Surat Gembala: MENGIKUT TUHAN YESUS

KESALAHAN FATAL dalam kekristenan adalah ketika menawarkan jalan mudah. Mengapa demikian? Harus kita pahami bahwa kristen artinya pengikut Kristus, sebagaimana julukan itu diberikan bagi para pengikut ajaran Kristus di Antiokia. Mereka semua tersebar setelah penganiayaan Stefanus, akan tetapi walaupun di tengah-tengah aniaya mereka tetap memberitakan Injil Tuhan Yesus (Kis. 11:20-26). Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kehilangan harta, keluarga bahkan nyawa. Tepatlah apa yang dikatakan Tuhan Yesus bahwa, “Barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya (Mat.16:25). Jelas sekali bahwa kekristenan senyawa dengan “penderitaan” (Flp. 1:29, 2 Tim.1:8). Tidak banyak orang mau mengambil resiko ini dan orang lebih tertarik kepada ajaran yang memberikan tawaran berkat dan kenikmatan hidup sesaat (80th). Tidaklah heran jika orang kristen seperti ini akan mudah pindah agama.
Pengiringan kita kepada Tuhan Yesus adalah dalam rangka menderita mengikuti jejak dan keteladanan-Nya (1Pet.2:21). Hidup Kristus sepenuhnya bagi Bapa-Nya bukan untuk diri-Nya sendiri (Yoh. 4:34). Sejatinya, orang yang mau mengikut Tuhan Yesus harus berani napak tilas jejak Kristus, artinya harus berani menjalani segala sesuatu yang Kristus kerjakan. Ketaatan-Nya membawa-Nya kepada tiang salib sampai ajal menjemputnya. Ironis jika hari ini ketaatan kepada Tuhan diimingiming dengan upah berkat jasmani. Ketaatan Tuhan Yesus telah membawa penderitaan sepanjang hidup-Nya ketika di bumi ini, tetapi kemuliaan Ia peroleh dari Bapa setelah kematian-Nya di kayu salib sebagai perwujudan dari visi-Nya yaitu menyelesaikan pekerjaan Bapa-Nya untuk mengangkut dosa dunia (Yoh. 1:29).
Umat percaya banyak ditipu oleh pemahaman bahwa menjadi kristen sudah otomatis menjadi pengikut Krsitus, akibat dari pemahaman ini adalah, umat terjebak ke dalam kegiatankegiatan agamawi saja. Mengikut Tuhan telah digantikan dengan rajin mengikuti kegiatan gerejawi, aktif dalam kegiatan persekutuan-persekutaun doa dan sebagainya sehingga lupa tugas pokok panggilan sebagai pengikut Kristus yaitu sempurna seperti Bapa (Mat.5:48). Mengapa harus sempurna? Karena Bapa yang disurga adalah sempurna. Apa yang dimaksud sempurna? Dalam teks Yunani kata sempurna menggunakan kata τέλειος, teleios yang berarti lengkap, dewasa secara mental, moral dan karakter. Tidak ada orang tua di muka bumi ini yang menyerahkan perusahaanya kepada anak yang tidak siap memimpin, oleh karena itu segala upaya dilakukan untuk mendewasakannya. Mulai dari makan, kesehatan dan pendidikannya pasti dipersiapkan dengan baik. Apalagi Bapa yang di surga, kerajaan-Nya bukanlah negeri korup yang bisa disuap, segala sesuatunya sempurna, tentunya Ia menghendaki anak-anak-Nya pun sempurna dan Tuhan Yesus-lah rujukannya.
Banyak orang berpikir bahwa ikut Kristus maka segala sesuatunya akan dibereskan, ini salah! Mungkin ada yang bertanya, bagaimana dengan pernyataan …Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskianan-Nya (2Kor. 8:9). Kemiskinan di situ berbicara bagaimana Kristus telah meninggalkan kemuliaan surga agar kita dimungkinkan kembali memperoleh kemuliaan kita yang telah hilang bersama dosa Adam (Flp. 2:6-8, Rm. 3:23).
Pengiringan kita kepada Kristus jika tidak kita sertai dengan kemauan untuk melakukan apa yang Ia lakukan adalah sebuah jalan gelap menuju kepada kebinasaan kekal. Amin

Surat Gembala: PELUANG UNTUK BERDOSA

ISTILAH BAPTIS PERTAMA KALI muncul ketika Naaman menyelam di sungai Yordan dengan menggunakan kata taval dari bahasa Ibrani yang memiliki arti, diselam atau dicelup. (2Rj. 5:14). Bagi bangsa Yahudi, baptis adalah upacara untuk menandai masuknya bangsa non Yahudi ke dalam bagian agama Yahudi yang dikenal dengan istilah proselit. Mereka harus disunat, dan menjalankan Taurat dan berkorban untuk YAHWE. Pada prinsipnya, baptisan adalah sebuah komitmen untuk memasuki gaya hidup yang baru. Baptisan ini dilakukan sampai pada zaman Yohanes pembaptis, tetapi sangat disayangkan jika ternyata bangsa Yahudi sendiri telah bergeser dari makna baptis itu sendiri dimana mereka terjebak kepada seremonial ibadah saja. Oleh karena itu sangatlah beralasan jika Yohanes pembaptis berkata, “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan,” (Mat. 3:6).
Tuhan Yesus tidak pernah membaptis, hanya murid-murid-Nya saja yang melakukan, dan itupun masih sama dengan baptisan Yohanes yaitu baptisan pertobatan (Yoh. 4:2). Setelah kebangkitan-Nya barulah Ia memberikan penegasan bahwa baptis harus dilakukan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Baptisan dalam kekristenan melambangkan kematian. Seorang yang memberi diri dibaptis sama artinya bahwa dirinya telah mati dari gaya hidup anak dunia dan hidup baru dengan mengenakan gaya hidup Kristus. Kepercayaan terhadap baptisan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, harus disertai dengan kesediaan untuk hidup sebagai warga kerajaan Surga dimana kehendak Allah sebagai hukumnya.
Kerelaan Tuhan Yesus untuk dibaptis oleh Yohanes merupakan wujud bahwa diri-Nya taat terhadap hukum agama, dan hal itu juga harus dilewati oleh setiap orang percaya. Tetapi harus dipahami bahwa standar hidup orang percaya adalah sempurna, artinya mampu hidup sesuai dengan kehendak Bapa seperti yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Peluang dosa adalah sarana bagi kita untuk menunjukkan bahwa kita adalah orang yang sudah mati dari dosa. Tuhan Yesus telah menunjukkan kemenangan-Nya dalam melawan kehendak dosa (1Ptr. 2:22). Kemenangan Tuhan Yesus bukanlah sebuah sandiwara yang diatur oleh sebuah skenario yang diakhiri dengan happy ending, tetapi benar-benar sebuah usaha dan kerja keras yang Ia lakukan. Kematian-Nya terhadap dosa dan kebangkitan dari maut telah mengantarkan Ia untuk kembali menduduki takhta-Nya dan memerintah jagad raya yang telah Ia ciptakan (Rm.6:10, Flp. 2:11). Oleh karena itu sangat berdasar jika Dia berkata, “Barangsiapa menang ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas tahta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersamasama dengan Bapa-Ku di atas takhta- Nya.” (Why. 3:21).
Setiap kita, pasti memiliki peluang untuk berdosa, yaitu tidak melakukan kehendak Bapa. Tuhan Yesus pun memiliki peluang yang sama dengan kita, tetapi Ia memilih untuk tidak berdosa. Ia telah membuktikannya dalam kematian- Nya. Inilah titik dimana Ia tidak bisa balik sebagai manusia lagi (point of no return). Dari apa yang Tuhan Yesus telah lakukan, dapat kita ambil pelajaran yang sangat berharga yaitu, bahwa hanya satu target hidup yaitu, melakukan kehendak Bapa, bukan sekadar melakukan hukum dan perintah Tuhan saja. Melihat betapa agungnya kemuliaan yang hendak Tuhan berikan dibalik kematian terhadap dosa maka setiap peluang dosa yang datang hendaknya kita jadikan kesempatan emas untuk meraih janji-janji Tuhan, yaitu memerintah bersama Dia dikekekalan. Amin.

Surat Gembala: MENINGGALKAN KEMAPANAN

PADA UMUMNYA MANUSIA hidup di dunia ini merindukan dan membutuhkan hidup yang mapan. Standar hidup kemapanan masing-masing orang berbeda. Hal ini sangat ditentukan oleh filosofi hidupnya, artinya pengertian nilai-nilai (value) yang dibangun sejak kecil. Dalam hal ini yang paling banyak berperan mewarnai filosofi hidup seseorang adalah keluarga, lingkungan dan pendidikan. Sekarang ini oleh karena perkembangan teknologi, transportasi dan komunikasi (di dalamnya termasuk internet) maka banyak pengaruh dari luar lingkungan dekat yang ikut mewarnai filosofi hidup seseorang. Tidak bisa dibantah bahwa apa yang banyak diserap oleh anak manusia hari ini adalah filosofi manusia yang fasik, yang menggiring mereka kepada kehidupan yang semakian jauh dari persekutuan dengan Tuhan.
Pada umumnya kemapanan hidup seseorang ditopang oleh terpenuhinya kebutuhan finansial, sebab dengan finansial yang “memadai” mereka merasa terjamin. Inilah yang membuat seseorang selalu bergerak tiada henti untuk mencapai apa yang ditargetkannya. Dan target tersebut hampir selalu bergerak, sebab pada umumnya orang tidak puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Mekanisme hidup seperti ini membelenggu seseorang dalam kesibukan hidup yang tiada henti sampai saatnya ia masuk kuburan. Biasanya mereka melupakan kehidupan yang akan datang di langit baru dan bumi yang baru (Luk. 12:16-21).
Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia merusak kemapanan hidup menurut konsep manusia pada umumnya. Tuhan Yesus menarik Petrus keluar dari kehidupannya sebagai nelayan. Tuhan juga mengambil anak-anak Zebedeus, yaitu Yohanes dan Yakobus untuk meninggalkan jala dan bisnis orang tuanya yang tergolong cukup berada. Tuhan Yesus juga menarik Lewi untuk meninggalkan meja cukainya dan menjual semua hartanya, membagikan kepada orang miskin dan mengikut Tuhan Yesus (Mat. 19:21). Tuhan Yesus sebenarnya juga menarik Nikodemus keluar dari ruang nyaman dan mapannya sebagai tokoh agama pada zamannya. Tetapi Nikodemus lebih mengasihi “nyawanya”. Dalam sejarah gereja, ada orang-orang besar yang ditarik dari hidup kemapanannya, seperti Agustinus, Dr. Jhon Sung (Song Shang Jie, yang dikenal sebagai obor Allah di Asia) dan lain sebagainya.
Memang kita tidak menjadi orang-orang sehebat tokoh di atas tetapi bagaimana pun kita harus meninggalkan kemapanan hidup kita. Tuhan Yesus berkata: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:58). Pernyataan Tuhan Yesus ini menunjukkan ketidakmapanan hidup-Nya di bumi. Juga Paulus dengan pernyataannya yang sangat luar biasa: ”Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situselain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (Kis. 20:22-24). Abraham sebagai Bapa orang percaya, pergi meninggalkan Ur-kasdim untuk mengembara menuju negeri yang Tuhan akan tunjukkan, hal ini menunjukkan kehidupannya yang tidak mapan. Alkitab katakan bahwa ia hanya tinggal di kemah, walaupun di negeri asalnya ia sudah menempati rumah permanen. Semua itu terjadi dalam kehidupan orang percaya, agar orang percaya memfokuskan diri pada Kerajaan Surga. Orang percaya harus mulai memindahkan hatinya ke surga sekarang, bukan nanti setelah mati, sebelum mati kita harus sudah memindahkannya.

Surat Gembala: PHILOTIMEOMAI

FAKTA YANG TIDAK dapat dibantah adalah bahwa seseorang bisa menolak pimpinan Roh Kudus. Jika seseorang yang dipimpin Roh Kudus tidak bisa menolak pimpinan-Nya, maka tidak perlu pembiasaan untuk hidup menurut kehendak Roh Kudus. Pembiasaan tersebut menunjukkan bahwa seseorang harus berlatih untuk hidup sesuai dengan kehendak Roh Kudus. Dalam berlatih atau belajar membiasakan diri hidup sesuai dengan kehendak Roh Kudus, kehendak bebas seseorang harus digunakan dengan maksimal agar bisa hidup sesuai dengan kehendak Allah. Hendaknya kita tidak berpikir kalau seseorang dipimpin Roh Kudus, maka ia tidak bisa menolak atau memberontak terhadap pimpinan-Nya.
Jika seseorang tidak bisa menolak atau memberontak terhadap pimpinan-Nya berarti manusia menjadi “robot” dan kehilangan kebebasan memilih. Firman Tuhan mengatakan bahwa jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh. Kata “jika kita hidup oleh Roh “dalam teks aslinya adalah ei zomen pneumati (eἰ ζῶμεν πνεύματι). Hidup oleh Roh berarti telah memiliki pimpinan Roh atau sudah dibaptis oleh Roh Kudus atau sama dengan telah memiliki potensi untuk hidup sesuai dengan kesucian Allah. Kata dipimpin atau memimpin dalam teks aslinya adalah stoikheo (στοιχέω). Kata ini selain berarti berjalan seirama juga berarti setuju dengan (agree with) dan mengikut (follow). Dalam kata stoikomen tersebut terdapat unsur adanya pihak-pihak yang harus berjalan seirama atau sinkron, seperti sebuah proses barisberbaris. Dalam hal ini Roh Kudus tidak mengatur kaki hidup (kehendak) kita untuk seirama dengan diri-Nya. Kita sendiri yang harus mengatur kaki hidup kita untuk seirama dengan kehendak Roh Kudus. Inilah proses sinkronisasi, kita sendiri yang harus menyesuaikan diri terhadap kehendak Roh Kudus, bukan sebaliknya.
Bagaimanapun, manusia tidak pernah kehilangan kehendak bebasnya, sebab manusia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Paulus sendiri -walau sudah menjadi rasul tetap berusaha untuk berkenan kepada- Nya. Untuk berkenan kepada Tuhan, kita harus mengusahakannya sendiri, bukan karunia. Dalam teks aslinya kata “berusaha” adalah philotimeomai (φιλοτιμέομαι) yang selain berarti berusaha juga berarti berambisi dengan kuat. Dalam teks Alkitab bahasa Inggris ada yang menerjemahkan: Therefore also we have as our ambition, whether at home or absent, to be pleasing to Him. Kata berusaha dalam teks ini menunjukkan adanya “niat” dari individu untuk melakukan kehendak Allah, bukan kehendaknya sendiri. Niat atau ambisi tersebut lahir dari diri sendiri.
Kisah dalam Kejadian 6:1-4 menunjukkan bahwa sekalipun Roh Kudus menuntun manusia, tetapi tanpa Injil manusia tidak dapat memenuhi tuntutan kesucian Allah. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan, seperti yang terdapat dalam Roma 1:16-17, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman”. Dapat disimpulkan bahwa tanpa kebenaran Injil tidak mungkin seseorang selamat (dikembalikan ke rancangan semula Allah). Demi adanya Injil, maka selama tiga setengah tahun dengan tiada henti Tuhan Yesus mengajarkan isi Injil kepada bangsa Israel. Selanjutnya demi keselamatan bisa dialami banyak orang sampai ke ujung bumi, maka orang percaya harus mengajarkan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus. Tanpa menerima dan mengerti apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, seseorang pasti tidak selamat.

Surat Gembala: ARAH HIDUP ORANG PERCAYA

Kiblat adalah kata dalam bahasa Arab yang searti dengan arah. Kata ini biasanya digunakan dalam kaitannya dengan arah fisik pada waktu berdoa. Ratusan tahun sebelum agama-agama monotheisme besar ada (Kristen dan Islam), orang-orang Yahudi kalau berdoa mengarahkan diri ke Yerusalem. Seperti Daniel, setiap kali menaikkan jam-jam doanya, ia berdoa dengan berkiblat ke Yerusalem, di mana terdapat Bait Allah yang dibangun oleh Salomo sebagai lambang kehadiran Elohim Yahwe. Menurut catatan sejarah, orang-orang Islam pada mulanya juga kalau bersembahyang berkiblat ke arah Yerusalem juga yang dikenal sebagai Baitul Maqdis. Tetapi kemudian hari mengarah atau berkiblat ke Ka’abah di Mekah sampai sekarang. Kita meminjam istilah kiblat sebab kata ini berhubungan dengan urusan penyembahan dan beribadah kepada Tuhan. Sedangkan kata arah lebih bersifat umum. Namun perlu ditegaskan bahwa orang Kristen tidak mengenal pola berdoa atau sembahyang seperti orang Yahudi dan Muslim yang memiliki kiblat secara harafiah. Bahkan orang Kristen tidak memiliki teknik-teknik berdoa seperti banyak agama dan kepercayaan.
Sesuai dengan petunjuk Tuhan Yesus bahwa orang percaya beribadah kepada Allah dalam Roh dan kebenaran (Yoh 4:24). Ini berarti sebuah ibadah yang tidak diatur oleh tata cara ibadah tertentu, itulah sebabnya dalam kekristenan tidak ada ajaran mengenai teknik-teknik berdoa (harus melipat tangan, sujud secara fisik, angkat tangan dan lain-lain). Tetapi dalam kekristenan yang penting adalah kehidupan yang diarahkan atau diorientasikan kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya setiap hari.
Kalau berbicara mengenai kiblat, kiblat orang percaya bukanlah tempat atau arah secara harafiah tetapi sikap orientasi hati atau tujuan hidup. Berbicara mengenai kiblat dalam kehidupan orang percaya, kiblat orang percaya pertama, Tuhan sebagai Pusat Kehidupan, yang artinya Tuhan menjadi tujuan hidup ini. Segala sesuatu yang kita lakukan, kita lakukan bagi Dia. Kedua, Tuhan sebagai kebahagiaan atau kesenangan, artinya suasana jiwa kita ditentukan oleh damai sejahtera Tuhan bukan fasilitas kekayaan atau materi dunia, kehormatan manusia serta segala hiburannya. Terakhir, mewujudkan rencana Allah. Hidup kita harus sepenuhnya diarahkan pada rencana perwujudan Kerajaan Allah dengan berusaha menjadi corpus delicti dan menolong orang lain menjadi corpus delicti pula. Amin. – Solagracia –

Berbicara mengenai kiblat, kiblat orang percaya bukanlah tempat atau arah secara harafiah tetapi sikap orientasi hati atau tujuan hidup.

SIKAP TERHADAP DUNIA YANG SUKAR

Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat (Mat. 24:7). Ada pertanyaan yang harus kita jawab yaitu, mengapa kehadiran Tuhan Yesus di dunia ini tidak membenahi dunia supaya lebih baik? Mengapa justru menubuatkan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan manusia pada umumnya? Padahal manusia menghendaki agar hidupnya bahagia dan memiliki damai sejahtera.
Harus kita pahami bahwa Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa. Rasul Yohanes juga menegaskan bahwa janganlah kita mengasihi dunia dan isinya, karena jika demikian seseorang tidak akan mengasihi Bapa (1Yoh. 2:15). Percintaan dengan dunia berujung pada kebinasaan. Mencintai Tuhan tidak bisa secara instan, tetapi harus dilatih melalui segala peristiwa hidup. Oleh karena itu, Tuhan tidak tertarik membenahi dunia yang sudah rusak, tetapi Dia lebih tertarik membenahi karakter manusia yang sudah rusak. Mengapa demikian? Karena Ia sudah menyiapkan langit baru dan bumi yang baru, di mana orang percaya dipersiapkan untuk mengelolanya sebagaimana Allah memberi mandat kepada Adam ketika ia belum jatuh dalam dosa.
Memahami hal tersebut, bagaimana sikap kita seharusnya dalam menghadapi dunia yang sukar seperti sekarang ini? Ada dua hal penting yang harus kita pahami. Pertama, setiap orang harus berdamai dengan Tuhan, jika seseorang sudah berdamai dengan Tuhan, sebesar apa pun kesukaran hidup yang dialami maka tidak akan menggoyahkan cintanya kepada Tuhan. Oleh karena itu berdamai dengan Tuhan menjadi sangat penting. Orang percaya harus memiliki prinsip: Tuhan, Engkaulah perhentianku, Engkaulah pelabuhan terakhirku. Untuk memiliki prinsip seperti ini, orang percaya harus berlatih terus-menerus sampai benar-benar pada titik tidak bisa berpaling.
Kedua, Tuhan adalah pribadi yang bertanggung jawab, dengan demikian hal itu yang Dia ajarkan kepada orang percaya. Setiap permasalahan hidup yang terjadi dalam diri seseorang maka harus dihadapi dengan tanggung jawab, bukan hanya dengan doa. Banyak orang salah memahami doa, doa dianggap sebagai cara mudah untuk memperoleh jaminan penyelesaian masalah hidup. Sejatinya doa adalah dialog dengan Tuhan agar seseorang mampu memahami pikiran dan perasaan-Nya. Tuhan tidak berjanji menghindarkan manusia dari kesukaran, tetapi Ia berjanji memberi kekuatan untuk menghadapi segala kesukaran. Oleh karena itu temukan Tuhan dalam kesukaran hidup kita karena Dia-lah pribadi yang akan kita temui di kekekalan kelak. Amin. – Solagracia –

Mencintai Tuhan tidak bisa secara instan, tetapi harus dilatih melalui segala peristiwa hidup.

Surat Gembala: TUHAN KEBAHAGIAAN

Setiap manusia yang hidup pasti mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya. Manusia menempuh segala cara untuk mendapatkannya, seluruh pikiran, tenaga dan waktunya dihabiskannya demi hal itu. Kebahagiaan adalah sebuah keadaan tenteram lahir batin atau keberuntungan lahir batin (KBBI, 2015). Jika kita mau jujur, kebahagiaan secara materi banyak orang bisa mendapatkan dengan cara apapun, tetapi bicara hal batin, hampir-hampir tidak banyak orang yang bisa mendapatkannya. Mengapa demikian? Seorang ahli fisika dari Perancis yang bernama Blaise Pascal (1662) berkata, “Ada ruang kosong dalam diri manusia yang tidak dapat diisi dengan hal-hal materi, tetapi hanya dapat diisi oleh hal yang ilahi”. Paulus memberikan penjelasan yang sangat jelas bahwa akibat jatuh dalam dosa, semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah atau karakter ilahi (Rm. 3:23). Keadaan inilah yang membuat manusia memiliki ruang kosong itu.
Allah adalah sumber kebahagiaan artinya, Dia tidak akan pernah kehabisan kebahagiaan itu. Seharusnya manusia mencari kebahagiaan hanya kepada-Nya, tetapi karena dosa, manusia mencarinya bukan kepada Allah tetapi kepada dunia. Kebahagiaan diukur dari apa yang dimiliki yaitu kekayaan, kehormatan dan kebanggaan hidup. Manusia terus menggulirkan hidupnya kepada kenyataan ini, tetapi mereka lupa bahwa semuanya itu akan terhenti kapan pun dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Jika keadaan itu terus dilakukan maka seseorang tidak akan pernah memiliki hubungan yang bernilai tinggi dengan Allah. Hubungan dengan Allah akan dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun kebahagiaan di bumi ini.
Yang dimaksud dengan Tuhan kebahagiaanku adalah, keberanian seseorang untuk hidup tanpa apa pun dan tanpa siapa pun, tetapi tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Sebesar apa pun kenikmatan hidup, pasti akan berakhir pada hitungan-hitungan waktu, demikian halnya dengan kesulitan hidup, tetapi yang terpenting adalah mampukah kita mempertahankan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup kita? Harus kita tahu bahwa suka dan duka pasti terjadi dalam setiap kehidupan anak manusia, itu pun tidak ada yang permanen. Oleh karena itu betapa bersyukurnya kita jika mampu memilih Tuhan sebagai satu-satunya kebahagian hidup. Tuhan adalah sahabat abadi, betapa bijaknya jika selama kita hidup menumpang di bumi ini terus membangun hubungan yang ideal dengan Tuhan, karena Dia-lah Sang pemilik kekekalan. Kekecewaan kita terhadap dunia seharusnya menjadi penyemangat untuk membuktikan bahwa Tuhanlah satu-satunya kebahagiaanku. Amin. – Solagracia

Yang dimaksud dengan Tuhan kebahagiaanku adalah, keberanian seseorang untuk hidup tanpa apa pun dan tanpa siapa pun, tetapi tidak bisa hidup tanpa Tuhan

Surat Gembala: MENGANDALKAN TUHAN

Kata mengandalkan berasal dari kata dasar andal yang berarti dapat dipercayai, sedangkan mengandalkan, memiliki arti menaruh kepercayaan kepada yang dipercayai atau yang diandalkan (KBBI, 2015). Apa yang dimaksud dengan mengadalkan Tuhan?
Banyak orang memiliki pemahaman yang salah dalam hal ini. Mengandalkan Tuhan dipahami sebagai keadaan pasrah tanpa berbuat apa pun maka Tuhan akan memberikan pertolongan. Harus kita tahu, Tuhan kita mengajarkan tanggungjawab, bukan hidup sembrono dan tak produktif.
Dari pihak kita harus ada upaya maksimal, dan dalam kesemuanya itu harus kita kunci dengan pengertian, bahwa apa pun hasilnya pasti baik adanya karena Tuhan-pun turut bekerja (Roma 8: 28). Ada beberapa pengertian tentang mengandalkan Tuhan, yang pertama adalah menerima apa pun keadaan yang terjadi, setelah kita berusaha maksimal tentunya. Kebaikan yang kita harapkan tidak boleh kita paksakan sebagai sesuatu yang harus terjadi dan sesuai dengan kehendak kita. Tuhan memiliki integritas dan otoritas mutlak dalam segala hal. Tuhan lebih peduli dengan karakter seseorang dibanding dengan kekayaannya (Mat. 19:21). Harta dan kekayaan hanya mampu menemani kita selama 70 tahun hidup di bumi.
Yang kedua, mengandalkan Tuhan berarti, menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup walaupun tidak sesuai dengan harapan kita. Setiap permasalahan yang Tuhan izinkan terjadi kepada setiap orang percaya merupakan kurikulum Tuhan dengan maksud untuk mengubah karakter duniawi menjadi karakter illahi sampai pada titik tertentu orang percaya tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini.
Kita tidak boleh menggunakan pengalaman bangsa Israel sebagai patokan dalam hal mengandalkan Tuhan. Dalam hal ini, bangsa Israel hanya mengaitkan dirinya dengan kepenuhan kebutuhan jasmani, walaupun pada kenyataannya Tuhan tidak bermaksud demikian (Pkh 5: 18-19). Bagi orang percaya zaman Perjanjian Baru, mengandalkan Tuhan bukan berarti tanpa berusaha keras maka berkat dan perlindungan Tuhan diberikan, tetapi manusia dikembalikan pada porsinya dimana segala sesuatu harus dijalani secara bertanggungjawab dengan benar sesuai pikiran dan perasaan Kristus.
Untuk kebutuhan makan, minum dan pakai, Tuhan sudah sediakan asal kita mau bekerja keras. Satu-satunya pergumulan kita yang terberat adalah mengubah karakter kita, dalam hal inilah kita harus mengandalkan Tuhan, karena Iblis terus berjuang memanfaatkan natur dosa dalam diri kita agar kita gagal menjadi Corpus Delictinya Tuhan. Waspadalah! – Solagracia

Mengandalkan Tuhan berarti manjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup walaupun tidak sesuai harapan kita.

Surat Gembala: MENYERAHKAN MAHKOTA BAGI TUHAN

Berdaulat memiliki arti berbahagia atau bertuah (KBBI, 2015). Agenda besar manusia adalah berdaulat atas diri sendiri atau membangun kebahagiaan hidup. Segala cara dilakukan termasuk melawan Tuhan. Sedangkan agenda Allah adalah menegakkan kedaulatan kerajaan-Nya di bumi. Mengapa harus di bumi? Kerajaan-Nya yang di Surga telah terbukti tak tergoyahkan ketika Lucifer mencoba mengkudeta. Pasca pemberontakannya, Lucifer dibuang ke bumi (Why. 12: 9, Yes. 14 : 12). Dalam perjalanannya, Lucifer yang jatuh tidak pernah berhenti untuk merongrong kedaulatan Allah di bumi, terbukti mulai dari Adam sampai kepada Tuhan Yesus dia terus menggeliat untuk mencari saat yang baik guna merongrong kedaulatan Tuhan. Kebangkitan Kristus adalah bukti dari kekalahan Iblis dan tegaknya Kerajaan Allah di bumi secara de jure, tetapi secara de facto, Iblis terus mengaum seperti singa mencari orang yang dapat ditelannya. Oleh karena itu jangan memberi kesempatan kepada Iblis (Ef. 4 : 27).
Pada dasarnya, manusia ingin memiliki kerajaannya sendiri atau berotonom, hati-hati karena hal ini dapat dijadikan celah Iblis untuk masuk dan memanfaatkan manusia memberontak kepada Allah. Manusia diberikan hak otonom oleh Allah, tetapi bukan berarti tidak berbatas. Ketika manusia mencoba keluar dari batas-batas otonominya maka ia sudah memberontak kepada Allah. Hari ini, manusia digerakkan oleh kekuatan pikirannya, dengan semangat “kamu bisa”, atau istilah yang kita kenal “positive thinking” (berpikir positif), inilah mahkota manusia hari ini. Alkitab dengan tegas mengajarkan kita untuk berpikir benar dan bertindak benar bukan sekadar berpikir positif. Ada perbedaan yang sangat jelas antara berpikir positif dan berpikir benar. Semangat berpikir positif adalah penggalian potensi diri untuk hidup tanpa Tuhan. Sementara semangat berpikir benar adalah, manusia tidak bisa hidup tanpa Tuhan, karena Tuhan adalah sumber hidup dan penguasa hidup manusia.
Hidup dalam kedaulatan Tuhan adalah sebuah tindakan untuk melepaskan si “aku-nya” kita yang selama ini menjadi mahkota diri. Tuhan telah melepaskan mahkota-Nya demi kita, siapakah kita sehingga berkeras mempertahankan mahkota kemuliaan kita? Bukankah itu semua anugerah Tuhan? Bukankah Kristus telah membayar kita lunas dengan darah-Nya? Harus kita waspadai, jangan sampai keinginan untuk berotonom dalam diri kita akhirnya tanpa disadari itu merupakan bentuk pemanfaatan Iblis sebagai agenda untuk memberontak kepada Allah. Waspadalah! Amin – Solagracia

Ketika manusia mencoba keluar dari batas-batas otonominya maka ia sudah memberontak kepada Allah.

Surat Gembala: MENGINGINI TUHAN SAJA

Mengingini Tuhan saja dapat diartikan sebagai pengembangan hasrat untuk mematikan segala sesuatu sekaligus menghidupkan hasrat untuk menyukakan perasaan Tuhan saja sesuai dengan Alkitab. Perwujudan dari pernyataan di atas adalah melakukan segala sesuatu dengan perasaan Tuhan sebagai pertimbangan satu-satunya. Paulus berkata dalam Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Seorang calon mempelai, tentunya akan menumpahkan segala rasa cintanya hanya untuk calon pasangannya, jika masih ada rasa cinta kepada yang lain maka rasa itu harus dimatikan. Ketika cinta itu timbul akan memiliki energi yang luar biasa untuk berbuat apapun demi yang dicintai.
Untuk melihat kedalaman cinta kita kepada Tuhan dapat diukur dari adakah kita memiliki hasrat atau keinginan untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki, jika belum, berarti kita belum mencintai Tuhan secara benar. Orang sering berkata, ”Aku rindu pada-Mu ya Tuhan”. Ucapan ini sering diungkapkan dalam rangka menghadapi kesulitan hidup dan untuk mendapatkan pertolongan-Nya saja. Betapa marah dan kecewanya seseorang, jika kehadiran pribadinya sebenarnya tidak diharapkan, tetapi hanya tenaganya saja yang diharapkan. Pribadi Tuhan sangatlah agung, jika keinginan kita kepada-Nya hanya tertuju kepada kasih dan kuasa-Nya, betapa sikap ini merupakan bentuk pengabaian terhadap perasaan Tuhan. Semangat dari mengingini Tuhan yang benar adalah rindu memuaskan perasaan-Nya saja. Seorang pasangan mempelai yang sedang jatuh cinta, pastilah rindu memuaskan perasaan pasangannya. Perasaan manusia tidak stabil, oleh karena itu agar keinginan kita kepada Tuhan tetap konsisten maka diperlukan kerelaan hati untuk diproses secara terus menerus sampai hal itu merupakan passion satu-satunya.
Adalah sebuah kengerian yang tak terkatakan ketika maut menjemput, sementara keinginan akan Tuhan sama sekali tidak ada. Betapa gelapnya lorong kematian itu jika tanpa Tuhan. Walaupun seluruh isi dunia sanggup kita miliki, tetapi semuanya itu tidak pernah dapat kita gunakan sebagai buah tangan untuk Tuhan di kekekalan kelak. Alam semesta Tuhan yang punya karena Ia yang menciptakan termasuk kita di dalamnya. Alangkah bijak jika kita terus arahkan keinginan batin kita kepada Tuhan yang empunya segala sesuatu dan yang berkuasa atas kekekalan. Hidup kita pasti berakhir dan akan bertemu dengan takhta pengadilan Allah, siapakah pembela kita kelak kalau bukan Tuhan? Amin – Solagracia

Adalah sebuah kengerian yang tak terkatakan ketika maut menjemput, sementara keinginan akan Tuhan sama sekalai tidak ada.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 30.056 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: