Surat Gembala: MAKNA PEMELIHARAAN BAPA

Allah kita adalah Allah yang berintegritas sempurna dalam segala hal. Untuk hal itu, tidak ada alasan sedikit pun bagi orang percaya untuk meragukan-Nya. Allah Bapa kita sangat memahami kebutuhan kita. Bagaimana tidak, Ia berkomitmen memberikan matahari, baik kepada orang jahat dan orang baik, apalagi bagi anak-anak-Nya sendiri. Seharusnya kita tidak perlu kuatir lagi. Ia memiliki natur kerja dan bertanggungjawab, sehingga kita pun juga harus demikian. Orang percaya harus kerja keras guna memenuhi kebutuhannya dan Bapa akan memberkati-Nya. Bapa memelihara burung yang terbang di udara mencari makan, bukan burung yang malas di dalam sarangnya (Mat. 6:26).
Bapa telah menentukan tatanan kehidupan bagi semua makhluk secara adil, berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmaninya (Mat. 5:45). Bapa bukanlah pribadi yang curang, sehingga karena kita anak-anak-Nya, walaupun
tidak bekerja dan tidak bertanggungajawab maka Ia akan tetap memberkatinya. Pemahaman ini sangat keliru dan justru merendahkan martabat Allah Bapa yang Agung. Bapa telah menetapkan hukum tabur tuai sebagai mekanisme yang ditetapkan bagi setiap orang, entah dia orang percaya atau bukan. Walaupun dia orang di luar Tuhan, jika hidupnya jujur, kerja keras dan tanggungjawab maka dengan sendirinya berkat yang menjadi bagiannya akan diterimanya.
Sangat ironis jika ternyata anak Tuhan telah salah mengartikan pemeliharaan Bapa. Dengan berdoa dan “beriman” saja maka berkat Tuhan akan dicurahkan. Mengapa bisa demikian? Orang percaya telah terobsesi dengan kehidupan bangsa Israel dimana sepertinya mudah sekali untuk mendapatkan berkat dan pemeliharaan Tuhan. Kenyataannya tidak demikian! Bangsa Israel dihadapkan kepada dua pilihan, berkat dan kutuk, ketika taat mereka diberkati tetapi jika tidak taat mereka kena kutuk (Yos. 8:34). Kita harus tahu bahwa bangsa Israel diberikan hak-hak demikian, karena bangsa ini mengemban tugas untuk menyimpan dokumen pengenalan akan Allah yang benar. Kita memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan umat Isreal, jika mereka fokusnya kepada hal-hal duniawi, tetapi bagi kita fokusnya adalah dunia yang akan datang. Standar mereka hukum Taurat, sementara kita adalah sempurna seperti Bapa.
Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja (Yoh. 10:10). Bapa akan lebih mengutamakan pembentukan karakter anak-anak-Nya daripada pemenuhan kebutuhan jasmaninya, karena karakterlah yang akan dibawa untuk menjumpai Dia kelak di kekekalan. – Solagracia –

Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja

Surat Gembala: HIDUP TAK BERCACAT DAN TAK BERCELA

Membaca judul di atas, sulit rasanya untuk mencapainya, sehingga membuat seseorang bersikap apatis. Paling tidak ada empat penyebab mengapa orang bersikap demikian. Pertama, pengaruh agama dan keyakinan di sekitarnya. Agama mengesankan bahwa hanya Allah yang sempurna dan manusia tempat salah adanya. Bisanya hal ini dikaitkan dengan pemahaman bahwa Allah Maha Pengampun, sehingga jika kita berbuat salah Allah pasti mengampuni. Memang benar Allah Maha Pengampun, tetapi adakah niat kita untuk tidak melukai perasaan Tuhan? Bukankah kita tidak tahu kapan meninggal?

Kedua, melihat tokoh Alkitab secara salah. Abraham, Yakub, Daud, Salomo, Elia, Yunus, bahkan sampai pada Petrus tokoh Perjanjian Baru. Mengapa orang menyoroti kesalahan mereka saja tanpa melihat bagaimana mereka berjuang untuk hidup tak bercacat dan tak bercela sehingga itu yang dijadikan teladan. Mereka semua belum bisa sempurna seperti kita, karena memang Roh Kudus belum dicurahkan secara pribadi termasuk kepada Petrus. Tetapi setelah dipenuhi Roh Kudus, kita bisa melihat Petrus berjuang untuk sempurna bahkan nyawanya ditaruhkan untuk hal itu.

Ketiga, memandang bahwa cara hidup tak bercacat dan tak bercela adalah gaya hidup yang menjauhkan diri dari kenyamanan dan kewajaran seperti kebanyakan orang, bahkan dianggap sebagai sikap menyiksa diri. Menurut dunia, pandangan ini benar, tetapi bagi orang percaya hal itu bukanlah alasan. Hidup kita harus berbeda dengan dunia (Rm. 12:2).

Keempat, seringnya mengalami kegagalan di dalam proses belajar menjadi tak bercacat dan tak bercela. Karena terlalu sering mengalami kegagalan maka menyimpulkan bahwa hidup tak bercacat dan tak bercela adalah sebuah kemustahilan. Inilah yang disebut dengan “mental block”. Keselamatan adalah usaha Allah dan gayung bersambut dari manusia untuk kembali kepada rancangan semula. Allah tidak pernah mentakdirkan nasib manusia, apalagi soal keselamatan. Allah memberikan sarananya, manusia harus bertanggung jawab untuk menyambut uluran kasih karunia Tuhan-Nya.
Allah kita adalah Allah yang sangat mengerti kemampuan anak-anak-Nya, ketika Ia memerintahkan untuk kudus maka Ia memberikan teladan-Nya, yaitu Kristus sendiri (1Ptr. 1:13-16, 1Ptr.2:21-24). Orang harus memilih terang atau gelap. Adalah anugrah jika kita menjadi anak-anak Allah, tetapi anugerah tidak serta-merta menjadikan keberadaan kita menjadi anak Allah yang kudus. Kekudusan bukanlah syariat, tetapi kodrat anak-anak Allah. Inilah fokus pengiringan kita kepada Tuhan Yesus. Amin. – Solagracia

Allah kita adalah Allah yang sangat mengerti kemampuan anak-anak-Nya, ketika Ia memerintahkan untuk kudus maka Ia memberikan teladan-Nya, yaitu Kristus.

MAKNA KEBANGKITAN TUHAN YESUS

Bagi orang percaya, kebangkitan Kristus sudah final dan tidak perlu diragukan lagi. Kebangkitan Kristus adalah fakta sejarah yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya, karena memiliki saksi yang cukup. “Banyak orang” (Mat. 27:53). Tanpa kebangkitan Kristus, kekristenan sama sekali tidak memiliki makna apa-apa (1Kor. 15:13). Keempat Injil memberikan porsi khusus tentang kisah kebangkitan Kristus, dibanding kisah kelahiran, kematian dan kenaikan. Kebangkitan Kristus adalah pusat pemberitaan Injil karena merupakan tumpuan harapan seluruh manusia akan kebangkitannya kelak. Bahkan, kebangkitan Kristus merupakan puncak kemenangan dari “pertaruhan” maha hebat Allah Bapa akan masa depan kekekalan dimana Kristus bisa membuktian kesalahan Lucifer, dengan ketaat-Nya dalam keadaan-Nya sebagai manusia biasa. Tuhan Yesus telah mempertaruhkan segenap jiwa dan raga-Nya untuk taat sebagai bukti bahwa hidup-Nya saleh, sehingga Ia layak dibangkitan dari maut.
Orang percaya tidak perlu terganggu dengan banyaknya fitnahan klasik yang telah dirintis oleh orang-orang Yahudi dengan mengatakan “Kristus tidak bangkit melainkan mayat-Nya dicuri oleh murid-murid-Nya” (Mat. 28:11-15). Hari ini banyak orang mempercayainya! Paulus berkata, “yang ku kehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan bersekutu dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Fil. 3:10-11). Fokus kita adalah bagaimana hidup sebagaimana Kristus hidup dan taat sampai mati di Salib, sehingga Ia layak memperoleh kebangkitan-Nya. Inilah kunci keimanan Kristen kita guna memperoleh kebangkitan kelak di kekekalan dan menerima kemuliaan bersama dengan Kristus. Persekutuan kita dengan Kristus bukan sesederhana yang dipikirkan orang selama ini, dimana kebangkitan Kristus dipahami sebagai “bemper” masalah-masalah hidup. Sikap ini salah! Memaknai kebangkitan Kristus, harus ditindaklanjuti dengan kesediaan kita untuk hidup menyatu dengan keteladanan-Nya dimana Ia telah memilih bertahan untuk taat dalam penderitaan-Nya guna memenuhi kualifikasi kesalehan yang Bapa kehendaki. Dengan demikian harapan untuk dibangkitan bersama Kristus bisa terwujud. Adalah kejahatan di mata Allah jika ketaatan Kristus disejajarkan dengan pergumulan manusia untuk mendapatkan berkat-berkat jasmaniah. Ketaatan Kristus adalah pertaruhan terhadap penegakan supremasi Allah di dalam diri-Nya. Demikianlah hendaknya kita! Amin. – Solagracia

Adalah kejahatan di mata Allah jika ketaatan Kristus disejajarkan dengan pergumulan manusia untuk mendapatkan berkat-berkat jasmaniah

Surat Gembala: Belajar Menerima Kelegaan

Satu-satunya kerinduan dari orang yang mengalami tekanan hidup adalah terlepas dari tekanan itu, sehingga jiwanya mampu mengalami kelegaan. Kata Kelegaan berasal dari kata sifat lega yang dapat di artikan, lapang, luas, tentram, tidak kuatir lagi (KBBI, 2014). Kelegaan bisa diartikan sebuah keadaan tentram, nyaman tanpa gangguan. Kelegaan akan memiliki nilai yang tinggi jika hal itu dialami oleh orang yang mengalami tekanan. Jadi tekanan dan kelegaan adalah sebuah mata rantai yang tidak bisa dilepaskan.
Bagi Schapelle Leigh Corby, mengenai Keppres No. 22/G Tahun 2012 yang dikeluarkan oleh Presiden SBY pada 15 Mei 2012 merupakan berita yang sangat melegakan karena ia terbebas dari vonis hukuman mati. Apalagi ketika mendengar Presiden Jokowi menolak grasi terhadap tervonis mati “bali nine”, berita itu menambah betapa berharganya grasi yang diberikan oleh mantan Presiden SBY baginya.
Keputusan Tuhan untuk mengundang dan mengajak semua manusia adalah sungguh berita yang sangat melegakan (Mat. 11: 28). Undangan dan ajakan ini menjadi berita baik karena bukan hanya melepaskan manusia dari himpitan hidup hari ini saja, tetapi juga mendidik manusia agar terlepas dari hukuman kekal. Undangan ini berlaku bagi semua orang, tetapi tidak semua orang mau menerimanya. Ada satu kekuatan besar dalam diri manusia yang mampu menyeretnya sampai kepada maut, yaitu keinginan atau nafsu (Yak. 1:14-15). Lingkungan telah mewarnai jiwa seseorang, apa yang dilihat dan didengar telah teradopsi menjadi jati diri. Keadaan inilah yang membinasakan manusia, mengapa demikian? Karena keadaan ini dianggap sebagai hal yang wajar, sehingga manusia secara perlahan dan pasti bergeser dari kehendak Tuhan yaitu sempurna seperti Bapa.
Kelegaan dalam teks Yunani menggunakan kata anapauso (ἀναπαύω = anapauō), yang dalam bahasa Inggris digunakan kata rest yang bisa diartikan berhentian dari segala kelelahan, atau dapat di kalimatkan; istrihat sejenak dari keletihan akan pengejaran terhadap sesuatu. Mengapa harus berhenti? Jika seseorang bisa berhenti, maka ia menjadi tenang, sehingga ia bisa berpikir dengan jernih dan siap diajar oleh Tuhan. Menikmati kelegaan Tuhan, tidaklah gampang, karena berbanding berbalik dengan citarasa manusia pada umunya. Oleh karena itu, harus dilatih sedemikan rupa sampai benar-benar kelegaan Tuhan menjadi satu-satunya pilihan hidup. Masalah ekonomi, kesehatan, keluarga, dan masih banyak lagi adalah sarana dari Tuhan sebagai media untuk melatih kita agar terbiasa menerima kelegaan-Nya. Amin – Solagracia

Keputusan Tuhan untuk mengundang dan mengajak semua manusia adalah aungguh berita yang sangat melegakan.

Surat Gembala: Menghargai Korban TUHAN YESUS

Tahukah kita, bahwa satu-satunya hak kita adalah binasa kekal. Arah dari segala perbuatan manusia adalah jahat di mata Allah, dan menuju binasa kekal. Keadaan ini membuat Bapa “nyesek” dan pilu hatinya (Kej. 6:6). Tuhan Yesus adalah “Logos atau Firman” yang telah menciptakan langit dan bumi serta sang Penguasa yang telah memerintah sejak purbakala dengan segala kemuliaan-Nya (Yoh.1:1-4, Mika 5:1-2). Kepiluan hati Bapa telah menjadi “passion”-Nya dan telah mendorong diri-Nya untuk meninggalkan segala kemuliaan yang Ia miliki. Kebinasaan manusia adalah kepiluan hati Allah Bapa. Allah Anak telah memilih mengosongkan diri-Nya demi kepuasan hati Bapa. Proses pengosongan diri-Nya bukanlah sebuah adegan sandiwara yang telah diatur sedemikian rupa sehingga bisa ditebak ke mana arah akhir ceritanya. Dalam menjalankan missi-Nya, Tuhan Yesus sangat berkemungkinan untuk gagal. Ada dua akibat besar yang terjadi jika Tuhan Yesus gagal; Yang pertama, manusia akan meluncur bebas masuk ke dalam kebinasaan kekal tanpa halangan, kedua, Tuhan Yesus tidak akan pernah mendapatkan kembali kemuliaan yang telah Ia tinggalkan.
Dalam hal ini pemahaman kita tidak boleh salah, karena jika salah maka penempatan diri kita di hadapan Allah pun juga salah. Kebinasaan manusia jangan disejajarkan dengan masalah hidup yang bersifat sementara, jika hal ini kita lakukan sama artinya merendahkan pertarungan Tuhan Yesus untuk memperoleh kembali kemuliaan yang telah Ia tinggalkan. Tak terkatakan betapa hancurnya tatanan jagat raya ini jika Allah Anak tidak lagi memiliki kemuliaan. Tetapi terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menang atas semua ini. Bukankah manusia juga telah kehilangan kemuliaan Allah? Jika Tuhan Yesus saja mempertaruhkan nyawa untuk memperolehnya kembali kemuliaan-Nya, lalu siapakah kita ini sehingga berani berkata “aku anak Allah” sementara perilaku kita tidak seperti Kristus. Jika melihat perbuatan kita maka tidak pantaslah menyebut diri sebagai anak-anak Allah. Perbuatan kita mencerminkan penghargaan kita terhadap pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.
Lagi-lagi Gereja tidak boleh salah mengajar umat dengan menggantikan kesulitan hidup sebagai pokok pergumulan umat. Ajarkan bagaimana Kristus berjuang dalam ketaatan-Nya, bahkan sampai pada kematian-Nya di kayu Salib. Ketaatan bukan untuk meraih berkat materi, tetapi untuk kepuasan hati Bapa sehingga kita layak dimuliakan bersama dengan Kristus. Allah bertanggungjawab dengan ciptaan-Nya, Ia memberikan matahari kepada orang jahat dan orang baik (Mat.5:45). – Solagracia

Perbuatan kita mencerminkan penghargaan kita terhadap pengorbanan TUHAN YESUS KRISTUS

KONSEKUENSI BERPERKARA DENGAN TUHAN

Kita sering mendengar pemimpin pujian atau pembicara berkata, “Mari kita berperkara dengan Tuhan”. Ketika kalimat ini dilontarkan, dapat dipastikan bertalian dengan masalah hidup dan kebutuhan hidup hari ini. Berperkara dengan Tuhan tidak berhenti pada permasalahan hidup, tetapi harus bergerak maju kepada persoalan perubahan watak dan karakter kita. Jika orang beragama mendekati illahnya dengan maksud supaya digampangkan urusannya, dientengkan jodohnya, dibukakan pintu rezekinya atau segala sesuatu yang bertalian dengan kepentingan dirinya maka kekristenan tidak boleh seperti itu. Tuhan kita adalah Allah yang hidup dan memiliki perasaan yang sempurna. Dia tahu rancangan yang terbaik bagi anak-anak-Nya yang mengasihi Dia. Permasalahan hidup yang Tuhan ijinkan terjadi kepada setiap manusia, adalah dalam rangka agar mereka mencari Tuhan, dengan demikian Tuhan bisa menggarap karakternya sampai sempurna seperti Bapa. Tuhan lebih mementingkan penyelesaian watak dan karakter daripada masalah hidup. Oleh karena itu hendaknya gayung bersambut antara Allah dan manusia. Tetapi jangan kuatir, Tuhan pasti memberi jalan keluar ketika kita mengalami pencobaan (1Kor.10:13). Jika berurusan dengan Tuhan hanya untuk hidup hari ini saja maka kita adalah orang yang paling malang dari segala manusia yang ada (1 Kor.15:19). Oleh karena itu tujuan hidup kita harus diarahkan kepada perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kol. 3:1-4).
Gereja harus menjadi garda terdepan untuk mengambil tanggungjawab mengarahkan umat kepada fokus yang benar yaitu LB3 (Langit Baru Bumi Baru). Setiap pelayan umat harus mengenal Injil yang murni sehingga apa yang disampaikan adalah estafet kebenaran Tuhan yang murni pula. Ketulusan hati pelayan umat harus di barengi dengan kecerdasan roh, sehingga bisa menangkap gerak Tuhan yang paling lembut sekalipun. Abraham memang bapak orang beriman, tetapi menjadi orang Kristen tidak otomatis mewarisi iman Abraham secara benar jika tanpa diajarkan bagaimana Abraham rela meninggalkan kenyamanan hidupnya, dengan meninggalkan Urkasdim, menjadi musyafir, dan tidak tahu kemana tujuan kota yang dijanjikan oleh Allah, tetapi ia tidak kehilangan fokus akan Yerusalem Baru, kota yang dibangun oleh Allah sendiri (Ibr.11:8-15). Bagi dia lembah Yordan tidaklah menarik walapun seperti taman Tuhan, bahkan ketika harus menyembelih Ishakpun tidak menjadi masalah asal Allah yang menghendakinya. Jadi, apa yang kita perkarakan dengan Tuhan hari ini masalah atau watak kita? – Solagracia

Tuhan kita adalah Allah yang hidup dan memiliki perasaan yang sempurna. Dia tahu rancangan yang terbaik bagi anak-anakNya yang mengasihi Dia.

RESPON TERHADAP KEBAIKAN TUHAN

Pada zaman torat, orang yang mengalami sakit kusta sama halnya seseorang yang sudah mati, hanya belum masuk liang kubur. Seluruh hak hidupnya hilang bersama sakit yang dideritanya. Penyakit kusta bukan saja merupakan penderitaan fisik tetapi juga batin dan tidak menutup kemungkinan hidup rohaninya pun bisa mati. Sakit kusta merupakan penderitaan yang dahsyat pada waktu itu, di mana para penderitanya harus terbuang dari keluarga, lingkungan dan masyarakat bahkan agama sekali pun. Orang yang terkena kusta mustahil bisa beribadah ke dalam bait Allah, betapa dahsyatnya penderitaan ini. Dalam Luk.17:11-17 diceritakan ada sepuluh orang kusta telah mengalami mujizat kesembuhan dari Tuhan Yesus, tetapi hanya satu orang saja yang tahu berterima kasih dan memuliakan Dia. Sembilan orang tidak tahu berterima kasih apalagi membalas budi (Luk. 17:11-19). Sembilan orang ini mencari Tuhan Yesus murni karena ingin memenuhi kebutuhannya yaitu sembuh dari kustanya, tetapi yang seorang bukan hanya ingin sembuh dari sakit kustanya, melainkan ia juga ingin memuliakan Allah. Secara kebangsaan dia orang Samaria yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang Yahudi, ditambah kena kusta, jauh rasanya untuk bisa memuliakan Tuhan. Kalaupun sembuh rasanya berat untuk mendapatkan pengakuan tahir dari imam-imam yang adalah orang Yahudi sehingga ia bisa memuliakan Allah.
Dari kisah di atas kita bisa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Yang pertama, Tuhan adalah Kasih adanya, oleh karena itu Ia pasti berbelas kasihan terhadap orang yang kehilangan pengharapan (ay. 13-14, Yer 33:3). Yang kedua, dalam keadaan terpuruk janganlah kita bimbang, apalagi kehilangan pengharapan dan iman, karena Tuhan pasti memberikan pertolongan tepat pada waktu-Nya (ay. 19). Yang ketiga, kelegaan hidup yang kita alami janganlah membuat kita seperti ”kuda lepas dari kandang”, atau seperti “kacang lupa kulitnya” (ay. 15-18). Mengucap syukur kepada Tuhan bukanlah syarat, melainkan kodrat anak Tuhan.
Belajar dari sikap orang Samaria tadi kita harus tahu diri dan tahu budi di hadapan Tuhan. Ciri orang Kristen tahu budi adalah pertama, pastilah ia menghargai keselamatan yang sudah ia terima dan ia tidak akan pernah pindah agama hanya karena jodoh, karena Tuhan akan menyangkal orang yang seperti ini (Mat. 19:33). Yang kedua, ia akan berusaha mati-matian untuk tidak mencintai dunia (Ibr. 12:16). Dan yang terakhir, ia akan berusaha hidup sesuai dengan selera Tuhan yaitu menyelamatkan banyak jiwa (1Tes. 4:7, 1Ptr. 1: 13-16). – Solagracia

Kita harus tahu diri dan tahu budi di hadapan Tuhan, menghargai keselamatan, tidak mencintai dunia, dan berusaha hidup sesuai dengan selera Tuhan

Memperbaiki Diri (Fixing Ourselves): Suara Kebenaran 92

Manusia cenderung suka menikmati dirinya sendiri, tanpa sadar bahwa yang dilakukannya sering mendukakan hati Tuhan. Pdt. Dr. Erastus Sabdono menjelaskan bahwa untuk memperbaiki diri dari jalan yang salah itu tidak semudah membalik telapak tangan.

COMPASSION

Niat baik tidaklah cukup untuk dijadikan modal dalam melayani Tuhan. Keselarasan cita rasa dengan Tuhan menjadi hal yang sangat penting. Standard pelayanan adalah kepuasan hati Bapa, bukan kepuasan kita. Tuhan Yesus telah melakukan-Nya dan itulah compassion-Nya. Compassion berarti sympathetic pity and for suffering or misfotunes of others (simpati atau rasa terbeban dan belas kasihan terhadap penderitaan atau kemalangan orang lain). Tuhan Yesus telah mengambil alih maut yang seharusnya dialami manusia, seharusnya tidak perlu Ia lakukan. Ia tahu betul bahwa penderitaan fisik yang Ia alami di atas kayu Salib tidak sebanding dengan kebinasaan yang akan dialami oleh manusia, keadaan inilah yang menjadikan Ia tidak bergeming menghadapi siksaan itu. Suasana hati seperti ini hendaknya menjadi dasar pelayanan anak-anak Tuhan.
Yunus telah memberitakan akan adanya hukuman Allah kepada bangsa Niniwe, alih-alih mengharapkan bangsa Niniwe bertobat, tetapi yang terjadi ia tidak rela jika orang non-Yahudi diselamatkan. Yunus melakukan perintah Tuhan tetapi tidak memiliki perasaan yang sama dengan si Pemberi perintah. Perasaan seperti ini juga telah terjadi dalam hati banyak pelayan Tuhan hari ini. Mengapa bisa demikian? Sebab mereka sendiri tidak pernah terbeban dengan keselamatan jiwanya. Melengkapi hidup dengan berbagai fasilitas dianggap sebagai bentuk upaya telah menyelamatkan jiwanya, tanpa disadari tindakan ini sebenarnya membunuh diri sendiri. Mereka melakukan hal ini karena tidak mengenal kebenaran Tuhan. Mereka orang-orang yang bermoral baik, tetapi fokus hidupnya bukan pada kekekalan, tetapi kepada perkara duniawi. Orang seperti ini tidak mampu memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 6:21). Jangankan memiliki compassion untuk orang lain, untuk dirinya sendiri saja tidak. Bergereja hanya untuk menikmati kesenangan spiritual dan merasa sudah pasti masuk Sorga, kelompok ini tidak pernah dewasa imannya. Ciri orang seperti ini adalah, mereka tidak berani “all out” bagi Tuhan. Kalau orang belum bisa mengasihi dirinya sendiri dengan benar, tidak mungkin mereka bisa mengasihi orang lain. Mereka tidak memancarkan kehidupan rohani yang dewasa dan memikat. Melayani Tuhan bukan dengan hati kita, tetapi dengan hati-Nya Tuhan atau pikiran perasaan Kristus (Fil. 2:5-7) compassion kita harus selaras dengan compassion Tuhan. Pengertian terhadap Firman Tuhan yang murni akan membangun compassion yang benar (Gal 1:6-10). Oleh karena itu pengajaran geraja harus murni sesuai dengan compassion-nya Tuhan. – Solagracia

Pengertian terhadap Firman Tuhan yang murni akan membangun compassion yang benar.

Hidup Dalam Berkat Tuhan

Satu pertanyaan yang perlu di kemukakan adalah: ”Apa ruginya ikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh?” Jawabnya tentu tidak ada ruginya. Jawaban sederhana seperti ini sebenarnya berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, karena terbukti banyak orang tidak sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus. Mengapa demikian? Karena mengikut Tuhan Yesus dianggap sesuatu yang ruwet, kompleks, melelahkan dan tidak menarik. Sebagian orang berpikir, bahwa mengikut Tuhan masih bisa ditunda. Karena pengaruh filsafat modern, sebagian orang beranggapan mengikut Tuhan tidak perlu dan tidak berguna, karena mereka melihat banyak orang tanpa Tuhan, hidupnya aman-aman saja. Pikiran seperti ini adalah bodoh, sesat dan berujung pada keterpisahan dengan Tuhan di kekekalan kelak.
Beruntunglah orang yang mau mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, karena dia tidak akan pernah menyesal di kekekalan kelak. Haus dan lapar akan Tuhan adalah kuncinya, sebagaimana manusia haus dan lapar merupakan proses metabolisme tubuh yang normal untuk kelangsungan hidup manusia di bumi ini. Hidup manusia adalah kekal, oleh karena itu kehausan akan Tuhan merupakan keadaan normal demi kehidupan di kekekalan (Mat. 5:6). Ciri orang yang haus akan Tuhan pastilah kasihnya akan Tuhan bertumbuh, dan orang yang mengasihi Tuhan pasti akan menerima berkat dari Allah(1Kor.2:9).
Berbicara berkat tentunya harus lengkap dalam memahaminya. Dalam Mazmur 23:1-6, paling tidak ada enam jenis berkat yang dimaksudkan antara lain yang pertama Berkat jasmani, jika kita dapat dipercayai Tuhan (kerja keras, jujur) maka Ia akan menyediakan segala keperluan kita( Flp. 4:19). Kedua Berkat Damai sejahtera, Tuhan tau bahwa jiwa kita pun butuh penyegaran(Mzm. 23:3, Yoh. 14 :27). Berkat ketiga Pembentukan karakter, Ia akan menuntun ke jalan yang benar sampai sempurna seperti Bapa (Mzm.23:3, Mat. 5:48). Keempat Berkat Penyertaan Tuhan, di dalam lembah kekelaman sekalipun, Tuhan sanggup menyertai kita( Maz.23:4). Berkat kelima Hidangan di depan lawan, ada kata minyak dan piala di sini bicara Firman Tuhan dan Roh Kudus sebagai pedang dan kuasa untuk menjadi saksi Tuhan (Ef. 6:17, Kis. 1:8). Dan yang keenam Berkat Tinggal di rumah Bapa di Surga, inilah puncak dari semua berkat yang Tuhan sediakan, diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa (Mzm. 23:6). Pembaharuan karakter oleh Firman dan Roh Kudus menjadikan kita berkat bagi sesama sehingga kita layak di sebut pelayan Tuhan, dan layak menerima berkat utama yaitu, tinggal bersama Bapa di Surga. – Solagracia –

Beruntunglah orang yang mau mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, karena dia tidak akan pernah menyesal di kekekalan kelak.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29.966 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: