Surat Gembala: ARAH HIDUP ORANG PERCAYA

Kiblat adalah kata dalam bahasa Arab yang searti dengan arah. Kata ini biasanya digunakan dalam kaitannya dengan arah fisik pada waktu berdoa. Ratusan tahun sebelum agama-agama monotheisme besar ada (Kristen dan Islam), orang-orang Yahudi kalau berdoa mengarahkan diri ke Yerusalem. Seperti Daniel, setiap kali menaikkan jam-jam doanya, ia berdoa dengan berkiblat ke Yerusalem, di mana terdapat Bait Allah yang dibangun oleh Salomo sebagai lambang kehadiran Elohim Yahwe. Menurut catatan sejarah, orang-orang Islam pada mulanya juga kalau bersembahyang berkiblat ke arah Yerusalem juga yang dikenal sebagai Baitul Maqdis. Tetapi kemudian hari mengarah atau berkiblat ke Ka’abah di Mekah sampai sekarang. Kita meminjam istilah kiblat sebab kata ini berhubungan dengan urusan penyembahan dan beribadah kepada Tuhan. Sedangkan kata arah lebih bersifat umum. Namun perlu ditegaskan bahwa orang Kristen tidak mengenal pola berdoa atau sembahyang seperti orang Yahudi dan Muslim yang memiliki kiblat secara harafiah. Bahkan orang Kristen tidak memiliki teknik-teknik berdoa seperti banyak agama dan kepercayaan.
Sesuai dengan petunjuk Tuhan Yesus bahwa orang percaya beribadah kepada Allah dalam Roh dan kebenaran (Yoh 4:24). Ini berarti sebuah ibadah yang tidak diatur oleh tata cara ibadah tertentu, itulah sebabnya dalam kekristenan tidak ada ajaran mengenai teknik-teknik berdoa (harus melipat tangan, sujud secara fisik, angkat tangan dan lain-lain). Tetapi dalam kekristenan yang penting adalah kehidupan yang diarahkan atau diorientasikan kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya setiap hari.
Kalau berbicara mengenai kiblat, kiblat orang percaya bukanlah tempat atau arah secara harafiah tetapi sikap orientasi hati atau tujuan hidup. Berbicara mengenai kiblat dalam kehidupan orang percaya, kiblat orang percaya pertama, Tuhan sebagai Pusat Kehidupan, yang artinya Tuhan menjadi tujuan hidup ini. Segala sesuatu yang kita lakukan, kita lakukan bagi Dia. Kedua, Tuhan sebagai kebahagiaan atau kesenangan, artinya suasana jiwa kita ditentukan oleh damai sejahtera Tuhan bukan fasilitas kekayaan atau materi dunia, kehormatan manusia serta segala hiburannya. Terakhir, mewujudkan rencana Allah. Hidup kita harus sepenuhnya diarahkan pada rencana perwujudan Kerajaan Allah dengan berusaha menjadi corpus delicti dan menolong orang lain menjadi corpus delicti pula. Amin. – Solagracia –

Berbicara mengenai kiblat, kiblat orang percaya bukanlah tempat atau arah secara harafiah tetapi sikap orientasi hati atau tujuan hidup.

SIKAP TERHADAP DUNIA YANG SUKAR

Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat (Mat. 24:7). Ada pertanyaan yang harus kita jawab yaitu, mengapa kehadiran Tuhan Yesus di dunia ini tidak membenahi dunia supaya lebih baik? Mengapa justru menubuatkan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan manusia pada umumnya? Padahal manusia menghendaki agar hidupnya bahagia dan memiliki damai sejahtera.
Harus kita pahami bahwa Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa. Rasul Yohanes juga menegaskan bahwa janganlah kita mengasihi dunia dan isinya, karena jika demikian seseorang tidak akan mengasihi Bapa (1Yoh. 2:15). Percintaan dengan dunia berujung pada kebinasaan. Mencintai Tuhan tidak bisa secara instan, tetapi harus dilatih melalui segala peristiwa hidup. Oleh karena itu, Tuhan tidak tertarik membenahi dunia yang sudah rusak, tetapi Dia lebih tertarik membenahi karakter manusia yang sudah rusak. Mengapa demikian? Karena Ia sudah menyiapkan langit baru dan bumi yang baru, di mana orang percaya dipersiapkan untuk mengelolanya sebagaimana Allah memberi mandat kepada Adam ketika ia belum jatuh dalam dosa.
Memahami hal tersebut, bagaimana sikap kita seharusnya dalam menghadapi dunia yang sukar seperti sekarang ini? Ada dua hal penting yang harus kita pahami. Pertama, setiap orang harus berdamai dengan Tuhan, jika seseorang sudah berdamai dengan Tuhan, sebesar apa pun kesukaran hidup yang dialami maka tidak akan menggoyahkan cintanya kepada Tuhan. Oleh karena itu berdamai dengan Tuhan menjadi sangat penting. Orang percaya harus memiliki prinsip: Tuhan, Engkaulah perhentianku, Engkaulah pelabuhan terakhirku. Untuk memiliki prinsip seperti ini, orang percaya harus berlatih terus-menerus sampai benar-benar pada titik tidak bisa berpaling.
Kedua, Tuhan adalah pribadi yang bertanggung jawab, dengan demikian hal itu yang Dia ajarkan kepada orang percaya. Setiap permasalahan hidup yang terjadi dalam diri seseorang maka harus dihadapi dengan tanggung jawab, bukan hanya dengan doa. Banyak orang salah memahami doa, doa dianggap sebagai cara mudah untuk memperoleh jaminan penyelesaian masalah hidup. Sejatinya doa adalah dialog dengan Tuhan agar seseorang mampu memahami pikiran dan perasaan-Nya. Tuhan tidak berjanji menghindarkan manusia dari kesukaran, tetapi Ia berjanji memberi kekuatan untuk menghadapi segala kesukaran. Oleh karena itu temukan Tuhan dalam kesukaran hidup kita karena Dia-lah pribadi yang akan kita temui di kekekalan kelak. Amin. – Solagracia –

Mencintai Tuhan tidak bisa secara instan, tetapi harus dilatih melalui segala peristiwa hidup.

Surat Gembala: TUHAN KEBAHAGIAAN

Setiap manusia yang hidup pasti mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya. Manusia menempuh segala cara untuk mendapatkannya, seluruh pikiran, tenaga dan waktunya dihabiskannya demi hal itu. Kebahagiaan adalah sebuah keadaan tenteram lahir batin atau keberuntungan lahir batin (KBBI, 2015). Jika kita mau jujur, kebahagiaan secara materi banyak orang bisa mendapatkan dengan cara apapun, tetapi bicara hal batin, hampir-hampir tidak banyak orang yang bisa mendapatkannya. Mengapa demikian? Seorang ahli fisika dari Perancis yang bernama Blaise Pascal (1662) berkata, “Ada ruang kosong dalam diri manusia yang tidak dapat diisi dengan hal-hal materi, tetapi hanya dapat diisi oleh hal yang ilahi”. Paulus memberikan penjelasan yang sangat jelas bahwa akibat jatuh dalam dosa, semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah atau karakter ilahi (Rm. 3:23). Keadaan inilah yang membuat manusia memiliki ruang kosong itu.
Allah adalah sumber kebahagiaan artinya, Dia tidak akan pernah kehabisan kebahagiaan itu. Seharusnya manusia mencari kebahagiaan hanya kepada-Nya, tetapi karena dosa, manusia mencarinya bukan kepada Allah tetapi kepada dunia. Kebahagiaan diukur dari apa yang dimiliki yaitu kekayaan, kehormatan dan kebanggaan hidup. Manusia terus menggulirkan hidupnya kepada kenyataan ini, tetapi mereka lupa bahwa semuanya itu akan terhenti kapan pun dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Jika keadaan itu terus dilakukan maka seseorang tidak akan pernah memiliki hubungan yang bernilai tinggi dengan Allah. Hubungan dengan Allah akan dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun kebahagiaan di bumi ini.
Yang dimaksud dengan Tuhan kebahagiaanku adalah, keberanian seseorang untuk hidup tanpa apa pun dan tanpa siapa pun, tetapi tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Sebesar apa pun kenikmatan hidup, pasti akan berakhir pada hitungan-hitungan waktu, demikian halnya dengan kesulitan hidup, tetapi yang terpenting adalah mampukah kita mempertahankan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup kita? Harus kita tahu bahwa suka dan duka pasti terjadi dalam setiap kehidupan anak manusia, itu pun tidak ada yang permanen. Oleh karena itu betapa bersyukurnya kita jika mampu memilih Tuhan sebagai satu-satunya kebahagian hidup. Tuhan adalah sahabat abadi, betapa bijaknya jika selama kita hidup menumpang di bumi ini terus membangun hubungan yang ideal dengan Tuhan, karena Dia-lah Sang pemilik kekekalan. Kekecewaan kita terhadap dunia seharusnya menjadi penyemangat untuk membuktikan bahwa Tuhanlah satu-satunya kebahagiaanku. Amin. – Solagracia

