Allah Orang Hidup (God of the Living) – Suara Kebenaran 90

Pdt. Dr. Erastus Sabdono menjelaskan apa yang dimaksud Tuhan Yesus dalam Mat. 22:32 bahwa Allah kita bukan Allah orang mati tetapi Allah orang hidup.

SEMUA ADA AKHIRNYA

Semua kehidupan di bumi ini pasti akan berakhir, tetapi yang tidak berakhir adalah kekekalan roh manusia. Roh manusia adalah kesadaran yang tidak berakhir. Kesadaran ini memuat pikiran, perasaan dan kehendak. Dalam Lukas 16:19-31, dikisahkan mengenai orang kaya dan Lazarus. Di alam maut orang kaya yang celaka tersebut merasakan penderitaan yang hebat di api yang menyala. Ia meminta agar Abraham menyuruh Lazarus mencelupkan ujung jarinya untuk memberikan setetes air guna menyejukkan lidahnya. Ia juga memiliki pikiran dan perasaan mengenai keadaan saudara-saudaranya yang masih hidup di bumi. Itulah sebabnya ia meminta Abraham mengutus Lazarus untuk memperingatkan saudara-saudaranya.

Dalam hal ini manusia memiliki kesamaan dengan Allah yaitu memiliki kekekalan. Hanya bedanya keberadaan Allah tidak memiliki awal atau permulaan tetapi manusia memiliki permulaan sebab manusia dilahirkan atau diciptakan oleh Allah. Banyak orang tidak mengerti atau tidak mau mengerti kebenaran ini, sebab mata hati pengertian mereka telah tertutup. Mereka dibutakan atau disesatkan kuasa dunia ini sehingga tidak mengenal kebenaran tersebut. Inilah yang dimaksud Alkitab bahwa manusia berjalan dalam gelap. Banyak orang yang tersesat hidup dalam kegelapan dengan berpikir seakan-akan hidup ini akan berlangsung terus tiada akhirnya atau ujungnya. Inilah yang mengikat kehidupan banyak orang, juga sebagian besar orang Kristen. Ini adalah sebuah penyesatan iblis yang sukses. Bila jujur maka kita dapati bahwa banyak manusia tidak mau berpikir atau menerima kenyataan bahwa jalan ini akan berakhir. Dan akhir perjalanan hidup manusia ini sebuah misteri yang pada umumnya tidak seorang pun tahu (Yak 4:13-17).

Dalam hal ini Tuhan hendak memberitahu kepada manusia kenyataan perjalanan waktu ini. Ciri dari seorang yang berhasil disesatkan adalah terjebak dalam kegiatan agama yang rutin. Tidak mengalami perubahan atau pembaharuan. Karena biasanya mereka memang tidak mau berubah. Mereka puas dengan kegiatan agamani yang ada, tanpa memiliki visi dan misi. Ibarat seorang pedagang ia tidak berusaha untuk memperoleh keuntungan dalam usaha (Mat 25:14-30). Kelakuan mereka ceroboh atau sembrono. Ia tidak peduli terhadap kenyataan hidupnya yang dililit berbagai dosa: kebencian, dendam, penipuan, perzinahan, pertikaian, permusuhan dan lain sebagainya. Inilah orang yang tidak berjaga-jaga. Mereka tidak berusaha untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan; melayani Tuhan. – Solagracia

Banyak orang yang hidup dalam kegelapan dengan berpikir seakan-akan hidup ini akan berlangsung terus tiada akhirnya.

Surat Gembala: SUDAH MERUPAKAN KEJAHATAN

Dalam Matius 7:21-23 terdapat pelajaran yang sangat berharga, bahwa orang yang tidak melakukan kehendak Bapa adalah kejahatan. Melakukan kehendak Bapa adalah melakukan segala sesuatu yang Dia inginkan. Untuk ini seseorang harus memiliki kepekaan terhadap pikiran dan perasaan Tuhan berkenaan dengan hidupnya pribadi. Kalau kejahatan ukuran orang beragama seperti orang-orang Yahudi yang menganut torat, tidak melakukan torat adalah kejahatan, tetapi bagi anak-anak Tuhan dengan standar sempurna seperti Bapa atau mengenakan kehidupan Tuhan Yesus, jika tidak melakukan kehendak Bapa adalah kejahatan.

Kata kejahatan dalam teks aslinya adalah anomia (ἀνομία) yang artinya tidak berhukum. Bagi orang percaya yang tidak hidup di bawah hukum torat hukumnya adalah kehendak Allah Bapa. Itulah sebabnya dalam kehidupan orang percaya tidak ada hukum, syariat dan peraturan-peraturan beragama seperti dalam banyak agama. Ini bukan berarti orang percaya boleh hidup sembarangan tanpa etika dan kesantunan. Secara moral umum orang percaya harus sudah lulus artinya sudah baik. Sebab bagaimana seseorang bisa melakukan keinginan Tuhan kalau melakukan hukum moral umum saja tidak. Orang percaya harus menumbuhkan kepekaan mengerti kehendak Tuhan untuk dilakukan setiap hari.

Dalam perumpamaan mengenai Raja yang mengadakan pesta dalam Matius 22:1-14, orang yang diusir dari pesta tersebut bukanlah orang jahat yang tidak menghargai undangan Raja atau yang membunuh dan menyiksa utusan raja, tetapi ia “hanya tidak mengenakan pakaian pesta”. Raja itu tidak mentolerir keadaan itu sama sekali. Di mata Sang Raja itu, tidak mengenakan pakaian pesta sudah merupakan sesuatu yang tidak pantas atau bisa disejajarkan dengan kejahatan. Sejajar dengan kejahatan, sebab sebagai buktinya orang tersebut dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap. Tempat apa ini, kalau bukan gehenna atau neraka.

Maksud penjelasan ini bukan menakuti atau mengancam tetapi supaya kita mengerti hakikat Allah kita. Ia bukan saja Allah yang lemah lembut, sabar, pemurah dan penuh pengertian, tetapi pada saatnya Ia juga dapat bersikap tegas. Dengan mengerti hal ini maka kita dapat membangun perasaan takut yang kudus terhadap Tuhan. Orang percaya harus memiliki sikap hormat dan bersikap sepantasnya terhadap Dia. Untuk ini dibutuhkan pengenalan yang memadai mengenai Allah dan sentuhan dengan Tuhan setiap hari. – Solagracia –

Bagaimana seseorang bisa melakukan keinginan Tuhan kalau melakukan hukum moral umum saja tidak.

Berurusan Secara Pribadi (Dealing Personally): Suara Kebenaran 89

Dewasa ini banyak orang Kristen mengira dirinya membutuhkan pendeta atau rohaniwan sebagai perantara untuk menemui Tuhan. Pdt. Dr. Erastus Sabdono menjelaskan bahwa itu tidak benar. Semua orang berhak berurusan secara pribadi dengan Tuhan.

Surat Gembala: Allah Yang Tegas

Dalam beberapa bagian di Perjanjian Baru, kita menemukan ketegasan Tuhan sebagai Raja dengan prinsip dan keputusan-Nya yang tidak dapat diubah. Hal ini sangat berbeda dengan penggambaran mengenai Tuhan yang sering kita dengar melalui banyak pembicara di mimbar-mimbar gereja dan persekutuan doa. Tuhan hanya digambarkan sebagai sosok yang sabar, lemah lembut, penuh kasih dan pengertian. Tuhan tidak digambarkan secara utuh. Mereka hanya menekankan satu aspek dari hakikat Tuhan. Sehingga secara permanen terbentuk suatu gambaran mengenai Tuhan yang tidak utuh atau tidak lengkap.

Ini sebenarnya sebuah penyesatan atau penipuan, sebab kebenaran itu adalah pengetahuan atau pengertian yang utuh atau lengkap; sebagian data atau pengungkapan sebagian fakta bukanlah kebenaran. Sesungguhnya Tuhan juga adalah sosok pribadi yang tegas, berdaulat penuh atas semua keputusan-Nya tanpa dipengaruhi pihak manapun. Tuhan juga pribadi yang tidak kompromi terhadap apa yang bertentangan dengan prinsip keadilan, kesucian dan kebenaran-Nya.

Dalam Nahum 1:2-3, dilukiskan mengenai keberadaan Allah yang cemburu dan pembalas. Tuhan itu pembalas kepada para lawan-Nya dan pendendam kepada para musuh-Nya. Ia panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Dalam Matius 7:21-23, ketika Tuhan menolak orang-orang yang merasa sudah melakukan sesuatu yang dianggapnya bernilai, Tuhan menunjukkan ketegasan-Nya. Ia sama sekali tidak mempertimbangkan pikiran, anggapan, keyakinan atau dugaan manusia. Tuhan kokoh atas keputusan-Nya yang tidak dapat diganggu gugat. Fakta ini seharusnya membuat kita gemetar terhadap Tuhan.

Kalau di dunia ini, dengan uang seseorang bisa memutar balikkan fakta, membuat atau merubah keputusan melalui ketukan palu hakim, membeli kekuasaan, mengatur aparat keamanan dan lain sebagainya. Tanpa disadari hal ini membuat seseorang menjadi sombong, tanpa disadari ia telah meremehkan fakta kekekalan. Kemudahan hidup dapat membutakan mata seseorang terhadap realitas hakikat Allah yang dahsyat atau karena ia tidak belajar kebenaran sehingga tidak mengenal hakikat Allah dengan benar. Ia tidak sadar bahwa suatu saat nanti di hadapan Hakim yang Maha Agung, seseorang tidak akan berdaya sama sekali. Semua kekuasaan, kemampuan dan relasinya dengan orang-orang kuat di dunia tidak ada artinya sama sekali. Memahami hal ini, hendaknya kita mulai merendahkan diri di hadapan Tuhan untuk bertobat. – Solagracia

Sesungguhnya Tuhan adalah sosok pribadi yang tegas, berdaulat penuh atas semua keputusan-Nya tanpa dipengaruhi pihak mana pun.

Surat Gembala: Tidak Otomatis Terpilih

Banyak orang berpikir bahwa kalau sudah menjadi orang yang terpilih berdasarkan kedaulatan mutlak Allah maka proses keselamatan akan berlangsung dengan sendirinya. Mereka mengajarkan bahwa manusia tidak berkuasa atas pemilihan itu sama sekali. Manusia hanya menerima saja “nasib” yang ditentukan (predetinate) baginya. Di dalamnya mereka berpikir Allah dimuliakan baik oleh orang yang diselamatkan maupun orang yang tidak diselamatkan. Pengajaran yang salah ini benar-benar telah menyesatkan banyak orang. Hal ini terbukti di negara-negara Kristen yang gerejanya dominan menganut theologia ini sudah menjadi negara yang seakan-akan tidak pernah mengenal Injil. Apakah hal ini berarti semakin tahun jumlah orang yang terpilih (kuotanya) makin sedikit. Hal ini karena pemilihan Tuhan atau karena dunia semakin jahat? Jelas karena semakin bertambah kejahatan maka kasih kebanyakan orang menjadi dingin (Mat. 24:12-13), Paulus juga mengatakan bahwa di akhir jaman keadaan manusia semakin
rusak (2Tim. 3:1-5). Semakin sedikit orang yang selamat bukan karena jumlah yang dipilih semakin sedikit tetapi karena kejahatan bertambah-tambah.

Pengajaran yang tidak tepat tersebut telah mengunci pikiran banyak orang dan membelenggunya sehingga mereka tidak memiliki usaha yang serius untuk menjadi sempurna seperti Bapa. Mereka tidak memiliki pergumulan untuk diselamatkan (Luk. 23:13-14), sebab mereka berpikir seakan-akan secara otomatis seorang akan bisa sampai ke Sorga asalkan sudah terpilih. Pada hal banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih. Mereka yang terpilih adalah mereka yang mengusahakan pakaian pesta, bukan diberi oleh Raja yang mengundangnya ke pesta tersebut (Mat. 22:1-14). Pakaian pesta melambangkan kesucian hidup atau moral berstandar Allah, dan itu harus diusahakan dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan akan menolong. Setelah Tuhan menyediakan anugerah-Nya, Tuhan tidak akan menolong orang yang tidak bertobat atau menolong dirinya sendiri. Setiap orang harus meresponi anugerah-Nya dengan tanggung jawab. Itulah sebabnya Alkitab penuh seruan untuk bertobat, meninggalkan kejahatan dan cara hidup yang salah, mengalami pembaruan pikiran, berusaha tidak hidup tidak tercela, keluar dari cara hidup yang salah dan tidak menjamah apa yang najis dan lain sebagainya yang pada dasarnya setiap orang percaya harus memenuhi panggilannya untuk sempurna seperti Bapa. Ini adalah bagian yang harus dipenuhi manusia. Bagian ini tidak boleh diperhitungkan sebagai jasa seakan-akan keselamatan hasil usaha manusia itu sendiri. Usaha yang merupakan bagian manusia ini harus dipahami sebagai sebuah respon. – Solagracia

Setelah Tuhan menyediakan anugerah-Nya, Tuhan tidak akan menolong orang yang tidak bertobat atau menolong dirinya sendiri.

Pemuridan yang Eksklusif (An Exclusive Discipleship): Suara Kebenaran 88

Tuhan Yesus mengajarkan kepada orang percaya untuk mempunyai hubungan pribadi yang sangat eksklusif dengan-Nya. Pdt. Dr. Erastus Sabdono menjelaskan bahwa ini berarti setiap orang percaya harus belajar langsung dari Tuhan.

Bukan Sekedar Menerima Tetapi Memberi

Menarik tetapi juga agak aneh kalau dalam merayakan Natal kita mengaitkannya dengan korban Kristus di kayu salib. Selain kita mengangkat ke permukaan hal kelahiran Tuhan Yesus, kita juga mengangkat ke permukaan peristiwa penyaliban Tuhan. Apa maksudnya? Melalui hal ini kita mengajak semua orang yang merayakan Natal bukan hanya sebagai obyek yang menerima berkat, tetapi sebagai subyek yang sepenanggungan dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian kita memiliki langkah maju dalam kedewasaan dan kematangan rohani. Sebab selama ini banyak orang dalam merayakan Natal hanya terpaku sebagai obyek yang menerima berkat Natal. Orang-orang Kristen tenggelam dalam suasana euphoria dalam menerima berkat Natal. Mereka melupakan visi utama kedatangan Tuhan Yesus yaitu menyelematkan dunia yang sedang menuju kegelapan abadi ini. Tidak heran jika dalam merayakan Natal mereka merayakan dengan “besar-besaran” dengan berbagai kegiatan, tetapi tidak mempedulikan perasaan Tuhan. Mereka hanya peduli terhadap perasaan mereka sendiri. Tetapi sekarang kita harus mau belajar berdiri sebagai subyek yang sepenanggungan dengan Tuhan. Kita bukan hanya bisa menerima tetapi juga membagi. Adalah sangat naïf kalau kita menyenandungkan lagu Natal, tetapi tidak menyenandungkan lagu pengorbanan seirama dengan Tuhan. Natal adalah bahasa pengorbanan Anak Allah. Di dalam Natal kita bukan saja diajar mengerti kasih-Nya yang menyelamatkan kita tetapi kita juga diajar hidup dalam sepenanggungan dengan Tuhan untuk menggenapi rancana Bapa di dunia yang singkat ini.

Menatap Tuhan Yesus di palungan kita sudah mulai mengerti bahwa Ia datang untuk memikul salib. Saliblah klimaks atau puncak pelayanan. Di sanalah terdapat maksud utama kedatangan Tuhan. Palungan hina merupakan bahasa pengorbanan yang mengawali debut pelayanan-Nya yang menakjubkan. Kandang domba adalah garis start perjuangan pengorbanan-Nya merebut manusia dari tangan setan. Keputusan penting yang harus kita lakukan adalah mengubah diri dari hanya seorang yang menjadi obyek kasih Tuhan, juga berlaku sebagai subyek yang sepenanggungan dengan Tuhan. Dari penerima berkat juga sebagai pembagi berkat. Hendaknya kita tidak putus asa walaupun kita sering gagal melakukan kehendak-Nya, Ia mau mengampuni dan memulihkan kita. Pada saat ini Tuhan hendak memulihkan dan memperbaharui hidup kita kalau kita sungguh-sungguh mau bertobat. Kesempatan ini bisa jadi tidak pernah terulang, oleh sebab itu jangan disia-siakan. -Solagracia-

Keputusan penting yang harus kita lakukan adalah mengubah diri dari penerima berkat juga sebagai pembagi berkat.

Menerima Yesus Sebagai Raja: Suara Kebenaran Natal 18

Di Natal ini kita diingatkan, sudahkah kita menyambut Yesus sebagai raja? Pdt. Dr. Erastus Sabdono menguraikan apa artinya menerima Yesus sebagai raja.

Surat Gembala: NILAI TERTINGGI KEHIDUPAN

Ketika Tuhan Yesus memikul salib di sepanjang Via Dolorosa, orang-orang meratapi Dia. Tuhan Yesus berkata kepada mereka agar mereka menangisi diri mereka sendiri (Luk. 23:27-28). Pernyataan ini memuat pesan bahwa mereka harus mempersoalkan dalam diri mereka sendiri berkenaan dengan penderitaan yang dialami Tuhan Yesus tersebut. Meratapi diri sendiri menunjuk kepada keadaan manusia yang sangat mengerikan. Keadaan yang tidak boleh dianggap ringan.

Dosa bukan saja membuat manusia hidup sengsara di bumi yang terkutuk sehingga mengalami kemiskinan, sakit penyakit dan berbagai penderitaan jiwa, tetapi manusia berkeadaan tidak seperti yang dirancang semula oleh Allah dan diancam keterpisahan dengan Allah selamanya. Inilah kebinasaan tersebut. Ini adalah keadaan mengerikan yang maha dahsyat yang tidak dapat digambarkan dengan cara bagaimana pun. Demi diri manusia itulah Tuhan Yesus mengalami semua penderitaan tersebut.

Nah, sekarang setelah Tuhan Yesus menyelesaikan karya keselamatan-Nya di kayu Salib, orang percaya harus menghargai anugerah yaitu kehidupan yang Tuhan telah berikan. Kehidupan yang berpotensi untuk dikembalikan ke rancangan semula Allah dan berkesempatan untuk bisa bersama dengan Tuhan Yesus Sang Pencipta serta dengan Allah Bapa. Pernyataan Tuhan: ”..tangisilah dirimu sendiri”, sekarang berlanjut dengan kalimat: “Hargailah hidup yang Kuberikan kepadamu”. Dari salib dan penderitaan tersebut itulah kita menemukan value atau nilai hidup ini, sebab tanpa pengorbanan-Nya hidup ini tidak bernilai sama sekali.

Memandang salib dan penderitaan yang Dia alami, akan terdengar suara-Nya: “Jangan menghargai apa pun dan siapa pun lebih dari pengorbanan-Ku ini”. Orang percaya yang mengerti kebenaran dan bertumbuh dewasa tidak akan memandang pemenuhan kebutuhan jasmani sebagai berkat keselamatan yang memiliki value atau nilai tinggi, sebab jika demikian maka akan jatuh dalam dosa (meleset; hamartia; ἁμαρτία). Ini berarti kembali kepada cara berpikir manusia berdosa.

Injil yang benar dari Tuhan Yesus Kristus membuka pikiran manusia untuk memahami kenyataan betapa mengerikannya keadaan manusia, sehingga harus menangisi diri sendiri dan selanjutnya menghargai hidup yang Tuhan berikan. Dengan cara bagaimana kita menghargai hidup yang Tuhan berikan? Dengan cara berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi manusia Allah sesuai dengan rencana Allah semula dan mempersiapkan diri memasuki Kerajaan-Nya, selanjutnya berusaha mengajak orang lain juga. – Solagracia

Dari salib kita menemukan value atau nilai hidup ini, sebab tanpa pengorbanan-Nya hidup ini tidak bernilai sama sekali.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29.622 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: