Seseorang yang memiliki kehidupan sikap hati memberi nilai tinggi Tuhan atau menghormatinya dengan pantas secara otomatis atau dengan sendirinya memiliki “spirit menyembah” secara terus menerus tiada henti. Ia tidak perlu berusaha untuk menyembah sebab dengan sendirinya irama menyembah itu sudah permanen ada, tinggal mengekspresikan kapan saja dan di mana saja. Untuk mengekspresikannya tidak tergantung suasana, tempat, liturgi, musik dan lain sebagainya. Sikap menyembah bisa diekspresikan tanpa bisa dihambat oleh apapun juga.
Kalau ia seorang pembicara atau pengkhotbah, worship leader dan singer, dengan ringan tanpa beban bisa menyembah Tuhan di depan jemaat dengan tulus. Ia tidak perlu mencari-cari wajah Tuhan atau melakukan pemanasan untuk menemukan hadirat Tuhan. Kenyataan yang kita lihat, tidak banyak orang yang memiliki spirit penyembahan seperti ini. Oleh sebab itu pelayananan puji-pujian dan penyembahan harus dilakukan oleh mereka yang terus menerus belajar menyembah Allah setiap hari sehingga memiliki spirit menyembah dengan benar atau berkualitas tinggi. Dan seorang pembicara harus memiliki spirit menyembah, walaupun tidak bisa menyanyi dengan baik, tetapi spirit penyembahan akan menolongnya mampu mengajak orang untuk menyembah Allah.
Memang untuk melayani mimbar seseorang tidak harus menunggu sempurna baru mengambil bagian dalam pelayanan ini, tetapi asal sungguh-sungguh belajar untuk menyembah Allah dengan benar, maka ia mulai akan dapat memancarkan “spirit” pujian dan penyembahan yang benar. Dalam pergaulan dengan Tuhan seseorang akan menemukan bahasa keakraban yang natural, spontan dan tulus. Sebuah percakapan yang tidak ada unsur protokuler. Sebuah percakapan dari hati ke hati. Percakapan yang menyentuh hadirat Tuhan menciptakan kerendahan hati yang tulus dan natural. Akan ada jalur komunikasi dengan Tuhan yang bisa dirasakan orang lain. Seorang pembicara, worship leader dan singer mutlak memilikinya. Oleh karena tidak belajar menyembah Allah, maka banyak orang Kristen yang sebenarnya belum menyembah Allah dengan benar. Mereka hanya menyanyi dalam gereja bahkan mereka bersikap lahiriah memuji dan menyembah Allah, padahal sebenarnya mereka hanya berpura-pura menyembah Tuhan. Mereka ini adalah manusia munafik yang mencoba menipu Tuhan. – Solagracia

Dalam pergaulan dengan Tuhan seseorang akan menemukan bahasa keakraban yang natural, spontan dan tulus.

SEMUA ADA AKHIRNYA

Semua kehidupan di bumi ini pasti akan berakhir, tetapi yang tidak berakhir adalah kekekalan roh manusia. Roh manusia adalah kesadaran yang tidak berakhir. Kesadaran ini memuat pikiran, perasaan dan kehendak. Dalam Lukas 16:19-31, dikisahkan mengenai orang kaya dan Lazarus. Di alam maut orang kaya yang celaka tersebut merasakan penderitaan yang hebat di api yang menyala. Ia meminta agar Abraham menyuruh Lazarus mencelupkan ujung jarinya untuk memberikan setetes air guna menyejukkan lidahnya. Ia juga memiliki pikiran dan perasaan mengenai keadaan saudara-saudaranya yang masih hidup di bumi. Itulah sebabnya ia meminta Abraham mengutus Lazarus untuk memperingatkan saudara-saudaranya.

Dalam hal ini manusia memiliki kesamaan dengan Allah yaitu memiliki kekekalan. Hanya bedanya keberadaan Allah tidak memiliki awal atau permulaan tetapi manusia memiliki permulaan sebab manusia dilahirkan atau diciptakan oleh Allah. Banyak orang tidak mengerti atau tidak mau mengerti kebenaran ini, sebab mata hati pengertian mereka telah tertutup. Mereka dibutakan atau disesatkan kuasa dunia ini sehingga tidak mengenal kebenaran tersebut. Inilah yang dimaksud Alkitab bahwa manusia berjalan dalam gelap. Banyak orang yang tersesat hidup dalam kegelapan dengan berpikir seakan-akan hidup ini akan berlangsung terus tiada akhirnya atau ujungnya. Inilah yang mengikat kehidupan banyak orang, juga sebagian besar orang Kristen. Ini adalah sebuah penyesatan iblis yang sukses. Bila jujur maka kita dapati bahwa banyak manusia tidak mau berpikir atau menerima kenyataan bahwa jalan ini akan berakhir. Dan akhir perjalanan hidup manusia ini sebuah misteri yang pada umumnya tidak seorang pun tahu (Yak 4:13-17).

Dalam hal ini Tuhan hendak memberitahu kepada manusia kenyataan perjalanan waktu ini. Ciri dari seorang yang berhasil disesatkan adalah terjebak dalam kegiatan agama yang rutin. Tidak mengalami perubahan atau pembaharuan. Karena biasanya mereka memang tidak mau berubah. Mereka puas dengan kegiatan agamani yang ada, tanpa memiliki visi dan misi. Ibarat seorang pedagang ia tidak berusaha untuk memperoleh keuntungan dalam usaha (Mat 25:14-30). Kelakuan mereka ceroboh atau sembrono. Ia tidak peduli terhadap kenyataan hidupnya yang dililit berbagai dosa: kebencian, dendam, penipuan, perzinahan, pertikaian, permusuhan dan lain sebagainya. Inilah orang yang tidak berjaga-jaga. Mereka tidak berusaha untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan; melayani Tuhan. – Solagracia

Banyak orang yang hidup dalam kegelapan dengan berpikir seakan-akan hidup ini akan berlangsung terus tiada akhirnya.

Surat Gembala: Tidak Otomatis Terpilih

Banyak orang berpikir bahwa kalau sudah menjadi orang yang terpilih berdasarkan kedaulatan mutlak Allah maka proses keselamatan akan berlangsung dengan sendirinya. Mereka mengajarkan bahwa manusia tidak berkuasa atas pemilihan itu sama sekali. Manusia hanya menerima saja “nasib” yang ditentukan (predetinate) baginya. Di dalamnya mereka berpikir Allah dimuliakan baik oleh orang yang diselamatkan maupun orang yang tidak diselamatkan. Pengajaran yang salah ini benar-benar telah menyesatkan banyak orang. Hal ini terbukti di negara-negara Kristen yang gerejanya dominan menganut theologia ini sudah menjadi negara yang seakan-akan tidak pernah mengenal Injil. Apakah hal ini berarti semakin tahun jumlah orang yang terpilih (kuotanya) makin sedikit. Hal ini karena pemilihan Tuhan atau karena dunia semakin jahat? Jelas karena semakin bertambah kejahatan maka kasih kebanyakan orang menjadi dingin (Mat. 24:12-13), Paulus juga mengatakan bahwa di akhir jaman keadaan manusia semakin
rusak (2Tim. 3:1-5). Semakin sedikit orang yang selamat bukan karena jumlah yang dipilih semakin sedikit tetapi karena kejahatan bertambah-tambah.

Pengajaran yang tidak tepat tersebut telah mengunci pikiran banyak orang dan membelenggunya sehingga mereka tidak memiliki usaha yang serius untuk menjadi sempurna seperti Bapa. Mereka tidak memiliki pergumulan untuk diselamatkan (Luk. 23:13-14), sebab mereka berpikir seakan-akan secara otomatis seorang akan bisa sampai ke Sorga asalkan sudah terpilih. Pada hal banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih. Mereka yang terpilih adalah mereka yang mengusahakan pakaian pesta, bukan diberi oleh Raja yang mengundangnya ke pesta tersebut (Mat. 22:1-14). Pakaian pesta melambangkan kesucian hidup atau moral berstandar Allah, dan itu harus diusahakan dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan akan menolong. Setelah Tuhan menyediakan anugerah-Nya, Tuhan tidak akan menolong orang yang tidak bertobat atau menolong dirinya sendiri. Setiap orang harus meresponi anugerah-Nya dengan tanggung jawab. Itulah sebabnya Alkitab penuh seruan untuk bertobat, meninggalkan kejahatan dan cara hidup yang salah, mengalami pembaruan pikiran, berusaha tidak hidup tidak tercela, keluar dari cara hidup yang salah dan tidak menjamah apa yang najis dan lain sebagainya yang pada dasarnya setiap orang percaya harus memenuhi panggilannya untuk sempurna seperti Bapa. Ini adalah bagian yang harus dipenuhi manusia. Bagian ini tidak boleh diperhitungkan sebagai jasa seakan-akan keselamatan hasil usaha manusia itu sendiri. Usaha yang merupakan bagian manusia ini harus dipahami sebagai sebuah respon. – Solagracia

Setelah Tuhan menyediakan anugerah-Nya, Tuhan tidak akan menolong orang yang tidak bertobat atau menolong dirinya sendiri.

Bukan Sekedar Menerima Tetapi Memberi

Menarik tetapi juga agak aneh kalau dalam merayakan Natal kita mengaitkannya dengan korban Kristus di kayu salib. Selain kita mengangkat ke permukaan hal kelahiran Tuhan Yesus, kita juga mengangkat ke permukaan peristiwa penyaliban Tuhan. Apa maksudnya? Melalui hal ini kita mengajak semua orang yang merayakan Natal bukan hanya sebagai obyek yang menerima berkat, tetapi sebagai subyek yang sepenanggungan dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian kita memiliki langkah maju dalam kedewasaan dan kematangan rohani. Sebab selama ini banyak orang dalam merayakan Natal hanya terpaku sebagai obyek yang menerima berkat Natal. Orang-orang Kristen tenggelam dalam suasana euphoria dalam menerima berkat Natal. Mereka melupakan visi utama kedatangan Tuhan Yesus yaitu menyelematkan dunia yang sedang menuju kegelapan abadi ini. Tidak heran jika dalam merayakan Natal mereka merayakan dengan “besar-besaran” dengan berbagai kegiatan, tetapi tidak mempedulikan perasaan Tuhan. Mereka hanya peduli terhadap perasaan mereka sendiri. Tetapi sekarang kita harus mau belajar berdiri sebagai subyek yang sepenanggungan dengan Tuhan. Kita bukan hanya bisa menerima tetapi juga membagi. Adalah sangat naïf kalau kita menyenandungkan lagu Natal, tetapi tidak menyenandungkan lagu pengorbanan seirama dengan Tuhan. Natal adalah bahasa pengorbanan Anak Allah. Di dalam Natal kita bukan saja diajar mengerti kasih-Nya yang menyelamatkan kita tetapi kita juga diajar hidup dalam sepenanggungan dengan Tuhan untuk menggenapi rancana Bapa di dunia yang singkat ini.

Menatap Tuhan Yesus di palungan kita sudah mulai mengerti bahwa Ia datang untuk memikul salib. Saliblah klimaks atau puncak pelayanan. Di sanalah terdapat maksud utama kedatangan Tuhan. Palungan hina merupakan bahasa pengorbanan yang mengawali debut pelayanan-Nya yang menakjubkan. Kandang domba adalah garis start perjuangan pengorbanan-Nya merebut manusia dari tangan setan. Keputusan penting yang harus kita lakukan adalah mengubah diri dari hanya seorang yang menjadi obyek kasih Tuhan, juga berlaku sebagai subyek yang sepenanggungan dengan Tuhan. Dari penerima berkat juga sebagai pembagi berkat. Hendaknya kita tidak putus asa walaupun kita sering gagal melakukan kehendak-Nya, Ia mau mengampuni dan memulihkan kita. Pada saat ini Tuhan hendak memulihkan dan memperbaharui hidup kita kalau kita sungguh-sungguh mau bertobat. Kesempatan ini bisa jadi tidak pernah terulang, oleh sebab itu jangan disia-siakan. -Solagracia-

Keputusan penting yang harus kita lakukan adalah mengubah diri dari penerima berkat juga sebagai pembagi berkat.

Surat Gembala: DIHAJAR UNTUK MENEMUKAN TUHAN

Kedewasaan Ketika menemukan realita dimana orang yang berusaha hidup benar malah menderita terkena pukulan Tuhan, membuat mereka menjadi bingung bahkan frustasi (Mzm. 73:13,16). Sudah berusaha hidup benar malah mendapat tulah dan hukum (Mzm 73:14). Tulah disini dalam teks aslinya adalah naga (עגנ), yang artinya serangan (strike). Serangan ini bisa berupa berbagai keadaan yang tidak menyenangkan sedangkan kata hukum adalah towkechah (הָחֵכוֹתּ) yang artinya adalah rebuke, correction, reproof (tegoran dan koreksi).

Firman Tuhan mengatakan bahwa yang dikasihi oleh Tuhan, ditegur-Nya (Why. 3:19) dan orang yang diterima sebagai anak dihajar-Nya (Ibr. 12:6-11). Orang-orang yang diproses Tuhan menjadi umat pilihan-Nya, pada tingkat kedewasan tertentu, tidak lagi berharap hidup yang nyaman di bumi ini. Mereka harus bersedia untuk diproses menjadi manusia Allah agar dapat diangkat ke dalam kemuliaan Mzm. 73:24). Kadang-kadang sampai situasi hidupnya tidak jelas sama sekali. Justru disini “mesin pembentukan Tuhan berjalan dengan normal”. Situasi seperti ini digambar oleh pemazmur dalam Mazmur 73:21-24. Rupanya pemazmur ini agak keras kepala (Mzm. 73:3,13) sehingga pembentukannya pun juga luar biasa beratnya.

Sebaiknya kita tidak keras kepala sehingga tidak perlu dipukul. Tuhan tidak akan menyakiti kalau seseorang tidak perlu disakiti, tetapi kalau keras kepala maka “terpaksa” harus disakiti sampai dilukai. Bila pembentukan ini lulus, salah satu cirinya adalah mencintai Tuhan lebih dari segala sesuatu. Inilah orang-orang yang menemukan cinta Tuhan. Memang Tuhan mencintai semua orang tetapi tidak semua menemukan cinta-Nya (Mzm. 73:26-27). Orang yang menemukan cinta Tuhan adalah orang yang cintanya ditemukan oleh Tuhan juga. Sebagai tanda atau buktinya adalah selalu mau melakukan kehendak Tuhan guna menyenangkan hati-Nya. Pikiran dan perasaan Tuhan itulah hukumnya atau yang hendak dituruti. Hidup mereka pasti menjadi kudus tidak bercacat dan tidak bercela. Mereka dapat dikatakan sudah menemukan Tuhan dan ditemukan oleh Tuhan.

Menemukan Tuhan berarti menemukan hidup yang dikehendaki oleh Allah. Lebih baik seseorang tidak pernah menjadi manusia daripada menjadi manusia tetapi tidak pernah menemukan Tuhan. Oleh sebab itu kita tidak boleh takut menerima hajaran Tuhan sampai kita menemukan Tuhan. Masa transisi menuju tingkat rohani ini membuat seseorang di dekat Tuhan seperti hewan tidak memiliki keinginan apa-apa kecuali Tuhan (Mzm. 73:25-28). – Solagracia-

Orang yang menemukan cinta Tuhan adalah orang yang cintanya ditemukan oleh Tuhan juga.

Surat Gembala: IDEAL DI HADAPAN BAPA

Kedewasaan Kristen ukurannya adalah bisa mengimbangi Bapa. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus agar kita sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Mengimbangi Bapa artinya bisa sepikiran dengan Bapa. Kalau seseorang bisa sepikiran dengan Bapa barulah bisa mimiliki hubungan yang benar atau ideal dengan Bapa. Inilah yang dimaksud mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Ini bukan hanya berarti kita bisa menjadi manusia saleh atau suci seperti Tuhan tetapi kita bisa dipisahkan dari yang lain untuk menjadi alat Kerajaan Allah yaitu hidup dalam rencana Allah sepenuhnya.

Kalau Tuhan Yesus menjadi Tuhan bagi kemuliian Allah Bapa, kita menjadi hamba bagi kemuliaan Allah Bapa. Berinteraksi dengan Allah Bapa sebagai pribadi yang dewasa akan membuat seorang anak Tuhan menempatkan diri seperti Tuhan Yesus menempatkan diri di hadapan Bapa ketika mengenakan tubuh manusia. Di sini seseorang bisa dikatakan sebagai man of God. Kalau Tuhan Yesus adalah Allah yang menjadi manusia sekarang kita manusia menjadi seperti Allah dalam karakter-Nya.

Oleh sebab itu mengikut Tuhan Yesus berarti mengikuti jejak-Nya. Proses mengikut Tuhan Yesus adalah proses mencetak manusia seperti Kristus. Orang-orang seperti ini adalah buah-buah yang dihasilkan oleh Tuhan Yesus melalui pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan orang-orang yang memberi diri dibentuk dan diproses. Orang-orang seperti ini adalah kebanggan Tuhan Yesus di hadapan Allah Bapa di Surga. Inilah sebenarnya tujuan hidup kekristenan itu. Sampai di sini kita terhisap sebagai saudara bagi Tuhan Yesus dimana Tuhan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Pelayanan pekerjaan Tuhan idealnya dilakukan oleh orang-orang yang berkapasitas atau berkualitas karakternya seperti Tuhan Yesus. Jadi, tidak cukup dengan gelar kesarjanaan atau pengalaman hidup sebagai pengusaha dan kecakapan melakukan marketing untuk membangun sebuah gereja atau pelayanan yang besar. Seorang pelayan Tuhan yang baik tercipta dari sebuah perjalanan panjang seorang anak Tuhan dalam mengenal dan mengerti kebenaran, mengenakan kebenaran dan melalui sebuah proses yang panjang untuk memiliki karakter seperti Kristus. Pelayan Tuhan yang ideal adalah kehidupan seseorang yang bergaya hidup seperti Tuhan Yesus, yaitu orang yang hidupnya hanya untuk melakukan kehendak Allah. – Solagracia –

Pelayanan pekerjaan Tuhan idealnya dilakukan oleh orang-orang yang berkapasitas atau berkualitas seperti Tuhan Yesus.

Surat Gembala: MENYADARI KESALAHAN TERSEMBUNYI

Kalau seseorang bertumbuh dalam kecerdasan roh melalui kebenaran Firman Tuhan, kita akan menyadari setiap kesalahan, bukan hanya yang kelihatan secara moral tetapi hal-hal yang bertalian dengan sikap hati. Kadang kita tidak perlu menjelaskan secara rinci dan lengkap bentuk kesalahan tersebut. Kita hanya berkata: ”Maafkan ketidak patutanku, aku melukai hati-Mu”. Contoh doa yang lain: “Maafkan aku belum menjadi seperti yang Engkau kehendaki”. Tuhan sudah mengerti maksud pengakuan dan penyesalan tersebut. Seakan-akan dan memang demikian bahwa kita sama-sama memahami kesalahan atau keadaan tersebut. Kita juga tidak perlu mendapat pukulan atau hajaran yang tidak produktif bagi pelayanan pekerjaan Tuhan, tetapi rasa bersalah dimana kita kehilangan damai sejahtera sudah sangat menyiksa.

Perasaan bersalah karena melukai hati Tuhan sudah menjadi luka kita sendiri. Itu merupakan hukuman yang sangat menyakitkan. Tentu saja ini hanya terjadi atas mereka yang mengalami proses pendewasaan rohani yang baik. Jika tidak, tentu saja lain ceritanya. Tidak sedikit mereka yang sudah lama menjadi orang Kristen masih melakukan kesalahan yang mestinya hanya dilakukan oleh orang-orang yang belum dewasa rohani atau orang-orang muda. Biasanya orang-orang seperti ini tidak mengalami proses pendewasaan rohani yang baik. Sehingga tidak memahami pikiran dan perasaan Tuhan. Kepada orang-orang seperti ini Tuhan akan berkata: “Aku tidak kenal kamu”.

Sampai pada tingkat tertentu kita akan berhubungan dengan Tuhan sebagai sesama pribadi yang dewasa. Sesama pribadi yang dewasa maksudnya bukan Tuhan yang bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa tetapi kita yang mulai memahami pikiran dan perasaan Tuhan (Fil. 2:5-7; Ef. 4:13). Hal seperti ini sebenarnya juga kita alami dalam hubungan dengan orang tua. Setelah kita dewasa kita bisa berinteraksi dengan orang tua sebagai orang dewasa. Dalam relasi tersebut kita sudah memahami kehendak orang tua kita dan kita bisa menyesuaikan diri dengan kehendaknya.

Demikian pula dalam hubungan dengan Tuhan. Melalui proses pembelajaran kebenaran Firman Tuhan dan pergaulan dengan Tuhan setiap hari kita bisa bertumbuh dewasa dan memahami kehendak Tuhan sehingga bisa membangun jalinan interaksi dengan Tuhan di dalam batin atau suara hati atau nurani kita. Kesalahan-kesalahan tersembunyi yang bersifat batin dapat kita deteksi dengan cepat dan cermat, kemudian kita meminta ampun dengan tulus dan berubah. – Solagracia –

Mengikut jejak hidup Tuhan Yesus adalah panggilan dan tanggung jawab yang tidak boleh dihindari.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29.726 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: