Surat Gembala: TIDAK MENCINTAI DUNIA

Cinta memiliki kekuatan yang sama dengan membenci. Karena cinta, orang rela melakukan apapun, demikian halnya dengan benci. Manusia memiliki kemampuan untuk mencintai dan membenci. Pada saat seseorang sedang mencintai sebenarnya ia sedang “membenci”.
Tuhan Yesus berkata bahwa tidak seorangpun yang sanggup mengabdi kepada dua tuan, karena pasti akan membenci salah satu dan mengasihi yang lain. Dosa telah mengubah orientasi manusia yang seharusnya kepada Allah namun bergeser kapada diri sendiri, apa yang menguntungkan dirinya maka dialah yang menjadi tuannya.
Kecintaan kita kepada Tuhan tidak mungkin beriringan dengan kecintaan terhadap dunia. Ketika kita berkomitmen untuk mencintai Tuhan, sejurus dengan itu maka harus kita ikuti dengan semangat untuk membunuh rasa cinta kita kepada dunia. Jika hal itu tidak kita lakukan maka dapat dipastikan justru akan membunuh rasa cinta kita kepada Tuhan. Harus kita pahami bahwa manusia daging yang telah dikuasai oleh dosa hanya bisa dipuaskan dengan melakukan dosa, sementara mencintai Tuhan berarti harus hidup kudus dan menjauhi dosa. Untuk menjadikan diri kita musuh Allah, tidak perlu menjadi perampok, pembunuh dan sebagainya, tetapi cukup bercinta dengan dunia, secara otomatis sudah menjadikan diri kita musuh Allah (Yak. 4:4).
Seseorang yang mengarahkan cintanya kepada dunia maka ia akan menganggap Allah sebagai “penghalang” saja. Di dalam cinta ada hasrat untuk memiliki, dan keadaan seperti ini pada titik tertentu bisa mematikan logika, sehingga rasa takutpun hilang. Jangan coba-coba menghalanginya, karena cinta akan menampakan taringnya. Bukankah Adam jatuh karena berhasrat untuk memiliki apa yang tidak dikehendaki Allah, sehingga keinginan itu telah membunuhnya? Hasrat memiliki peran penting dalam menentukan pilihan, oleh karena itu tidak ada pilihan lain selain terus mengarahkan hasrat kita kepada Tuhan dengan tekad yang bulat. Kenikmatan dunia hanya mampu “menemani” kita selama 80 tahun, itupun belum tentu didapatkan, tetapi keberanian untuk mematikan kecintaan kita terhadap dunia selama 80 tahun ini akan membawa kita sampai pada kekekalan Tuhan. Allah kita adalah Allah yang cemburu, oleh karena itu jangan membagi cinta kita kepada yang lain (Ul.5:9, Nah.1:2). Bukti kecintaan kita kepada Tuhan hendaknya kita wujudkan dengan membenci “dunia”. Memang hal itu tidaklah mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa kita lakukan, karena ada Roh Kudus yang akan mendampingi kita, asal kita mau. Amin – Solagracia –

Seseorang yang mengarahkan cintanya kepada dunia maka ia akan menganggap Allah sebagai “penghalang” saja.

KEPERCAYAAN KEPADA PRIBADI ALLAH

Saudaraku, nampak jelas di depan mata kita bahwa kejahatan semakin meningkat. Pelaku kejahatan semakin inovatif dalam menjalankan aksinya dan sudah tidak punya rasa takut dalam melakukannya. Sekarang ini adalah masa yang semakin sukar. Ada pepatah jawa yang berbunyi; jamane jaman edan yen ora edan ora keduman, ning isih bejo bejaning wong kang tansah eling lan waspodo, artinya; jaman sekarang sudah rusak dan kalau tidak ikut rusak maka tidak mendapa bagian, tetapi beruntunglah orang yang selalu sadar dan waspada. Dalam hal ini, Alkitab lebih tegas memberikan peringatan kepada kita akan keadaan dunia ini dengan berkata, “Dan dunia sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya (1Yoh. 2:17). Tetapi sungguh ironis jika ternyata orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus justru memercayakan hidupnya kepada dunia dan bersandar kepadanya. Sikap seperti ini merupakan tindakan yang menyakitkan hati Allah, karena sama halnya dengan tidak memercayai akan Pribadi-Nya.
Memercayai Allah sejajar dengan menghormati Allah secara pantas. Memang tidak dipungkiri bahwa Allah tidak bisa dilihat secara kasat mata karena Ia Roh adanya, sementara masalah hidup nampak jelas di depan mata. Di sinilah tantangan sekaligus seninya untuk memercayai Allah. Demi memiliki hubungan yang intim dengan roh jahat, seseorang rela melakukan apa saja dan akhirnya ia percaya bahwa roh itu ada, mengapa orang percaya tidak melakukan hal yang sama kepada Tuhan. Daud berkata, “sekalipun dalam lembah kekelaman aku tidak takut bahaya…” mengapa demikian? Daud sudah terbiasa berlatih untuk memercayai Allah ketika ia harus berhadapan dengan singa, beruang bahkan Goliat sekalipun. Ketika Daud menghadapi Goliat tidak begitu saja ia dapat berkata, …tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu (1Sam. 17:45). Daud telah melewati waktu yang panjang dilatih Tuhan sampai ia benar-benar percaya. Kemampuan dan keberaniannya untuk berperang, merupakan hasil dari pelatihannya yang didapat dari Tuhan, sehingga ia yakin betul siapa yang melatihnya untuk berperang. Daud telah membuktikan percayanya kepada Allah dengan berani menaruhkan nyawanya di hadapan Goliat.
Masalah hidup yang terjadi adalah sarana bagi kita untuk menunjukan kepercayaan kita kepada Pribadi Allah. Keberanian kita untuk menaruhkan nyawa kita kepada-Nya, adalah wujud dari percaya kita kepada Pribadi Allah. Sudahkah kita melakukannya? Amin – Solagracia –

Memercayai Allah sejajar dengan menghormati Allah secara pantas

KEPERCAYAAN KEPADA PRIBADI ALLAH TANPA SYARAT

Bagi orang percaya, memercayai Tuhan bukanlah syarat, tetapi merupakan kodrat. Bukankah kita tidak pernah mengajukan syarat apapun kepada orang tua kita sebagai jaminan pemeliharaan kita? Secara naluri, sikap orang tua seperti itu pasti ada dan tidak perlu diragukan lagi. Jika orang tua di dunia saja tahu bertanggungjawab, apalagi Bapa kita yang di Sorga. Dari sisi Bapa sudah final, tetapi sekarang masalahnya ada pada kita.
Allah memiliki 1001 cara untuk mendidik kita. Iblis mencoba membujuk Tuhan Yesus untuk meragukan kasih dan pemeliharaan Allah, tetapi Ia tetap memilih memercayai Bapa-Nya dan itu Ia buktikan sampai di Kayu Salib. Walaupun secara fisik tidak mendapatkan pertolongan tetapi Ia tetap percaya dan menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya yang “tidak” menolong dan bahkan meninggalkan-Nya (Mrk. 15:34-37).
Bagi anak-anak Allah yang benar (huios), meneladani ketaatan Tuhan Yesus adalah mutlak adanya. Dalam keadaan tertentu, Allah akan membawa kita kepada situasi dimana seakan-akan Ia tidak peduli terhadap kita. Ada dua hal yang hendak Bapa ajarkan kepada kita, yang pertama, Ia ingin agar kita tetap percaya kepada-Nya, walaupun seakan Ia tak peduli. Yang kedua, adalah kesempatan bagi kita untuk dipercayai oleh Tuhan. Mengapa Allah melakukan hal tersebut? Sebagaimana Ia telah tetapkan standar kepada Anak Tunggal-Nya maka standar itu juga harus berlaku buat kita anak-anak-Nya di dalam Kristus. Memercayai Tuhan adalah awal dari sebuah ketaatan kita kepada-Nya. Percaya tak bersyarat adalah sebuah sikap yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun.
Sadrakh, Mesakh, Abednego telah membuktikan iman percayanya ketika mereka berhadapan dengan tungku api yang siap melumatnya. Pernyataan imannya telah dibuktikan dengan tetap memasuki tungku api yang dipanaskan tujuh kali lipat (Dan. 3:17-18). Allah bertanggung jawab untuk membela orang-orang yang rela “membela”-Nya dengan gagah berani dan tulus. Pembelaan Tuhan pasti diberikan bagi anak-anak-Nya, tetapi bukan berarti kita bisa mereka-reka akan hal itu, karena pembelaan adalah otoritas dan hak prerogratif Allah semesta alam. Ada tiga hal yang harus kita tanamkan dalam hati; Yang pertama, apapun yang Tuhan lakukan buat kita harus kita terima dan yakini sebagai yang terbaik. Ke dua, apapun yang terjadi kita tetap percaya kepada pribadi-Nya. Yang ketiga, apapun yang terjadi tidak akan menaruh rasa curiga kepada Tuhan. Sekarang Apa yang akan kita lakukan kepada Tuhan, sebagai bukti bahwa iman kita tidak bersyarat? Amin – Solagracia

Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja

Surat Gembala: MAKNA PEMELIHARAAN BAPA

Allah kita adalah Allah yang berintegritas sempurna dalam segala hal. Untuk hal itu, tidak ada alasan sedikit pun bagi orang percaya untuk meragukan-Nya. Allah Bapa kita sangat memahami kebutuhan kita. Bagaimana tidak, Ia berkomitmen memberikan matahari, baik kepada orang jahat dan orang baik, apalagi bagi anak-anak-Nya sendiri. Seharusnya kita tidak perlu kuatir lagi. Ia memiliki natur kerja dan bertanggungjawab, sehingga kita pun juga harus demikian. Orang percaya harus kerja keras guna memenuhi kebutuhannya dan Bapa akan memberkati-Nya. Bapa memelihara burung yang terbang di udara mencari makan, bukan burung yang malas di dalam sarangnya (Mat. 6:26).
Bapa telah menentukan tatanan kehidupan bagi semua makhluk secara adil, berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmaninya (Mat. 5:45). Bapa bukanlah pribadi yang curang, sehingga karena kita anak-anak-Nya, walaupun
tidak bekerja dan tidak bertanggungajawab maka Ia akan tetap memberkatinya. Pemahaman ini sangat keliru dan justru merendahkan martabat Allah Bapa yang Agung. Bapa telah menetapkan hukum tabur tuai sebagai mekanisme yang ditetapkan bagi setiap orang, entah dia orang percaya atau bukan. Walaupun dia orang di luar Tuhan, jika hidupnya jujur, kerja keras dan tanggungjawab maka dengan sendirinya berkat yang menjadi bagiannya akan diterimanya.
Sangat ironis jika ternyata anak Tuhan telah salah mengartikan pemeliharaan Bapa. Dengan berdoa dan “beriman” saja maka berkat Tuhan akan dicurahkan. Mengapa bisa demikian? Orang percaya telah terobsesi dengan kehidupan bangsa Israel dimana sepertinya mudah sekali untuk mendapatkan berkat dan pemeliharaan Tuhan. Kenyataannya tidak demikian! Bangsa Israel dihadapkan kepada dua pilihan, berkat dan kutuk, ketika taat mereka diberkati tetapi jika tidak taat mereka kena kutuk (Yos. 8:34). Kita harus tahu bahwa bangsa Israel diberikan hak-hak demikian, karena bangsa ini mengemban tugas untuk menyimpan dokumen pengenalan akan Allah yang benar. Kita memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan umat Isreal, jika mereka fokusnya kepada hal-hal duniawi, tetapi bagi kita fokusnya adalah dunia yang akan datang. Standar mereka hukum Taurat, sementara kita adalah sempurna seperti Bapa.
Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja (Yoh. 10:10). Bapa akan lebih mengutamakan pembentukan karakter anak-anak-Nya daripada pemenuhan kebutuhan jasmaninya, karena karakterlah yang akan dibawa untuk menjumpai Dia kelak di kekekalan. – Solagracia –

Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja

Surat Gembala: HIDUP TAK BERCACAT DAN TAK BERCELA

Membaca judul di atas, sulit rasanya untuk mencapainya, sehingga membuat seseorang bersikap apatis. Paling tidak ada empat penyebab mengapa orang bersikap demikian. Pertama, pengaruh agama dan keyakinan di sekitarnya. Agama mengesankan bahwa hanya Allah yang sempurna dan manusia tempat salah adanya. Bisanya hal ini dikaitkan dengan pemahaman bahwa Allah Maha Pengampun, sehingga jika kita berbuat salah Allah pasti mengampuni. Memang benar Allah Maha Pengampun, tetapi adakah niat kita untuk tidak melukai perasaan Tuhan? Bukankah kita tidak tahu kapan meninggal?

Kedua, melihat tokoh Alkitab secara salah. Abraham, Yakub, Daud, Salomo, Elia, Yunus, bahkan sampai pada Petrus tokoh Perjanjian Baru. Mengapa orang menyoroti kesalahan mereka saja tanpa melihat bagaimana mereka berjuang untuk hidup tak bercacat dan tak bercela sehingga itu yang dijadikan teladan. Mereka semua belum bisa sempurna seperti kita, karena memang Roh Kudus belum dicurahkan secara pribadi termasuk kepada Petrus. Tetapi setelah dipenuhi Roh Kudus, kita bisa melihat Petrus berjuang untuk sempurna bahkan nyawanya ditaruhkan untuk hal itu.

Ketiga, memandang bahwa cara hidup tak bercacat dan tak bercela adalah gaya hidup yang menjauhkan diri dari kenyamanan dan kewajaran seperti kebanyakan orang, bahkan dianggap sebagai sikap menyiksa diri. Menurut dunia, pandangan ini benar, tetapi bagi orang percaya hal itu bukanlah alasan. Hidup kita harus berbeda dengan dunia (Rm. 12:2).

Keempat, seringnya mengalami kegagalan di dalam proses belajar menjadi tak bercacat dan tak bercela. Karena terlalu sering mengalami kegagalan maka menyimpulkan bahwa hidup tak bercacat dan tak bercela adalah sebuah kemustahilan. Inilah yang disebut dengan “mental block”. Keselamatan adalah usaha Allah dan gayung bersambut dari manusia untuk kembali kepada rancangan semula. Allah tidak pernah mentakdirkan nasib manusia, apalagi soal keselamatan. Allah memberikan sarananya, manusia harus bertanggung jawab untuk menyambut uluran kasih karunia Tuhan-Nya.
Allah kita adalah Allah yang sangat mengerti kemampuan anak-anak-Nya, ketika Ia memerintahkan untuk kudus maka Ia memberikan teladan-Nya, yaitu Kristus sendiri (1Ptr. 1:13-16, 1Ptr.2:21-24). Orang harus memilih terang atau gelap. Adalah anugrah jika kita menjadi anak-anak Allah, tetapi anugerah tidak serta-merta menjadikan keberadaan kita menjadi anak Allah yang kudus. Kekudusan bukanlah syariat, tetapi kodrat anak-anak Allah. Inilah fokus pengiringan kita kepada Tuhan Yesus. Amin. – Solagracia

Allah kita adalah Allah yang sangat mengerti kemampuan anak-anak-Nya, ketika Ia memerintahkan untuk kudus maka Ia memberikan teladan-Nya, yaitu Kristus.

MAKNA KEBANGKITAN TUHAN YESUS

Bagi orang percaya, kebangkitan Kristus sudah final dan tidak perlu diragukan lagi. Kebangkitan Kristus adalah fakta sejarah yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya, karena memiliki saksi yang cukup. “Banyak orang” (Mat. 27:53). Tanpa kebangkitan Kristus, kekristenan sama sekali tidak memiliki makna apa-apa (1Kor. 15:13). Keempat Injil memberikan porsi khusus tentang kisah kebangkitan Kristus, dibanding kisah kelahiran, kematian dan kenaikan. Kebangkitan Kristus adalah pusat pemberitaan Injil karena merupakan tumpuan harapan seluruh manusia akan kebangkitannya kelak. Bahkan, kebangkitan Kristus merupakan puncak kemenangan dari “pertaruhan” maha hebat Allah Bapa akan masa depan kekekalan dimana Kristus bisa membuktian kesalahan Lucifer, dengan ketaat-Nya dalam keadaan-Nya sebagai manusia biasa. Tuhan Yesus telah mempertaruhkan segenap jiwa dan raga-Nya untuk taat sebagai bukti bahwa hidup-Nya saleh, sehingga Ia layak dibangkitan dari maut.
Orang percaya tidak perlu terganggu dengan banyaknya fitnahan klasik yang telah dirintis oleh orang-orang Yahudi dengan mengatakan “Kristus tidak bangkit melainkan mayat-Nya dicuri oleh murid-murid-Nya” (Mat. 28:11-15). Hari ini banyak orang mempercayainya! Paulus berkata, “yang ku kehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan bersekutu dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Fil. 3:10-11). Fokus kita adalah bagaimana hidup sebagaimana Kristus hidup dan taat sampai mati di Salib, sehingga Ia layak memperoleh kebangkitan-Nya. Inilah kunci keimanan Kristen kita guna memperoleh kebangkitan kelak di kekekalan dan menerima kemuliaan bersama dengan Kristus. Persekutuan kita dengan Kristus bukan sesederhana yang dipikirkan orang selama ini, dimana kebangkitan Kristus dipahami sebagai “bemper” masalah-masalah hidup. Sikap ini salah! Memaknai kebangkitan Kristus, harus ditindaklanjuti dengan kesediaan kita untuk hidup menyatu dengan keteladanan-Nya dimana Ia telah memilih bertahan untuk taat dalam penderitaan-Nya guna memenuhi kualifikasi kesalehan yang Bapa kehendaki. Dengan demikian harapan untuk dibangkitan bersama Kristus bisa terwujud. Adalah kejahatan di mata Allah jika ketaatan Kristus disejajarkan dengan pergumulan manusia untuk mendapatkan berkat-berkat jasmaniah. Ketaatan Kristus adalah pertaruhan terhadap penegakan supremasi Allah di dalam diri-Nya. Demikianlah hendaknya kita! Amin. – Solagracia

Adalah kejahatan di mata Allah jika ketaatan Kristus disejajarkan dengan pergumulan manusia untuk mendapatkan berkat-berkat jasmaniah

Surat Gembala: Belajar Menerima Kelegaan

Satu-satunya kerinduan dari orang yang mengalami tekanan hidup adalah terlepas dari tekanan itu, sehingga jiwanya mampu mengalami kelegaan. Kata Kelegaan berasal dari kata sifat lega yang dapat di artikan, lapang, luas, tentram, tidak kuatir lagi (KBBI, 2014). Kelegaan bisa diartikan sebuah keadaan tentram, nyaman tanpa gangguan. Kelegaan akan memiliki nilai yang tinggi jika hal itu dialami oleh orang yang mengalami tekanan. Jadi tekanan dan kelegaan adalah sebuah mata rantai yang tidak bisa dilepaskan.
Bagi Schapelle Leigh Corby, mengenai Keppres No. 22/G Tahun 2012 yang dikeluarkan oleh Presiden SBY pada 15 Mei 2012 merupakan berita yang sangat melegakan karena ia terbebas dari vonis hukuman mati. Apalagi ketika mendengar Presiden Jokowi menolak grasi terhadap tervonis mati “bali nine”, berita itu menambah betapa berharganya grasi yang diberikan oleh mantan Presiden SBY baginya.
Keputusan Tuhan untuk mengundang dan mengajak semua manusia adalah sungguh berita yang sangat melegakan (Mat. 11: 28). Undangan dan ajakan ini menjadi berita baik karena bukan hanya melepaskan manusia dari himpitan hidup hari ini saja, tetapi juga mendidik manusia agar terlepas dari hukuman kekal. Undangan ini berlaku bagi semua orang, tetapi tidak semua orang mau menerimanya. Ada satu kekuatan besar dalam diri manusia yang mampu menyeretnya sampai kepada maut, yaitu keinginan atau nafsu (Yak. 1:14-15). Lingkungan telah mewarnai jiwa seseorang, apa yang dilihat dan didengar telah teradopsi menjadi jati diri. Keadaan inilah yang membinasakan manusia, mengapa demikian? Karena keadaan ini dianggap sebagai hal yang wajar, sehingga manusia secara perlahan dan pasti bergeser dari kehendak Tuhan yaitu sempurna seperti Bapa.
Kelegaan dalam teks Yunani menggunakan kata anapauso (ἀναπαύω = anapauō), yang dalam bahasa Inggris digunakan kata rest yang bisa diartikan berhentian dari segala kelelahan, atau dapat di kalimatkan; istrihat sejenak dari keletihan akan pengejaran terhadap sesuatu. Mengapa harus berhenti? Jika seseorang bisa berhenti, maka ia menjadi tenang, sehingga ia bisa berpikir dengan jernih dan siap diajar oleh Tuhan. Menikmati kelegaan Tuhan, tidaklah gampang, karena berbanding berbalik dengan citarasa manusia pada umunya. Oleh karena itu, harus dilatih sedemikan rupa sampai benar-benar kelegaan Tuhan menjadi satu-satunya pilihan hidup. Masalah ekonomi, kesehatan, keluarga, dan masih banyak lagi adalah sarana dari Tuhan sebagai media untuk melatih kita agar terbiasa menerima kelegaan-Nya. Amin – Solagracia

Keputusan Tuhan untuk mengundang dan mengajak semua manusia adalah aungguh berita yang sangat melegakan.

Surat Gembala: Menghargai Korban TUHAN YESUS

Tahukah kita, bahwa satu-satunya hak kita adalah binasa kekal. Arah dari segala perbuatan manusia adalah jahat di mata Allah, dan menuju binasa kekal. Keadaan ini membuat Bapa “nyesek” dan pilu hatinya (Kej. 6:6). Tuhan Yesus adalah “Logos atau Firman” yang telah menciptakan langit dan bumi serta sang Penguasa yang telah memerintah sejak purbakala dengan segala kemuliaan-Nya (Yoh.1:1-4, Mika 5:1-2). Kepiluan hati Bapa telah menjadi “passion”-Nya dan telah mendorong diri-Nya untuk meninggalkan segala kemuliaan yang Ia miliki. Kebinasaan manusia adalah kepiluan hati Allah Bapa. Allah Anak telah memilih mengosongkan diri-Nya demi kepuasan hati Bapa. Proses pengosongan diri-Nya bukanlah sebuah adegan sandiwara yang telah diatur sedemikian rupa sehingga bisa ditebak ke mana arah akhir ceritanya. Dalam menjalankan missi-Nya, Tuhan Yesus sangat berkemungkinan untuk gagal. Ada dua akibat besar yang terjadi jika Tuhan Yesus gagal; Yang pertama, manusia akan meluncur bebas masuk ke dalam kebinasaan kekal tanpa halangan, kedua, Tuhan Yesus tidak akan pernah mendapatkan kembali kemuliaan yang telah Ia tinggalkan.
Dalam hal ini pemahaman kita tidak boleh salah, karena jika salah maka penempatan diri kita di hadapan Allah pun juga salah. Kebinasaan manusia jangan disejajarkan dengan masalah hidup yang bersifat sementara, jika hal ini kita lakukan sama artinya merendahkan pertarungan Tuhan Yesus untuk memperoleh kembali kemuliaan yang telah Ia tinggalkan. Tak terkatakan betapa hancurnya tatanan jagat raya ini jika Allah Anak tidak lagi memiliki kemuliaan. Tetapi terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menang atas semua ini. Bukankah manusia juga telah kehilangan kemuliaan Allah? Jika Tuhan Yesus saja mempertaruhkan nyawa untuk memperolehnya kembali kemuliaan-Nya, lalu siapakah kita ini sehingga berani berkata “aku anak Allah” sementara perilaku kita tidak seperti Kristus. Jika melihat perbuatan kita maka tidak pantaslah menyebut diri sebagai anak-anak Allah. Perbuatan kita mencerminkan penghargaan kita terhadap pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.
Lagi-lagi Gereja tidak boleh salah mengajar umat dengan menggantikan kesulitan hidup sebagai pokok pergumulan umat. Ajarkan bagaimana Kristus berjuang dalam ketaatan-Nya, bahkan sampai pada kematian-Nya di kayu Salib. Ketaatan bukan untuk meraih berkat materi, tetapi untuk kepuasan hati Bapa sehingga kita layak dimuliakan bersama dengan Kristus. Allah bertanggungjawab dengan ciptaan-Nya, Ia memberikan matahari kepada orang jahat dan orang baik (Mat.5:45). – Solagracia

Perbuatan kita mencerminkan penghargaan kita terhadap pengorbanan TUHAN YESUS KRISTUS

KONSEKUENSI BERPERKARA DENGAN TUHAN

Kita sering mendengar pemimpin pujian atau pembicara berkata, “Mari kita berperkara dengan Tuhan”. Ketika kalimat ini dilontarkan, dapat dipastikan bertalian dengan masalah hidup dan kebutuhan hidup hari ini. Berperkara dengan Tuhan tidak berhenti pada permasalahan hidup, tetapi harus bergerak maju kepada persoalan perubahan watak dan karakter kita. Jika orang beragama mendekati illahnya dengan maksud supaya digampangkan urusannya, dientengkan jodohnya, dibukakan pintu rezekinya atau segala sesuatu yang bertalian dengan kepentingan dirinya maka kekristenan tidak boleh seperti itu. Tuhan kita adalah Allah yang hidup dan memiliki perasaan yang sempurna. Dia tahu rancangan yang terbaik bagi anak-anak-Nya yang mengasihi Dia. Permasalahan hidup yang Tuhan ijinkan terjadi kepada setiap manusia, adalah dalam rangka agar mereka mencari Tuhan, dengan demikian Tuhan bisa menggarap karakternya sampai sempurna seperti Bapa. Tuhan lebih mementingkan penyelesaian watak dan karakter daripada masalah hidup. Oleh karena itu hendaknya gayung bersambut antara Allah dan manusia. Tetapi jangan kuatir, Tuhan pasti memberi jalan keluar ketika kita mengalami pencobaan (1Kor.10:13). Jika berurusan dengan Tuhan hanya untuk hidup hari ini saja maka kita adalah orang yang paling malang dari segala manusia yang ada (1 Kor.15:19). Oleh karena itu tujuan hidup kita harus diarahkan kepada perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kol. 3:1-4).
Gereja harus menjadi garda terdepan untuk mengambil tanggungjawab mengarahkan umat kepada fokus yang benar yaitu LB3 (Langit Baru Bumi Baru). Setiap pelayan umat harus mengenal Injil yang murni sehingga apa yang disampaikan adalah estafet kebenaran Tuhan yang murni pula. Ketulusan hati pelayan umat harus di barengi dengan kecerdasan roh, sehingga bisa menangkap gerak Tuhan yang paling lembut sekalipun. Abraham memang bapak orang beriman, tetapi menjadi orang Kristen tidak otomatis mewarisi iman Abraham secara benar jika tanpa diajarkan bagaimana Abraham rela meninggalkan kenyamanan hidupnya, dengan meninggalkan Urkasdim, menjadi musyafir, dan tidak tahu kemana tujuan kota yang dijanjikan oleh Allah, tetapi ia tidak kehilangan fokus akan Yerusalem Baru, kota yang dibangun oleh Allah sendiri (Ibr.11:8-15). Bagi dia lembah Yordan tidaklah menarik walapun seperti taman Tuhan, bahkan ketika harus menyembelih Ishakpun tidak menjadi masalah asal Allah yang menghendakinya. Jadi, apa yang kita perkarakan dengan Tuhan hari ini masalah atau watak kita? – Solagracia

Tuhan kita adalah Allah yang hidup dan memiliki perasaan yang sempurna. Dia tahu rancangan yang terbaik bagi anak-anakNya yang mengasihi Dia.

RESPON TERHADAP KEBAIKAN TUHAN

Pada zaman torat, orang yang mengalami sakit kusta sama halnya seseorang yang sudah mati, hanya belum masuk liang kubur. Seluruh hak hidupnya hilang bersama sakit yang dideritanya. Penyakit kusta bukan saja merupakan penderitaan fisik tetapi juga batin dan tidak menutup kemungkinan hidup rohaninya pun bisa mati. Sakit kusta merupakan penderitaan yang dahsyat pada waktu itu, di mana para penderitanya harus terbuang dari keluarga, lingkungan dan masyarakat bahkan agama sekali pun. Orang yang terkena kusta mustahil bisa beribadah ke dalam bait Allah, betapa dahsyatnya penderitaan ini. Dalam Luk.17:11-17 diceritakan ada sepuluh orang kusta telah mengalami mujizat kesembuhan dari Tuhan Yesus, tetapi hanya satu orang saja yang tahu berterima kasih dan memuliakan Dia. Sembilan orang tidak tahu berterima kasih apalagi membalas budi (Luk. 17:11-19). Sembilan orang ini mencari Tuhan Yesus murni karena ingin memenuhi kebutuhannya yaitu sembuh dari kustanya, tetapi yang seorang bukan hanya ingin sembuh dari sakit kustanya, melainkan ia juga ingin memuliakan Allah. Secara kebangsaan dia orang Samaria yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang Yahudi, ditambah kena kusta, jauh rasanya untuk bisa memuliakan Tuhan. Kalaupun sembuh rasanya berat untuk mendapatkan pengakuan tahir dari imam-imam yang adalah orang Yahudi sehingga ia bisa memuliakan Allah.
Dari kisah di atas kita bisa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Yang pertama, Tuhan adalah Kasih adanya, oleh karena itu Ia pasti berbelas kasihan terhadap orang yang kehilangan pengharapan (ay. 13-14, Yer 33:3). Yang kedua, dalam keadaan terpuruk janganlah kita bimbang, apalagi kehilangan pengharapan dan iman, karena Tuhan pasti memberikan pertolongan tepat pada waktu-Nya (ay. 19). Yang ketiga, kelegaan hidup yang kita alami janganlah membuat kita seperti ”kuda lepas dari kandang”, atau seperti “kacang lupa kulitnya” (ay. 15-18). Mengucap syukur kepada Tuhan bukanlah syarat, melainkan kodrat anak Tuhan.
Belajar dari sikap orang Samaria tadi kita harus tahu diri dan tahu budi di hadapan Tuhan. Ciri orang Kristen tahu budi adalah pertama, pastilah ia menghargai keselamatan yang sudah ia terima dan ia tidak akan pernah pindah agama hanya karena jodoh, karena Tuhan akan menyangkal orang yang seperti ini (Mat. 19:33). Yang kedua, ia akan berusaha mati-matian untuk tidak mencintai dunia (Ibr. 12:16). Dan yang terakhir, ia akan berusaha hidup sesuai dengan selera Tuhan yaitu menyelamatkan banyak jiwa (1Tes. 4:7, 1Ptr. 1: 13-16). – Solagracia

Kita harus tahu diri dan tahu budi di hadapan Tuhan, menghargai keselamatan, tidak mencintai dunia, dan berusaha hidup sesuai dengan selera Tuhan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30.047 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: