Suara Kebenaran 83: Kepantasan Disebut Anak Allah (Worthiness to be Called God’s Child)

Orang Kristen tidak otomatis pantas disebut anak Allah. Pdt. Dr. Erastus Sabdono menjelaskan bahwa kodrat dosa menghalangi seseorang pantas disebut anak Allah.

Surat Gembala: ISI KEBENARAN YANG BENAR

Seperti yang telah disinggung bahwa kebenaran yang benar-benar benar merupakan terobosan yang tidak bisa bertindih tetap dengan kebenaran agama dan etika yang sudah ada. Ini berarti akan terjadi sedikit friksi atau bahkan bertentangan dengan moral umum. Misalnya soal dosa. Bagi agama dan etika pada umumnya dosa adalah pelanggaran terhadap hukum, tetapi dalam kekristenan adalah meleset, artinya tidak melakukan sesuai dengan selera Tuhan berarti dosa (apa pun). Dalam hal ini titik tolak kesucian adalah pikiran dan perasaan Tuhan. Juga sasalah doa, doa dipahami sebagai permintaan. Dalam berdoa seseorang mengajukan permintaan, tetapi dalam kekristenan doa adalah usaha untuk mengerti kehendak Tuhan. Bukan mengajukan permintaan tetapi mengajukan diri untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah.

Mengenai berbuat baik, biasanya dipahami sebagai memberi sesuatu kepada orang yang membutuhkan pertolongan, tetapi dalam kekristenan berbuat baik adalah melakukan sesuatu untuk menunjang atau melengkapi proyek keselamatan, bagaimana manusia dikembalikan kepada rancangan semula. Jika tidak demikian, kebaikannya sia-sia. Mengenai ibadah, dalam agama-agama pada umumnya, ibadah berarti melakukan kegiatan di lingkungan rumah ibadah. Dalam kekristenan ibadah adalah menggunakan semua potensi jasmani dan rohani untuk kepentingan Tuhan, yaitu menggenapi rencana Allah yaitu menggenapi jumlah corpus delicti, baik diri sendiri maupun orang lain yang kita bantu. Memuji dan menyembah Tuhan adalah kegiatan dalam lingkungan gereja yaitu pada waktu mengadakan liturgi, tetapi sebenarnya tidak demikian. Menyembah Tuhan adalah ketika seseorang memberi nilai tinggi Tuhan dan mewujudkan itu dalam tindakan. Selanjutnya agama mengajarkan bahwa beragama atau bertuhan selain menjadi baik (menurut moral) juga usaha untuk memperoleh jalan keluar bila memiliki suatu masalah. Ini namanya azas manfaat. Tetapi seharusnya tidaklah demikian, kekristenan mengajarkan kalau kita berurusan dengan Tuhan karena kita hendak menemukan tempat kita di hadapan Tuhan untuk mengabdi dan melayani Tuhan. Dengan demikian azas manfaat diganti azas devosi.

Pada umumnya seseorang merasa bahwa dirinya adalah penduduk bumi dan berusaha untuk hidup sesuai dengan standar umum yang berlaku serta berusaha untuk menikmati sebanyak-banyaknya apa yang disediakan. Kebenaran yang murni mengajarkan bahwa kita harus merasa sudah mati dan hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus. Walau pun belum meninggal, kita harus sudah mulai memindahkan hati ke dalam kerajaan Sorga. Cara berpikir ini suatu cara berpikir yang tidak dikenal dalam masyarakat umum. -Solagracia-

Kebenaran yang benar-benar benar merupakan terobosan yang tidak bisa bertindih tetap dengan kebenaran agama dan etika yang sudah ada.

Surat Gembala: BENAR-BENAR BENAR

Sebenarnya judul ini hendak mengisyaratkan bahwa adanya suatu nilai etika atau moral di atas segala nilai yang selama ini dianggap sudah baik atau benar. Ini berarti adanya sebuah terobosan di dunia etika dan agama yang tidak mudah ditemukan titik temunya. Untuk memahami kebenaran ini harus dengan kejujuran, kerendahan hati dan maksimalkan ratio serta faktor lain yang tidak ditemukan dalam ajaran mana pun. Benar-benar benar juga hendak menunjukkan adanya suatu tuntutan untuk mengenali apa yang sungguh-sungguh atau benar-benar benar. Ini berarti selama ini terjadi pemalsuan kebenaran. Ada hal-hal yang dianggap sebagai kebenaran puncak atau kebenaran murni padahal belumlah level kebenaran yang sejati. Pemalsuan ini bisa bertahan lama sebab apa yang belum benar tersebut bukan sesuatu yang bisa dianggap bernilai rendah. Apa yang belum benar-benar benar tersebut juga bernilai baik dan paling tidak dianggap sebagai standar bagi hampir semua orang. Oleh karena hal ini, maka banyak orang tidak lagi memperkarakan apa yang benar-benar benar itu. Faktor lain mengapa mereka tidak menemukannya sebab juga tidak mudahnya didapatkan sarana untuk mencerdaskan pikiran guna menemukan apa yang benar-benar benar. Dan yang paling menghambat diajarkannya kebenaran yang benar-benar benar adalah fakta bahwa apa yang bertentangan dengan konsep yang ada (yang konservatif) sering mudah dianggap sebagai sesat. Spirit konservatif ini membelenggu theologia benar.

Tuhan akan membuka kebenaran yang benar-benar benar kepada mereka yang memenuhi kualifikasi untuk menerima penyingkapan kebenaran. Pertama mereka yang memiliki latar belakang theologia yang memadai untuk menggali kekayaan Alkitab. Kedua mereka yang haus dan lapar akan kebenaran dan bersedia tidak mencintai dunia (Luk. 16:11). Dengan kualifikasi ini maka Roh Kudus akan membuka rahasia kebenaran tersebut (Yoh. 16:13). Kebenaran yang benar-benar benar ini bukan sekedar sebagai konsumsi pikiran tetapi sebagai juklak (petunjuk pelaksanaan) kehidupan orang-orang yang sungguh-sungguh mau menjadi sempurna seperti Bapa; mereka yang sedang berusaha memiliki kedaulatan atas moralnya tanpa batas.

Kebenaran yang benar-benar benar ini biasanya tidak terikat dengan sistim agama yang membelenggu kehidupan orang beragama selama ini yang lebih bersifat legalistik, tetapi lebih bersifat batiniah. Memang akhirnya kebenaran seperti ini sulit dirumuskan dengan kata-kata atau kalimat, tetapi bisa dipahamai dengan pikiran yang cerdas dan diperagakan. Peragaan kebenaran yang benar-benar benar ini akan dapat dirasakan oleh orang lain dan sangat memikat. Inilah sebenarnya yang disebut sebagai jalan hidup. -Solagracia-

Ada hal-hal yang dianggap sebagai kebenaran puncak atau kebenaran murni padahal belumlah level kebenaran yang sejati.

Suara Kebenaran 82: Menjadi Anak-anak Allah (Becoming God’s Children)

Umumnya orang Kristen mengaku dan meyakini dirinya anak-anak Allah. Pdt. Dr. Erastus Sabdono mengajak kita berpikir, apakah artinya menjadi anak-anak Allah itu.

Surat Gembala: MENGARAHKAN PIKIRAN

Pikiran adalah kemudi kehidupan yang mengarahkan seluruh kehidupan seseorang dan menentukan bagaimana keadaan hidupnya di bumi ini bahkan di kekekalan. Pentingnya peranan pikiran ini, menggerakkan dunia pendidikan berusaha secara intensif mengarahkan anak manusia sejak dini, sebab ketika anak manusia masih belia mereka sangat mudah untuk diarahkan. Salah asuh atau salah didik kepada mereka berakibat fatal kemudian hari. Hal yang sama terjadi juga dalam keselamatan, kalau seseorang tidak diarahkan sejak dini kepada Kerajaan Sorga atau maksud keselamatan diadakan, maka mereka tidak pernah selamat (menjadi manusia seperti yang Allah kehendaki). Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa kalau seseorang tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, maka ia tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 18:3). Kata bertobat dalam teks ini adalah strepho (στρέφω) yang artinya berbalik (turn, change, bring back). Sedangkan kata anak dalam teks aslinya disini adalah paidion (παιδίον), anak usia efektif dibentuk atau dididik atau diubah. Pernyataan Tuhan Yesus ini merupakan peringatan yang jelas agar orang percaya tidak menganggap sepele kesempatan yang Tuhan sediakan untuk berubah melalui pembaharuan pikiran agar bisa dikembalikan ke rancangan semula Allah.

Selagi masih bisa diubah atau memiliki keadaan seperti anak-anak, seseorang harus mengarahkan atau mengubah pikirannya sesuai dengan pikiran Tuhan. Sebab kalau sudah terlanjur melewati waktu, pada stadium tertentu seseorang tidak bisa diubah lagi. Seperti seseorang yang mengalami pengerasan hati (serosis), tidak bisa disembuhkan. Orang sakit yang sadar dirinya sakit membutuhkan dokter dan bisa diobati, tetapi kalau tidak menyadari sakitnya ia tidak akan ke dokter atau ke dokter tetapi sakitnya sudah tidak bisa diterapi lagi. Terkait dengan hal ini, banyak orang yang tidak menyadari sakitnya (kakos), sehingga mereka tidak menggarap keadaan yang rusak tersebut. Kalau hal itu berlarut-larut, maka ia sampai pada level menghujat Roh Kudus, artinya ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk digarap Roh Kudus karena percuma digarap, tidak mampu lagi untuk berbalik kepada Tuhan. Jika Roh Kudus tidak menggarap maka tidak ada lagi yang dapat mengarapnya. Terkait dengan hal ini, iblis akan berusaha agar manusia terlena dengan berbagai kesenangan dunia, sehingga selalu mendukakan Roh Kudus dan akhirnya menghujat-Nya. Orang-orang yang tertolak dalam Kerajaan Sorga pasti tidak pernah menduga bahwa ia akan berkeadaan seperti itu. Hal ini sama dengan seorang pejabat pemerintah yang sembrono mempermainkan jabatannya sampai akhirnya digelandang polisi ke penjara. -Solagracia-

Selagi masih bisa diubah, seseorang harus mengarahkan atau mengubah pikirannya sesuai dengan pikiran Tuhan.

Surat Gembala: WAKTU DAN TEMPAT YANG KHUSUS

Orang percaya harus memahami bahwa dalam realitas hidup ini ada sebuah perlombaan yang diwajibkan. Perlombaan tersebut dijalani semua orang percaya tak terkecuali. Perlombaan itu adalah memiliki iman yang sempurna agar orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12). Perlombaan tersebut terbingkai dalam suatu masa, dan masa setiap orang percaya berbeda-beda warnanya sesuai dengan rencana dan jadwal Tuhan. Terdapat semacam urutan rencana yang disusun Tuhan harus terjadi dalam kehidupan ini. Tuhan tidak akan mengingkari jadwal acara yang telah disusun-Nya. Di antara jadwal acara tersebut adalah bahwa di akhir jaman kasih kebanyakan orang menjadi dingin dikarenakan kejahatan akan bertambah-tambah (Mat 24:12). Banyak orang akan mencintai diri sendiri dan menjadi hamba uang (2 Tim 3:1-5). Ini berarti di akhir jaman akan lebih banyak orang yang gugur imannya. Keguruan tersebut bukan karena jumlah kuota orang yang dipilih Tuhan berkurang tetapi kejahatan dunia menempatkan iman Kristen semakin rawan. Semakin sulit orang bertobat. Mereka yang jahat akan berlaku semakin jahat sedangkan yang suci akan semakin dikuduskan (Dan. 12:10). Dengan demikian semakin sedikit orang yang diselamatkan. Di lain pihak bagi mereka yang selamat mereka akan menjadi orang-orang yang benar-benar unggul di hadapan Allah. Inilah yang dimaksud Tuhan bahwa yang terkemudian akan menjadi yang terdahulu (Mat. 20:16). Kalau orang percaya menyadari hal ini, maka ia akan masuk dalam “ketegangan yang kudus”. Ketegangan hidupnya bukanlah ketegangan karena mencari nafkah, berkarir, berebut kedudukan dan hormat atau hal-hal duniawi lainnya, tetapi bagaimana segera menjadi orang yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10).

Tuhan menempatkan kita di tempat kita masing-masing dan pada masa tertentu dengan kondisinya yang sangat khusus.

Suara Kebenaran 81: Produk yang Ditawarkan Gereja (The Product Offered By the Church)

ka gereja seumpama toko, produk apa yang ditawarkan? Sebuah liturgi, misa, kebaktian, mukjizat, atau apa? Pdt. Dr. Erastus Sabdono menjelaskan produk apa yang seharusnya ditawarkan oleh gereja kepada umat.

Surat Gembala: BERJUANG MENJADI BERHARGA SECARA IDEAL

Kalau seseorang tidak benar-benar menjadi indah seperti yang dikehendaki Bapa maka berarti ia tidak menjadi berharga. Harus diingat bahwa seseorang tidak pernah secara otomatis menjadi berharga setelah menjadi Kristen atau menjadi anak Tuhan. Itu barulah langkah awal dari sebuah perjalanan untuk menjadi benar-benar berharga di mata Allah. Setiap orang percaya dipanggil untuk mendadani diri supaya semakin berharga di mata Allah. Menjadi benar-benar berharga adalah perjuangan dari diri kita sendiri. Jika seseorang tidak berjuang maka tidak pernah menjadi seseorang yang sungguh-sungguh berharga di mata Tuhan. Oleh sebab itu jangan berpikir bahwa anda sudah berharga di mata Allah dan tidak perlu berjuang untuk berkenan kepada-Nya atau menjadi indah secara ideal di hadapan Tuhan.

Kesalahan yang bisa tergolong sebagai penyesatan yang terjadi dewasa ini adalah pernyataan mereka yang berdiri di mimbar yang menegaskan bahwa setiap jemaat sudah berharga di mata Allah tanpa menjelaskan secara lengkap maksud pernyataan itu. Bisa juga karena mereka tidak tahu kebenaran Firman Tuhan hal berharga di mata Tuhan. Mereka tidak memahami bahwa keberhagaan di hadapan Tuhan sesuatu yang bersifat progresif. Karena sudah merasa berharga, maka mereka stagnasi. Tidak ada usaha untuk berubah menjadi indah di mata Tuhan agar benar-benar berharga. Mereka hanya memuji-muji bahwa Allah itu baik dan luar biasa, tetapi tidak berusaha membuat dirinya baik dan luar biasa dalam moral seperti Bapa di Sorga. Dalam berurusan dengan Allah mereka hanya berusaha untuk memperoleh berkat jasmani dan bisa menikmati dunia ini sebanyak-banyaknya. Para “pelayan palsu” yang materialistis memanfaakan suasana ini untuk mencari keuntungan harta. Mereka mengajarkan praise and worship dan membuat seindah-indahnya liturgi kebaktian seakan-akan itulah yang dapat menyenangkan hati Tuhan. Mereka berusaha membalas kebaikan Tuhan yang membuat mereka berharga dengan pujian dan penyembahan. Pada hal mestinya membalas kebaikan Tuhan yang menjadikan dirinya berharga adalah dengan bertumbuh dalam kebenaran agar menjadi serupa dengan Tuhan Yesus agar menjadi indah di mata Allah Bapa. Itulah yang membuat dirinya berharga secara ideal. Keindahan seperti inilah tujuan keselamatan itu. Menolak hal ini berarti menolak keselamatan. Kuasa kegelapan akan berusaha untuk memberi banyak keinginan supaya orang Kristen berjuang untuk memperolehnya. Setelah memperolehnya, akan didorong untuk mencari yang lain. Terus menerus demikian sampai kematian menjemput. Orang-orang ini telah terbujuk oleh keindahan dan kecantikan dunia sehingga tidak memperdulikan apa penilaian Allah atas dirinya.
– Solagracia -

Jika seseorang tidak berjuang maka tidak pernah menjadi seseorang yang sungguh-sungguh berharga di mata Tuhan secara ideal.

Suara Kebenaran 80: Hidup Berkelimpahan (Life in Abundance)

Dalam Yohanes 10:10 Tuhan Yesus menjanjikan hidup yang berkelimpahan. Tetapi nyatanya banyak orang belum menemukan hidup yang berkelimpahan itu, bahkan belum menemukan Tuhan. Pdt. Dr. Erastus Sabdono menguraikan bagaimana menemukan hidup yang berkelimpahan itu.

Surat Gembala: PELUANG YANG HARUS DIMANFAATKAN

Dalam sejarah pekerjaan Tuhan, baik yang ditemukan dalam Alkitab maupun yang tercatat dalam sejarah gereja, ditemukan dua hal yakni tantangan dan peluang. Dalam pekerjaan Tuhan terdapat tantangan yang dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internal maksudnya adalah tantangan yang terdapat dalam lingkungan orang Kristen sendiri. Tantangan dari aspek internal antara lain, kenyataan tidak banyak orang Kristen yang menyadari bahwa pekerjaan Tuhan adalah tanggung jawab bersama setiap orang percaya. Mereka harus menyadari bahwa setiap orang Kristen harus hidup dalam pekerjaan Tuhan atau dalam pelayanan Tuhan (Yoh. 20:21). Setiap orang yang mengikut Yesus harus mengikuti jejak-Nya. Setiap orang yang percaya kepada Yesus dan hidup di dalam Dia, ia wajib hidup seperti Yesus hidup yaitu menjadi utusan Bapa (1Yoh. 1:6).

Banyak gereja sibuk dalam pelayanan ke dalam sehingga mengabaikan pekerjaan Tuhan yang sifatnya keluar, termasuk kepentingan membangun jaringan kerja. Mereka tidak memedulikan kepentingan pekerjaan Tuhan secara menyeluruh atau secara global. Biasanya gereja seperti ini adalah gereja perusahaan, dimana gereja menjadi lahan pencarian nafkah pendeta semata. Mereka tidak memiliki visi, melihat kepentingan pekerjaan Tuhan secara universal bersama gereja lain. Kalau seorang gembala jemaat tidak memiliki visi bersama maka jemaatnya yang dilayanipun akan berpikiran picik seperti pemimpinnya. Kita harus menerima kenyataan bahwa gereja adalah milik Tuhan. Tidak ada seorang pun yang berhak merasa memiliki jemaat Tuhan. Berangkat dari pemahaman ini maka kita tidak akan egois. Gereja bukanlah perusahaan pribadi tetapi bisnis Bapa dan Tuhan Yesuslah kepalanya. Adapun tantangan secara eksternal adalah tantangan yang berasal dari luar gereja antara lain: Keadaan dunia yang fasik yang menjadikan kemurnian iman orang percaya rawan, kejahatan yang bertambah-tambah sehingga berbagai bidang hidup manusia mengalami dekadensi, pengkristalan iman atau agama, termasuk munculnya kelompok ekstrim beragama yang berusaha membangkitkan sentimen terhadap kekristenan dan lain sebagainya. Tantangan dan peluang inilah yang menjadi fokus proyek jaringan kerja (net working) yang merupakan kesempatan besar bagi orang percaya untuk berkarya di hari-hari terakhir sebelum Tuhan datang kembali. Bagi orang percaya yang mengasihi Tuhan tantangan adalah peluang untuk membuktikan kasih cinta kepada Tuhan. Marilah kita memanfaatkan peluang ini bersama-sama dan menghadapi tantangan bersama-sama dalam jaringan kerja gereja-gereja. -Solagracia-

Bagi orang percaya yang mengasihi Tuhan tantangan adalah peluang untuk membuktikan kasih cinta kepada Tuhan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29.254 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: