KONSEKUENSI BERPERKARA DENGAN TUHAN

Kita sering mendengar pemimpin pujian atau pembicara berkata, “Mari kita berperkara dengan Tuhan”. Ketika kalimat ini dilontarkan, dapat dipastikan bertalian dengan masalah hidup dan kebutuhan hidup hari ini. Berperkara dengan Tuhan tidak berhenti pada permasalahan hidup, tetapi harus bergerak maju kepada persoalan perubahan watak dan karakter kita. Jika orang beragama mendekati illahnya dengan maksud supaya digampangkan urusannya, dientengkan jodohnya, dibukakan pintu rezekinya atau segala sesuatu yang bertalian dengan kepentingan dirinya maka kekristenan tidak boleh seperti itu. Tuhan kita adalah Allah yang hidup dan memiliki perasaan yang sempurna. Dia tahu rancangan yang terbaik bagi anak-anak-Nya yang mengasihi Dia. Permasalahan hidup yang Tuhan ijinkan terjadi kepada setiap manusia, adalah dalam rangka agar mereka mencari Tuhan, dengan demikian Tuhan bisa menggarap karakternya sampai sempurna seperti Bapa. Tuhan lebih mementingkan penyelesaian watak dan karakter daripada masalah hidup. Oleh karena itu hendaknya gayung bersambut antara Allah dan manusia. Tetapi jangan kuatir, Tuhan pasti memberi jalan keluar ketika kita mengalami pencobaan (1Kor.10:13). Jika berurusan dengan Tuhan hanya untuk hidup hari ini saja maka kita adalah orang yang paling malang dari segala manusia yang ada (1 Kor.15:19). Oleh karena itu tujuan hidup kita harus diarahkan kepada perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kol. 3:1-4).
Gereja harus menjadi garda terdepan untuk mengambil tanggungjawab mengarahkan umat kepada fokus yang benar yaitu LB3 (Langit Baru Bumi Baru). Setiap pelayan umat harus mengenal Injil yang murni sehingga apa yang disampaikan adalah estafet kebenaran Tuhan yang murni pula. Ketulusan hati pelayan umat harus di barengi dengan kecerdasan roh, sehingga bisa menangkap gerak Tuhan yang paling lembut sekalipun. Abraham memang bapak orang beriman, tetapi menjadi orang Kristen tidak otomatis mewarisi iman Abraham secara benar jika tanpa diajarkan bagaimana Abraham rela meninggalkan kenyamanan hidupnya, dengan meninggalkan Urkasdim, menjadi musyafir, dan tidak tahu kemana tujuan kota yang dijanjikan oleh Allah, tetapi ia tidak kehilangan fokus akan Yerusalem Baru, kota yang dibangun oleh Allah sendiri (Ibr.11:8-15). Bagi dia lembah Yordan tidaklah menarik walapun seperti taman Tuhan, bahkan ketika harus menyembelih Ishakpun tidak menjadi masalah asal Allah yang menghendakinya. Jadi, apa yang kita perkarakan dengan Tuhan hari ini masalah atau watak kita? – Solagracia

Tuhan kita adalah Allah yang hidup dan memiliki perasaan yang sempurna. Dia tahu rancangan yang terbaik bagi anak-anakNya yang mengasihi Dia.

RESPON TERHADAP KEBAIKAN TUHAN

Pada zaman torat, orang yang mengalami sakit kusta sama halnya seseorang yang sudah mati, hanya belum masuk liang kubur. Seluruh hak hidupnya hilang bersama sakit yang dideritanya. Penyakit kusta bukan saja merupakan penderitaan fisik tetapi juga batin dan tidak menutup kemungkinan hidup rohaninya pun bisa mati. Sakit kusta merupakan penderitaan yang dahsyat pada waktu itu, di mana para penderitanya harus terbuang dari keluarga, lingkungan dan masyarakat bahkan agama sekali pun. Orang yang terkena kusta mustahil bisa beribadah ke dalam bait Allah, betapa dahsyatnya penderitaan ini. Dalam Luk.17:11-17 diceritakan ada sepuluh orang kusta telah mengalami mujizat kesembuhan dari Tuhan Yesus, tetapi hanya satu orang saja yang tahu berterima kasih dan memuliakan Dia. Sembilan orang tidak tahu berterima kasih apalagi membalas budi (Luk. 17:11-19). Sembilan orang ini mencari Tuhan Yesus murni karena ingin memenuhi kebutuhannya yaitu sembuh dari kustanya, tetapi yang seorang bukan hanya ingin sembuh dari sakit kustanya, melainkan ia juga ingin memuliakan Allah. Secara kebangsaan dia orang Samaria yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang Yahudi, ditambah kena kusta, jauh rasanya untuk bisa memuliakan Tuhan. Kalaupun sembuh rasanya berat untuk mendapatkan pengakuan tahir dari imam-imam yang adalah orang Yahudi sehingga ia bisa memuliakan Allah.
Dari kisah di atas kita bisa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Yang pertama, Tuhan adalah Kasih adanya, oleh karena itu Ia pasti berbelas kasihan terhadap orang yang kehilangan pengharapan (ay. 13-14, Yer 33:3). Yang kedua, dalam keadaan terpuruk janganlah kita bimbang, apalagi kehilangan pengharapan dan iman, karena Tuhan pasti memberikan pertolongan tepat pada waktu-Nya (ay. 19). Yang ketiga, kelegaan hidup yang kita alami janganlah membuat kita seperti ”kuda lepas dari kandang”, atau seperti “kacang lupa kulitnya” (ay. 15-18). Mengucap syukur kepada Tuhan bukanlah syarat, melainkan kodrat anak Tuhan.
Belajar dari sikap orang Samaria tadi kita harus tahu diri dan tahu budi di hadapan Tuhan. Ciri orang Kristen tahu budi adalah pertama, pastilah ia menghargai keselamatan yang sudah ia terima dan ia tidak akan pernah pindah agama hanya karena jodoh, karena Tuhan akan menyangkal orang yang seperti ini (Mat. 19:33). Yang kedua, ia akan berusaha mati-matian untuk tidak mencintai dunia (Ibr. 12:16). Dan yang terakhir, ia akan berusaha hidup sesuai dengan selera Tuhan yaitu menyelamatkan banyak jiwa (1Tes. 4:7, 1Ptr. 1: 13-16). – Solagracia

Kita harus tahu diri dan tahu budi di hadapan Tuhan, menghargai keselamatan, tidak mencintai dunia, dan berusaha hidup sesuai dengan selera Tuhan

Memperbaiki Diri (Fixing Ourselves): Suara Kebenaran 92

Manusia cenderung suka menikmati dirinya sendiri, tanpa sadar bahwa yang dilakukannya sering mendukakan hati Tuhan. Pdt. Dr. Erastus Sabdono menjelaskan bahwa untuk memperbaiki diri dari jalan yang salah itu tidak semudah membalik telapak tangan.

COMPASSION

Niat baik tidaklah cukup untuk dijadikan modal dalam melayani Tuhan. Keselarasan cita rasa dengan Tuhan menjadi hal yang sangat penting. Standard pelayanan adalah kepuasan hati Bapa, bukan kepuasan kita. Tuhan Yesus telah melakukan-Nya dan itulah compassion-Nya. Compassion berarti sympathetic pity and for suffering or misfotunes of others (simpati atau rasa terbeban dan belas kasihan terhadap penderitaan atau kemalangan orang lain). Tuhan Yesus telah mengambil alih maut yang seharusnya dialami manusia, seharusnya tidak perlu Ia lakukan. Ia tahu betul bahwa penderitaan fisik yang Ia alami di atas kayu Salib tidak sebanding dengan kebinasaan yang akan dialami oleh manusia, keadaan inilah yang menjadikan Ia tidak bergeming menghadapi siksaan itu. Suasana hati seperti ini hendaknya menjadi dasar pelayanan anak-anak Tuhan.
Yunus telah memberitakan akan adanya hukuman Allah kepada bangsa Niniwe, alih-alih mengharapkan bangsa Niniwe bertobat, tetapi yang terjadi ia tidak rela jika orang non-Yahudi diselamatkan. Yunus melakukan perintah Tuhan tetapi tidak memiliki perasaan yang sama dengan si Pemberi perintah. Perasaan seperti ini juga telah terjadi dalam hati banyak pelayan Tuhan hari ini. Mengapa bisa demikian? Sebab mereka sendiri tidak pernah terbeban dengan keselamatan jiwanya. Melengkapi hidup dengan berbagai fasilitas dianggap sebagai bentuk upaya telah menyelamatkan jiwanya, tanpa disadari tindakan ini sebenarnya membunuh diri sendiri. Mereka melakukan hal ini karena tidak mengenal kebenaran Tuhan. Mereka orang-orang yang bermoral baik, tetapi fokus hidupnya bukan pada kekekalan, tetapi kepada perkara duniawi. Orang seperti ini tidak mampu memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 6:21). Jangankan memiliki compassion untuk orang lain, untuk dirinya sendiri saja tidak. Bergereja hanya untuk menikmati kesenangan spiritual dan merasa sudah pasti masuk Sorga, kelompok ini tidak pernah dewasa imannya. Ciri orang seperti ini adalah, mereka tidak berani “all out” bagi Tuhan. Kalau orang belum bisa mengasihi dirinya sendiri dengan benar, tidak mungkin mereka bisa mengasihi orang lain. Mereka tidak memancarkan kehidupan rohani yang dewasa dan memikat. Melayani Tuhan bukan dengan hati kita, tetapi dengan hati-Nya Tuhan atau pikiran perasaan Kristus (Fil. 2:5-7) compassion kita harus selaras dengan compassion Tuhan. Pengertian terhadap Firman Tuhan yang murni akan membangun compassion yang benar (Gal 1:6-10). Oleh karena itu pengajaran geraja harus murni sesuai dengan compassion-nya Tuhan. – Solagracia

Pengertian terhadap Firman Tuhan yang murni akan membangun compassion yang benar.

Hidup Dalam Berkat Tuhan

Satu pertanyaan yang perlu di kemukakan adalah: ”Apa ruginya ikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh?” Jawabnya tentu tidak ada ruginya. Jawaban sederhana seperti ini sebenarnya berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, karena terbukti banyak orang tidak sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus. Mengapa demikian? Karena mengikut Tuhan Yesus dianggap sesuatu yang ruwet, kompleks, melelahkan dan tidak menarik. Sebagian orang berpikir, bahwa mengikut Tuhan masih bisa ditunda. Karena pengaruh filsafat modern, sebagian orang beranggapan mengikut Tuhan tidak perlu dan tidak berguna, karena mereka melihat banyak orang tanpa Tuhan, hidupnya aman-aman saja. Pikiran seperti ini adalah bodoh, sesat dan berujung pada keterpisahan dengan Tuhan di kekekalan kelak.
Beruntunglah orang yang mau mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, karena dia tidak akan pernah menyesal di kekekalan kelak. Haus dan lapar akan Tuhan adalah kuncinya, sebagaimana manusia haus dan lapar merupakan proses metabolisme tubuh yang normal untuk kelangsungan hidup manusia di bumi ini. Hidup manusia adalah kekal, oleh karena itu kehausan akan Tuhan merupakan keadaan normal demi kehidupan di kekekalan (Mat. 5:6). Ciri orang yang haus akan Tuhan pastilah kasihnya akan Tuhan bertumbuh, dan orang yang mengasihi Tuhan pasti akan menerima berkat dari Allah(1Kor.2:9).
Berbicara berkat tentunya harus lengkap dalam memahaminya. Dalam Mazmur 23:1-6, paling tidak ada enam jenis berkat yang dimaksudkan antara lain yang pertama Berkat jasmani, jika kita dapat dipercayai Tuhan (kerja keras, jujur) maka Ia akan menyediakan segala keperluan kita( Flp. 4:19). Kedua Berkat Damai sejahtera, Tuhan tau bahwa jiwa kita pun butuh penyegaran(Mzm. 23:3, Yoh. 14 :27). Berkat ketiga Pembentukan karakter, Ia akan menuntun ke jalan yang benar sampai sempurna seperti Bapa (Mzm.23:3, Mat. 5:48). Keempat Berkat Penyertaan Tuhan, di dalam lembah kekelaman sekalipun, Tuhan sanggup menyertai kita( Maz.23:4). Berkat kelima Hidangan di depan lawan, ada kata minyak dan piala di sini bicara Firman Tuhan dan Roh Kudus sebagai pedang dan kuasa untuk menjadi saksi Tuhan (Ef. 6:17, Kis. 1:8). Dan yang keenam Berkat Tinggal di rumah Bapa di Surga, inilah puncak dari semua berkat yang Tuhan sediakan, diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa (Mzm. 23:6). Pembaharuan karakter oleh Firman dan Roh Kudus menjadikan kita berkat bagi sesama sehingga kita layak di sebut pelayan Tuhan, dan layak menerima berkat utama yaitu, tinggal bersama Bapa di Surga. – Solagracia –

Beruntunglah orang yang mau mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, karena dia tidak akan pernah menyesal di kekekalan kelak.

Surat Gembala: POTENSI SELALU BERKENAN

Orang percaya bukan hanya berusaha untuk tidak berbuat suatu kesalahan baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, tetapi orang percaya juga berusaha untuk terus bergerak mencapai suatu level kehidupan yang berpotensi selalu melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah. Selalu melakukan kehendak Bapa berarti tidak ada peluang lagi untuk berbuat sesuatu yang tidak “pas” di hati Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Potensi ini bisa dimiliki melalui perjalanan panjang dan perjuangan berat. Untuk meraih ini bukanlah karunia saja, tetapi kerja keras yang melibatkan seluruh potensi dan waktu hidup ini. Untuk ini segala sesuatu yang lain harus ditempatkan pada urutan belakang. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus bahwa untuk dapat menjadi murid-Nya seseorang harus melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33).
Mengembangkan potensi untuk selalu melakukan kehendak Bapa harus mengorbankan segala sesuatu. Jiwa kita harus merasa tidak tenang sebelum dengan yakin bahwa posisinya ada di dalam kehendak Allah atau ada di level yang memuaskan hati Bapa di Sorga. Sesungguhnya inilah yang disebut sebagai “perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibr. 12:1). Perlombaan inilah yang membawa orang percaya kepada kehidupan iman yang sempurna, artinya kualitas hidup seperti Tuhan Yesus sendiri (Ibr. 12:2-3).
Bapa di Sorga akan menuntun kita agar kita menjadi anak-anak yang sah (huios) yang berkeadaan seperti Anak Tunggalnya (Ibr. 12:4-9), yang akhirnya kita bisa mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:9). Perlombaan inilah yang dimaksudkan oleh Yohanes “supaya mereka menjadi anak-anak Allah”. Seseorang tidak akan dapat disebut sebagai anak-anak Allah kalau tidak mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Petrus mengkalimatkan dengan kalimat “mengambil bagian dalam kodrat Ilahi” (2Ptr. 1:3-4).
Seseorang dapat disebut sebagai anak-anak Allah kalau mengenakan kodrat Ilahi, luput dari hawa nafsu dunia yang membinasakan. Setiap kali kita melakukan suatu kesalahan, kita disadarkan bahwa kita masih memiliki “kodrat manusia” yang memuat hawa nafsu dunia yang membinasakan. Perlombaan ini haruslah menjadi satu-satunya kesibukan hidup yang menyita seluruh perhatian dan energi kita. Segala sesuatu yang lain dilakukan sebagai dukungan terhadap proyek yang berdampak kekal ini. Perlombaan ini hanya dialami oleh orang-orang yang hidup dalam Perjanjian Baru, yaitu mereka yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. – Solagracia

Selalu melakukan kehendak Bapa berarti tidak ada peluang lagi untuk berbuat sesuatu yang tidak “pas” di hati Allah.

Taman Hati Kita (The Garden of Our Heart): Suara Kebenaran 91

Apakah diri kita bagaikan taman yang nyaman untuk dinikmati Tuhan, atau tidak? Pdt. Dr. Erastus Sabdono mengajak kita merenungkannya.

Surat Gembala: CIRI ORANG YANG MENEMUKAN TUHAN

Orang yang sungguh-sungguh menemukan Tuhan pasti memiliki ciri-ciri yang jelas dalam hidupnya. Ciri yang paling utama adalah memiliki karakter seperti Allah sendiri. Umat Perjanjian Lama mencari Tuhan dengan mempelajari Torat atau ilmu agama sehingga mereka menguasai Torat dan bertindak sesuai dengan Torat tersebut. Mereka menjadi orang-orang saleh yang ditandai dengan melakukan hukum torat serta melakukan segala syariatnya. Tetapi umat Perjanjian Baru yang menjadikan Tuhan sebagai hukumnya, bila menemukan Tuhan pasti akan ditandai dengan mampu bertindak seperti Allah bertindak.
Karena hal inilah maka orang-orang Kristen yang benar akan mengalami frustasi yang kudus ketika ia mendapati dirinya belum melakukan apa yang tepat seperti yang Tuhan kehendaki. Dengan penjelasan lain, belum merasa bahwa ia bertindak seperti Tuhan Yesus; belum bisa berkata “hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”. Frustasi yang kudus ini sama dengan “kehausan dan kelaparan akan kebenaran” (Mat 5:6). Biasanya orang frustasi karena masalah ekonomi, jabatan, sakit hati karena dilukai dan berbagai penyebab lain, tetapi orang percaya yang benar akan merasa frustasi karena dirinya belum menjadi pribadi yang memuaskan hati Bapa di Sorga. Orang-orang seperti ini pasti mengalami perubahan yang nyata atau nampak jelas. Sesuai janji Tuhan, Tuhan pasti akan memuaskan mereka, artinya Tuhan akan membuat mereka mampu melakukannya. Betapa bahagianya bisa mencapai hal ini.
menemukan Tuhan maka ia ada dalam kesadaran penuh bahwa tubuhnya adalah bait Roh Kudus, maka dengan sendirinya ia menjauhkan diri dari dosa yang bertalian dengan kenajisan tubuh. Kalau ia berbuat salah berkenaan dengan tubuhnya akan ada dukacita yang sangat dalam, sampai ia takut melakukan dosa yang sama. Dalam hal ini kekudusan seseorang terbangun secara natural dan sejati. Selanjutnya orang yang menemukan Tuhan akan berusaha mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan perubahan segenap hidupku. Ia akan membela pekerjaan Tuhan tanpa batas. Baginya pekerjaan Tuhan adalah seluruh hidupnya; segenap nyawanya. Ia tidak akan perhitungan sama sekali untuk Tuhan yang sudah ditemukannya (Flp. 3:7-8).
Akhirnya orang yang menemukan Tuhan pasti memiliki keberanian yang hebat menghadapi apa pun juga, bahkan kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Keberanian hidup muncul secara natural atau dengan sendirinya. – Solagracia

Orang yang menjadikan Tuhan sebagai hukumnya, bila menemukan Tuhan pasti akan bertindak seperti Allah bertindak.

Surat Gembala: SPIRIT MENCARI TUHAN

Kata mencari Tuhan dalam lingkungan orang percaya adalah kata yang sudah tidak asing. Sering diucapkan dan didengar. Tetapi tidak banyak yang benar-benar mengerti apa yang dimaksud dengan mencari Tuhan itu apalagi menggelarnya. Sehingga faktanya banyak orang beragama Kristen tetapi tidak mencari Tuhan. Hendaknya seseorang tidak berpikir dangkal, sudah merasa mencari Tuhan hanya karena pergi ke gereja. Mencari Tuhan pada dasarnya dibangun dari dua motivasi utama, pertama berusaha mengenal Tuhan untuk dapat melakukan kehendak-Nya. Untuk ini pihak gereja harus mengajarkan kebenaran agar jemaat mengenal Allah dengan benar. Sebagai buahnya orang percaya diajar untuk menempatkan diri dengan benar di hadapan-Nya. Karakternya diubahkan terus untuk dapat dikembalikan seperti rancangan Allah semula, menghormati Tuhan atau menyembah Tuhan dan melayani Tuhan dengan membantu orang lain bisa memiliki kedewasaan rohani yang benar.
Kedua, berusaha mengalami Tuhan setiap saat sehingga dapat menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan. Ini bukan sekedar pengalaman keagamaan dalam liturgi atau misa. Tetapi pengalaman riil dengan Tuhan setiap hari. Untuk ini seseorang harus serius menghayati atau memberi perhatian kepada kehadiran Tuhan setiap saat, meninggalkan kesenangan dunia dan berusaha merubah cita rasa jiwanya terhadap dunia ini. Tentu saja orang-orang seperti ini akan menyediakan waktu pergi ke gereja, doa pribadi dan bersekutu dengan saudara-saudara yang memiliki kerinduan yang sama. Tanpa hal ini seseorang akan gagal untuk dapat menikmati Tuhan.
Kalau seseorang ke gereja hanya karena memiliki masalah agar dapat jalan keluar dari masalahnya atau karena suatu kebutuhan jasmani, itu berarti belum mencari Tuhan. Mereka hanya mencari jalan keluar dari masalahnya atau menemukan pemenuhan kebutuhan jasmaninya. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang Israel pada zaman Tuhan Yesus di bumi mengenakan tubuh daging, mereka mencari Tuhan hanya karena roti (Yoh. 6:26). Mereka mencari sesuatu yang tidak prinsip atau bukan kebutuhan utama. Karena kebodohan itu mereka tidak melihat “tanda” atau petunjuk arah (Yun. semeion; σημεῖον). Hal yang sama seperti orang-orang Israel yang bodoh tersebut dilakukan banyak orang Kristen hari ini yang pergi ke gereja bukan karena hendak mencari Tuhan. Celakanya pihak gereja melegalisir praktik tersebut seakan-akan benar. Oleh sebab itu jemaat harus jeli menilai gereja mana yang benar dan yang palsu. – Solagracia

Kalau seseorang ke gereja hanya karena demi jalan keluar dari masalahnya atau suatu kebutuhan jasmani, itu berarti belum mencari Tuhan.

BAHASA KEAKRABAN YANG NATURAL

Memuji dan menyembah Allah haruslah menjadi irama otomatis yang mengalir keluar dari hati, bukan sesuatu yang dipaksakan. Seseorang yang memiliki kehidupan sikap hati memberi nilai tinggi Tuhan atau menghormatinya dengan pantas secara otomatis atau dengan sendirinya memiliki “spirit menyembah” secara terus menerus tiada henti. Ia tidak perlu berusaha untuk menyembah sebab dengan sendirinya irama menyembah itu sudah permanen ada, tinggal mengekspresikan kapan saja dan di mana saja. Untuk mengekspresikannya tidak tergantung suasana, tempat, liturgi, musik dan lain sebagainya. Sikap menyembah bisa diekspresikan tanpa bisa dihambat oleh apapun juga.
Kalau ia seorang pembicara atau pengkhotbah, worship leader dan singer, dengan ringan tanpa beban bisa menyembah Tuhan di depan jemaat dengan tulus. Ia tidak perlu mencari-cari wajah Tuhan atau melakukan pemanasan untuk menemukan hadirat Tuhan. Kenyataan yang kita lihat, tidak banyak orang yang memiliki spirit penyembahan seperti ini. Oleh sebab itu pelayananan puji-pujian dan penyembahan harus dilakukan oleh mereka yang terus menerus belajar menyembah Allah setiap hari sehingga memiliki spirit menyembah dengan benar atau berkualitas tinggi. Dan seorang pembicara harus memiliki spirit menyembah, walaupun tidak bisa menyanyi dengan baik, tetapi spirit penyembahan akan menolongnya mampu mengajak orang untuk menyembah Allah.
Memang untuk melayani mimbar seseorang tidak harus menunggu sempurna baru mengambil bagian dalam pelayanan ini, tetapi asal sungguh-sungguh belajar untuk menyembah Allah dengan benar, maka ia mulai akan dapat memancarkan “spirit” pujian dan penyembahan yang benar. Dalam pergaulan dengan Tuhan seseorang akan menemukan bahasa keakraban yang natural, spontan dan tulus. Sebuah percakapan yang tidak ada unsur protokuler. Sebuah percakapan dari hati ke hati. Percakapan yang menyentuh hadirat Tuhan menciptakan kerendahan hati yang tulus dan natural. Akan ada jalur komunikasi dengan Tuhan yang bisa dirasakan orang lain. Seorang pembicara, worship leader dan singer mutlak memilikinya. Oleh karena tidak belajar menyembah Allah, maka banyak orang Kristen yang sebenarnya belum menyembah Allah dengan benar. Mereka hanya menyanyi dalam gereja bahkan mereka bersikap lahiriah memuji dan menyembah Allah, padahal sebenarnya mereka hanya berpura-pura menyembah Tuhan. Mereka ini adalah manusia munafik yang mencoba menipu Tuhan. – Solagracia

Dalam pergaulan dengan Tuhan seseorang akan menemukan bahasa keakraban yang natural, spontan dan tulus.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29.809 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: