Video TRUTH Edisi 25

Bejana Hati

Bejana hati kita hanya bisa dipenuhi oleh Tuhan, dan itu nyata dari prinsip hidup hanya untuk melakukan kehendak-Nya.

Banyak orang Kristen merasa sudah memiliki Tuhan Yesus dalam hidupnya, padahal sebetulnya belum. Betapa terkejutnya saat berhadapan dengan Tuhan Yesus nanti, mereka mendengar Tuhan dengan terus terang berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu.” Artinya, “Aku tidak pernah menikmatimu, Aku tidak berkenan kepadamu, sebab Aku tidak menemukan dirimu melakukan kehendak-Ku.”

Ironis dan menyedihkan sekali manakala orang yang sudah melakukan banyak mukjizat, bernubuat dan mengusir setan akhirnya ditolak oleh Allah. Ingat, bukan orang yang memanggil Dia Tuhan bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa. Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Lukas 13:24).

Melakukan kehendak Bapa membutuhkan suatu syarat, yaitu mengosongkan bejana hati kita dari segala keinginan, dan menggantikannya dengan prinsip hidup “melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yohanes 4:24). Bejana hati manusia itu seperti sumur yang tidak memiliki dasar. Mau diisi air seberapapun banyaknya, pasti akan lenyap; tak ubahnya membuang garam ke laut.

Bejana hati manusia selalu haus akan berbagai hasrat, keinginan dan cita-cita. Ini sudah menjadi hal yang dianggap normal dan wajar bagi manusia. Setiap hari, manusia harus “menimba air” untuk berusaha mengisi bejana hati tersebut, tetapi keesokannya pasti akan haus lagi (Yohanes 4:15). Tetapi sebagai orang percaya, Tuhan Yesus memberikan air hidup kepada kita, sehingga dengan menyediakan bejana hati kita untuk dipenuhi oleh-Nya, kita tidak akan haus lagi untuk selama-lamanya. Justru dalam diri kita akan tumbuh mata air yang terus menerus memancarkan air hidup Tuhan sampai kepada hidup yang kekal (Yohanes 4:14).

Dengan ini kita mengerti bahwa dahaga atau kekosongan rongga hati yang ada dalam diri manusia hanya bisa dipenuhi oleh Tuhan sendiri. Tak bisa dipenuhi dengan mencoba memuaskan hasrat dan keinginan kita. Keinginan yang tak ada habisnya tidak akan memberi ruang bagi bejana hati kita untuk bisa diisi dengan segala sesuatu yang berasal dari Bapa. Tentu ini menjadi kecelakaan fatal dalam kehidupan kita, sebab kita tidak dapat mengerti apakah kehendak Bapa itu, apalagi melakukannya. Kesediaan seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat nyata pada kesediaan melakukan segala kehendak Bapa, dan itu dibuktikan dengan kerelaan menyediakan bejana hati kita diisi oleh Tuhan.

Dapat Didewasakan

Orang yang hidup menurut roh dapat memiliki kembali keberadaan seperti sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, dan dapat didewasakan hingga sempurna

Mungkin selama ini kita berpikir, sesudah percaya kepada Tuhan Yesus, otomatis kita sudah tidak bisa dikuasai lagi oleh Iblis dan dosa. Sesungguhnya tidak sesederhana itu, sebab kemerdekaan dalam Kristus adalah kemerdekaan yang bertanggung jawab.

Rasul Paulus mengingatkan kita seperti dalam Galatia 5:1, bahwa Kristus sudah memerdekakan kita, berarti kita harus sungguh-sungguh merdeka, dan untuk tetap hidup dalam kemerdekaan itu, kita harus hidup terlepas dari cengkeraman kuasa dosa sama sekali, tidak mau diperhamba lagi olehnya.

Pembebasan Tuhan Yesus atas kita dari cengkeraman Iblis dan dosa memanggil kita untuk hidup menurut roh. Bagi umat Perjanjian Baru, hidup menurut roh mutlak harus dilakukan, sebab orang yang hidup menurut daging tidak mungkin memperoleh perkenanan Allah (Roma 8:8).

Hidup menurut daging bukan berarti selalu melakukan dan menghasilkan hal-hal yang bertentangan dengan hukum moral yang berlaku di masyarakat. Orang yang hidup menurut daging tidak selalu hidup tidak beradab dan tidak mengenal norma manusia. Melalui pendidikan moral, agama dan berbagai filsafat yang baik bisa menghasilkan manusia yang baik pula.

Hukum Taurat itu baik, tetapi tetap saja bersifat daging. Manusia yang berusaha melakukan hukum Taurat akan menjadi manusia yang baik, tetapi masih hidup menurut daging, sebab jika kita mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat, kita hidup di luar anugerah Allah (Galatia 5:4).

Karena itu hidup menurut roh adalah hidup mengikuti Roh (Gal. 5:25), yaitu kehidupan di dalam anugerah Allah, yang bisa mencapai kesucian yang diinginkan oleh Bapa, yaitu berkarakter Kristus. Orang yang hidup menurut roh dapat memiliki kembali keberadaan seperti sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, dan dapat didewasakan hingga sempurna.

Jadi jangan sia-siakan anugerah Tuhan agar kita bisa hidup menurut roh. Ini tidak bisa dilakukan oleh umat Perjanjian Lama, sebaik apapun mereka. Umat Perjanjian Lama tidak dipanggil untuk sempurna; panggilan untuk sempurna hanya bagi kita yang hidup pada zaman Perjanjian Baru. Itulah sebabnya mengikut Tuhan Yesus bukanlah sesuatu yang mudah. Justru setelah menjadi orang percaya, hidup kita menjadi terasa lebih berat, karena harus belajar hidup menurut roh. Tetapi sekalipun berat di dunia ini, kita memperoleh pembenaran yang kita harapkan.

Belajarlah mati !

Mengakhiri kehidupan lama kita merupakan respon kita terhadap anugerah Allah yang sangat mahal

Tidak ada hal yang lebih membahagiakan hati Tuhan selain kesediaan mengakhiri kehidupan ini. Apa maksudnya? Jangan curiga dulu. Mengakhiri kehidupan di sini bukan mati secara jasmani sehingga harus dikubur di pemakaman. Mengakhiri kehidupan maksudnya adalah kesediaan menanggalkan kehidupan yang lama, dan memiliki kehidupan yang benar-benar baru sesuai dengan standar kehidupan anak-anak Allah.

Kehidupan seperti ini telah diperagakan oleh Tuhan Yesus semasa hidupnya di bumi ini dengan tubuh seperti kita dua ribu tahun yang lalu. Kita harus meneladani bukan cara berpakaian dan budaya lahiriah-Nya, melainkan isi atau esensi hidup-Nya. Isi hidup-Nya adalah “melakukan kehendak Bapa” (Yohanes 4:34). Ini bukan suatu hal yang sederhana, sebab kesediaan untuk melakukan kehendak Bapa membuat seseorang harus kehilangan sama sekali ambisi dan hasrat pribadinya yang dipeliharanya sebelum ia mengenal Tuhan.

Setelah menyatakan kesediaan untuk mengakhiri kehidupan, kita harus bersedia mempelajari kebenaran Firman Tuhan yang murni. Dari kebenaran Firman Tuhan itulah kita memahami bagaimana menjalankan roda kehidupan “setelah kematian kita”. Seraya belajar kebenaran Firman Tuhan yang memberi petunjuk bagaimana menyelenggarakan hidup baru itu, kita masih harus berjuang menghadapi desakan keinginan lama yang masih bercokol menuntut untuk dipuaskan. Di sini kita harus belajar mematikan diri. Doanya bukan lagi minta ini, minta itu, tetapi “Matikan aku Bapa, agar aku dapat menghayati kehidupan Putra-Mu di dalam diriku”. Bila ini terwujud, maka kehidupan kita akan memuaskan hati Bapa.

Bila kita memasuki proses kematian daging dan mengenakan kehidupan baru sesuai dengan InjilNya, barulah kita mengerti bagaimana hidup sebagai anak tebusan. Itulah kehidupan anak-anak Allah yang sah, yang juga dinyatakan sebagai pangeran-pangeran Kerajaan Surga atau bangsawan-bangsawan Surgawi. Kehidupan baru yang kita jalani merupakan upaya untuk mengalirkan darah aristokrat Surgawi, darah biru Kerajaan Surga. Sungguh suatu anugerah, kalau kita manusia berdosa yang sebelumnya terbuang dari hadirat Allah diperkenankan menjadi anak-anak-Nya yang mewarisi kemuliaan bersama dengan Putra TunggalNya, Tuhan Yesus Kristus. Harga anugerah ini sangat mahal, tetapi telah lunas dibayar Kristus di kayu salib. Untuk meresponi anugerah ini juga sangat mahal, yaitu segenap hidup kita. Semua itu demi keselamatan dan kebahagiaan kita, umat yang sangat dicintai-Nya. Tuhan tidak mencari keuntungan apa-apa; kitalah yang akan diuntungkan. Mengapa kita menolak? Oleh sebab itu melangkahlah untuk mulai bertobat dan memasuki hidup baru dalam Tuhan. Orang yang takut bertobat adalah orang yang takut menghadapi kematian, tetapi orang yang mau bertobat dan hidup dalam kesucian pasti tidak takut menghadapi kematian. Padahal kematian harus dimulai sejak kita masih hidup di bumi ini: menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

Menggadaikan hidup kepada dunia

Kalau sampai akhirnya ternyata hidup kita belum ditebus kembali, berarti hidup kita dimiliki oleh kuasa kegelapan selamanya.

Orang yang rela kehilangan hidupnya demi keselamatan jiwanya akan memperoleh hidup di Kerajaan Bapa di Surga, tetapi mereka yang tidak berani mempertaruhkan hidupnya tidak akan memiliki hidup di Kerajaan Bapa di Surga. Lebih banyak orang yang memilih opsi yang kedua ini, sebab jauh lebih banyak orang yang hidup hanya untuk keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Orang-orang seperti ini seperti menggadaikan hidupnya kepada dunia. Akhirnya mereka akan binasa.

Menggadaikan hidup untuk dunia merupakan sikap yang menolak kasih Bapa ( 1 Yohanes 2:15-16 ). Dalam hal ini, Firman Tuhan tegas berkata, “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” ( 1 Yohanes 2:17 ). Mereka tidak merasa bersalah, sebab rata-rata manusia memang demikian : hidup dengan cara mengisi pikirannya dengan segala keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Mereka tidak menduga bahwa tindakan mereka adalah tindakan yang membinasakan dirinya sendiri.

Kepada semua manusia, Iblis menawarkan keindahan dunia agar manusia menggadaikan dirinya. Tawaran ini disambut banyak orang, sebab faktanya banyak orang yang hidupnya telah tergadai. Di lain pihak orang yang berusaha melakukan kehendak Allah adalah orang yang menyerahkan hidupnya bagi Tuhan. Ia telah menempatkan hatinya di dalam Kerajaan Surga ( Matius 6:21 ).

Kita tahu, Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk membebaskan manusia. Tetapi setelah dibebaskan, manusia harus memilih : menyerahkan hidupnya bagi Tuhan, atau bagi dunia. Mestinya kita memberikan segenap hidup kita bagi Tuhan, sebab setelah dibebaskan-Nya, berarti dengan menyerahkan hidup kita kepada-Nya, kita mengembalikan hidup kita kepada-Nya, kita mengembalikan hidup kita kepada Sang Pemilik, bukan menggadaikan. Tetapi jika kita memberikan diri untuk dunia, artinya kita menggadaikan hidup kita.

Selama kita masih hidup di dunia ini, masih ada kesempatan untuk bertobat agar menebus kembali hidup yang digadaikan kepada dunia itu. Kalau sampai akhirnya ternyata hidup kita belum ditebus kembali, berarti hidup kita dimiliki oleh kuasa kegelapan selamanya. Mari menebus kembali hidup kita yang digadaikan dengan cara bertobat dan mengubah cara hidup kita agar sesuai dengan kehendak-Nya. Keselamatan dari Kristus memungkinkan kita kembali dimiliki oleh Tuhan dan menjadi anggota Kerajaan-Nya. Ia telah menebus hidup kita, jadi kalau kita gadaikan lagi, segeralah tebus kembali selama masih ada kesempatan.

Seluk-Beluk Kutuk

TRUTH Edisi 25: "Seluk-Beluk Kutuk"Pertanyaan yang sering diajukan orang, “Apakah saya dikutuk Tuhan?” Alasannya rupa-rupa: gagal berbisnis terus-menerus, bangkrut dan rugi dalam usaha apa pun, suami berjudi, istri selingkuh, tidak punya rumah, sakit tidak sembuh-sembuh, jomblo berkepanjangan, nikah tidak punya anak, dan sebagainya.

Beberapa hamba Tuhan menyarankan doa puasa dan pelepasan. Ada yang mengatakan, kutuk itu datang sebab di rumah orang tersebut ada foto candi, ada guci antik dari Cina, ada patung dari Bali. Ada juga yang balas bertanya, “Brur sudah kasih persepuluhan belum?” Dan bisa-bisa itu dosa orang tua atau kakek yang menimbulkan kutuk turunan, sebab Tuhan membalaskan kutuk sampai keturunan keempat.

Dunia memang memandang bahwa tolok ukur berkat adalah kelimpahan jasmani, kesenangan duniawi dan kecantikan badani. Kurang dari itu, berarti ada sesuatu yang tidak beres dengan kita sehingga Tuhan marah dan mengutuk dengan teganya.
Apakah Alkitab menggambarkan kutuk dengan cara demikian dan apakah kutuk seperti itu masih bisa menimpa kita, orang percaya? Tidakkah kita sadar bahwa melakukan segalanya demi menimbun berkat duniawi terus-menerus dan melupakan pengenalan akan Tuhan, kehendak-Nya dan kerajaan-Nya dapat berujung pada kutuk kekal, yaitu terpisah dari Tuhan selama-lamanya? Mau dapat berkat malah dapat kutuk.

Dalam edisi ini, TRUTH menyajikan tinjauan Alkitabiah mengenai seluk-beluk kutuk. Apakah kutuk itu? bagaimana kutuk dilepaskan? Jika Alkitab mengatakan bahwa orang yang tidak mengasihi Tuhan adalah orang terkutuk, apa maksudnya mengasihi Tuhan? Bisakah orang percaya jatuh dan murtad sehingga terkena kutuk kekal? Kutuk-mengutuk juga pernah terjadi dalam sejarah gereja. Untuk belajar dari masa lalu dan tidak mengulangi kesalahan, TRUTH memuat kisah sejarah tersebut.
Satu rubrik baru kami unggah pula mulai edisi ini, yaitu TRUTH Tech yang membahas hal-hal yang patut diketahui orang percaya di era teknologi informasi ini, agar dapat memanfaatkan teknologi dan bukan sebaliknya malah dimanfaatkan teknologi. Harapan kami, TRUTH dapat menjadi sahabat Saudara untuk mengetahui, mana yang sehat dan mana yang sesat, serta memilah mana yang berkat dan mana yang kutuk.

Dapatkan Majalah TRUTH Edisi 25, “Seluk-Beluk Kutuk” dengan menghubungi:

Rehobot Literature
Gedung Roxy Square Lt. 3, Jl. Kyai Tapa No. 1
Jakarta 11450
Indonesia

Telepon: +62-21-5695 4546 ext. 30, +62-21-68 70 7000, 08 7878 70 7000
Email: info@truth-media.com

Apa Itu Hidup Dipimpin Roh?

Apa Itu Hidup Dipimpin Roh?

Tidak jarang kita mendengar orang berkomentar mengenai orang Kristen yang “ngeroh”. Biasanya orang yang dianggap ngeroh itu adalah yang sering berkata, “Roh Kudus berbicara kepada saya…”, atau “Saya merasakan kehadiran Roh Kudus…” plus berbahasa roh setiap kali berdoa. Beberapa orang kagum akan kerohanian mereka, sehingga bertanya bagaimana caranya supaya bisa dipimpin Roh seperti itu; sementara kenyataannya banyak juga yang antipati terhadap mereka, mencibir dan berkomentar, “Jangan terlalu ngeroh lah…”

Tidak jarang pula mereka yang ngeroh seperti itu juga menganggap dirinya lebih kudus daripada orang-orang yang tidak sama dengan mereka. Mereka berpikir, kalau hidup dipimpin Roh ya harus begini. Kalau tidak, berarti dipimpin daging. Hidup juga tidak bisa setengah roh setengah daging; kalau setengah-setengah ya sama dengan dipimpin daging. Dipimpin daging berarti akan masuk neraka.

Namun pandangan seperti itu sungguh amat naif. Banyak dari mereka yang mendemonstrasikan ngeroh di hadapan orang bahkan tidak memahami apa sesungguhnya yang dimaksud Alkitab dengan “roh”. Pikirnya semua yang berhubungan dengan roh pasti Roh Kudus, bahasa roh, alam roh. Akibatnya dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang diinginkan Tuhan untuk mereka lakukan, malah jadi terabaikan.

Mencermati kesalahkaprahan yang sudah mendarah daging ini, TRUTH mengajak kita kembali meneliti, apa sebetulnya yang dimaksud oleh Alkitab dengan hidup dipimpin roh. Roh apa yang memimpin, roh kita atau Roh Kudus? Mengapa kita harus dipimpin roh? Apa fungsi roh? Seperti apakah dipimpin roh, atau “ngeroh yang benar” itu? Manakah yang benar: dikotomi dan trikotomi?

Sajian lain dalam edisi ini adalah biografi singkat Yakobus yang Adil, yang kabarnya adalah adik Tuhan kita Yesus Kristus. Juga kami angkat berbagai gangguan jiwa dan hubungannya dengan fenomena keagamaan, agar kita lebih waspada apakah kita ngeroh karena dipimpin roh, atau jangan-jangan karena mengalami gangguan jiwa.

Kiranya kebenaran Firman Tuhan yang sejati membukakan mata rohani Saudara mengenai bagaimana sebenarnya hidup dipimpin roh itu, sehingga dapat belajar menjalaninya sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dapatkan Majalah TRUTH Edisi 24, “Apa Itu Hidup Dipimpin Roh?” dengan menghubungi:

Rehobot Literature
Gedung Roxy Square Lt. 3, Jl. Kyai Tapa No. 1
Jakarta 11450
Indonesia

Telepon: +62-21-5695 4546 ext. 30, +62-21-68 70 7000, 08 7878 70 7000
Email: info@truth-media.com

Kidung Kelegaan

Dapatkan segera buku Kidung Kelegaan, kumpulan lagu karya Dr. Erastus Sabdono yang dilengkapi not angka dan akor. Beberapa lagu disertai juga dengan terjemahan bahasa Mandarin. Cocok untuk acara persekutuan maupun main musik sebagai hobi.

Beberapa lagu yang terdapat dalam buku ini:

Selalu untuk-Mu
Hati Kita Girang
Semua Ini Milik-Mu
Suka-suka-Mu Tuhan
Kuingat Kebaikan-Mu
Roh Kudus, Roh Kebenaran

Dan masih banyak lagi. 

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Rehobot Literature di (021) 5695 4546 ext. 30, (021) 33 6666 70, atau 08 7878 70 7000.

Video Doa Bapa Kami

Doa Bapa Kami: Formula Kehidupan Orang Percaya

Buku Doa Bapa Kami: Formula Kehidupan Orang Percaya

Tahukah Anda, bahwa Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus bukan sekadar formula doa, melainkan sebuah formula kehidupan yang seharusnya mendasari  kehidupan manusia yang diciptakan oleh Allah? Seharusnya sejak Adam dan Hawa manusia sudah memiliki gaya hidup sesuai formula kehidupan yang termuat dalam Doa Bapa Kami.

Buku terbaru Dr. Erastus Sabdono ini akan menyingkapkan pengertian mengenai mutiara kebenaran yang sangat berharga, yang tersimpan dalam Doa Bapa Kami.

Dapatkan segera buku terbitan Rehobot Literature,
DOA BAPA KAMI: Formula Kehidupan Orang Percaya
oleh Dr. Erastus Sabdono

Informasi lebih lanjut: hubungi REHOBOT LITERATURE
Gedung Roxy Square Lt. 3, Jl. Kyai Tapa No. 1, Jakarta 11450
Telp. (021) 5695 4546 ext. 30, (021) 33 6666 70, 08 7878 70 7000
http://www.truth-media.com/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 769 pengikut lainnya.