Yang dimaksud dengan Tuhan kebahagiaanku adalah, keberanian seseorang untuk hidup tanpa apa pun dan tanpa siapa pun, tetapi tidak bisa hidup tanpa Tuhan

Surat Gembala: MENGANDALKAN TUHAN

Kata mengandalkan berasal dari kata dasar andal yang berarti dapat dipercayai, sedangkan mengandalkan, memiliki arti menaruh kepercayaan kepada yang dipercayai atau yang diandalkan (KBBI, 2015). Apa yang dimaksud dengan mengadalkan Tuhan?
Banyak orang memiliki pemahaman yang salah dalam hal ini. Mengandalkan Tuhan dipahami sebagai keadaan pasrah tanpa berbuat apa pun maka Tuhan akan memberikan pertolongan. Harus kita tahu, Tuhan kita mengajarkan tanggungjawab, bukan hidup sembrono dan tak produktif.
Dari pihak kita harus ada upaya maksimal, dan dalam kesemuanya itu harus kita kunci dengan pengertian, bahwa apa pun hasilnya pasti baik adanya karena Tuhan-pun turut bekerja (Roma 8: 28). Ada beberapa pengertian tentang mengandalkan Tuhan, yang pertama adalah menerima apa pun keadaan yang terjadi, setelah kita berusaha maksimal tentunya. Kebaikan yang kita harapkan tidak boleh kita paksakan sebagai sesuatu yang harus terjadi dan sesuai dengan kehendak kita. Tuhan memiliki integritas dan otoritas mutlak dalam segala hal. Tuhan lebih peduli dengan karakter seseorang dibanding dengan kekayaannya (Mat. 19:21). Harta dan kekayaan hanya mampu menemani kita selama 70 tahun hidup di bumi.
Yang kedua, mengandalkan Tuhan berarti, menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup walaupun tidak sesuai dengan harapan kita. Setiap permasalahan yang Tuhan izinkan terjadi kepada setiap orang percaya merupakan kurikulum Tuhan dengan maksud untuk mengubah karakter duniawi menjadi karakter illahi sampai pada titik tertentu orang percaya tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini.
Kita tidak boleh menggunakan pengalaman bangsa Israel sebagai patokan dalam hal mengandalkan Tuhan. Dalam hal ini, bangsa Israel hanya mengaitkan dirinya dengan kepenuhan kebutuhan jasmani, walaupun pada kenyataannya Tuhan tidak bermaksud demikian (Pkh 5: 18-19). Bagi orang percaya zaman Perjanjian Baru, mengandalkan Tuhan bukan berarti tanpa berusaha keras maka berkat dan perlindungan Tuhan diberikan, tetapi manusia dikembalikan pada porsinya dimana segala sesuatu harus dijalani secara bertanggungjawab dengan benar sesuai pikiran dan perasaan Kristus.
Untuk kebutuhan makan, minum dan pakai, Tuhan sudah sediakan asal kita mau bekerja keras. Satu-satunya pergumulan kita yang terberat adalah mengubah karakter kita, dalam hal inilah kita harus mengandalkan Tuhan, karena Iblis terus berjuang memanfaatkan natur dosa dalam diri kita agar kita gagal menjadi Corpus Delictinya Tuhan. Waspadalah! – Solagracia

Mengandalkan Tuhan berarti manjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup walaupun tidak sesuai harapan kita.

Surat Gembala: MENYERAHKAN MAHKOTA BAGI TUHAN

Berdaulat memiliki arti berbahagia atau bertuah (KBBI, 2015). Agenda besar manusia adalah berdaulat atas diri sendiri atau membangun kebahagiaan hidup. Segala cara dilakukan termasuk melawan Tuhan. Sedangkan agenda Allah adalah menegakkan kedaulatan kerajaan-Nya di bumi. Mengapa harus di bumi? Kerajaan-Nya yang di Surga telah terbukti tak tergoyahkan ketika Lucifer mencoba mengkudeta. Pasca pemberontakannya, Lucifer dibuang ke bumi (Why. 12: 9, Yes. 14 : 12). Dalam perjalanannya, Lucifer yang jatuh tidak pernah berhenti untuk merongrong kedaulatan Allah di bumi, terbukti mulai dari Adam sampai kepada Tuhan Yesus dia terus menggeliat untuk mencari saat yang baik guna merongrong kedaulatan Tuhan. Kebangkitan Kristus adalah bukti dari kekalahan Iblis dan tegaknya Kerajaan Allah di bumi secara de jure, tetapi secara de facto, Iblis terus mengaum seperti singa mencari orang yang dapat ditelannya. Oleh karena itu jangan memberi kesempatan kepada Iblis (Ef. 4 : 27).
Pada dasarnya, manusia ingin memiliki kerajaannya sendiri atau berotonom, hati-hati karena hal ini dapat dijadikan celah Iblis untuk masuk dan memanfaatkan manusia memberontak kepada Allah. Manusia diberikan hak otonom oleh Allah, tetapi bukan berarti tidak berbatas. Ketika manusia mencoba keluar dari batas-batas otonominya maka ia sudah memberontak kepada Allah. Hari ini, manusia digerakkan oleh kekuatan pikirannya, dengan semangat “kamu bisa”, atau istilah yang kita kenal “positive thinking” (berpikir positif), inilah mahkota manusia hari ini. Alkitab dengan tegas mengajarkan kita untuk berpikir benar dan bertindak benar bukan sekadar berpikir positif. Ada perbedaan yang sangat jelas antara berpikir positif dan berpikir benar. Semangat berpikir positif adalah penggalian potensi diri untuk hidup tanpa Tuhan. Sementara semangat berpikir benar adalah, manusia tidak bisa hidup tanpa Tuhan, karena Tuhan adalah sumber hidup dan penguasa hidup manusia.
Hidup dalam kedaulatan Tuhan adalah sebuah tindakan untuk melepaskan si “aku-nya” kita yang selama ini menjadi mahkota diri. Tuhan telah melepaskan mahkota-Nya demi kita, siapakah kita sehingga berkeras mempertahankan mahkota kemuliaan kita? Bukankah itu semua anugerah Tuhan? Bukankah Kristus telah membayar kita lunas dengan darah-Nya? Harus kita waspadai, jangan sampai keinginan untuk berotonom dalam diri kita akhirnya tanpa disadari itu merupakan bentuk pemanfaatan Iblis sebagai agenda untuk memberontak kepada Allah. Waspadalah! Amin – Solagracia

Ketika manusia mencoba keluar dari batas-batas otonominya maka ia sudah memberontak kepada Allah.

Surat Gembala: MENGINGINI TUHAN SAJA

Mengingini Tuhan saja dapat diartikan sebagai pengembangan hasrat untuk mematikan segala sesuatu sekaligus menghidupkan hasrat untuk menyukakan perasaan Tuhan saja sesuai dengan Alkitab. Perwujudan dari pernyataan di atas adalah melakukan segala sesuatu dengan perasaan Tuhan sebagai pertimbangan satu-satunya. Paulus berkata dalam Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Seorang calon mempelai, tentunya akan menumpahkan segala rasa cintanya hanya untuk calon pasangannya, jika masih ada rasa cinta kepada yang lain maka rasa itu harus dimatikan. Ketika cinta itu timbul akan memiliki energi yang luar biasa untuk berbuat apapun demi yang dicintai.
Untuk melihat kedalaman cinta kita kepada Tuhan dapat diukur dari adakah kita memiliki hasrat atau keinginan untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki, jika belum, berarti kita belum mencintai Tuhan secara benar. Orang sering berkata, ”Aku rindu pada-Mu ya Tuhan”. Ucapan ini sering diungkapkan dalam rangka menghadapi kesulitan hidup dan untuk mendapatkan pertolongan-Nya saja. Betapa marah dan kecewanya seseorang, jika kehadiran pribadinya sebenarnya tidak diharapkan, tetapi hanya tenaganya saja yang diharapkan. Pribadi Tuhan sangatlah agung, jika keinginan kita kepada-Nya hanya tertuju kepada kasih dan kuasa-Nya, betapa sikap ini merupakan bentuk pengabaian terhadap perasaan Tuhan. Semangat dari mengingini Tuhan yang benar adalah rindu memuaskan perasaan-Nya saja. Seorang pasangan mempelai yang sedang jatuh cinta, pastilah rindu memuaskan perasaan pasangannya. Perasaan manusia tidak stabil, oleh karena itu agar keinginan kita kepada Tuhan tetap konsisten maka diperlukan kerelaan hati untuk diproses secara terus menerus sampai hal itu merupakan passion satu-satunya.
Adalah sebuah kengerian yang tak terkatakan ketika maut menjemput, sementara keinginan akan Tuhan sama sekali tidak ada. Betapa gelapnya lorong kematian itu jika tanpa Tuhan. Walaupun seluruh isi dunia sanggup kita miliki, tetapi semuanya itu tidak pernah dapat kita gunakan sebagai buah tangan untuk Tuhan di kekekalan kelak. Alam semesta Tuhan yang punya karena Ia yang menciptakan termasuk kita di dalamnya. Alangkah bijak jika kita terus arahkan keinginan batin kita kepada Tuhan yang empunya segala sesuatu dan yang berkuasa atas kekekalan. Hidup kita pasti berakhir dan akan bertemu dengan takhta pengadilan Allah, siapakah pembela kita kelak kalau bukan Tuhan? Amin – Solagracia

Adalah sebuah kengerian yang tak terkatakan ketika maut menjemput, sementara keinginan akan Tuhan sama sekalai tidak ada.

Surat Gembala: BELENGGU KEINGINAN

Kebutuhan adalah aspek psikologi yang menggerakan makhluk hidup dalam beraktivitas dan menjadi dasar untuk berusaha. Standar kebutuhan hidup manusia adalah cukup pangan, sandang dan papan. Pemenuhan terhadap ketiga hal tersebut adalah sebuah kewajaran, tetapi jika ketiga hal itu dipenuhi atas dasar selera maka kebutuhan bergeser menjadi sebuah keinginan. Makan adalah kebutuhan, tetapi jika makan harus enak itu adalah keinginan demikian halnya dengan kebutuhan sandang dan papan. Kebutuhan akan bergerak sesuai dengan penalaran, tetapi keinginan bergerak dan mematikan penalaran. Ketika kebutuhan bergeser menjadi sebuah keinginan maka yang terjadi adalah perasaan akan mendominasi logika dan perasaan akan menjadi leader dalam pengambilan keputusan.
Ketika seseorang telah mencapai satu keinginan maka akan memancing keinginan yang lain terus bermunculan,
jika sudah demikian yang terjadi adalah seseorang akan diseret, dipikat sampai tidak bisa keluar dari situasi ini. Situasi ini jangan dipandang remeh! Dalam keadaan seperti ini dosa mengambil peran untuk membuahinya sampai melahirkan maut (Yak 1:14-15). Keinginan dan dosa bagaikan pertemuan antara indung telur dan sel sperma yang mengalami pembuahan sampai melahirkan seorang bayi. Paulus berkata, ”karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi…”, (Kol 3:5). Apa yang dikatakan Paulus ini berkaitan dengan hawa nafsu percintaan dengan dunia dan ini harus dimatikan agar tidak dibuahi oleh dosa dan tidak melahirkan maut. Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa, dan Tuhan tahu bahwa keinginan manusia menggiring kepada kebinasaan, oleh karena itu Tuhan memperingatkan, “barang siapa mempertahankan nyawanya maka ia akan kehilangan nyawanya,” (Mat 10:39). Kata kehilangan dalam teks Yunani menggunakan ἀπόλλυμι = apollumi yang dalam bahasa inggris diartikan to destroy fully dan dapat diartikan menghancurkan sama sekali. Jika di dunia ini kita mengumbar kepuasan jiwa (Yun. Ψυχή = psuchē; pikiran, perasaan dan kehendak) maka sama halnya dengan menghancurkan sama sekali akan kehidupan kekal kita.
Kebutuhan kita yang sebenarnya adalah Tuhan, bukan pangan, sandang dan papan. Kalaupun ketiga itu harus ada, hendaknya cukup dijadikan sarana untuk mendukung efektifitas kita dalam memburu Tuhan, bukan sebagai fokus pencarian kita. Oleh karena itu jangan sampai pencarian akan ketiga hal tersebut membelenggu kita dalam memburu Tuhan yang di dalamnya terkandung nasib kekal kita. Amin – Solagracia

Ketika seseorang telah mencapai satu keinginan maka akan memancing keinginan yang lain terus bermunculan

Surat Gembala: TIDAK MENCINTAI DUNIA

Cinta memiliki kekuatan yang sama dengan membenci. Karena cinta, orang rela melakukan apapun, demikian halnya dengan benci. Manusia memiliki kemampuan untuk mencintai dan membenci. Pada saat seseorang sedang mencintai sebenarnya ia sedang “membenci”.
Tuhan Yesus berkata bahwa tidak seorangpun yang sanggup mengabdi kepada dua tuan, karena pasti akan membenci salah satu dan mengasihi yang lain. Dosa telah mengubah orientasi manusia yang seharusnya kepada Allah namun bergeser kapada diri sendiri, apa yang menguntungkan dirinya maka dialah yang menjadi tuannya.
Kecintaan kita kepada Tuhan tidak mungkin beriringan dengan kecintaan terhadap dunia. Ketika kita berkomitmen untuk mencintai Tuhan, sejurus dengan itu maka harus kita ikuti dengan semangat untuk membunuh rasa cinta kita kepada dunia. Jika hal itu tidak kita lakukan maka dapat dipastikan justru akan membunuh rasa cinta kita kepada Tuhan. Harus kita pahami bahwa manusia daging yang telah dikuasai oleh dosa hanya bisa dipuaskan dengan melakukan dosa, sementara mencintai Tuhan berarti harus hidup kudus dan menjauhi dosa. Untuk menjadikan diri kita musuh Allah, tidak perlu menjadi perampok, pembunuh dan sebagainya, tetapi cukup bercinta dengan dunia, secara otomatis sudah menjadikan diri kita musuh Allah (Yak. 4:4).
Seseorang yang mengarahkan cintanya kepada dunia maka ia akan menganggap Allah sebagai “penghalang” saja. Di dalam cinta ada hasrat untuk memiliki, dan keadaan seperti ini pada titik tertentu bisa mematikan logika, sehingga rasa takutpun hilang. Jangan coba-coba menghalanginya, karena cinta akan menampakan taringnya. Bukankah Adam jatuh karena berhasrat untuk memiliki apa yang tidak dikehendaki Allah, sehingga keinginan itu telah membunuhnya? Hasrat memiliki peran penting dalam menentukan pilihan, oleh karena itu tidak ada pilihan lain selain terus mengarahkan hasrat kita kepada Tuhan dengan tekad yang bulat. Kenikmatan dunia hanya mampu “menemani” kita selama 80 tahun, itupun belum tentu didapatkan, tetapi keberanian untuk mematikan kecintaan kita terhadap dunia selama 80 tahun ini akan membawa kita sampai pada kekekalan Tuhan. Allah kita adalah Allah yang cemburu, oleh karena itu jangan membagi cinta kita kepada yang lain (Ul.5:9, Nah.1:2). Bukti kecintaan kita kepada Tuhan hendaknya kita wujudkan dengan membenci “dunia”. Memang hal itu tidaklah mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa kita lakukan, karena ada Roh Kudus yang akan mendampingi kita, asal kita mau. Amin – Solagracia –

Seseorang yang mengarahkan cintanya kepada dunia maka ia akan menganggap Allah sebagai “penghalang” saja.

KEPERCAYAAN KEPADA PRIBADI ALLAH

Saudaraku, nampak jelas di depan mata kita bahwa kejahatan semakin meningkat. Pelaku kejahatan semakin inovatif dalam menjalankan aksinya dan sudah tidak punya rasa takut dalam melakukannya. Sekarang ini adalah masa yang semakin sukar. Ada pepatah jawa yang berbunyi; jamane jaman edan yen ora edan ora keduman, ning isih bejo bejaning wong kang tansah eling lan waspodo, artinya; jaman sekarang sudah rusak dan kalau tidak ikut rusak maka tidak mendapa bagian, tetapi beruntunglah orang yang selalu sadar dan waspada. Dalam hal ini, Alkitab lebih tegas memberikan peringatan kepada kita akan keadaan dunia ini dengan berkata, “Dan dunia sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya (1Yoh. 2:17). Tetapi sungguh ironis jika ternyata orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus justru memercayakan hidupnya kepada dunia dan bersandar kepadanya. Sikap seperti ini merupakan tindakan yang menyakitkan hati Allah, karena sama halnya dengan tidak memercayai akan Pribadi-Nya.
Memercayai Allah sejajar dengan menghormati Allah secara pantas. Memang tidak dipungkiri bahwa Allah tidak bisa dilihat secara kasat mata karena Ia Roh adanya, sementara masalah hidup nampak jelas di depan mata. Di sinilah tantangan sekaligus seninya untuk memercayai Allah. Demi memiliki hubungan yang intim dengan roh jahat, seseorang rela melakukan apa saja dan akhirnya ia percaya bahwa roh itu ada, mengapa orang percaya tidak melakukan hal yang sama kepada Tuhan. Daud berkata, “sekalipun dalam lembah kekelaman aku tidak takut bahaya…” mengapa demikian? Daud sudah terbiasa berlatih untuk memercayai Allah ketika ia harus berhadapan dengan singa, beruang bahkan Goliat sekalipun. Ketika Daud menghadapi Goliat tidak begitu saja ia dapat berkata, …tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu (1Sam. 17:45). Daud telah melewati waktu yang panjang dilatih Tuhan sampai ia benar-benar percaya. Kemampuan dan keberaniannya untuk berperang, merupakan hasil dari pelatihannya yang didapat dari Tuhan, sehingga ia yakin betul siapa yang melatihnya untuk berperang. Daud telah membuktikan percayanya kepada Allah dengan berani menaruhkan nyawanya di hadapan Goliat.
Masalah hidup yang terjadi adalah sarana bagi kita untuk menunjukan kepercayaan kita kepada Pribadi Allah. Keberanian kita untuk menaruhkan nyawa kita kepada-Nya, adalah wujud dari percaya kita kepada Pribadi Allah. Sudahkah kita melakukannya? Amin – Solagracia –

Memercayai Allah sejajar dengan menghormati Allah secara pantas

KEPERCAYAAN KEPADA PRIBADI ALLAH TANPA SYARAT

Bagi orang percaya, memercayai Tuhan bukanlah syarat, tetapi merupakan kodrat. Bukankah kita tidak pernah mengajukan syarat apapun kepada orang tua kita sebagai jaminan pemeliharaan kita? Secara naluri, sikap orang tua seperti itu pasti ada dan tidak perlu diragukan lagi. Jika orang tua di dunia saja tahu bertanggungjawab, apalagi Bapa kita yang di Sorga. Dari sisi Bapa sudah final, tetapi sekarang masalahnya ada pada kita.
Allah memiliki 1001 cara untuk mendidik kita. Iblis mencoba membujuk Tuhan Yesus untuk meragukan kasih dan pemeliharaan Allah, tetapi Ia tetap memilih memercayai Bapa-Nya dan itu Ia buktikan sampai di Kayu Salib. Walaupun secara fisik tidak mendapatkan pertolongan tetapi Ia tetap percaya dan menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya yang “tidak” menolong dan bahkan meninggalkan-Nya (Mrk. 15:34-37).
Bagi anak-anak Allah yang benar (huios), meneladani ketaatan Tuhan Yesus adalah mutlak adanya. Dalam keadaan tertentu, Allah akan membawa kita kepada situasi dimana seakan-akan Ia tidak peduli terhadap kita. Ada dua hal yang hendak Bapa ajarkan kepada kita, yang pertama, Ia ingin agar kita tetap percaya kepada-Nya, walaupun seakan Ia tak peduli. Yang kedua, adalah kesempatan bagi kita untuk dipercayai oleh Tuhan. Mengapa Allah melakukan hal tersebut? Sebagaimana Ia telah tetapkan standar kepada Anak Tunggal-Nya maka standar itu juga harus berlaku buat kita anak-anak-Nya di dalam Kristus. Memercayai Tuhan adalah awal dari sebuah ketaatan kita kepada-Nya. Percaya tak bersyarat adalah sebuah sikap yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun.
Sadrakh, Mesakh, Abednego telah membuktikan iman percayanya ketika mereka berhadapan dengan tungku api yang siap melumatnya. Pernyataan imannya telah dibuktikan dengan tetap memasuki tungku api yang dipanaskan tujuh kali lipat (Dan. 3:17-18). Allah bertanggung jawab untuk membela orang-orang yang rela “membela”-Nya dengan gagah berani dan tulus. Pembelaan Tuhan pasti diberikan bagi anak-anak-Nya, tetapi bukan berarti kita bisa mereka-reka akan hal itu, karena pembelaan adalah otoritas dan hak prerogratif Allah semesta alam. Ada tiga hal yang harus kita tanamkan dalam hati; Yang pertama, apapun yang Tuhan lakukan buat kita harus kita terima dan yakini sebagai yang terbaik. Ke dua, apapun yang terjadi kita tetap percaya kepada pribadi-Nya. Yang ketiga, apapun yang terjadi tidak akan menaruh rasa curiga kepada Tuhan. Sekarang Apa yang akan kita lakukan kepada Tuhan, sebagai bukti bahwa iman kita tidak bersyarat? Amin – Solagracia

Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 30.052 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: