Arsip Penulis: Erastus Sabdono

Pencerahan Setiap Hari

Untuk mengalami pencerahan setiap hari, kita harus terus memiliki kehausan dan kelaparan akan kebenaran.

Pertobatan terhadap sikap hati yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan terjadi manakala pikiran kita dicerahi oleh Roh Kudus yang menuntun kita untuk memahami kebenaran Firman Tuhan. Pencerahan seperti ini dibutuhkan terus menerus, sehingga pembaruan batiniah yang kita alami terjadi berkesinambungan tiada henti.

Pencerahan-pencerahan oleh Roh Kudus seperti inilah yang mengenyangkan jiwa kita. Inilah manna baru dari Tuhan yang selalu segar, bukan manna basi yang bekas kemarin sehingga berulat dan berbau busuk. Seperti Musa yang marah terhadap orang-orang yang melanggar perintah Tuhan agar tidak meninggalkan manna sampai besok paginya, sebetulnya Tuhan juga patut marah terhadap orang-orang yang makan manna basi. Itupun untuk kebaikan umatNya sendiri, sebab jika manna baru memimpin kepada kerajaan Terang, manna basi memimpin orang kepada kerajaan kegelapan yang membinasakan.

Namun manna baru yang diberikan oleh Tuhan Yesus sering dianggap tidak menarik; orang lebih mencari manna basi, yang disampaikan oleh pembicara-pembicara yang tidak memperoleh pencerahan yang benar dari Roh Kudus. Manakala seseorang pembicara merasa sudah puas dengan pemahaman teologi yang telah dicapainya, ia tidak akan mengalami pencerahan. Yang disangkanya pencerahan dari Roh Kudus ternyata datang dari setan yang merasuk melalui virus materialisme. Jemaat pun tidak sadar akan manna basi ini, seab mereka tidak mencari Tuhan; yang dicarinya adalah mukjizat, berkat jasmani dan kemakmuran lahiriah untuk kepentingan dirinya sendiri.

Kalau begitu bagaimana caranya supaya kita mengalami pencerahan setiap hari? Caranya ialah memiliki kehausan dan kelaparan akan kebenaran (Mat. 5:6), yaitu kerinduan untuk mencapai tingkat-tingkat kekristenan yang semakin sempurna dan memuaskan hati Bapa. Rindukan manna yang baru, yaitu kebenaran yang diilhamkan Roh Kudus dalam diri kita.

Kebenaran dari Allah itu selalu baru, dan dapat membangkitkan rasa takjub yang luar biasa, sehingga kita akan mencintai kebenaran itu dan terus memburunya untuk memperoleh yang baru lagi. Suara kebenaran adalah barang langka dan mahal yang tidak bisa didapat di sembarang tempat, dan tidak bisa dibiarkan berlalu. Apabila masa untuk mendengarkan kebenaran itu dilewatkan, kesempatan itu pun berlalu.

Synergeo

Proses pembentukan karakter kita membutuhkan kerjasama Tuhan dan kita dalam segala keadaan dan kejadian yang kita alami.

Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus menyangkut proses yang berlangsung dalam diri kita. Tetapi sebelum kita membahas proses tersebut, sebelumnya kita harus mengetahui dan mempercayai prinsip yang terpenting, bahwa keselamatan hanya ada di dalam Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada jalan lain di luar karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Tidak ada peluang untuk mempercayai ada keselamatan di luar Kristus.

Setelah itu, kita harus memahami titik berat proses keselamatan. Dewasa ini banyak orang yang menganggap titik berat keselamatan adalah bahwa Tuhan Yesus menyelesaikan semua masalah dalam hidup ini, seperti kemiskinan, sakit penyakit, pekerjaan, jodoh, dan sebagainya. Ini pandangan yang keliru dan menyesatkan. Harus ditegaskan bahwa proses keselamatan tidak menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan pembentukan karakter (character building) (Roma 14:17). Oleh karena itu, pelayanan gereja yang menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan jasmani sejatinya menyesatkan, sebab akan sangat menghambat usaha Tuhan mengembalikan manusia pada rancangan semula, membentuk manusia seperti yang dikehendaki-Nya.

Proses keselamatan, yakni pembentukan karakter ini merupakan suatu proses yang membutuhkan waktu, sebab mustahil seseorang mendadak menjadi sempurna. Ini berarti proses keselamatan berlangsung melalui segala keadaan dan kejadian yang dialami seseorang dan terjadi dalam keterlibatan Tuhan. Oleh sebab itu dibutuhkan kerja sama atau usaha dua pihak – Tuhan dan kita – untuk mewujudkannya.

Perlu diketahui bahwa kata “turut bekerja” dalam Roma 8:28 adalah synergeo yang merupakan gabungan dua kata, syn yang berarti “bersama” dan ergon yang berarti “bekerja”. Synergeo berarti “bekerja sama” atau “bekerja sebagai mitra untuk mencapai tujuan bersama”. Dari kata inilah kita mengenal kata modern sinergi, yang mengalami penyempitan makna sebagai “bekerja sama untuk memperoleh hasil gabungan yang lebih tinggi daripada jumlah hasil jika masing-masing pihak bekerja sendiri”. Jadi jelas bahwa Allah tidak bekerja sendiri dalam hal ini; kita pun harus ikut terlibat. Pengharapan kehidupan di dunia ini hanyalah Kerajaan Surga. Hidup di dunia ini hanyalah persiapan untuk kehidupan di dunia yang akan datang, seperti persemaian. Kita disemai untuk kehidupan yang akan datang, yang merupakan tujuan kita. Fokuskan diri kita untuk meraihnya dengan bekerja sama dalam proses keselamatan.

Saat yang Menentukan

Jikalau kita mau menerima mahkota kebenaran abadi, kita harus mau berjuang dalam perjuangan iman yang benar.

Kesempatan demi kesempatan diberikan Tuhan untuk meraih berkat rohaninya. Kesempatan itu bukan hanya berupa hal-hal yang menyenangkan kita, sebab supaya kita menjadi pribadi seperti yang dikehendaki Bapa, Ia menggunakan hal-hal yang menyenangkan dan menyakitkan guna membentuk kita. Itu baik bagi kita berdasarkan pandangan-Nya.

Contohnya, kesempatan bagi seseorang belajar rendah hati muncul saat Tuhan mengizinkannya dihina orang. Untuk belajar memiliki kesabaran dan kelemahlembutan Kristus, Tuhan mengizinkannya mendapatkan serangan, fitnah dan perlakuan tidak adil lainnya. Untuk belajar hidup kudus, Tuhan mengizinkannya diperhadapkan dengan kemungkinan untuk berbuat dosa atau memuaskan hasrat daging dan matanya.

Berarti jikalau kita mau menerima mahkota kebenaran abadi, kita harus mau berjuang dalam perjuangan iman yang benar. Kita harus mengejar kecemerlangan iman seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus, yaitu memperoleh perkenanan Bapa di Surga. Jangan seperti yang dilakukan oleh sebagian orang Kristen yang mengejar pemuasan hasrat ambisi dan kesenangan dunia.

Hal ini paralel dengan kehidupan manusia pada umumnya. Jika pada usia muda seseorang bekerja keras, studi, berkarier dan mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka ketika memasuki hari tuanya, ia sudah bisa memetik apa yang telah ditanamnya. Ia tidak perlu mengalami penderitaan lagi; ia bisa menikmati hari tuanya dengan indah mempersiapkan diri masuk ke dalam Kerajaan Bapa. Momentum masa muda ketika harus studi dan membangun karier tidak bisa terulang lagi. Momentum itu terbatas waktunya. Kesempatan mengumpulkan harta di Surga juga terbatas. Ada saat nanti tatkala orang mengetuk pintu Surga dan Tuhan berkata, “Aku tidak kenal kamu!

Kalau sekarang Tuhan memberi kesempatan untuk bertobat dan diperbaharui oleh Firman-Nya, maka kalau kita menyia-nyiakannya, kesempatan itu hilang untuk selama-lamanya. Kalau Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk melayani pekerjaan-Nya tetapi kita tidak menghargainya, maka sampai selama-lamanya kita akan bersama Iblis dalam Kerajaan Kegelapan. Memilih untuk tinggal dalam Kerajaan Terang atau Kerajaan Kegelapan adalah saat ini juga. Saat inilah yang menentukan, tak bisa ditunda pada kesempatan lain; sebab begitu kita menutup mata untuk selamanya, tidak ada kesempatan lagi.

Menemukan dunianya sendiri

Sebagai pengikut Yesus, sudahkah kita menemukan dunia yang diberikan Tuhan untuk kita jalani ?

Nuh pada zamannya pasti dianggap seakan-akan seorang “autis” yang asyik dengan dunianya sendiri. Autisme maksudnya adalah gangguan perkembangan mental pada seseorang yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginan, sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu. Nuh tidak dimengerti oleh orang-orang di zamannya; ia pun tentu frustrasi, tidak bisa memahami kebodohan mereka. Tetapi walaupun tidak diterima oleh orang-orang di sekitarnya, Nuh tetap teguh berdiri pada integritasnya.

Nuh telah menemukan dunianya sendiri, dunia yang Tuhan berikan untuk dijalaninya. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan orang yang berjalan dengan Tuhan. Perintah Tuhan untuk membuat bahtera telah merenggut kehidupan Nuh. Ia kehilangan hidup wajar seperti yang dijalani orang pada umumnya, yang mestinya dijalaninya kalau saja Tuhan tidak memerintahkannya untuk membangun bahtera. Tetapi ia mau menjalani dunia yang diberikan Tuhan itu, sebab itulah cara satu-satunya untuk menggenapi rencana Allah dan menyelamatkan diri dari penghukuman Tuhan. Nuh harus membayar ketaatannya dengan harga itu. Dalam perjalanan hidupnya, bisa saja Nuh mengalami keraguan terhadap Tuhan dengan perintah yang tidak masuk akal itu. Tetapi hingga akhirnya Nuh taat dan setia sampai rencana Allah digenapi; dirinya dan keluarganya selamat.

Hal ini mirip dengan apa yang terjadi pada pelayanan Tuhan Yesus. Ia meratapi Yerusalem dan berkata, “Yerusalem, Yerusalem… Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Sebagian besar orang Yahudi telah menolak Anak Allah. Hanya segelintir orang yang mau mengikut Dia; segelintir orang itu adalah murid-murid-Nya.

Di zamannya,murid-murid Tuhan Yesus dianggap bodoh. Fanatismenya mereka terhadap Tuhan Yesus dianggap keterlaluan. Tetapi seperti Nuh, murid-murid Tuhan Yesus telah menemukan dunianya sendiri. Mereka pun tetap setia. Tuhan Yesus pernah menguji agar mereka meninggalkan diri-Nya seperti orang banyak meninggalkan Dia, tetapi murid-murid tetap pada pendiriannya ( Yohanes 6:67-68 ). Hari ini mereka sudah ada di tempat di mana Tuhan Yesus menyediakan Firdaus, kebahagiaan yang tiada taranya. Ternyata penderitaan yang mereka alami tidaklah sebanding dengan kemuliaan yang mereka terima ( Roma 8:18 ).

Bejana Hati

Bejana hati kita hanya bisa dipenuhi oleh Tuhan, dan itu nyata dari prinsip hidup hanya untuk melakukan kehendak-Nya.

Banyak orang Kristen merasa sudah memiliki Tuhan Yesus dalam hidupnya, padahal sebetulnya belum. Betapa terkejutnya saat berhadapan dengan Tuhan Yesus nanti, mereka mendengar Tuhan dengan terus terang berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu.” Artinya, “Aku tidak pernah menikmatimu, Aku tidak berkenan kepadamu, sebab Aku tidak menemukan dirimu melakukan kehendak-Ku.”

Ironis dan menyedihkan sekali manakala orang yang sudah melakukan banyak mukjizat, bernubuat dan mengusir setan akhirnya ditolak oleh Allah. Ingat, bukan orang yang memanggil Dia Tuhan bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa. Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Lukas 13:24).

Melakukan kehendak Bapa membutuhkan suatu syarat, yaitu mengosongkan bejana hati kita dari segala keinginan, dan menggantikannya dengan prinsip hidup “melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yohanes 4:24). Bejana hati manusia itu seperti sumur yang tidak memiliki dasar. Mau diisi air seberapapun banyaknya, pasti akan lenyap; tak ubahnya membuang garam ke laut.

Bejana hati manusia selalu haus akan berbagai hasrat, keinginan dan cita-cita. Ini sudah menjadi hal yang dianggap normal dan wajar bagi manusia. Setiap hari, manusia harus “menimba air” untuk berusaha mengisi bejana hati tersebut, tetapi keesokannya pasti akan haus lagi (Yohanes 4:15). Tetapi sebagai orang percaya, Tuhan Yesus memberikan air hidup kepada kita, sehingga dengan menyediakan bejana hati kita untuk dipenuhi oleh-Nya, kita tidak akan haus lagi untuk selama-lamanya. Justru dalam diri kita akan tumbuh mata air yang terus menerus memancarkan air hidup Tuhan sampai kepada hidup yang kekal (Yohanes 4:14).

Dengan ini kita mengerti bahwa dahaga atau kekosongan rongga hati yang ada dalam diri manusia hanya bisa dipenuhi oleh Tuhan sendiri. Tak bisa dipenuhi dengan mencoba memuaskan hasrat dan keinginan kita. Keinginan yang tak ada habisnya tidak akan memberi ruang bagi bejana hati kita untuk bisa diisi dengan segala sesuatu yang berasal dari Bapa. Tentu ini menjadi kecelakaan fatal dalam kehidupan kita, sebab kita tidak dapat mengerti apakah kehendak Bapa itu, apalagi melakukannya. Kesediaan seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat nyata pada kesediaan melakukan segala kehendak Bapa, dan itu dibuktikan dengan kerelaan menyediakan bejana hati kita diisi oleh Tuhan.

Dapat Didewasakan

Orang yang hidup menurut roh dapat memiliki kembali keberadaan seperti sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, dan dapat didewasakan hingga sempurna

Mungkin selama ini kita berpikir, sesudah percaya kepada Tuhan Yesus, otomatis kita sudah tidak bisa dikuasai lagi oleh Iblis dan dosa. Sesungguhnya tidak sesederhana itu, sebab kemerdekaan dalam Kristus adalah kemerdekaan yang bertanggung jawab.

Rasul Paulus mengingatkan kita seperti dalam Galatia 5:1, bahwa Kristus sudah memerdekakan kita, berarti kita harus sungguh-sungguh merdeka, dan untuk tetap hidup dalam kemerdekaan itu, kita harus hidup terlepas dari cengkeraman kuasa dosa sama sekali, tidak mau diperhamba lagi olehnya.

Pembebasan Tuhan Yesus atas kita dari cengkeraman Iblis dan dosa memanggil kita untuk hidup menurut roh. Bagi umat Perjanjian Baru, hidup menurut roh mutlak harus dilakukan, sebab orang yang hidup menurut daging tidak mungkin memperoleh perkenanan Allah (Roma 8:8).

Hidup menurut daging bukan berarti selalu melakukan dan menghasilkan hal-hal yang bertentangan dengan hukum moral yang berlaku di masyarakat. Orang yang hidup menurut daging tidak selalu hidup tidak beradab dan tidak mengenal norma manusia. Melalui pendidikan moral, agama dan berbagai filsafat yang baik bisa menghasilkan manusia yang baik pula.

Hukum Taurat itu baik, tetapi tetap saja bersifat daging. Manusia yang berusaha melakukan hukum Taurat akan menjadi manusia yang baik, tetapi masih hidup menurut daging, sebab jika kita mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat, kita hidup di luar anugerah Allah (Galatia 5:4).

Karena itu hidup menurut roh adalah hidup mengikuti Roh (Gal. 5:25), yaitu kehidupan di dalam anugerah Allah, yang bisa mencapai kesucian yang diinginkan oleh Bapa, yaitu berkarakter Kristus. Orang yang hidup menurut roh dapat memiliki kembali keberadaan seperti sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, dan dapat didewasakan hingga sempurna.

Jadi jangan sia-siakan anugerah Tuhan agar kita bisa hidup menurut roh. Ini tidak bisa dilakukan oleh umat Perjanjian Lama, sebaik apapun mereka. Umat Perjanjian Lama tidak dipanggil untuk sempurna; panggilan untuk sempurna hanya bagi kita yang hidup pada zaman Perjanjian Baru. Itulah sebabnya mengikut Tuhan Yesus bukanlah sesuatu yang mudah. Justru setelah menjadi orang percaya, hidup kita menjadi terasa lebih berat, karena harus belajar hidup menurut roh. Tetapi sekalipun berat di dunia ini, kita memperoleh pembenaran yang kita harapkan.

Belajarlah mati !

Mengakhiri kehidupan lama kita merupakan respon kita terhadap anugerah Allah yang sangat mahal

Tidak ada hal yang lebih membahagiakan hati Tuhan selain kesediaan mengakhiri kehidupan ini. Apa maksudnya? Jangan curiga dulu. Mengakhiri kehidupan di sini bukan mati secara jasmani sehingga harus dikubur di pemakaman. Mengakhiri kehidupan maksudnya adalah kesediaan menanggalkan kehidupan yang lama, dan memiliki kehidupan yang benar-benar baru sesuai dengan standar kehidupan anak-anak Allah.

Kehidupan seperti ini telah diperagakan oleh Tuhan Yesus semasa hidupnya di bumi ini dengan tubuh seperti kita dua ribu tahun yang lalu. Kita harus meneladani bukan cara berpakaian dan budaya lahiriah-Nya, melainkan isi atau esensi hidup-Nya. Isi hidup-Nya adalah “melakukan kehendak Bapa” (Yohanes 4:34). Ini bukan suatu hal yang sederhana, sebab kesediaan untuk melakukan kehendak Bapa membuat seseorang harus kehilangan sama sekali ambisi dan hasrat pribadinya yang dipeliharanya sebelum ia mengenal Tuhan.

Setelah menyatakan kesediaan untuk mengakhiri kehidupan, kita harus bersedia mempelajari kebenaran Firman Tuhan yang murni. Dari kebenaran Firman Tuhan itulah kita memahami bagaimana menjalankan roda kehidupan “setelah kematian kita”. Seraya belajar kebenaran Firman Tuhan yang memberi petunjuk bagaimana menyelenggarakan hidup baru itu, kita masih harus berjuang menghadapi desakan keinginan lama yang masih bercokol menuntut untuk dipuaskan. Di sini kita harus belajar mematikan diri. Doanya bukan lagi minta ini, minta itu, tetapi “Matikan aku Bapa, agar aku dapat menghayati kehidupan Putra-Mu di dalam diriku”. Bila ini terwujud, maka kehidupan kita akan memuaskan hati Bapa.

Bila kita memasuki proses kematian daging dan mengenakan kehidupan baru sesuai dengan InjilNya, barulah kita mengerti bagaimana hidup sebagai anak tebusan. Itulah kehidupan anak-anak Allah yang sah, yang juga dinyatakan sebagai pangeran-pangeran Kerajaan Surga atau bangsawan-bangsawan Surgawi. Kehidupan baru yang kita jalani merupakan upaya untuk mengalirkan darah aristokrat Surgawi, darah biru Kerajaan Surga. Sungguh suatu anugerah, kalau kita manusia berdosa yang sebelumnya terbuang dari hadirat Allah diperkenankan menjadi anak-anak-Nya yang mewarisi kemuliaan bersama dengan Putra TunggalNya, Tuhan Yesus Kristus. Harga anugerah ini sangat mahal, tetapi telah lunas dibayar Kristus di kayu salib. Untuk meresponi anugerah ini juga sangat mahal, yaitu segenap hidup kita. Semua itu demi keselamatan dan kebahagiaan kita, umat yang sangat dicintai-Nya. Tuhan tidak mencari keuntungan apa-apa; kitalah yang akan diuntungkan. Mengapa kita menolak? Oleh sebab itu melangkahlah untuk mulai bertobat dan memasuki hidup baru dalam Tuhan. Orang yang takut bertobat adalah orang yang takut menghadapi kematian, tetapi orang yang mau bertobat dan hidup dalam kesucian pasti tidak takut menghadapi kematian. Padahal kematian harus dimulai sejak kita masih hidup di bumi ini: menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

Video TRUTH Edisi 25

Menggadaikan hidup kepada dunia

Kalau sampai akhirnya ternyata hidup kita belum ditebus kembali, berarti hidup kita dimiliki oleh kuasa kegelapan selamanya.

Orang yang rela kehilangan hidupnya demi keselamatan jiwanya akan memperoleh hidup di Kerajaan Bapa di Surga, tetapi mereka yang tidak berani mempertaruhkan hidupnya tidak akan memiliki hidup di Kerajaan Bapa di Surga. Lebih banyak orang yang memilih opsi yang kedua ini, sebab jauh lebih banyak orang yang hidup hanya untuk keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Orang-orang seperti ini seperti menggadaikan hidupnya kepada dunia. Akhirnya mereka akan binasa.

Menggadaikan hidup untuk dunia merupakan sikap yang menolak kasih Bapa ( 1 Yohanes 2:15-16 ). Dalam hal ini, Firman Tuhan tegas berkata, “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” ( 1 Yohanes 2:17 ). Mereka tidak merasa bersalah, sebab rata-rata manusia memang demikian : hidup dengan cara mengisi pikirannya dengan segala keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Mereka tidak menduga bahwa tindakan mereka adalah tindakan yang membinasakan dirinya sendiri.

Kepada semua manusia, Iblis menawarkan keindahan dunia agar manusia menggadaikan dirinya. Tawaran ini disambut banyak orang, sebab faktanya banyak orang yang hidupnya telah tergadai. Di lain pihak orang yang berusaha melakukan kehendak Allah adalah orang yang menyerahkan hidupnya bagi Tuhan. Ia telah menempatkan hatinya di dalam Kerajaan Surga ( Matius 6:21 ).

Kita tahu, Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk membebaskan manusia. Tetapi setelah dibebaskan, manusia harus memilih : menyerahkan hidupnya bagi Tuhan, atau bagi dunia. Mestinya kita memberikan segenap hidup kita bagi Tuhan, sebab setelah dibebaskan-Nya, berarti dengan menyerahkan hidup kita kepada-Nya, kita mengembalikan hidup kita kepada-Nya, kita mengembalikan hidup kita kepada Sang Pemilik, bukan menggadaikan. Tetapi jika kita memberikan diri untuk dunia, artinya kita menggadaikan hidup kita.

Selama kita masih hidup di dunia ini, masih ada kesempatan untuk bertobat agar menebus kembali hidup yang digadaikan kepada dunia itu. Kalau sampai akhirnya ternyata hidup kita belum ditebus kembali, berarti hidup kita dimiliki oleh kuasa kegelapan selamanya. Mari menebus kembali hidup kita yang digadaikan dengan cara bertobat dan mengubah cara hidup kita agar sesuai dengan kehendak-Nya. Keselamatan dari Kristus memungkinkan kita kembali dimiliki oleh Tuhan dan menjadi anggota Kerajaan-Nya. Ia telah menebus hidup kita, jadi kalau kita gadaikan lagi, segeralah tebus kembali selama masih ada kesempatan.

Seluk-Beluk Kutuk

TRUTH Edisi 25: "Seluk-Beluk Kutuk"Pertanyaan yang sering diajukan orang, “Apakah saya dikutuk Tuhan?” Alasannya rupa-rupa: gagal berbisnis terus-menerus, bangkrut dan rugi dalam usaha apa pun, suami berjudi, istri selingkuh, tidak punya rumah, sakit tidak sembuh-sembuh, jomblo berkepanjangan, nikah tidak punya anak, dan sebagainya.

Beberapa hamba Tuhan menyarankan doa puasa dan pelepasan. Ada yang mengatakan, kutuk itu datang sebab di rumah orang tersebut ada foto candi, ada guci antik dari Cina, ada patung dari Bali. Ada juga yang balas bertanya, “Brur sudah kasih persepuluhan belum?” Dan bisa-bisa itu dosa orang tua atau kakek yang menimbulkan kutuk turunan, sebab Tuhan membalaskan kutuk sampai keturunan keempat.

Dunia memang memandang bahwa tolok ukur berkat adalah kelimpahan jasmani, kesenangan duniawi dan kecantikan badani. Kurang dari itu, berarti ada sesuatu yang tidak beres dengan kita sehingga Tuhan marah dan mengutuk dengan teganya.
Apakah Alkitab menggambarkan kutuk dengan cara demikian dan apakah kutuk seperti itu masih bisa menimpa kita, orang percaya? Tidakkah kita sadar bahwa melakukan segalanya demi menimbun berkat duniawi terus-menerus dan melupakan pengenalan akan Tuhan, kehendak-Nya dan kerajaan-Nya dapat berujung pada kutuk kekal, yaitu terpisah dari Tuhan selama-lamanya? Mau dapat berkat malah dapat kutuk.

Dalam edisi ini, TRUTH menyajikan tinjauan Alkitabiah mengenai seluk-beluk kutuk. Apakah kutuk itu? bagaimana kutuk dilepaskan? Jika Alkitab mengatakan bahwa orang yang tidak mengasihi Tuhan adalah orang terkutuk, apa maksudnya mengasihi Tuhan? Bisakah orang percaya jatuh dan murtad sehingga terkena kutuk kekal? Kutuk-mengutuk juga pernah terjadi dalam sejarah gereja. Untuk belajar dari masa lalu dan tidak mengulangi kesalahan, TRUTH memuat kisah sejarah tersebut.
Satu rubrik baru kami unggah pula mulai edisi ini, yaitu TRUTH Tech yang membahas hal-hal yang patut diketahui orang percaya di era teknologi informasi ini, agar dapat memanfaatkan teknologi dan bukan sebaliknya malah dimanfaatkan teknologi. Harapan kami, TRUTH dapat menjadi sahabat Saudara untuk mengetahui, mana yang sehat dan mana yang sesat, serta memilah mana yang berkat dan mana yang kutuk.

Dapatkan Majalah TRUTH Edisi 25, “Seluk-Beluk Kutuk” dengan menghubungi:

Rehobot Literature
Gedung Roxy Square Lt. 3, Jl. Kyai Tapa No. 1
Jakarta 11450
Indonesia

Telepon: +62-21-5695 4546 ext. 30, +62-21-68 70 7000, 08 7878 70 7000
Email: info@truth-media.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 780 pengikut lainnya.